"No way! Ngga akan pernah. Gue ngga sudi punya keturunan dari wanita rendahan seperti Dia. Kalau Dia sampai hamil nanti, Gue sendiri yang akan nyingkirin bayi sialan itu dengan tangan gue sendiri. Lagipula perempuan itu pernah hamil dengan cara licik! Untungnya nyokap gue dan Alexa berhasil bikin Wanita sialan itu keguguran!"
Kalimat kejam keluar dengan lincah dari bibir Axel, membawa pedang yang menusuk hati Azizah.
Klontang!!!
Suara benda jatuh itu mengejutkan Axel dan kawan-kawannya yang tengah serius berbincang.
Azizah melangkah mundur, bersembunyi dibalik pembatas dinding dengan tubuh bergetar.
Jadi selama ini, pernikahan yang dia agung-agungkan itu hanyalah kepalsuan??
Hari itu, Azizah membuat keputusan besar dalam hidupnya, meninggalkan Suaminya, meninggalkan neraka berbalut pernikahan bersama dengan bayi yang baru tumbuh di dalam rahimnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maufy Izha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Abimana Dharmawangsa
Azizah menatap gadis cantik kecil di hadapannya yang tengah asyik memakan es goyang.
Azizah sendiri terkejut karena masih ada yang berjualan es zaman ia kanak-kanak dulu. Azizah pun baru selesai menikmati dua biji es goyangnya. Rasanya enak dan menagih. Hihihi.
"Enak ya sayang esnya?"
"Iya, Tante, enak banget. Tasya baru pertama kali makan es begini," ucap Tasya dengan penuh semangat. Wajahnya yang semula murung kini nampak lebih ceria.
"Oh ya? Ini es zaman Tante masih kecil lho..." terang Azizah seraya tersenyum lebar.
"Masa sih, Tante? Berarti esnya sudah tua dong ya?" tanya Tasya dengan polosnya.
"Hahaha, mana ada es tua, Tasya... Yang tua itu Tante, xixixi."
"Enggak kok, Tante. Tante cantik deh, kayak masih... masih SD."
"Hahahaha, Tasya.... Tasya.... Kamu lucu banget sih, Nak."
Azizah benar-benar terhibur dengan tingkah gadis kecil itu. Dia sepertinya jatuh cinta pada Tasya. Tapi... bagaimana bisa Tasya mengatakan bahwa ibunya sendiri tidak menyayanginya?
Di tengah-tengah keceriaan Azizah dan Tasya, tiba-tiba seorang laki-laki dengan kemeja dan dasi yang sedikit berantakan berlari ke arah mereka.
"Tasya!" laki-laki itu berseru.
Tasya yang mendengar suara seseorang yang dikenalnya pun menoleh.
"Om!" Gadis kecil itu melambaikan tangannya dengan riang ke arah laki-laki tadi. Sementara Azizah hanya memperhatikan kedua orang beda generasi itu.
"Thank God! Kamu kenapa pergi enggak bilang-bilang, Sayang? Om hampir jantungan waktu Pak Amir bilang kamu hilang."
"Maafin Tasya ya, Om... Tasya cuma sedih karena tadi pagi Mama marah-marah lagi sama Tasya..."
Tasya kembali murung, mengingat kejadian pagi ini saat ibunya kembali marah dan memaki dirinya dengan kata-kata yang menyakitkan. Om Tasya terlihat memejamkan mata dan mengembuskan napas lelahnya.
"Sayang... Om kan sudah pernah bilang, apa pun yang mama kamu katakan, jangan dipikirkan. Anggap saja Tasya nggak dengar apa-apa, Sayang..."
"Tapi Om... Tasya kan pengin disayang Mama, pengin diantar Mama ke sekolah kayak teman-teman. Tapi Mama nggak pernah mau, malah marah-marah sama Tasya..." Tasya kembali menunduk, sedih dan kecewa setiap mengingat harapannya yang selalu kandas saat meminta mamanya mengantarnya ke sekolah.
Laki-laki yang dipanggil Om oleh Tasya itu pun berjongkok menghadap keponakan tercintanya. Kemudian ia mencubit lembut pipi chubby Tasya dan berkata, "Oke... mulai sekarang Om yang akan antar Tasya."
"Mmmm... Penginnya Mama, Om..." kekeh Tasya.
"Ya, nanti pelan-pelan kita bujuk mama kamu, oke?"
"Ya sudah deh..." Tasya hanya manggut-manggut, terpaksa menyetujui permintaan omnya, sampai tiba-tiba Tasya teringat bahwa ada Azizah di sana.
"Oh iya, Om sampai lupa. Ini Tante cantik yang tadi nolongin Tasya, Om." Tasya turun dari duduknya dan menghampiri Azizah yang sejak tadi menjadi penonton setia paman dan keponakan itu.
Laki-laki itu pun baru sadar bahwa ada seseorang yang duduk di seberang Tasya. Wanita cantik dan... berhijab. Merasa tidak enak, ia pun segera meminta maaf.
"Sorry, saya tidak memperhatikan keberadaan Anda. Saya terlalu excited saat melihat Tasya."
"Iya, Pak, tidak apa-apa. Lagipula saya mengerti kalau Bapak pasti sangat panik." Azizah tersenyum lembut kemudian mengelus puncak kepala Tasya yang kini memeluk pinggangnya.
"Oh ya, kenalkan. Saya omnya Tasya, Abimana Dharmawangsa." Pria yang memperkenalkan diri sebagai Abimana itu pun mengulurkan tangannya.
"Saya Azizah, Pak Abimana," balas Azizah dengan merapatkan kedua tangannya di dada (tanpa bersentuhan) dan hanya sedikit menyentuh ujung jari Abimana sebagai bentuk hormat.
