Meski terus didera sulitnya hidup, Faris tak pernah lupa dengan mimpinya yang ingin jadi insinyur. Ketika dia difitnah dan dipenjara karena sebuah insiden, saat itulah sistem muncul untuk membantunya mengejar profesi impian.
DING!
"Selamat datang di sistem profesi terhebat!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1 - Kehidupan Yang Sulit
Hujan turun tanpa henti sejak sore. Air menetes dari beberapa celah di atap rumah kayu yang sudah tua dan lapuk dimakan usia. Di beberapa sudut ruangan, ember dan baskom bekas diletakkan untuk menampung air yang jatuh. Meski begitu, lantai rumah tetap basah dan lembap. Bau kayu lapuk bercampur dengan udara dingin malam memenuhi setiap sudut rumah sederhana itu.
Di dekat meja kecil yang permukaannya sudah tidak rata, seorang pemuda sedang duduk sambil menundukkan kepala. Cahaya lampu bohlam lima watt yang menggantung di atasnya berkedip-kedip lemah, tetapi itu tidak mengurangi fokus di matanya. Di hadapannya terdapat beberapa lembar kertas kusut yang penuh dengan rumus dan gambar teknik.
Namanya Faris. Usianya baru delapan belas tahun, tetapi kehidupan telah memaksanya dewasa jauh lebih cepat dibandingkan teman-teman seusianya. Saat pemuda lain menghabiskan waktu untuk bermain, berkumpul dengan teman, atau memikirkan masa depan mereka di bangku kuliah, Faris justru harus memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang untuk makan besok dan membeli obat bagi ibunya.
Meski hidup dalam kekurangan, ada satu hal yang tidak pernah berubah dalam dirinya. Yaitu tentang mimpinya menjadi seorang insinyur.
Sejak kecil dia selalu terpesona pada segala sesuatu yang berhubungan dengan teknik. Ketika anak-anak lain bermain mobil-mobilan, Faris lebih tertarik membongkar mainan rusak untuk melihat bagaimana roda dan mesinnya bekerja. Ketika melihat jembatan besar di televisi, dia selalu bertanya-tanya bagaimana struktur sebesar itu bisa berdiri kokoh menopang ribuan kendaraan setiap hari.
Faris menyukai proses memahami sesuatu. Menyukai logika. Menyukai cara ilmu pengetahuan mengubah hal yang mustahil menjadi mungkin. Karena itulah setiap kali mendengar kata "insinyur", dadanya selalu berdebar. Sayangnya, mimpi sering kali tidak peduli pada keadaan seseorang.
Faris menghela napas panjang sambil menatap sebuah buku teknik bekas yang sudah menguning. Buku itu dia beli dari pasar loak menggunakan sebagian besar uang hasil kerjanya bulan lalu. Sampulnya sudah rusak dan beberapa halamannya hilang, tetapi bagi Faris buku itu lebih berharga daripada benda apa pun yang dirinya miliki. Tangannya bergerak menuliskan perhitungan sederhana di atas kertas bekas.
Ia sedang mencoba memahami materi tentang struktur bangunan yang sebenarnya diajarkan di tingkat perguruan tinggi. Tidak ada guru yang membimbingnya. Tidak ada dosen yang menjelaskan. Semua dia pelajari sendiri dari buku-buku bekas dan materi fotokopi yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit.
Tiba-tiba suara batuk keras terdengar dari kamar sebelah.
"Khuuk... khuk... khuk..."
Faris langsung berdiri. Ia mengenal suara itu dengan sangat baik. Tanpa menunggu lebih lama, dia segera masuk ke kamar sempit yang hanya dipisahkan oleh dinding kayu tipis. Di atas ranjang sederhana, seorang wanita paruh baya sedang berusaha mengatur napasnya. Wajahnya pucat dan tubuhnya tampak semakin kurus dibandingkan beberapa bulan lalu.
Wanita itu adalah ibunya, Siti. Satu-satunya keluarga yang masih dimiliki Faris.
"Ibu, minum dulu," ucap Faris sambil mengambil gelas berisi air.
Siti menerima gelas itu dengan tangan gemetar. Setelah meminum beberapa teguk, kondisi napasnya sedikit membaik.
"Kamu belum tidur?" tanyanya pelan.
Faris tersenyum tipis. "Masih belajar sedikit."
Siti memandang buku dan kertas yang masih terlihat dari pintu kamar. Tatapan matanya dipenuhi rasa bersalah yang tidak pernah berhasil dia sembunyikan.
"Kamu selalu belajar setiap malam," komentar Siti.
"Karena aku suka, Bu..." sahut Faris?
"Bukan itu maksud Ibu."
Faris terdiam. Ia tahu apa yang ingin dikatakan ibunya. Siti selalu merasa dirinya menjadi beban. Penyakit yang dideritanya membuat hampir seluruh penghasilan Faris habis untuk biaya pengobatan. Jika tidak perlu merawatnya, mungkin Faris sudah bisa menabung untuk kuliah.
"Maafkan Ibu..."
Kalimat itu membuat dada Faris terasa sesak.
"Ibu jangan bicara begitu," kata Faris.
"Kalau saja Ibu sehat..." lirih Siti.
"Ibu tidak melakukan kesalahan apa pun," balas Faris.
Siti tersenyum lemah, tetapi matanya mulai berkaca-kaca. Sebagai seorang ibu, tidak ada hal yang lebih menyakitkan daripada melihat anaknya mengorbankan masa muda demi merawat dirinya. Ia tahu betapa besar keinginan Faris untuk melanjutkan pendidikan. Ia juga tahu bahwa anaknya memiliki kecerdasan yang luar biasa.
