NovelToon NovelToon
SANGKAR DERITA WANITA MALAM

SANGKAR DERITA WANITA MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / TimeTravel
Popularitas:309
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

​Kirana adalah lambang keindahan alami desa yang polos. Namun, dunianya runtuh seketika saat sang bapak berpulang. Sebagai anak sulung, beban berat kini berpindah ke pundaknya. Demi menyambung hidup adik-adiknya dan membiayai pengobatan ibunya yang sakit-sakitan, Kirana memantapkan hati untuk mengadu nasib ke kota besar.
​Namun, kota besar tidak seramah impiannya. Terjebak dalam kepolosan dan keputusasaan, Kirana dikhianati oleh makelar tak berhati dan menjadi korban perdagangan manusia. Ia dijual ke sebuah tempat prostitusi kelas atas di Valerion—sebuah kota metropolitan yang megah di luar, namun busuk dan kejam di dalamnya.
​Di balik jeruji emas tempat bordil tersebut, Kirana dipaksa menanggalkan keluguannya dan berubah menjadi wanita malam. Di sinilah kisah perjuangan Kirana dimulai: sanggupkah ia menjaga secercah cahaya di hatinya yang mulai menggelap, atau ia akan selamanya terperangkap dalam sangkar derita tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SENJATA DIBALIK SENYUM

Hening yang mencekam seketika merayapi seluruh sudut balai desa. Bisikan kejam Baskara yang tepat di depan wajah Kirana membuat bulu kuduk siapa pun yang melihatnya akan meremang. Namun, Kirana bukan lagi gadis polos yang bisa digertak dengan setelan jas mahal dan sepatu mengkilap. Ia telah bertahan hidup di palung terdalam kota Valerion; gertakan Baskara tak lebih dari sekadar embusan angin malam yang lewat.

Kirana berdiri dari kursinya. Gerakannya begitu tenang, anggun, namun memancarkan aura intimidasi yang membuat dua pengawal di belakang Baskara refleks menegang.

"Tuan Baskara Jaya," ucap Kirana, suaranya jernih dan lantang, memecah kepanikan warga. "Jika Anda datang ke sini untuk membawa dokumen sita jaminan, silakan serahkan pada Kepala Desa dan biarkan hukum kabupaten yang menilai keabsahannya. Tapi jika Anda datang hanya untuk menggertak orang-orang kecil yang haknya telah dirampas oleh ayah Anda... Anda salah alamat."

Baskara menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkejut dengan ketegangan mental yang dimiliki gadis di hadapannya ini. Seringai di wajahnya justru semakin melebar. "Ah, selalu percaya diri. Karakter yang sama yang membuat ayahku lengah. Tapi, Kirana... warga desa ini berhak tahu, siapa sebenarnya sosok 'pahlawan' yang sedang mereka agung-agungkan."

Baskara berbalik menghadap puluhan warga yang menatapnya dengan campur aduk antara takut dan marah.

"Bapak-bapak, Ibu-ibu sekalian!" seru Baskara dengan suara menggelegar. "Kalian semua ditipu! Gadis ini, Kirana yang kalian puji karena berhasil memenjarakan ayah saya, sebenarnya bukan siapa-siapa melainkan seorang penipu ulung dari kota Valerion!"

"Maksudmu apa, Mas?" Pak RT memberanikan diri bersuara, meskipun tangannya gemetar. "Kirana ini anak baik-baik, anak almarhum Pak suryo!"

"Anak baik-baik?" Baskara terkekeh meremehkan. Ia memberi isyarat kepada pengacaranya. Pria berkacamata itu segera mengeluarkan seikat kertas tebal dari dalam koper kulitnya. Bukan dokumen hukum, melainkan lembaran-lembaran foto berwarna yang dicetak dengan kualitas tinggi.

Dengan gerakan teatrikal, Baskara menyebarkan foto-foto tersebut ke atas meja panjang balai desa, bahkan sengaja melempar beberapa lembar ke arah barisan ibu-ibu di belakang.

