"Bantu aku, maka aku akan mengingat kebaikan mu ini!" Ujar seorang pria yang menodongkan sebuah senjata ke perut Laela.
Mata Laela tentu saja membelalak lebar.
"Ba... baik!" jawab Laela gugup.
Apa jadinya jika perjalanan liburan sekolah Laela malah membuatnya bertemu dengan seorang bos mafia yang baru saja terluka dan melarikan diri dari para pembunuh bayaran yang mengincar nyawanya?
Setelah menolong pria itu, bagaimanakah cara pria itu membalas kebaikan yang ia janjikan pada Laela?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Melihat pria tua itu menod0ngkan senjata di depan dahinya. Kabir hanya menatap Andreas dengan tatapan tajam.
"Aku anggap ini adalah jawabanmu. Jadi jangan menyesal kalau aku menyerahkan emas itu pada Antoni atau Sando!" tegas Kabir.
Andreas kembali terkekeh.
"Ha ha ha, itu kalau kau bisa keluar hidup-hidup dari sini Kabir!" pekik Andreas yang sudah sangat emosi pada Kabir.
Tanpa basa-basi, Kabir langsung menekan sebuah remote kecil yang ada di saku jasnya.
Buuuummmmm
Sebuah mobil yang ada tak jauh dari mereka, milik anak buah Andreas meledak seketika.
Wajah Andreas dan para pengawalnya begitu terkejut.
"Kau pikir aku datang kemari tanpa persiapan?" tanya Kabir sangat santai.
"Tembak saja aku, dan kau juga akan hangus terbakar di sini!" seru Kabir.
Para pengawal Andreas langsung memeriksa mobil mereka, mereka memeriksa apakah ada. peledak lain yang di terpasang di kendaraan mereka.
Keringat dingin mulia mengalir di pelipis Andreas. Dia pun menurunkan tangannya yang mengarahkan senjata pada Kabir, setelah melihat kalau di jaket Kabir terdapat beberapa bom yang terpasang.
"Kau gilaaa!" pekik Andreas yang sudah semakin naik darah.
Kabir sekarang yang terkekeh penuh kemenangan.
"Aku Kabir Adnan si tua Andreas, ingat itu!" gertak Kabir yang membuat wajah para pengawal Andreas juga sudah pucat.
Masalahnya mobil yang meledak itu ada empat orang anak buah Andreas di dalamnya. Dan mereka benar-benar hangus terpanggang di dalamnya tanpa bisa menyelamatkan diri mereka. Para pengawal Andreas benar-benar di buat bergidik ngeri karena kekejaman Kabir yang seperti seseorang yang berdarah dingin. Begitu kejam seperti tak punya perasaan kasihan.
Sambil menyeka keringat di dahinya, Andreas pun berkata.
"Baik, baik! beritahu aku dimana semua emas itu. Akan ku kirim uangnya ke rekening mu setelah aku mendapatkan emas itu!" ucap Andreas yang seperti merasa tak punya pilihan lain lagi.
Masalahnya dia juga tidak tahu apakah Kabir akan kembali meledakkan mobil anak buahnya atau bahkan dirinya sendiri kalau dia tidak mengikuti apa mau Kabir. Ada sedikit penyesalan dalam hati Andreas karena mengira Kabir akan mudah di kalahkan. Ternyata apa yang dikatakan Antoni benar, Kabir itu sangat licin. Susah sekali menangkapnya apa lagi menaklukkannya.
"Apakah kau merasa aku masih bisa di ajak tawar menawar?" tanya Kabir dengan seringai di bibirnya.
Andreas bahkan langsung menelan salivanya dengan susah payah. Dia merasa dua juta dolar itu sama saja setengah dari harga emas yang Kabir dan anak buahnya curi. Tapi setelah dia berpikir lagi, harga itu pantas untuk nyawanya agar terhindar dari Kabir untuk saat ini. Karena Andreas datang hanya dengan lima mobil anak buahnya dan senjata api. Tidak dengan rencana tambahan lain.
Sementara Kabir sepertinya sudah datang dengan semua penuh persiapan.
"Baiklah, berikan nomer rekening mu. Aku akan kirim dua juta dolar itu!" seru Andreas.
Kabir pun meraih ponsel di saku jaketnya dan membuka sebuah aplikasi. Setelah itu dia memperlihatkannya pada Andreas.
Beberapa menit kemudian, Andreas dan anak buahnya berhasil mengirim semua yang itu ke rekening yang Kabir berikan pada Andreas.
Beberapa menit kemudian lagi, pesan masuk ke ponsel Kabir. Dia juga dolar telah masuk ke rekening yang dia tunjukkan pada Andreas tadi.
