NovelToon NovelToon
Lost Memories

Lost Memories

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Light Novel
Popularitas:17.8k
Nilai: 5
Nama Author: ZeroGame

Hampa— tak mengerti apapun. Sang Protagonis terbangun di tempat asing bersama seorang gadis Half-Elf yang menyelamatkan nyawanya. Ia dibawa ke sebuah desa yang memberinya kehangatan.
Ketika Sang Protagonis mencoba mengingat berbagai hal, justru sakit kepala hebat yang ia dapat. Dengan ingatannya yang sebagian besar hilang, ia bertekad mengumpulkan kembali serpihan ingatannya. Tapi, perjalanannya tidak akan mudah. Ia harus dipaksa menelan pil pahit takdir yang menuntunnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZeroGame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CH. 15 [Arc: Desa Harapan]

Bu Vega yang mendengarnya langsung memasang wajah marah dan menggertakan giginya.

"Suma! Tora!" dari samping kiri dan kanan Bu Vega berkobar sebuah api, lalu api itu membentuk sebuah hewan, mirip seperti seekor harimau. "Dengar, ini adalah tugas terakhir kalian. Bawa pergi anak-anak ini ke Akademi Sirius. Lindungi mereka apapun yang terjadi sampai akhir hayat kalian!" 

"Baik Nyonya." mereka menjawabnya, kedua hewan ini bisa berbicara.

"Cepat anak-anak, naik ke punggung kami."

Kami mulai naik ke atas punggung Suma dan Tora. Gadis mungil ini sedari tadi diam sambil menundukkan kepala, ia terlihat bersusah payah menahan air matanya. Melihat Riri seperti ini, dadaku rasanya sangat sakit. Tapi kami tidak ada pilihan lain.

Aku naik bersama Riri, sementara Adi berada di satunya. 

"Pergi!"

Suma dan Tora langsung bergerak pergi, gerakan mereka sangat cepat. Saat kami pergi pun, Bu Vega dan kedua orang tua Adi tak lagi menoleh ke arah kami. Riri mencengkram bajuku dengan sangat kuat.

"Hiks—… hiks…" rasanya sangat berat bagi kami. Kami hanya bisa berharap mereka baik-baik saja. 

Yang terpenting saat ini, kami harus bertahan hidup. Beberapa hewan iblis ikut mengejar kami, tapi Suma dan Tora tak menggubrisnya dan malah mempercepat laju kakinya.

"Apa kalian sudah puas mengucapkan selamat tinggal? Kalau begitu, mari kita mulai pembantaiannya."

"Tidak akan kubiarkan kalian berbuat semena-mena!"

Luapan mana keluar dari tubuh Bu Vega. Empat ekor tambahan keluar dan membuat ekor apinya saat ini berjumlah delapan. 

Kami bertiga bersama Suma dan Tora sudah mulai menjauh dari kawasan desa. Kami mendengar gemuruh yang sangat keras dari arah desa. Sebuah pilar api menjulang ke angkasa.

Bertubi-tubi kami mendengar suara ledakan dan kilatan cahaya. 

"Jangan melihat kebelakang anak-anak."

Kami tahu— kalau kami tetap disana, kami tidak akan bertahan. Tapi, melihat begini saja, perasaan kami tetap tak merasa tenang.

Aku bahkan sampai melihat sebuah sinar api yang melesat ke arah bukit tak jauh dari desa, dan dalam sekejap meratakan bukit itu dengan tanah. Hembusan angin kencang mendera kami karena efek ledakan itu. Kami berpegangan erat pada Suma dan Tora agar tidak terhempas dan menghambat perjalanan.

Waktu terus berlalu, dan jarak kami dengan desa kini sudah sangat jauh. Suara gemuruh ledakan sudah tidak terdengar di telinga kami. Bahkan para hewan iblis juga sudah tidak mengejar.

Dari kejauhan, kami melihat sebuah kota terdekat. Kami bisa singgah sementara di sana sebelum melanjutkan ke tempat tujuan.

Sebelum sampai di kota, kami mendapat masalah. Tiba-tiba Suma dan Tora terhenti, mereka terlihat kesakitan.

"Suma, Tora, kalian tidak apa-apa?!"

"Akan kurapalkan sihir penyembuh—"

"Tidak usah, itu tidak berguna. Turunlah anak-anak. Kami akan berbicara untuk terakhir kalinya."

