"Qay,, kenapa kamu melakukan ini semua padaku,, apa kamu telah melupakan kenangan indah kita selama ini?"
"Lalu,, apakah kamu tidak berfikir,,, apa yang membuatku seperti ini? bukankah setiap perubahan selalu ada sebabnya?"
Djani dan Qaynaya adalah sepasang kekasih yang telah berpacaran selama 5 tahun, karena kesibukan masing-masing, sepertinya mereka mulai bersikap cuek terhadap pasangan mereka sendiri.
Saat hubungan mereka kembali membaik, masalah baru muncul lagi karena Qaynaya dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan Doni, yang merupakan sahabat Djani.
Setelah pernikahan Doni dan Qaynaya, apa yang akan dilakukan oleh Djani? apakah dia akan merebut Qaynaya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A̳̿y̳̿y̳̿a̳̿ C̳̿a̳̿h̳̿y̳̿a̳̿, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan
"Kamu tidak akan sanggup, karena Qay sekarang adalah milikku, tubuh moleknya yang setiap malam aku cumbu, tidak mungkin aku akan melepaskannya"
Doni menantang Djani, membuat Djani begitu marah dan langsung memberikan bogem mentah pada wajah Doni.
"Kenapa? apa hatimu sakit karena dulu kamu tidak pernah merasakannya?" Doni kembali memprovokasi Djani.
Tetapi kali ini sepertinya Djani bisa menahan dirinya, apalagi saat ini mereka sudah sampai kembali di kantor mereka, mereka turun dari mobil dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, yang tau kejadian itu hanya sopir pribadi Djani.
Djani masuk kedalam kantornya, dengan geram dia meremas kertas yang berada di atas meja, Djani tidak perduli itu berkas penting atau tidak, dia hanya ingin menyalurkan kemarahannya tanpa keributan.
Hatinya sangat sakit mendengar apa yang dikatakan oleh Doni tadi, selama berpacaran dengan Qaynaya, dia rela menahan kesepian karena kekasihnya itu tidak mau disentuh, tetapi Doni dengan mudahnya bisa melakukan hal itu.
"Dasar para penghianat, aku akan menghabisi kalian secepatnya" gumam Djani.
Sore telah menjelang, para pekerja telah bersiap untuk kembali pulang, dan entah ini sebuah takdir atau bukan, tiga manusia yang tinggal di apartemen yang sama itu pulang secara bersamaan.
Qaynaya sangat canggung melihat Djani, sementara Djani yang sekarang sangat membenci Qaynaya, memandang wanita itu penuh dengan kebencian, tetapi tiba-tiba pandangan matanya berubah saat mereka berpandangan.
"Sayang, kamu juga sudah pulang? tumben sekali kamu pulang lebih awal, apa kamu tidak lembur?" tanya Doni mendekati Qaynaya dan tidak memperdulikan Djani sedikitpun.
Sungguh diluar dugaan Doni, karena tiba-tiba istrinya membenarkan dasinya.
"Aku ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersamamu" jawab Qaynaya, lalu berjalan menuju lift supaya segera sampai di apartemen nya, sementara Djani masih terdiam ditempatnya.
"Kurang ajar!" teriak Djani meninju tembok, tangannya berdarah tetapi dia tidak merasakan sakit, karena hatinya jauh lebih sakit.
Qaynaya langsung mencuci tangan nya begitu sampai kedalam apartemen nya, sehingga membuat Doni tersinggung.
"Apa menurutmu aku begitu menjijikkan?" tanya Doni.
"Tidak, aku hanya jijik pada diriku sendiri, aku adalah wanita penghianat cinta, sungguh sangat pantas kalau Djani membenciku" jawab Qaynaya lemah lalu langsung masuk kedalam kamar.
Malam itu tiga insan itu termenung dengan pikiran mereka masing-masing, Djani duduk diatas kursi didepan meja kaca, saat mengingat romantis nya Qaynaya dengan Doni, hatinya kembali panas, dan tanpa pikir panjang, Djani langsung menghancurkan meja kaca yang berada didepannya, dengan hati yang sudah sangat mantap, mulai besok dia akan langsung melakukan balas dendamnya dengan cepat.
Doni termenung di atas sofa, sepertinya dia belum mengantuk, sementara dia mengira istrinya sudah tidur didalam kamar, karena tidak terdengar suara apapun dari dalam kamar, Doni merasa sangat terancam, apalagi saat ini posisi Djani sungguh sangat diluar dugaan Doni, sudah pasti Djani bisa melakukan apapun dengan posisinya.
Qaynaya terdiam didalam kamar melihat kearah luar jendela apartemen nya, terlihat suasana terang diluar sana, karena lampu penerangan dan juga rembulan malam, tetapi begitu gelap didalam hati Qaynaya sehingga dia merasa sangat kesepian.
Malam yang penuh bintang dan cahaya bulan itu akhirnya terlewati, dan pagi telah menjelang, ketiga insan manusia itu melakukan kegiatan rutin mereka seperti biasanya ditempat mereka masing-masing.
Qaynaya telah sampai dikantornya, seperti biasanya dia langsung menuju ke meja kerjanya, sementara rekan kerjanya yang lain entah dimana karena ruangan itu terlihat sepi.
"Qay, Qay, Qay, kenapa kamu hanya diam saja disini, pemilik perusahaan yang baru sedang melakukan rapat, dia mencari mu karena tidak hadir dan tidak ada didalam absen pagi"
"Bukankah tidak ada pemberitahuan rapat pagi ini, lagipula ini masih terlalu pagi" jawab Qaynaya panik lalu memakai tanda pengenal nya.
"Aku juga tidak mengerti dan aku tadi juga hampir saja terlambat, jam masuk kantor dirubah tanpa pemberitahuan, dan pemilik perusahaan baru, sepertinya terlihat sangat menyeramkan walaupun dia sangat tampan" jawab rekan kerjanya dan terus menyuruh Qaynaya untuk cepat bersiap.
Setelah Qaynaya siap, dia dan rekan kerjanya lalu berlari menuju ruangan rapat.