Sejak kecil, Faris selalu mendapatkan nilai terbaik di sekolah. Guru-gurunya bahkan beberapa kali mengatakan bahwa Faris memiliki potensi untuk masuk universitas ternama jika mendapat kesempatan. Namun kesempatan itu tidak pernah datang. Bahkan beasiswa pun tidak pernah datang membantunya.
Ayah Faris meninggal saat dia masih duduk di bangku SMP akibat kecelakaan kerja. Sejak saat itu kehidupan mereka perlahan runtuh. Tabungan habis. Perhiasan dijual. Rumah kecil yang dulu cukup layak ditinggali mulai rusak karena tidak ada biaya perawatan. Kemudian penyakit ibunya datang, dan semuanya menjadi lebih buruk.
"Aku akan kuliah suatu hari nanti," tutur Faris.
Siti menatapnya. Meskipun mengatakan hal itu dengan tenang, sebenarnya Faris sendiri tidak tahu bagaimana cara mewujudkannya.
Biaya kuliah sangat mahal. Bahkan untuk makan sehari-hari saja mereka sering kesulitan. Beberapa kali dia mencoba mencari informasi tentang beasiswa, tetapi syarat dan prosesnya tidak mudah. Selain itu, dia harus bekerja hampir sepanjang hari sehingga tidak memiliki cukup waktu untuk mengikuti berbagai seleksi.
Meski demikian, Faris tidak pernah menyerah. Karena jika dia menyerah, maka tidak ada lagi yang tersisa.
Keesokan harinya, Faris bangun sebelum matahari terbit. Udara pagi masih sangat dingin ketika dia mulai memasak bubur sederhana untuk sarapan. Setelah memastikan ibunya sudah makan dan minum obat terakhir yang tersisa, dirinya segera berangkat bekerja.
Pekerjaan pertamanya berada di pasar tradisional. Di sana dia menjadi kuli angkut. Karung berisi beras, sayuran, dan berbagai barang dagangan dipikulnya dari satu tempat ke tempat lain. Keringat membasahi tubuhnya bahkan sebelum matahari benar-benar muncul.
Meski tubuhnya terasa pegal, Faris tidak pernah mengeluh. Setiap lembar uang yang dia dapatkan memiliki arti penting.
Setelah selesai bekerja di pasar, dia melanjutkan pekerjaan di sebuah bengkel kecil. Tugasnya hanya membantu membersihkan peralatan dan mengangkat barang-barang berat, tetapi Faris selalu memanfaatkan kesempatan itu untuk belajar. Ia memperhatikan cara mekanik membongkar mesin. Memperhatikan susunan komponen. Memperhatikan cara setiap bagian saling terhubung. Hal-hal yang mungkin dianggap membosankan oleh orang lain justru sangat menarik baginya.
Pemilik bengkel bahkan sering tertawa melihat kebiasaan Faris. "Kamu ini sebenarnya pekerja atau murid?"
Faris ikut tertawa. "Keduanya mungkin, Pak."
Pemilik bengkel menggelengkan kepala. "Kalau kamu punya uang untuk kuliah, saya yakin kamu bakal jadi orang hebat."
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi cukup membuat Faris terdiam beberapa saat. Karena itulah masalahnya. Kalau punya uang. Sebuah syarat yang terdengar mudah bagi sebagian orang, tetapi terasa seperti tembok raksasa bagi dirinya.
Menjelang sore, setelah menyelesaikan seluruh pekerjaannya, Faris berjalan melewati jalan utama kota. Langkahnya perlahan melambat ketika sebuah gerbang besar mulai terlihat di kejauhan.
Universitas Teknologi Nusantara. Kampus teknik terbaik di kota itu. Jantung Faris berdebar setiap kali melihat tempat tersebut.
Gedung-gedung modern berdiri megah di balik pagar kampus. Mahasiswa lalu-lalang sambil membawa buku dan laptop. Beberapa terlihat berdiskusi mengenai tugas, sementara yang lain bercanda dengan teman-temannya.
Pemandangan yang sangat biasa. Namun bagi Faris, pemandangan itu terasa seperti dunia yang berbeda. Dunia yang selama ini hanya bisa dia lihat dari kejauhan. Ia berhenti di seberang jalan dan memandang kampus itu cukup lama.
Seorang satpam yang berjaga di gerbang mengenal wajahnya karena Faris sering berdiri di tempat yang sama. "Kamu lagi?" tanyanya sambil tersenyum.
Faris mengangguk malu. "Iya, Pak."
"Masih ingin kuliah di sini?"
"Ya begitulah, Pak."
Satpam itu tertawa kecil. "Kalau begitu jangan menyerah."
Faris hanya tersenyum. Ia tidak menceritakan keadaan hidupnya. Tidak menceritakan tentang rumah bocor, ibunya yang sakit, atau pekerjaannya yang tidak pernah selesai. Semua itu terasa terlalu memalukan untuk diucapkan.
Saat hendak pergi, matanya tiba-tiba tertuju pada sebuah papan pengumuman di dekat gerbang samping kampus. Langkahnya langsung terhenti. Di sana terdapat selembar kertas yang baru ditempel.
Lowongan Pekerjaan.
Dibutuhkan Petugas Kebersihan Kampus.
Faris membaca tulisan itu. Jantungnya mulai berdegup lebih cepat. Petugas kebersihan. Artinya dia bisa masuk ke dalam kampus setiap hari. Bisa melihat ruang kelas dari dekat. Bisa mendengar dosen mengajar. Bisa berada di lingkungan yang selama ini hanya ia impikan.
Mungkin Faris memang tidak mampu menjadi mahasiswa. Tetapi setidaknya dia bisa berada di dekat dunia yang sangat ia cintai.
Tanpa sadar, Faris mengepalkan kedua tangannya. "Aku harus mendapatkan pekerjaan itu!"