"Apa benar ini rumah yang dimaksud? "
wajah Raisa pucat pasif sambil membawa tasnya di pundaknya.
Raisa beberapa hari lalu mendapatkan warisan dari kakek pihak ayahnya sebuah rumah di pinggir kota, saat berada dirumah dekat hutan itu memang rumah mewah tapi suasananya aneh.
tapi Raisa tidak punya pilihan karena dia juga tidak punya tempat tinggal di kota, daripada dia menjadi tunawisma lebih baik tinggal di rumah hantu itu.
saat tinggal di dalam sana, kejadian aneh terjadi padanya.
dari mulai bayangan manusia hitam, setiap tengah malam.
saat tengah malam, Raisa dikejutkan dengan kenyataan ternyata dirinya hidup dengan makhluk halus dirumah ini dan pemimpin rumah itu adalah makhluk Banaspati bernama Arya.
Dan siapa Arya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3.Melangkah masuk kedalam.
Raisa terpaku di tempatnya, jantungnya berdegup kencang seakan hendak melompat keluar dari dadanya. Suara benturan keras saat pagar besi itu menutup rapat masih bergema di telinganya, menciptakan gaung panjang yang perlahan menghilang tertelan keheningan yang mencekam. Ia menatap pintu pagar yang kini terkunci rapat tanpa ada tangan manusia yang menyentuhnya, lalu menoleh ke sekeliling dengan mata yang masih membelalak penuh kecemasan. Tak ada siapa pun di sana—tak ada sosok manusia, tak ada jejak kaki yang baru saja dibuat, bahkan angin yang berhembus pun tak cukup kuat untuk menutup pintu besi seberat itu secepat kilat.
“Siapa yang... menutup pagar besar itu?” tanyanya lagi, suaranya bergetar hebat seolah tersangkut di kerongkongan. Tubuhnya meremang, bulu kuduknya berdiri tegak merasakan hawa dingin yang tiba-tiba menyelimuti dirinya lebih pekat dari sebelumnya. “Apakah ada orang di sini? Jika ada, tolong tunjukkan dirimu!”
Hening. Tak ada jawaban yang datang, hanya suara gesekan daun kering yang sesekali terdengar di kejauhan. Rasa takut perlahan merayap masuk ke dalam setiap urat nadinya, membuat kakinya terasa lemas seakan tak bertulang. Sebuah pertarungan batin mulai terjadi di dalam dirinya haruskah ia berbalik arah, berlari sekuat tenaga kembali ke desa, lalu mencari jalan pulang ke kota meskipun harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ia tak memiliki tempat tinggal lagi? Atau haruskah ia tetap melangkah maju, menghadapi segala misteri yang tersembunyi di dalam rumah besar ini, satu-satunya tempat yang kini menjadi miliknya?
Raisa menunduk, menatap tanah yang tertutup dedaunan kering. Jika ia kembali ke kota, kemana ia akan pergi? Tak ada lagi rumah kecil tempat ia memeluk kenangan orang tuanya, tak ada kerabat yang bersedia menampungnya, dan dunia luar selalu memandangnya sebagai monster pembawa sial. Namun jika ia tetap tinggal di sini, ia harus berbagi atap dengan sesuatu yang tak kasat mata—sesuatu yang baru saja menutup pagar dengan sendirinya, sesuatu yang mungkin mengawasinya sejak ia melangkah masuk ke halaman ini.
Pandangannya perlahan terangkat kembali menatap bangunan megah di hadapannya, lalu beralih menatap jendela di lantai paling atas. Sebuah kamar yang tirai jendelanya terbuka lebar, bergoyang pelan ditiup angin sore yang mulai meredup. Sesuatu dalam tatapan itu membuatnya merasa bukan sendirian di sana—seolah ada sepasang mata yang sedang menatapnya lekat-lekat dari balik tirai itu, mengamati setiap gerak-geriknya dengan seksama.
“Bukankah ini rumah yang diwariskan kakekku untukku?” batin Raisa, kebingungan mulai bercampur dengan rasa penasaran yang menggelegak. “Lalu mengapa ada orang yang tinggal disana? Mengapa ada yang mengawasi? Dan siapa sebenarnya yang bersembunyi di balik tirai itu?”
Ia terus menatap jendela itu tanpa berkedip, seolah menantang sosok yang mungkin ada di dalamnya untuk menampakkan diri. Tirai kain itu terus bergoyang pelan, menciptakan bayangan-bayangan aneh yang bergerak di dinding kamar di baliknya. Semakin lama ia menatap, semakin kuat perasaan bahwa ia bukanlah pemilik tunggal rumah ini—bahwa ada penghuni lain yang sudah lama mendiami tempat ini, menjaganya dengan segenap jiwa dan raga, dan kini menunggu dengan sabar kedatangannya.
