NovelToon NovelToon
Nafkah Mantan Suami

Nafkah Mantan Suami

Status: tamat
Genre:Cerai / Keluarga & Kasih Sayang / Cintapertama / Tamat
Popularitas:162.7k
Nilai: 5
Nama Author: rehuella

Mantan, biasanya selalu menyebalkan. Lain halnya dengan Sabda Baghaskara. Pria itu selalu mengirimkan uang kepada Amora Salmadani dengan alasan, sebagai nafkah lahir untuk putri mereka yang berusia enam tahun.

Sialnya, apa yang dilakukan Sabda menjadi pemicu keretakan hubungan Salma dengan suami barunya.

Akankah Salma bercerai untuk ke dua kali, atau dia akan tetap mempertahankan Endra, saat tahu apa yang sudah pria itu lakukan?

Gaes jangan lupa masukin ke rak buku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rehuella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menyadari Kebohongan Endra

Salma merasa, dirinya adalah istri paling buruk di dunia. Bagaimana bisa, di kala suaminya pergi merantau mengais nafkah, dia justru sibuk melakukan perjalanan ke luar kota dengan sang mantan suami.

Meski Endra sudah mengizinkan, dengan berbagai macam catatan tapi tidak seharusnya Salma bertingkah seperti ini. Salma merasa seperti sedang selingkuh dengan Sabda. Mengingat, pria itu sendiri juga sedang berada di tahap serius dengan kekasihnya.

Sejak tadi Salma memikirkan sikapnya yang sungguh keterlaluan, dia sampai mabuk perjalanan. Alhasil, Sabda terpaksa menghentikan mobilnya di area pom bensin, supaya Salma mencuci mulutnya terlebih dahulu.

“Si Endra nggak telepon? Nanti kalau sudah di atas, biasanya akan susah sinyal. Baiknya kamu hubungi dia di sini!” saran Sabda melihat Salma keluar dari kamar mandi.

“Dia kerja, tanggal merah, biasa nyari lemburan.” Salma menjawab, seraya masuk ke mobil.

“Udah mendingan?” Sabda menyerahkan sebotol air mineral yang baru saja dibeli dari minimarket. Dia juga memberikan antimo untuk Salma.

Salma mengangguk, meski mulutnya masih terasa masam. “Buruan, keburu Ody ceramah!” sentak Salma melihat Sabda hanya berdiri di samping pintu mobil. Heran, saat menyadari sepasang bola mata Sabda justru lancang menatapnya lekat. Bahkan, sampai membuatnya tidak nyaman.

"Iya. Nggak usah ngegas!" Sabda lantas memutari mobilnya, kembali melanjutkan perjalanan menuju salah satu villa yang ada di sekitar Dieng.

Lima menit mengemudi feeling Sabda sudah tidak enak saat melihat banyaknya kendaraan yang berlalu lalang. Sepertinya akan terjadi kemacetan panjang di jalan menuju Dieng. “Ody!” serunya, berniat ingin membujuk.

“Ya?”

“Kita putar balik saja ya? sepertinya jalan ke Dieng macet deh, Sayang!” Sabda berkata dengan lembut. Takut Aundy akan langsung marah.

“Yaaaaahhhh ….” Wajah Aundy tertunduk lesu, tak bersemangat lagi. Kecewa karena liburannya terpaksa batal.

Sabda pun tak bisa berbuat apa-apa, terlebih lagi setelah menempuh perjalanan sekitar satu kilo meter. Terlihat deretan mobil berhenti tak jauh dari posisinya, kemacetan panjang mulai terjadi. Padahal sisa lima kilo lagi mereka sampai di lokasi tujuan. Tapi ya sudah, sepertinya semesta belum berpihak pada mereka.

“Gimana, Sal?” tanya Sabda, meminta pendapat.

