Ayu Lestari, gadis cantik yang ditinggal menikah oleh kekasihnya saat ini sadar kenapa pacaran dilarang, dan ia menyadari jika memang pacaran hanya membuang waktu dan tidak bermanfaat sama sekali, bahkan membuat pikirannya kacau.
Perlahan Ayu mulai memperbaiki diri. Hijrah menuju hal yang lebih baik, belajar tentang bagaimana cara menyalurkan fitrahnya sesuai dengan syari'at. Apakah Ayu akan menemukan pasangan yang tepat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santy puji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memantapkan Hati
"Tumben telat," ucap Ilham yang kala itu sudah menenteng leptop karena sebentar lagi jam mengajar akan segera dimulai.
"Emang?" Bhumi melihat jam tangannya. "Aku nggak ada jam pagi, makanya datang agak mepet," sambung Bhumi.
"Ya sudah aku duluan ya ke kelas." Ilham pamit pada Bhumi, ia lalu bergegas keluar kantor dosen. Bhumi menghela nafas, ia kira Ilham tidak ada jam pagi, ingin mengobrol lebih lama perihal lamar melamar, dan juga calon yang dilamar nantinya.
Saat Ilham keluar dari kantor, Bhumi juga akhirnya memilih untuk keluar kantor, ia menuju perpustakaan, mencari beberapa buku untuk kebutuhan mengajarnya.
Petugas perpustakaan menyapanya dengan ramah, Bhumi yang memang ramah juga tidak kalah membalas sapaan Rahma.
Rahma begitu senang mendapat balasan sapaan dari dosen bujangan yang terkenal menjadi incaran mahasiswi dan dosen single lainnya.
"Cari buku apa pak Bhumi?" tanya Rahma.
"Cari buku buat bahan tambahan mengajar mbak Rahma," jawab Bhumi, ia langsung bergegas menuju rak buku yang tertata rapi sambil memilah milih.
Bhumi tidak sengaja melihat buku umum tentang kiat menjemput jodoh dengan cara mulia. Ia mengambilnya, lalu membuka halaman pertama yang berjudul Laki-Laki Yang Baik Itu Mendekati Menikahi Lalu Menafkahi, Bukan Memacari Menikmati Lalu Pergi.
Bhumi membacanya sekilas. Halaman pertama saja sudah seperti petunjuk untuknya. Seorang lelaki yang baik ketika ia jatuh cinta maka cara yang digunakannyapun akan baik, ia akan mendekati untuk mencari informasi bagaimana wanita itu sebenarnya. Dan cara yang digunakan adalah cara yang sudah disyaria’tkan oleh Allah dalam islam, yaitu dengan jalur ta’arruf.
Lalu setelah itu ia akan mengamil langkah untuk mengkhitbah dan kemudian menikahinya, karena laki-laki yang baik tahu bagaimana tanggung jawabnya ketika ia sudah berani mencintai seorang wanita.
Ia tidak akan mengambil langkah mencintainya dengan cara yang dibenci oleh Allah, yaitu pacaran. Karena ia tahu betul bagaimana resikonya ketika ia berani mengajak orang yang dicintainya dengan jalur yang hina.
Bhumi menutup buku itu, ia ingin membacanya nanti di rumah agar lebih fokus. Dirinya kembali mencari buku yang ingin dicari. Setelah menemukan, Bhumi menghampiri Rahma, meminta izin ingin meminjam dua buku yang ia letakan di atas meja.
Rahma melihat buku yang dosen kece badai itu pinjam. Ia tersenyum, pak Bhumi meminjam buku tentang jodoh.
"Lagi berusaha cari jodoh apa Pak?" tanya Rahma.
"Doakan ya mbak Rahma, semoga saya cepat bertemu dengan jodoh," ucap Bhumi. Rahma tersenyum sambil mengaminkan.
Selesai meminjam buku, Bhumi keluar dari perpustakaan lalu menuju ruang dosen. Membaca buku yang akan digunakan untuk tambahan bahan ajar.
☘️☘️☘️
"Makan siang di luar yuk Bhum," ajak Ilham setelah selesai salat Dzuhur.
"Mau makan apa memangnya?"
"Soto kayanya seger."
Bhumi mengangguk, hawa panas siang ini memang cocok untuk makan yang segar-segar. Bhumi dan Ilham bergegas menuju warung makan soto.
Sesampainya di sana, keduanya langsung memesan makanan. Sambil menunggu makanan dihidangkan, Bhumi menanyakan kapan Ilham akan ke Semarang lagi untuk melanjutkan proses ta'arufnya.
"Insyaallah Minggu depan Bhumi, kenapa memangnya? mau ikut lagi ke sana?" tanya Ilham.
"Kalau Ayu ada di sana ya mau banget lah," jawab Bhumi sambil terkekeh.
"Nah gitu dong, mending yang pasti-pasti saja, nggak usah terus memikirkan orang yang tidak memikirkanmu Bhum, rugi waktu, rugi perasaan juga," ucap Ilham. Sahabatnya itu pernah naksir dengan salah satu wanita di zaman kuliah dulu, sudah pernah juga mengajak menikah, tapi nyatanya wanita itu malah menghilang tanpa jejak.
