Bagaimana jadinya jika istri sah menjadi seorang pelakor, hanya karena ingin balas dendam pada sang suami?
Kaira wanita malang yang dibunuh dan dikubur hidup hidup oleh suaminya, kini menaruh dendam yang tak bisa di kendalikan.
Setelah pembunuhan itu terjadi, kaira masih bisa bertahan hidup karena Gina, sang sahabat yang menolongnya di waktu yang tepat.
Jika Gina tak datang mungkin Kaira sudah mati dengan perut yang ditusuk pisau dan suluruh tubuh yang tertibun tanah.
Setelah kejadian pembunuhan, Kaira kini merubah diri, ia sengaja melakukan operasi wajah dan seluruh badan agar terlihat seperti gadis pada umumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Arip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Masuk ke dalam ruangan Angga, tangan ini mulai memegang clop pintu. Saat pintu terbuka sedikit, aku dikejutkan dengan Angga yang sedang mengobrol bersama ibunya.
Karena tak ingin mengganggu mereka, aku putuskan menutup kembali pintu itu.
Namun baru saja beberapa langkah, aku mendengar suara wanita tua itu menyebut nama asliku.
"Kaira."
Pada akhirnya aku mengurungkan niatku untuk pergi dari depan pintu, mencoba mendengarkan percakapan keduanya.
Perlahan telinga ini mulai menguping pembicaraan mereka berdua, " Kaira, kenapa ibu menyebut nama dia lagi?"
Kedua mataku menatap tajam ke arah wanita tua yang mendekati anaknya. " jangan sampai nasib Shireen sama dengan Kaira?"
Angga yang membelakangi tubuh ibunya, kini membalikkan badan menatap ke arah wanita tua yang sudah melahirkan yaitu.
"Kalau sama memangnya kenapa bu? Angga bosan dengan dia, Angga tak suka Shireen. "
Sang Ibu mulai mengusap pelan bahu anaknya, menenangkan setiap amarah yang menggebu-gebu pada hati anaknya itu.
"Angga wanita itu bukan barang, yang sudah bosan kamu buang seenaknya!"
"Lantas apa dong bu, bukannya ibu juga mendapatkan keuntungan dari wanita yang Angga nikahi, pertama Kaira dan sekarang Shireen."
"Angga, tidak …."
Angga mengacak rambutnya dengan kasar, ia pergi di hadapan sang ibu yang mulai menasehatinya.
"Anak itu. "
Aku yang masih berdiri di depan pintu ruangan Angga, kini terjatuh karena pintu yang tiba-tiba saja dibuka begitu keras oleh Angga.
"Ahk."
Angga yang melihat aku terduduk di atas lantai, segera mungkin menghampiriku dan berkata, " Kok kamu bisa jatuh begini?"
Aku mengerutkan bibirku, menjawab perkataan Angga. " Baru saja Aku mau masuk ke dalam ruangan, tapi kamu membuka pintu itu begitu keras, membuat pintu itu mengenai tubuhku hingga terjatuh seperti ini. "
"Maafkan aku, aku kira tidak ada orang diluar pintu."
Aku mulai memperlihatkan sebuah senyuman di hadapan Angga, di mana lelaki itu membantuku untuk berdiri.
"Mana yang sakit. "
Wanita tua yang menjadi ibunda Angga kini keluar dari dalam ruangan.
"ANGGA."
Aku menatap ke arah wanita tua itu di mana dia juga menatap ke arahku, " Angga. " beberapa kali sang ibunda memanggil anaknya, Angga malah terkesan begitu cuek. Iya membopong tubuhku pergi dari hadapan wanita tua itu.
Membawa ke dalam ruangannya, Angga mulai menurunkanku di atas sofa. " Angga. "
Aku dengan refleks memanggil namanya, di mana kami benar-benar seperti sepasang kekasih, " Kenapa kamu tidak menjawab panggilan dari ibumu sendiri. "
Angga tersenyum lalu membalikkan badannya lagi, ia mulai menghubungi salah satu pelayan di perusahaan untuk membawakan sebuah es batu dan juga kota P3K.
"Sudah ya, jangan bahas ibuku. "
"Ahk, maaf. "
Terlihat kekesalan dari raut wajahnya ditunjukkan ke arahku. " Bicara saja?"
Angga memegang pipiku, ia tersenyum dan memelukku saat ini.
Ceklek.
Pintu terbuka, wanita tua yang menjadi ibunda Angga itu, kini melepaskan pelukanku dengan anaknya.
"Angga."
Angga menatap tajam ke arah ibunya, " ada apa lagi sih, bu. "
"Siapa dia, kenapa kamu memeluk dia, kamu ini sudah mempunyai istri. "
Menghela napas lalu menjawab, " di sekertaris di perusahaan Angga bu."
"Sekertaris."
wanita tua itu menatapku kembali, ia kini melihatku dengan begitu detail, dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Aku mulai berdiri di depan wanita tua itu, memperlihatkan sebuah senyuman. Tak lupa menyapanya dengan begitu ramah.