Nadia terbangun kembali di malam lamarannya, tepat saat Bella, adik tirinya, ketahuan bersama Arman, calon suaminya. Semua orang memintanya mengalah demi nama baik keluarga. Namun kali ini Nadia tidak mau menjadi korban lagi.
Ia tahu masa depan Arman: pengkhianatan, kekerasan, dan rahasia kelam yang akan menghancurkan siapa pun yang menikah dengannya. Maka saat Bella merebut Arman, Nadia justru tersenyum dan memilih Raka, paman Arman yang sakit-sakitan tapi berhati teguh.
Bella mengira ia mencuri takdir terbaik. Ia tidak tahu, yang ia rebut adalah awal dari neraka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 01 - Terbangun di Malam Lamaran
Malam itu, rumah keluarga Pak Darto penuh orang.
Tenda biru masih berdiri di halaman. Kursi plastik berserakan. Piring bekas nasi kuning dan ayam opor belum sempat dibereskan dari meja panjang. Dari dapur belakang, bau bawang goreng bercampur teh manis yang tumpah membuat udara terasa pengap.
Nadia membuka mata perlahan.
Langit-langit kamarnya rendah. Cat putihnya mengelupas di beberapa sudut. Di luar kamar, suara orang berbisik terdengar seperti dengung lebah.
"Astaghfirullah, malu-maluin keluarga."
"Padahal malam ini lamaran Nadia."
"Tapi yang ketangkap malah Bella sama Mas Arman."
Nadia diam.
Tangannya mencengkeram kain sprei.
Bella.
Arman.
Dua nama itu seperti batu dilempar ke dada.
Bukankah ia sudah mati?
Dalam ingatan terakhirnya, ia berdiri di pinggir jalan depan toko obat, menolak memberi uang kepada Bella. Bella menjerit, menuduhnya pelit, lalu mendorongnya ke jalan. Suara klakson truk, rem yang menjerit, dan tubuhnya yang terlempar masih terasa jelas.
Lalu gelap.
Namun sekarang ia ada di kamar lamanya, di rumah kampung keluarga Darto, pada malam lamaran yang pernah mengubah seluruh hidupnya.
Nadia menutup mata lagi.
Ia tidak sedang bermimpi.
Tahun ini bukan masa setelah ia menikah dan hancur di rumah Arman. Ini malam ketika keluarga Wiratmaja datang melamarnya. Malam ketika Arman seharusnya resmi menjadi calon suaminya.
Tapi di ruang tengah, Bella dan Arman sedang berlutut.
Mereka ketahuan keluar dari kamar belakang dengan pakaian berantakan.
Nadia menarik napas pelan.
Bagus.
Sangat bagus.
Di kehidupan lalu, Arman memang menjadi suaminya. Semua orang bilang ia beruntung. Menantu keluarga Wiratmaja. Tinggal di kompleks dinas. Suaminya calon perwira yang punya masa depan. Mertuanya terpandang. Setiap Lebaran, orang kampung menatapnya seperti ia naik derajat.
Mereka tidak tahu.
Arman suka memukul kalau makanan kurang asin. Ia pulang membawa bau parfum perempuan lain. Ia tidak bisa punya anak, tapi keluarganya menyuap orang klinik agar hasil pemeriksaan dibuat seolah Nadia yang mandul. Ibu Arman menyuruhnya mengasuh anak kakak ipar, lalu membiarkan anak itu memanggilnya perempuan asing.
Tahun demi tahun Nadia hidup seperti pembantu yang diberi gelar istri.
Dan Bella iri pada hidup itu.
Bella selalu berkata, "Kalau dulu aku yang dinikahi Mas Arman, pasti hidupku beda. Aku lebih cocok jadi istri orang terpandang."
Sekarang, sepertinya Tuhan mengabulkan keinginan Bella.
Nadia hampir tertawa.
Di luar kamar, suara Eyang Marni terdengar keras.
"Sudah! Jangan ribut lagi. Arman sudah menyentuh Bella. Mau bagaimana lagi? Mereka harus dinikahkan."