Kami bertiga kebingungan, kami hanya bisa menuruti perkataan keduanya.

"Dengar, kalian harus pergi ke Akademi Sirius tanpa kami." Sebuah kobaran api tercipta di depan mulut mereka. Lalu muncul sebuah kantung yang terlihat sangat berisi dan dua buah surat yang kami tidak tahu isinya. 

"Kantung ini berisi sejumlah uang. Cukup untuk membeli makan dan bernaung sampai kalian sampai ke tempat tujuan jika kalian hemat."

"Surat ini berisi hal yang harus kalian serahkan kepada penerima sesampainya kalian di Akademi Sirius. Nama penerimanya sudah— arg— namanya sudah tertera di suratnya."

Tubuh Suma dan Tora kini mulai bercahaya dan perlahan mulai memudar.

"Maaf anak-anak. Kami harus pergi—"

"Jaga diri kalian baik-baik."

"Tunggu—" saat tanganku hendak menggapai mereka, mereka sudah terlebih dulu menghilang menjadi butiran cahaya.

Gadis mungil itu hanya bisa menutup mulutnya sambil meratapi hal yang baru saja terjadi di hadapan kami. Sementara Adi terus diam sedari tadi. 

Dadaku rasanya sakit, seperti ada hal buruk yang menimpa keluarga kami di desa. Tapi kami tidak ingin berpikiran buruk untuk saat ini.

Bersamaan dengan itu juga, fajar mulai terlihat. Matahari mulai menampakkan wujudnya.

Aku mengambil kantung uang dan dua buah surat itu. Aku mencoba menguatkan Riri agar ia mau berjalan menuju ke kota. Kami bertiga kemudian meneruskan perjalanan. Entah hal apa yang menunggu kami kedepannya, kami harus terus siap.

- Di waktu yang sama, di desa. -

>POV 3: 

"Haaah! Itu tadi sangat mengasyikkan!"

"Mengasyikkan dari mana? Tangan kiriku sampai hilang begini."

"Nanti juga tumbuh lagi."

Desa hancur berkeping-keping. Bahkan tempat itu sudah tak layak lagi disebut sebuah desa. Tak ada satu bangunan pun yang terlihat masih berdiri dan mayat bergelimpangan dimana-mana. Wilayah hutan serta perbukitan di sekitar sana juga sudah rata dengan tanah, tak ada satupun pohon yang masih berdiri kokoh.

Di tengah-tengah desa, terdapat sebuah tiang hitam yang menjulang tinggi. Dan darah segar menetes dari ujungnya.

"Envy. Darimana saja kau?"

"Hanya sedikit bersenang-senang, sambil mencari informasi."

"Jangan terlalu banyak bersenang-senang. Kita harus pergi sebelum pihak militer datang."

"Hei, sebelum pergi. Boleh aku memakannya?"

Seseorang dari mereka menunjuk ke atas tiang hitam itu. Di atas tiang terdapat tubuh seseorang dan di tancapkan di atasnya melalui perut hingga menembus punggungnya. Beberapa bagian tubuhnya pun terlihat tidak utuh dan penuh dengan luka.

"Tentu, lagipula dia sudah mati. Selamat tinggal, Angkara Vega." 

1
Kang Nyimak
Kutai Kartanegara? Indonesia?
Ayano
Diriku mampir thor. Baru baca chapter satu dulu. Abis cas handphone dilanjut lagi. Semangat ya. Kalo sempet mampir juga ya
Helmi Sintya Junaedi
otor kepentok apa ini ya??? sekian paripurna baru lanjut..
btw mkasih mo lanjutin y thor
ZeroGame: aku sibuk sama pekerjaan di real life kak wkwkwk
maaf banget jarang update, gak bisa kupaksakan juga karena bakal menganggu kualitas cerita
total 1 replies
Inira
Bunga untukmu, biar lebih semangat update!
ZeroGame: Makasih kak ≧﹏≦
total 1 replies
Cheonma
Semangat updatenya thorrr...
ZeroGame: Makasih kak ≧﹏≦
total 1 replies
Wardi Kun
Azura menggambarkan gweh nih
Jeco Alana
Baru baca eps 1, tapi bahasanya gurih banget. Mantap.
ZeroGame: makasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!