Sekuel dari Novel Arjuna Bopo Istimewa.
Di sini kita akan di suguhkan dengan perjalanan cinta antara Arjuna dan Meshwa.
Perjalanan rumah tangga dan kehidupan dari Bopo Istimewa ini, ternyata banyak sekali ujiannya.
Apakah Meshwa yang berstatus sebagai istri sanggup menemani perjalanan Arjuna? ataukah dia akan menyerah?
Di Novel ini juga akan ada kelanjutan kisah cinta Nala dan Mifta. Lalu, bagaimana dengan Dipta? Apakah dia akan menemukan tambatan hati?
simak kelanjutan cerita dari Keluarga Bopo Desa Banyu Alas di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Mesin Jahit
Setelah hampir tiga bulan, akhirnya Meshwa menyelesaikan tugasnya di Kabupaten W. Mereka akhirnya bisa kembali ke Desa Banyu Alas bersama - sama.
Tetapi, sebelum kembali ke Desa, keduanya memutuskan untuk menginap semalam di rumah kedua orang tua Meshwa.
Kedatangan Arjuna dan Meshwa, tentu di sambut hangat oleh keluarga Meshwa yang sudah menunggu.
Kabar pernikahan siri mereka pun sudah di dengar oleh sanak saudara dan para tetangga. Beberapa orang pun membuat gosip tentang pernikahan siri keduanya.
Ada yang bilang jika Meshwa sudah hamil duluan, ada juga yang bilang jika keduanya di gerebek karena kumpul kebo di Kabupaten W.
"Astaghfirullah. Bisa - bisanya pada komentar gitu." Cicit Meshwa yang merasa kesal dengan gosip yang beredar.
"Yaudah biarin aja, Dek. Yang pasti kan kita gak kayak apa yang mereka bicarakan." Kata Arjuna.
"Tapi tetep aja, itu namanya fitnah. Pencemaran nama baik, Mas. Bukan cuma namaku yang buruk, tapi nama Mas juga keluarga kita." Kata Meshwa yang nampak berapi - api.
"Dek, dengerin Mas, ya." Arjuna memeluk Meshwa dari belakang.
"Kita cuma punya dua tangan yang gak akan mungkin bisa membungkam satu persatu mulut orang yang menggunjing kita. Lebih baik, kita gunakan dua tangan kita untuk menutup telinga kita. Biarin aja mereka mau bilang apa, Sayang. Cepat atau lambat, kebenaran pasti akan terungkap." Kata Arjuna yang mencoba menenangkan istrinya.
Meshwa pun hanya bisa menghela nafas panjang. Percuma membuang - buang energi dengan amarahnya.
"Astaghfirullah... Astaghfirullah..." Lirih Meshwa yang terus beristighfar untuk meredakan emosinya.
"Nikmati aja kebisingan ini, karena di Desa Banyu Alas, kamu gak akan dengar yang berisik - berisik kayak gini." Kata Arjuna sambil mengecupi puncak kepala Meshwa.
"Om... Om Juna..." Terdengar suara Arga yang memanggil sambil mengetuk pintu kamar.
"Tuh, Om, keponakanmu nyariin. Gak bisa banget kayaknya di tinggal Omnya." Kata Meshwa yang membuat Arjuna tertawa.
"Iya, Ga. Sebentar..." Jawab Arjuna saat Arga kembali memanggil dan memukul - mukul pintu kamar.
"Kenapa, Boy?" Tanya Arjuna saat membuka pintu kamar.
"Loh! Ada bayik juga ternyata. Bayik ini merangkak sampe sini." Kata Arjuna saat melihat Galih yang duduk di depan pintu kamarnya.
"Itu, aku ngikutin Galih yang kesini. Kayaknya dia cariin Om." Kata Arga.
Arjuna pun kemudian menggendong Galih dan membawa serta Arga masuk ke dalam kamar. Ketiganya nampak asyik bermain bersama di tempat tidur siang itu.
"Aduuh, seru banget orang tiga ini kalo udah kumpul." Kekeh Meshwa sambil geleng - geleng kepala. Ia kemudian keluar dari kamar, meninggalkan tiga toddler yang sedang heboh bermain.
"Astaghfirullah." Meshwa terkikik geli ketika kembali masuk ke dalam kamarnya.
Rasanya ia tak lama berada di luar sambil mengobrol dengan Ibu dan dua saudara iparnya. Saat kembali untuk memanggil Arga dan Galih, ia justru melihat keduanya yang sudah tertidur dalam pelukan Arjuna.
Galih di sebelah kanan, sementara Arga ada di sebelah kiri. Dua - duanya tidur berbantalkan tangan Arjuna yang juga memeluk keduanya.
"Mana Galih, Dek?" Tanya Mbak Bila yang menghampiri.
"Tuh, tidur sama Mas Juna sama Kakaknya juga." Jawab Meshwa sambil menunjukkan tiga orang yang sedang tertidur pulas.
"Ya Allah, kok bisa tidur gitu aja? Di apain coba sama Arjuna?" Kata Mbak Bila yang ikut tertawa.