"Bu!" suara Mbak Sari, kakak kandung Nadia, langsung meninggi. "Malam ini keluarga Wiratmaja datang melamar Nadia. Bagaimana bisa tiba-tiba Bella yang dinikahkan?"
"Lamaran itu untuk keluarga kita," balas Eyang Marni. "Nadia dan Bella sama-sama anak rumah ini."
"Bella bukan anak kandung Bapak," kata Sari, suaranya bergetar. "Dia anak yang dibawa Bu Ratna."
Hening setengah detik.
Lalu suara Bu Ratna, ibu tiri Nadia, terdengar lirih dan basah.
"Mbak Sari, jangan bicara begitu. Bella memang bukan lahir dari rahimku setelah menikah dengan bapakmu, tapi dia juga anak yang dibesarkan di rumah ini. Kalau malam ini dia tidak dinikahkan, apa kamu mau dia menanggung malu seumur hidup?"
Nadia membuka mata.
Masih sama.
Bu Ratna selalu begitu.
Kalau ingin merampas sesuatu, ia tidak pernah langsung memaksa. Ia menangis, merendah, lalu membuat orang lain merasa kejam kalau menolak.
Sari menjawab, "Lalu Nadia? Dia tidak malu? Dia tidak hancur?"
"Nadia itu anak baik," kata Bu Ratna cepat. "Dia pasti bisa mengerti."
Nadia duduk.
Kepalanya masih sedikit pening, mungkin karena tubuh ini baru saja pingsan setelah mendengar calon suaminya ketahuan dengan adik tirinya. Tapi rasa pening itu kalah oleh panas yang naik ke dada.
Anak baik.
Dulu, dua kata itu mengikat lehernya seperti tali.
Anak baik harus mengalah.
Anak baik tidak boleh membantah orang tua.
Anak baik harus menjaga nama keluarga.
Karena menjadi anak baik, ia dikirim ke panti asuhan saat kecil dengan alasan membawa sial. Karena menjadi anak baik, ia kembali ke rumah ini dan menerima semua perintah mereka. Karena menjadi anak baik, ia menikah dengan Arman, menanggung pukulan, fitnah mandul, dan mati di tangan Bella.
Kali ini ia tidak mau baik.
Kalau mereka ingin melihat perempuan gila, ia akan memberi mereka satu.
Di ruang tengah, Pak Darto akhirnya bicara.
"Bu, kasihan Nadia."
Suara bapaknya masih sama. Lemah. Ragu. Seperti orang yang tahu benar dan salah, tapi tidak punya keberanian memilih.
Eyang Marni mendengus.
"Kasihan? Kalau kasihan, kamu cari jalan. Bella sudah dilihat orang sekampung keluar kamar dengan Arman. Apa keluarga Wiratmaja mau lepas tangan?"
Suara laki-laki muda menyusul. Arman.
"Eyang, Pak Darto, Bu Ratna, saya minta maaf. Tapi saya dan Bella memang saling mencintai. Lamaran dengan Nadia itu kemauan keluarga. Saya tidak mau membohongi hati saya."
Nadia tersenyum dingin.
Saling mencintai.
Di kehidupan lalu, Arman berkata ia mencintai Nadia saat akad. Tiga bulan kemudian, ia menamparnya karena Nadia lupa menyetrika baju dinas. Setahun kemudian, ia membawa perempuan lain ke rumah kontrakan. Lima tahun kemudian, ia membuat Nadia percaya bahwa rahimnya rusak.
Cinta Arman murah sekali.
Sari membentak, "Kalau saling mencintai, kenapa menunggu malam lamaran Nadia baru masuk kamar?"
Bella menangis pelan.
"Mbak, jangan kasar. Aku tahu aku salah. Aku sudah tidak punya muka. Tapi aku dan Mas Arman benar-benar tidak sengaja..."
Nadia berdiri dari tempat tidur.
Tidak sengaja?
Pintu kamar ia buka.
Semua kepala langsung menoleh.