"Itu udah berlalu, udah nggak aku pikirkan kok, makanya sekarang ini bagaimana ini menurutmu perihal Ayu."
"Lamarlah, mau bagaimana memangnya, pacaran? pendekatan dulu? ingat umur Bhum," ujar Ilham menasihati.
"Ya ya ya, selalu ingat umur, tapi kan Ayu nya belum tentu mau, apalagi aku paham kisah cintanya yang terakhir, terus aku juga saudara dari istri laki-laki yang menghianatinya, bagaimana dong?" Bhumi mencemaskan jika Ayu menjadi bagian dari keluarganya, itu artinya Ayu dan mantannya itu akan jadi satu keluarga besar juga.
"Mantannya itu di Jogja kan Bhum? memangnya kalian mau hidup di Jogja nantinya, di sini kan? jauh Bhum," ucap Ilham.
"Iya sih, tapi ..."
"Sat set Bhum, nanti keburu di lamar orang lhoo."
Pegawai soto datang, keduanya menjeda obrolan, soto terhidang, Bhumi langsung menyantapnya. Sotonya sangat segar, lumayan membuat tubuh dan pikirannya juga ikut segar.
"Aku lamar nih berarti?"
Ilham mengangguk sambil menyantap soto. Keduanya fokus makan terlebih dulu sebelum melanjutkan obrolan.
Bhumi kembali berpikir, bagaimana seandainya nanti waktu dirinya menikah lalu dihadiri oleh mantan Ayu. Baru membayangkan saja rasanya hatinya sudah mendidih. Tidak rela jika Ayu mengenang sedikit pun tentang lelaki itu.
"Habiskan, jangan ngelamun, nanti kita cari jalan keluar dari kegalauanmu itu, tapi berpikir kan butuh energi, makan yang banyak agar bisa berpikir dengan baik Bhum," kata Ilham. Bhumi melirik mangkuk soto sahabatnya itu, ternyata sudah habis tak bersisa. Ya sisa mangkuknya saja.
"Lapar apa doyan?" ledek Bhumi sambil terkekeh.
"Ya dua-duanya, aku kan ngajar dari pagi, mulut berbusa, otak mendidih, ya jelas energi terkuras, nanti setelah ini sudah bisa pulang," ucap Ilham.
"Langsung pulang?"
Ilham menggeleng, tentunya tidak, karena ia harus ke kantor ayahnya untuk membantu pekerjaan ayahnya. Hitung-hitung untuk tambahan biaya pernikahan.
"Semangat cari uang Bhum, sebentar lagi mau menafkahi anak orang, kan jargon wanita sekarang itu katanya kalau ingin istri cantik terus harus ada 3 hal yang wajib dipenuhi, skincare, suami care dan atm care." Semenjak dirinya niat akan menikah, Ilham banyak bertanya pada ibu dan iparnya tentang tips menjadi suami idaman.
Bhumi tertawa lirih, "Semuanya serba uang ya."
"Ya lah, insyaallah kalau kita royal sama istri, rejeki kita juga akan mengalir deras Bhum."
"Terus kira-kira kapan nih aku melamarnya? langsung lamar saja apa yah, soalnya kemarin itu aku sempat tanya ke Ayu, katanya dia sudah tidak ingin berpacaran lagi, kalau bisa ya langsung menikah saja."
"Nah itu lebih bagus, aku yakin pasti Ayu bersedia," ujar Ilham berkata demikian agar Bhumi lebih bersemangat melakukan niat baiknya.
"Tapi buktinya Indah?" Bhumi sedikit mengingat wanita yang pernah ia sukai.
"Ya berarti bukan jodoh, berpikir simpel sajalah Bhum. Jangan berkecil hati, di luar sana banyak yang menyukaimu Bhum, perkara satu orang itu, anggap saja tidak pernah terjadi. Lagian kamu juga gaya banget, masih kuliah udah ngebet nikah, kaya punya duit aja."
"Ya sudah, nanti kalau kamu dan Ajeng sudah mendekati hari pernikahan, insyaallah aku akan ke Jogja."
"Nah gitu dong." Ilham mengacungkan jempolnya. Ia berharap semoga saja kali ini pencarian jodoh Bhumi berjalan dengan lancar.
Setelah memantapkan hati, Bhumi jadi merasa lega karena sudah bercerita dan diberi semangat oleh sahabat seperjuangan. Ia berencana akan memberitahu bundanya esok agar dari jauh hari mempersiapkan lamaran ke Jogja.
Diterima atau tidaknya nanti menyusul, yang terpenting dirinya sudah berusaha mengungkapkan dengan niat baik. Ia hanya bisa berdoa semoga niat baik akan membuahkan hasil baik pula.
😍Bersambung😍
Jangan lupa like komen dan vote. Mana ini yg komen makin sedikit. Komentar kalian semangat author🥰
ehh jd halu 🤭