"Di sirep kalik, Mbak." Jawab Meshwa.
"Kenapa kok pada cekikikan depan pintu?" Tanya Kak Irfan.
"Anak - anak punya pawang baru, Kak." Sahut Nabila.
"Alhamdulillah. Bisa titip ke Arjuna sama Meshwa kalo kita pada mau pacaran lagi." Celetuk Kak Romi yang turut menghampiri.
"Yee! Enak aja. Emang aku tempat penitipan anak. Aku sama Mas Juna sibuk, tau." Sahut Meshwa.
"Kalo Meshwa nolak, Arjuna pasti gak bakal nolak sih, kalo kita minta tolong." Kekeh Kak Irfan sambil tos dengan adik laki - lakinya.
"Ssst! Udah ah, ayo pergi. Nanti mereka pada bangun." Kata Mbak Bila. Mereka pun satu persatu meninggalkan kamar Meshwa.
Meshwa menatap Arjuna yang sedang tertidur bersama dua keponakannya dengan tatapan sendu. Masih ada kekhawatiran besar dalam hatinya yang selalu ia tutupi.
"Mas pasti bakal jadi Ayah yang luar biasa." Lirih Meshwa.
"Tapi, gimana kalau aku gak bisa ngasih Mas keturunan? Mereka yang normal saja, banyak yang belum di kasih keturunan walaupun sudah berusaha dengan berbagai macam cara dan pengobatan. Gimana sama aku yang cuma punya satu ovarium sekarang?" Imbuhnya kemudian.
Tanpa terasa, air matanya pun menetes. Ada sesak di hatinya yang selalu ia dekap dengan erat.
"Maafin aku ya, Mas. Semoga Allah bermurah hati pada kita dan berkenan memberikan kita keturunan." Kata Meshwa sambil berusaha menyurut air matanya.
...****************...
"Aku mau tidur sama Om Juna..." Seru Arga malam itu.
"Tadi siang kan udah tidur sama Om Juna, Nak." Kata Mbak Nita.
"Aku bosen, tidur sama Mami sama Papi." Kata Arga.
"Yaudah, tidur sama Popa sama Moma. Kita tidur berempat sama Dek Galih." Ajak Kak Romi.
"Gak mau. Kan sempit kalo tidurnya berempat." Sahut Arga.
"Tidur sama Kakek aja, enak. Nanti Kakek usap - usap punggungnya." Kata Pak Jamal yang turut membujuk.
"Gak mau! Kakek kalo tidur berisik." Kata Arga yang langsung memecah tawa mereka semua. Pasalnya memang Pak Jamal kerap kali mengorok saat sedang tidur.
"Ate... Arga mau tidur sama Om, ya. Ate aja yang tidur sama Mami sama Papi." Kata Arga.
"Loh! Kok bisa Ate yang di suruh tidur sama Mami sama Papi." Kekeh Meshwa.
"Om tuh gak bisa tidur kalo gak tidur sama Ate." Kata Kak Irfan.
"Emang iya, Om? Om kalo tidur harus di temenin Ate?" Tanya Arga yang tak percaya begitu saja dengan ucapan Papinya.
"Iya, Om gak bisa tidur kalo gak sama Ate." Jawab Arjuna.
"Ish... Ish... Ish... Emang Om takut tidur sendiri kalau malem? Om kan udah tua, masak takut tidur sendiri." Cicit Arga yang kembali memecah tawa mereka.
Meski sudah di bujuk, Arga tetap saja ngotot ingin tidur dengan Arjuna malam ini. Pada akhirnya, Meshwa dan Arjuna pun mengalah karena tak tega pada Arga.
"Arga di sini, Om yang di tengah." Kata Arjuna yang membagi tempat tidur.
"Kenapa bukan Arga yang di tengah?" Tanya Arga dengan wajah polosnya.
"Ate kan habis sakit, nanti kalau Arga gak sadar nendang perut Ate, gimana? Kan kasihan Ate kalau kesakitan." Kata Meshwa.
"Oh iya. Kata Mami, perut Ate habis di jahit, jadi harus hati - hati kalau dekat Ate biar gak bikin Ate kesakitan." Kata Arga.
"Nah, itu pinter." Puji Arjuna sambil mengusap kepala Arga.
Setelah membaca doa, ketiganya sama - sama terdiam. Seolah sedang sibuk dengan pikiran masing - masing. Saat kantuk sudah menyerang dan mata perlahan mulai terpejam, terdengar celetukan dari Arga.
"Ate.. Ate..."
"Iya, Nak." Jawab Meshwa dengan lirih.
"Memang perut Ate gimana jahitnya? Pake mesin jahit yang sebesar apa? Jarumnya besar sekali dong." Kata Arga yang membuat Arjuna dan Meshwa menyemburkan tawa.
Kantuk yang sudah hampir menghilangkan kesadaran, tiba - tiba lenyap karena ucapan bocah kecil yang tidur bersama mereka.
selamat iyha Mbk Meshwa Mas Juna akhirnya 😍😍😍