Ruang tengah penuh orang. Saudara dari pihak bapak, tetangga yang tadi membantu acara lamaran, keluarga Wiratmaja, semua ada. Di tengah ruangan, Bella duduk bersimpuh dengan jilbab miring. Arman berlutut di sampingnya, wajahnya dibuat menyesal, tapi matanya tetap angkuh.
Bu Ratna langsung bangkit.
"Nadia, kamu sudah sadar? Nak, jangan terlalu banyak berpikir dulu. Kamu masih lemah."
Nadia menatapnya.
"Aku lemah?"
Bu Ratna terdiam.
Nadia berjalan ke meja. Di atasnya ada gelas enamel berisi teh manis yang sudah dingin. Ia mengambil gelas itu.
Pak Darto gugup. "Nadia, kamu mau minum?"
"Tidak."
Nadia menatap Arman dan Bella.
"Aku mau membantu mereka sadar."
Sebelum siapa pun mengerti, Nadia melempar gelas itu.
Gelas menghantam bahu Arman, lalu teh manis tumpah ke dada Bella. Bella menjerit. Orang-orang berteriak. Arman terhuyung, wajahnya berubah merah.
"Nadia! Kamu gila?"
Nadia tertawa pendek.
"Belum. Kalau aku benar-benar gila, gelas itu tidak akan kena bahumu."
Bu Ratna berlari ke Bella.
"Ya Allah, Bella! Panas tidak? Sakit?"
"Tehnya dingin, Bu," kata Nadia. "Jangan drama."
Beberapa tetangga yang tadinya pura-pura menunduk mulai saling pandang. Sari berdiri di belakang Nadia, wajahnya pucat, tapi matanya bersinar.
Arman mengepalkan tangan.
"Kamu tidak perlu mempermalukan kami seperti ini."
Nadia menatapnya dari ujung kepala sampai kaki.
"Kamu masuk kamar dengan adik tiriku di malam lamaran kita, lalu aku yang mempermalukan kalian?"
"Aku sudah bilang, aku dan Bella saling mencintai."
"Cinta?" Nadia melangkah mendekat. "Kalau cinta, datang baik-baik. Batalkan lamaran sebelum acara. Jangan makan nasi lamaran dari keluargaku, lalu masuk kamar belakang seperti pencuri."
Wajah Arman mengeras.
Bella menangis makin keras.
"Kak Nadia, aku salah. Tapi aku juga perempuan. Jangan hancurkan aku di depan orang-orang."
Nadia menoleh padanya.
"Waktu kamu masuk kamar dengan calon suamiku, kamu ingat aku juga perempuan?"
Bella menggigit bibir.
Bu Ratna langsung memeluknya.
"Nadia, cukup. Bella sudah minta maaf."
"Minta maaf tidak membuatku kembali bersih dari malu."
"Kamu jangan bicara begitu. Semua ini bisa diselesaikan secara keluarga."
"Secara keluarga?" Nadia tersenyum. "Maksudnya, Bella menikah dengan Arman, aku diam, uang seserahan tetap kalian simpan, lalu aku disuruh menerima laki-laki lain?"
Eyang Marni memukul lantai dengan tongkat.
"Memang itu jalan terbaik!"
Nadia menatap neneknya.
"Terbaik untuk siapa?"
Tidak ada yang menjawab.
Nadia melihat satu per satu wajah di ruangan itu. Orang-orang yang dulu menundukkan kepalanya, menyuruhnya sabar, lalu menyaksikan ia dikirim ke neraka bernama rumah tangga.
Kali ini, ia ingin melihat mereka yang menunduk.
"Baik," kata Nadia pelan. "Kalau Bella dan Arman saling mencintai, aku restui."
Bella mengangkat wajah. Arman juga tampak lega.
Tapi Nadia belum selesai.
"Aku doakan kalian menikah. Jangan bercerai. Jangan kabur. Jangan saling melepaskan. Semoga kalian berdua hidup bersama sampai tua."
Suaranya lembut.
Tapi Bella mendadak menggigil.
Nadia tersenyum.
"Karena aku ingin Bella menikmati semua yang dulu sangat ia inginkan."
🤣🤣🤣