"Bagus, emas itu akan di bawa dari bank nasional oleh Ken dan anak buah kepercayaan Maaz lainnya. Mereka akan melewati jalan darat, blok A menuju blok C. Ada Mukhtar juga, anak sulung Maaz. Aku tidak perduli apa yang akan kalian lakukan, tapi lakukan itu di luar kota blok C. Aku tidak mau ayahku curiga, aku yang membocorkan informasi ini pada kalian!" ucap Kabir yang langsung naik ke atas motornya dan pergi dengan cepat dari sana.
Salah satu pengawal Andreas mendekat ke Andreas.
"Bos, semua mobil aman. Hanya mobil itu yang di pasang peledak. Mobil itu tadi sempat berhenti untuk mengisi bahan bakar di pom bensin dekat dermaga!" jelas pengawalnya Andreas.
Mendengar penjelasan pengawalnya, Andreas terlihat sangat kesal. Dia bahkan sudah mengepalkan tangannya dengan kuat sampai buku-buku tangan Andreas yang sudah keriput itu memutih.
"Sialll! aku sudah salah menganggap nya mudah! Kabir Adnan, lain kali aku tidak akan melepaskan mu!" pekik Andreas yang kesal karena kehilangan banyak uang karena Kabir.
Sementara Kabir sudah melenggang menjauh dari dermaga. Dia tersenyum penuh kemenangan. Sasarannya memang tepat, dari ketiga wakil ketua Black Sky, memang Andreas yang paling mudah di tangani, karena usianya memang sudah tak muda lagi. Tapi dia paling kaya dari dua lainnya. Dan Kabir memang sengaja merencanakan semua ini. Mencuri emas dari Bondan, lalu memberikannya pada Maaz Adnan agar mendapatkan kepercayaan dari sang ayah. Lalu kembali dia menjual emas itu separuh harga pada Andreas yang notabene-nya adalah anak buah dari Bondan. Bukankah itu sama saja dengan menjual emas itu pada pemilik aslinya.
Tapi Kabir sudah memikirkan hal itu, karena Andreas itu sangat suka menjil4t Bondan. Dengan mendapatkan emas itu maka Andreas akan mendapatkan kepercayaan Bondan lebih lagi. Kalau di pikir-pikir sebenarnya Kabir sudah membantu Andreas.
***
Di lain tempat, tepatnya di sebuah butik. Arman sudah memilihkan beberapa gaun tertutup untuk Laela.
Laela yang memang tidak pernah pakai gaun pun merasa agak canggung memakai gaun itu di depan Arman.
Meski tertutup dan lengan panjang, tetap saja gaun itu ngepress di badan Laela. Hingga membuatnya merasa sedikit tidak nyaman.
"Bang, memangnya tidak bisa pakai setelan saja ya?" tanya Laela berharap kalau dia bisa pakai pakaian yang nyaman untuk dia pakai.
Arman hanya tersenyum kecil.
"Maafkan aku Laela, tapi biasanya acara seperti ini pasangan para petugas lain akan memakai pakaian seperti ini!" jawab Arman.
Laela pun menghela nafasnya dan melihat dirinya sendiri yang memakai gaun berwarna hitam dengan list putih itu di depan cermin besar di depannya.
'Sebenarnya tidak buruk juga sih, ya sudahlah!' batin Laela.
"Baiklah kalau begitu, aku pilih yang ini saja ya?" tanya Laela dan langsung di balas anggukan oleh Arman sambil tersenyum senang karena Laela mau menerima gaun pemberiannya.
Hari sudah semakin sore, setelah mereka keluar dari butik. Arman mengajak Laela makan dulu di sebuah restoran outdoor tak jauh dari butik.
Mereka duduk di kursi yang ada di bagian outdoor yang pemandangan mengarah ke jalan raya. Mereka pun memesan makanan dan minuman, namun begitu minuman dan makanannya mereka datang. Saat Laela mengangkat gelas, dia melihat sebuah kertas di bawah gelas jus jeruk yang dia pesan. Saat Laela meraih kertas itu dan membacanya, Laela kaget bukan main.
*Siang ini kamu boleh pergi dengan petugas itu, tapi nanti malam jangan harap kamu pergi dengannya*
Laela langsung melihat ke arah kanan dan kiri, saat dia melihat ke dekat tempat parkir. Dia melihat Kabir di atas motor gedenya.
'Hah... bagaimana ini?' batin Laela gusar.
***
Bersambung...
thanks ya atas karyanya
Mampir Thor 🙋
terimakasih author
👍👍👍👍👍👍