Belum sempat Raisa memutuskan arah langkahnya selanjutnya, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang berat dan hangat menepuk pelan pundaknya dari arah belakang. Sentuhan itu begitu nyata, begitu jelas, seolah telapak tangan yang besar dan kuat sedang menyentuhnya dengan sengaja. Raisa tersentak sekuat tenaga, seluruh tubuhnya menegang kaku seketika, dan dengan cepat ia memutar tubuhnya ke belakang.
“Siapa?!” serunya kaget, napasnya tercekat.
Namun di belakangnya tak ada siapa pun. Hanya halaman luas yang sepi, pepohonan yang berdiri diam, dan bayangan panjang yang mulai memanjang seiring matahari yang makin condong ke bawah. Tak ada sosok manusia, tak ada makhluk apa pun yang terlihat berdiri di sana.
Rasa takut yang sempat melumpuhkannya tiba-tiba berubah menjadi keberanian yang meledak-ledak. Ia menarik napas panjang, lalu mengeratkan giginya, menatap ke arah ruang kosong di belakangnya seolah sosok itu masih berdiri di sana.
“Aku tidak peduli kamu hantu, makhluk halus, atau apa pun!” teriaknya sekuat tenaga, suaranya memecah keheningan sore itu dengan jelas dan tegas. “Sekarang aku juga berhak tinggal di sini! Rumah ini adalah warisan kakekku untukku, jadi sebaiknya kita tidak saling mengganggu satu sama lain! Aku hanya butuh tempat berteduh, bukan mencari masalah!”
Ia berdiri tegak, dada membusung berusaha menutupi rasa takut yang masih tersisa di dalam hatinya. “Kamu pikir aku mudah ditakuti begitu saja? Aku sudah terbiasa hidup sendirian dan menghadapi hal-hal yang tak biasa seumur hidupku!” gumamnya lirih namun penuh ketegasan, seolah meyakinkan dirinya sendiri maupun penghuni tak kasat mata itu.
Tanpa menunggu jawaban—yang entah apakah akan datang atau tidak—Raisa pun membalikkan tubuhnya kembali menghadap pintu utama rumah yang megah itu. Ia melangkah mantap mendekatinya, sepatunya menapak di atas jalan setapak yang terbuat dari batu alam yang halus dan bersih. Ia mengeluarkan kembali kunci unik yang masih ia genggam erat di tangannya, lalu menyisipkannya perlahan ke dalam lubang kunci pintu utama yang besar dan berukir indah.
Terdengar suara mekanisme halus yang berputar di dalam, lalu kunci itu terkunci sekaligus terbuka dengan sendirinya saat ia menariknya kembali. Begitu pintu kayu besar itu didorong perlahan, seketika itu juga lampu-lampu kristal yang tergantung di langit-langit ruangan yang tinggi menyala secara otomatis, menerangi seisi ruangan dengan cahaya keemasan yang lembut namun terang benderang.
Raisa menganga tak percaya melihat pemandangan di hadapannya. Berbeda sama sekali dengan bayangannya yang membayangkan rumah ini penuh debu, sarang laba-laba, dan berantakan layaknya rumah kosong yang tak terurus selama bertahun-tahun. Sebaliknya, ruangan itu tampak begitu bersih, mengkilap, dan tertata rapi seolah baru saja dibersihkan oleh orang-orang yang sangat teliti. Tak ada setitik debu pun yang terlihat di permukaan lantai, meja, maupun sudut-sudut ruangan.
“Rumah ini... sungguh bersih sekali,” gumam Raisa pelan, matanya tak berhenti menatap sekelilingnya dengan kagum. “Dari luar terlihat sepi dan angker, tapi di dalamnya terawat begitu sempurna.”
Ia melangkah masuk perlahan, menutup pintu di belakangnya namun tak menguncinya rapat. Suaranya bergema lembut saat ia mengucapkan salam sekeras-kerasnya, berulang kali memanggil, “Permisi! Apakah ada orang di sini? Raisa datang, cucu dari Raden Margono. Maaf jika mengganggu!”
Namun tak ada jawaban yang datang, hanya gema suaranya sendiri yang memantul dari dinding-dinding yang megah. Ruangan itu memadukan gaya arsitektur nusantara yang kental dengan ukiran kayu jati yang rumit dan indah, serta sentuhan gaya Eropa yang elegan melalui pilar-pilar yang kokoh dan langit-langit yang menjulang tinggi. Raisa terus berjalan memandangi segala sesuatu yang ada di sekelilingnya, rasa takut yang sempat mendominasi hatinya perlahan memudar, digantikan oleh rasa kagum yang mendalam.