"Maaf Pak Abi, saya..."
"Oh, it's okay... saya mengerti," jawab Abimana dengan cepat. Sejujurnya dia sama sekali tidak tersinggung, malah ia merasa kagum masih ada wanita seperti Azizah di muka bumi ini. (Banyak Pak, Bapak aja yang nggak tahu).
"Terima kasih, Pak."
"Oh ya, saya belum mengucapkan terima kasih karena sudah menolong Tasya," ucap Abimana dengan tulus.
"Oh, enggak kok, Pak. Saya cuma kebetulan lewat dan melihat Tasya sendirian menangis, jadi saya samperin."
"Tetap saja saya ucapkan terima kasih."
"Sama-sama."
"Mmm, bagaimana kalau saya antar pulang?"
"Oh... nggak usah, Pak. Rumah saya dekat kok dari sini."
"Nggak apa-apa, biar saya antar."
"Iya, Tante, biar Tasya tahu rumah Tante dan bisa main nanti!" sahut Tasya dengan gembira.
"Mmmm, ya sudah kalau begitu. Sekali lagi terima kasih, Pak Abimana."
"Sama-sama. Tapi kamu boleh panggil saya Abi saja, biar lebih gampang."
"Baik... Mas Abi... saya pakai Mas ya? Kalau nama saja kayaknya kurang sopan."
"Ya, itu juga boleh. Ya sudah, ayo."
"Mari..."
Mereka bertiga pun berjalan menuju mobil Abimana terparkir, kemudian melaju ke arah kediaman Bi Ani, tempat Azizah tinggal saat ini.
"Tante.... Tante bisa ngaji nggak?" tanya gadis kecil bernama Tasya itu tiba-tiba.
"Insya Allah.... Kenapa memangnya?"
"Tasya pengin bisa ngaji, Tante. Tante mau nggak jadi guru ngaji Tasya?" Tasya bertanya dengan mata penuh harapan.
"Mmm, gimana ya... soalnya Tante kerja di pabrik mulai besok, jadi..."
"Kamu bisa ngajarin Tasya setiap kamu off, hari Sabtu atau Minggu misalnya. Saya akan kasih fee, sama seperti guru les Tasya yang lain."
"Mmmm, biar saya pikirkan dulu ya, Mas. Saya juga harus izin sama Bibi saya."
"Oke, gimana kalau kamu catat nomor saya untuk memberi kepastian nantinya?"
"Oh, ya boleh, Mas. Berapa nomornya?"
"08234567890," ucap Abimana. Sungguh, ini pertama kalinya ia memberikan nomor pribadinya terlebih dahulu pada seorang wanita.
Azizah segera menyimpan nomor itu setelah selesai mengetiknya. "Saya chat ya, Mas, biar bisa di-save."
"Oke. Kalau kamu bersedia, akan saya kasih fee 500 ribu sekali pertemuan."
"Li-lima ratus ribu?" Azizah hampir menganga karena tidak percaya. Lumayan sekali fee-nya.
"Ya," ucap Abi mantap. "Bisa saya tambahkan kalau Tasya cepat menguasai," lanjut Abimana.
"Oke... Mas... saya akan pikirkan baik-baik."
"Good. Saya tunggu segera kabar dari kamu."
"Ya, insya Allah secepatnya saya kabari."
Azizah mengangguk seraya tersenyum. Otaknya bahkan sudah menghitung jumlah fee yang akan didapatkan selama sebulan. Sungguh lumayan untuk bisa membayar cicilan utang ibunya pada Axel, dan bisa untuk menabung biaya melahirkan nanti.
Abimana memperhatikan Azizah dengan seksama. 'Sepertinya dia tertarik dengan bayarannya...' pikirnya.
Sesampainya di rumah Bi Ani, Azizah segera turun dari mobil. Ia mempersilakan Tasya dan Abimana untuk mampir ke rumah bibinya itu.
"Terima kasih sudah antar Tante ya, anak cantik.... Terima kasih, Mas Abi... Mmm, mau mampir dulu?"
"Oh, nggak usah, Azizah. Saya agak terburu-buru karena ini mobil pinjaman, jadi harus segera saya kembalikan."
"Oh gitu... ya sudah, Pak. Terima kasih sekali lagi. Sampai jumpa, Tasya..."
"Sampai jumpa, Tante! Senang deh Tasya hari ini bisa ketemu Tante."
"Tante juga.... Mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi ya..."
"Iya, Tante. Tante pokoknya harus mau jadi guru ngaji Tasya!"
"Insya Allah... mudah-mudahan waktunya bisa diatur ya.. Nanti Tante kabari secepatnya."
"Oke, Tante..."
"Mari Azizah, kami pergi dulu."
"Oh iya, Pak... Silakan..."
Karena bingung mengatakan apa, akhirnya Abimana hanya tersenyum dan melambaikan tangannya. Azizah membalasnya dengan tersenyum disertai anggukan kepala.
Abimana dan Tasya pun melaju meninggalkan Azizah yang kini termenung sendirian di halaman rumah Bi Ani yang cukup luas.
"Lima ratus ribu sekali pertemuan..." Azizah kembali teringat dengan fee itu. "Ya Allah, sebenarnya kalau untuk mengajari ngaji, Hamba tidak seharusnya memungut bayaran. Astaghfirullah... apa sih yang ada di pikiran aku ini?"
"Jangan sampai hanya karena pengin dapat uang secepatnya untuk melunasi utang Ibu, aku menghalalkan segala cara. Naudzubillah... ngaji itu ibadah, Azizah.... Astaghfirullah."
Azizah pun membuang napas panjang kemudian berlalu memasuki rumah bibinya.
terus Memau apaan tuch...
adek yg tlh lama hilanf, kini ada fi depan mata ny, tanpa ia ketahui