Salma menghadap ke arah Aundy yang duduk di bangku belakang. “Pulang ya? kita bisa kapan-kapan pergi ke sini. Sama ayah Endra juga tidak papa, kan?”

Dengan wajah tertekuk, akhirnya Aundy mengangguk pelan. Gadis itu menahan tangis, dari matanya yang sudah merah terkena sinar Salma tahu putrinya tidak sepenuhnya ikhlas.

Namun sayang, ketika Sabda hendak memutar arah, barisan mobil di belakangnya juga sudah penuh. Sabda meringis ke arah Salma. “Kejebak, deh!” Beruntungnya mereka melakukan perjalanan saat malam hari, jadi tidak begitu menyiksa.

“Sampai pagi nggak ya kira-kira?” tanya Salma.

“Bisa jadi, sih panjang banget soalnya?”

“Jadi kita lanjut liburan ya, Ayah?” tanya Aundy, yang langsung mengalungkan lengannya ke leher Sabda.

“Hmmm, cium dulu nanti Ayah bisikin!” telunjuk Sabda menekan pipinya, memberi isyarat pada Aundy.

“Maluu, Yah ada bunda!” ujarnya menolak dengan nada menggemaskan, ekor matanya melirik ke arah Salma yang sibuk menatap layar ponselnya.

“Kita lanjut aja lah, nanggung!” ucap Sabda, lalu menoleh ke belakang, mengecup pipi Aundy.

“Ody, tidur aja! Nanti kalau udah sampai Ayah bangunin.”

Gadis itu pun menurut, mengambil tidur di bangku belakang. Awalnya Aundy dengan semangat berceloteh, bercerita tidak jelas, seakan-akan gadis itu sedang menceritakan sebuah negeri dongeng yang ada di dalam pikirannya. Bukan hanya itu, Aundy juga menyebut kata adik berulangkali. Membuat orang yang mendengarkan pun sadar jika saat ini Aundy seakan-akan tengah bersama adiknya.

“Sepertinya udah waktunya Ody punya adik. Enggak pengen gitu ngasih adik ke Ody?”

Pertanyaan Sabda membuat Salma menoleh ke arah pria itu. Dan dibalas senyuman masam oleh Sabda. "Ada yang salah dengan pertanyaan ku?"

Salma menggeleng cepat. “Nanti saja, nungguin adik bayi dari Hani.”

Suasana sudah jauh lebih tenang, secepat itu Aundy terlelap akibat kelelahan. “Kenapa bukan kamu? Kalian juga sudah menikah.”

“Karena emang belum dikasih aja!” Salma menjelaskan singkat. “Aku juga nggak terlalu ngebet banget. Udah pernah ngerasain repot nya punya bayi dan harus ngurus sendirian.”

Ucapan Salma membuat ingatan Sabda terlempar pada kenangannya di masa lalu. Sabda menyadari dia belum jadi suami yang baik untuk Salma.

Saat Aundy lahir dia justru sibuk dengan kontrak karyawan tetap di perusahaan. Bahkan sengaja nunggu empat puluh hari baru pulang ke Semarang, supaya bisa melepas rindunya dengan Salma. Sabda bahkan tidak tahu apa yang dilakukan orang tuanya saat itu. Karena dulu dia menitipkan Salma di rumah mereka.

“Apalagi, Endra nggak ada niatan bawa aku ke sana. Jadi yah—aku cukup khawatir kejadiannya akan seperti dulu.”

“Alasannya, kamu enggak dibawa ke sana, kenapa?”

Salma enggak mungkin mengatakan apa yang kemarin malam disampaikan Endra padanya. Dia harus menjaga nama baik Endra. “Ya, takutnya kami enggak betah, di sana kan masih pelosok.” Salma mengakhirinya dengan senyuman, berusaha meyakinkan Sabda.

“Sal, Kutai itu kota. Beda dengan di tempatku yang harus naik pesawat kecil dulu. Di sana jauh lebih mudah bawa keluarga.”