Kursi-kursi besar yang berjajar rapi dilapisi bahan yang halus dan berkilau dengan bingkai berlapis emas, pot-pot bunga yang menghiasi sudut ruangan juga memiliki lapisan emas yang mengkilap, anak tangga yang melengkung indah menuju lantai atas memiliki pegangan yang juga dilapisi emas murni. Karpet-karpet tebal berwarna-warni yang bermotif klasik menghampari seluruh lantai, menciptakan kesan mewah namun tetap hangat. Pajangan klasik, lukisan-lukisan tua yang dibingkai emas, serta guci-guci keramik berharga yang tersusun rapi di atas rak-rak kayu semakin menambah kemegahan ruangan itu.
“Kakekku ternyata orang yang sangat kaya...” gumam Raisa dalam hati, matanya berkaca-kaca memikirkan hal itu. “Tapi mengapa beliau tidak pernah menemui kami? Mengapa tak pernah ada kabar tentang keluarga ini selama Ayah dan Ibu masih hidup? Mengapa semua ini baru sampai ke tanganku setelah beliau tiada?”
Pandangannya kemudian tertuju pada sebuah lukisan besar yang tergantung di dinding utama ruang tamu. Di sana tergambar sosok pria tua yang berwibawa, mengenakan pakaian adat yang anggun dengan senyum yang teduh namun menyimpan ketegasan. Di bawah lukisan itu tertulis nama yang jelas: Raden Margono. Raisa tahu, itulah sosok kakeknya yang selama ini tak pernah ia ketahui keberadaannya. Di sebelah lukisan itu, tergambar pula sosok pria lain yang bertubuh tinggi besar, dengan sorot mata yang tajam namun menawan, memancarkan aura kekuatan yang luar biasa. Raisa menatapnya lama, berpikir dalam hati bahwa mungkin inilah sosok yang selama ini dikabarkan menjaga rumah ini—sosok yang mungkin tinggal di lantai atas yang tadi ia lihat.
Tanpa berniat naik ke lantai atas untuk saat ini, Raisa memilih berjalan menyusuri lorong di lantai dasar, mencari kamar yang akan ia tempati. Ia berjalan perlahan menyusuri pintu-pintu kamar yang tertutup rapat, hingga ia tiba di sebuah pintu di ujung lorong yang tampak sedikit terbuka sendiri, seolah sedang mengundangnya untuk masuk. Tanpa ragu, Raisa mendorong pintu itu perlahan, dan matanya seketika membelalak lebar tak percaya.
Setelah lampu dinyalakan oleh Raisa, dia terkejut tak percaya apa yang dilihatnya.
Itu adalah kamar tidur yang begitu indah, didesain khusus layaknya kamar seorang putri bangsawan. Perabotan di dalamnya terbuat dari kayu pilihan yang halus, tempat tidurnya besar dengan kelambu kain yang berwarna krem lembut dan seprai yang terlihat sangat nyaman. Lemari pakaian yang besar, meja rias yang indah, hingga jendela besar yang menghadap ke arah hutan—semuanya tampak begitu pas dan siap digunakan, seolah-olah sudah lama disiapkan khusus untuknya.
“Terima kasih...” ucap Raisa lantang, suaranya penuh rasa syukur yang tulus, entah kepada siapa ia mengucapkannya—apakah kepada almarhum kakeknya, atau kepada penghuni tak kasat mata yang telah menjaga tempat ini.
Ia segera meletakkan tas besarnya di atas kursi yang tersedia, lalu berjalan mendekati tempat tidur yang empuk itu. Dengan perlahan ia merebahkan tubuhnya yang lelah setelah menempuh perjalanan panjang dan menghadapi berbagai ketakutan yang sempat melanda. Kasur itu begitu empuk dan nyaman, membuat seluruh rasa lelah dan pegal di tubuhnya perlahan menghilang seketika. Raisa menatap langit-langit kamar yang dihiasi ukiran halus, lalu tersenyum tipis meski masih ada sedikit rasa cemas yang tersisa.
“Walaupun aku harus tinggal bersama hantu atau makhluk halus di rumah besar ini, aku rela,” ucapnya pelan sambil memejamkan mata sejenak, menikmati kenyamanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. “Asalkan aku bisa menikmati ketenangan dan kemewahan yang tak pernah kurasakan seumur hidupku, aku akan bertahan di sini, apa pun yang terjadi.”