"Lihat dengan mata kepala kalian sendiri! Ini adalah Kirana kalian di Distrik Amethyst, Valerion! Di klub malam paling kotor bernama The Velvet Rose!" teriak Baskara.

Suasana balai desa langsung pecah bagai tersambar petir. Ibu-ibu desa berebutan mengambil kertas yang berceceran. Di dalam foto-foto itu, tampak jelas sosok Kirana. Namun, penampilannya berbanding terbalik 180 derajat dengan penampilannya saat ini.

Di foto itu, Kirana mengenakan gaun sutra berwarna merah marun yang mengekspos bahu indahnya, riasan wajahnya tajam dan memikat, memegang gelas kristal berisi minuman keras, dan dikelilingi oleh para pria hidung belang kelas atas kota Valerion. Ada juga foto saat Kirana keluar dari mobil mewah milik Tuan Surya tengah malam.

"Ya Gusti Allah... Astagfirullah al-adzim..." Bu Warsi menutup mulutnya dengan ekspresi jijik yang dibuat-buat, lalu menatap Kirana dengan pandangan menghina. "Ternyata benar gosip sore tadi! Dia ini perempuan pemuas nafsu orang kota!"

"Jadi... uang yang kamu bawa untuk menafkahi dan mengobati keluargamu itu uang hasil menjual diri, Kirana?!" seru warga lain yang mulai terhasut.

"Pantas saja dandanannya menor di kota, pulang-pulang sok pakai baju kurung. Menjijikkan! Balai desa kita jadi najis karena diduduki perempuan seperti ini!" sahut yang lain.

Gelombang cemoohan, makian, dan tatapan jijik seketika menghujani Kirana dari segala arah. Pak RT mencoba menenangkan warga, namun suaranya tenggelam oleh amarah massa yang merasa dibohongi oleh norma-norma kesucian desa yang kolot.

Kirana mengepalkan tangannya di balik kain baju kurungnya. Kukunya menusuk telapak tangannya sendiri hingga memutih. Dadanya bergemuruh hebat, bukan karena takut pada Baskara, melainkan karena rasa sakit yang luar biasa melihat bagaimana warga desa begitu mudah berbalik menyerangnya tanpa tahu pengorbanan berdarah apa yang telah ia lalui demi mengambil kembali tanah mereka.

Baskara melangkah mendekat kembali ke arah Kirana, menikmati pemandangan hancurnya reputasi sang musuh. Ia berbisik pelan, tepat di telinga Kirana yang mulai memerah.

"Bagaimana, Mawar Hitam? Rasanya dikhianati oleh orang-orang yang kamu bela? Menyakitkan, bukan?" Baskara tersenyum puas. "Ini baru permulaan. Aku tidak hanya akan mengambil kembali pabrik gilingan padi itu, tapi aku akan memastikan kamu diusir dari desa ini bagai sampah."

Kirana memejamkan matanya sejenak. Di dalam kegelapan di balik kelopak matanya, ia melihat bayangan wajah bapaknya, Pak Broto, yang tersenyum teduh. Jangan menyerah, Kirana. Mawar tidak pernah tunduk pada durinya sendiri.

Ketika Kirana membuka matanya kembali, kilatan keputusasaan telah hilang. Yang tersisa hanyalah tatapan sedingin es milik sang legenda The Velvet Rose. Ia menatap Baskara lurus-lurus, lalu sedetik kemudian, sebuah senyum tenang justru terukir di wajah cantiknya.

"Tuan Baskara," ucap Kirana pelan namun penuh penekanan, membuat Baskara menghentikan senyumnya. "Anda mengira telah memegang kartu as saya. Tapi Anda lupa satu hal... orang-orang di desa ini mungkin terkejut dengan masa lalu saya, tapi mereka tahu siapa yang merampas tanah mereka, dan siapa yang membebaskan mereka. Mari kita lihat, seberapa lama foto-foto ini bisa menyelamatkan bisnis Anda yang mulai sekarat di kota."

Wah, tensinya makin tinggi! Baskara berhasil memicu badai gosip di depan seluruh warga desa, tapi Kirana menolak untuk tumbang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!