Hening, hanya terdengar bunyi lampu hazard dari mobil Sabda. Salma memikirkan ucapan Endra kemarin yang mengatakan susah sinyal. Bukankah itu tandanya dia berada di pelosok?

“Dia bilang begitu ke aku. Jadi ya sudah. Toh, di sini juga lebih enak. Dekat sama keluarga.”

Sabda menganggukan kepala. "lebih mudah juga kita bertemu!"

Salma melotot mendengar ucapan Sabda. "Maksudnya?"

"Apa?"

"Kenapa bilang begitu?"

"Aku bilang apa tadi?" Sabda pura-pura lupa.

"Lebih mudah juga kita bertemu."

"Ya kan bener. Aku jadi mudah tanya kondisi Ody sama kamu."

Salma merasa kalah, karena memang Sabda sering melakukan hal itu. Sejenak mereka bungkam, Salma mengawasi mobil di depan yang perlahan mulai lancar. “Mas, kalau training itu biasanya berapa bulan sih?” tanya Salma penasaran.

“Training apa dulu?”

“Training HD 785.”

“Bukannya Endra udah punya kimper HD 785? Seharusnya dia udah menguasai. Kamu punya copyan kimper nya kan? biasanya ada keterangannya di belakang. Cek aja HD 785 ada tidak, kalau ada ya nggak perlu training lagi! buat apa training kalau tiap hari yang dipakai alat itu.”

Salma menyadari kebohongan yang dilakukan Endra. Akan tetapi dia tidak ingin menunjukannya ke Sabda. Mungkin, dia perlu menyelesaikannya saat pria itu pulang. Terlalu berisiko jika terus membuat Endra stress. Apalagi, pekerjaannya memiliki risiko besar.

“Mungkin aku lupa nama alatnya.” Salma meringis, berusaha menutupi kecurigaan Sabda.

Mobil sudah berhenti di depan Villa. Sabda segera memasuki villa tersebut, seraya menggendong Aundy. Sedangkan Salma mengangkat pakaian ganti milik Aundy.

"Apa Mas Sabda memesan satu kamar saja?" tanya Salma, saat memasuki satu kamar besar di villa itu.

"Ya, kamarnya cukup besar. Dan aku bisa tidur di sofa."

"Hah? kalau begitu aku pesan kamar lagi saja!" Salma langsung keluar kamar mendatangi meja resepsionis.

1
Khairul Azam
bener, awal temen curhaþ, pelukan, ciuman, trs lanjut ya begitulah awal perselingkuhan
Khairul Azam
ini lah yg aku takutkan menikah setelah bercerai apa laki bawa anak, kebanyakan laki laki itu mau enaknya aja
Cetak Photommp
dulu aja diabaikan nggak dihargai jadi istri, eh skarang baru dikejar. harusnya tau diri sih!
Fayra
Luar biasa
atik cahya
baru mampir, eh ayah sabda😅😅
Esther
keluarga edan...demi uang menghalalkan segala cara
Esther
nah lho ketahuan
Esther
Salma bersandiwara pura2 amnesia nih
Esther
Salma amnesia
Esther
Endra gila
Esther
Ody dulu tahu ayah Sabda selingkuh dari bunda Salma & skrg melihat ayah Endra selingkuh dari bunda Salma😢
Esther
nah akhirnya ketahuan kamu Endra
Esther
spertinya Endra selingkuh
Esther
jangan2 Endra selingkuh ?
Noor Hasanah
Luar biasa
choowie
betul itu sal👍👍
choowie
ceritanya bikin gemes pengen getokin ayah sabda😬
choowie
😭😭😭
choowie
maksa 😬
Misbahiah
kapan mij lanjutanx...dicariin kok gk ada yaa
Call Me Ella: Ada kok kak, klik aja profile. atau ketik nama Rehuella di pencarian nanti muncul judul Hallo, Mantan!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!