MALAM INI HUJAN MENGGUYUR BUMI
Malam ini hujan mengguyur bumi,
dan suami tercinta tak ada di sini
dia mungkin sedang bercanda dan tertawa
bersama istri yang lain..
aku ingin menangis..
aku ingin sedih..
tapi dia berpesan padaku bila ini terjadi
maka kembalilah kepada cinta pada Allah
gelar lagi sajadah dan bersujudlah
baca lagi Al Quran penuh kecintaan
dan tetap genggam bahwa Allah adalah cinta teragung..
lalu kulakukan semua nasehatnya
hingga kudengar langkah kaki syaitan menjauh
syaitan itu sangat-sangat kecewa padaku
sebab tetap Allah tujuanku
di saat penuh rindu seperti malam ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Humairah_bidadarisurga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Ayah Basith terisak pelan, kedua matanya yang basah sudah mulai menitikkan air mata ke pipi, tangan halusnya langsung menyeka air mata itu agar tidak terus mengalir ke pipinya.
Nenek Sugondo masih menatap Ayah Basith dengan tatapan lekat, ceritanya masih menggantung dan belum sampai akhir cerita. Rasa penasaran Nenek Sugondo semakin membuncah, tatapannya kini beralih kepada Ayu menantunya yang masih saja menundukkan kepalanya. Tapi terlihat jelas, Ayu sedang bersesih dan menangis, bahunya bergerak dan bergetar hebat, seolah menahan tangisnya agar tidak pecah di ruangan makan itu.
Ayah Basith berusaha menguatkan hatinya untuk melanjutkan ceritanya kembali.
"Setengah jam sudah Ayu mengalami pendarahan dan tidak ada yang menolong, hingga sepasang suami istri memberhentikan laju mobilnya dan berhenti menepi dekat Ayu terjatuh, mereka membawa Ayu ke rumah sakit mikiknya. Suaminya adalah seorang dokter yang bernama Fatih, dan Istrinya pengusaha butik muslimah yang bernama Amira, mereka sudah lama menikah dan tidak memiliki anak. Dokter Fatih dan Amira membantu proses persalinan Ayu yang harus ditindak cepat malam itu juga dengan cara operasi caesar. Basith itu suaminya bahkan tidak tahu kabar Ayu, istri Basith yang sedang berjuang mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan Syakir. Ayu membutuhkan darah dan Amiralah yang menjadi pendonor darah bagi Ayu yang saat itu belum juga siuman pasca melahirkan. Kondisi Ayu semakin memburuk dan Basith adalah suami Ayu, tidak tahu dimana keberadaan istri Basith yang sedang berada dalam sakratul maut, entah apa rasanya melihat Ayu terkulai lemas di ranjang rumah sakit dengan semua alat deteksi menempel ditubuh Ayu," ucap Basith dengan suara pelan menjelaskan.
Ayah Basith menarik napas panjang, hatinya mulai terkoyak dalam kesedihan. Rasanya benar-benar menyakitkan harus mengingat kejadian itu, saat terpuruk Basith adalah tidak bisa menemukan istrinya yang sedang hamil dirumahnay sendiri.
Pintu Rumah itu memang tertutup namun tidak terkunci, semua barang yang ada di dalam rumah utuh dan tidak ada yang hilang, hanya Ayu saja yang tidak ditemukan di seluruh sudut ruangan rumah.
"Satu minggu sudah berlalu, Ayu tetap tidak ditemukan, Basith sudah melaporkan berita kehilangan orang yaitu istri tercintanya sendiri, dan memberikan kabar kehilangan pada semua orang kerabat, dan teman-teman. Baru satu bulan kemudian, Basith menemukan titik terang dari teman terdekatnya yang melihat Ayu berada di ruang rawat inap di rumah sakit, mendengar kabar itu Basith langsung menuju rumah Sakit dan mencari keberadaan istrinya." ucap Basith pelan menjelaskan.
Tangan Bunda Ayu memegang tangan Basith seolah saling menguatkan kejadian saat itu.
"Basith bertemu Ayu, dan anak Basith, Syakir. Betapa bahagia melihat mereka berdua sehat dan sempurna. Dari situ Basith berkenalan dengan Dokter Fatih dan Amira, dengan kabar bahagia positif mengandung, mungkin doa-doa mereka diijabah oleh Allah SWT, asababnya setelah membantu Ayu, Amira menyusul mengandung," ucap Basith dengan suara pelan menjelaskan.
Bunda Ayu semakin erat memegang tangan Basith, suaminya, mengingat kejadian hari itu yang begitu pilu. Air matanya terus luruh deras mengalir di pipi Bunda Ayu.
"Sudah Mas, cukup, jangan teruskan," ucap Bunda Ayu memegang erat tangan suaminya dan menempelkan pada bibirnya berkali-kali.
Nenek Sugondo menatap kedua anak menantunya itu dengan penuh keharuan serta iba. Tangannya menyeka kedua matanya yang mulai basah agar tidak turun ke pipi.
"Lalu, apa hubungannya dengan Syakir? Apa hubungannya dengan Kirana? Mereka punya niat baik untuk menyatukan ikatan yang lebih serius dan SAH," tanya Nenek Sugondo pelan kepada anak dan menantunya itu.
Ayah Basith menegakkan duduknya dan menjawab pertanyaan Nenek Sugondo sesuai dengan kondisi dan keadaannya.
"Kirana tidak bersalah Ibu, tapi kami berdua sudah menjodohkan Syakir pada anak gadis Dokter Fatih dan Amira sebagai ucapan terima kasih, dan mereka sudah menerima semuanya, saat ini hanya tinggal penentuan kapan mereka akan melaksanakan proses lamaran," ucap Ayah Basith pelan menjelaskan.
Nenek Sugondo terkejut bukan main, kedua matanya melotot dan menatap tajam ke arah Ayah Basith yang sudah terlihat panik dan bingung.
"Apa?! Syakir tahu masalah ini?!" tanya Nenek Sugondo dengan suara keras.
Ayah Basith menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Syakir tidak tahu, kami belum sempat membicarakan hal ini kepada Syakir, tapi Syakir sudah memiliki pilihan sendiri, kami harus bagaimana Bu? Posisi kamu sangat sulit. Di satu pihak kami memiliki hutang budi kepada Dokter Fatih dan Amira, tapi di satu pihak kami ingin Syakir juga bahagia, dan kami tahu hanya Kirana kebahagian bagi Syakir," ucap Ayah Basith menjelaskan pelan.
"Sejak malam hal ini yang menganggu pikiran kami, kami benar-benar tidak bisa berpikir jernih untuk mendapatkan solusi terbaik. Mungkin Ibu bisa bersikap tegas dan bijak, apa yang harus Mas Basith dan Ayu lakukan, agar tidak ada yang tersakiti," ucap Ayu pelan menjelaskan.
Syakir sudah berada di rumah sederhana Kirana. Pagi itu Kirana sudah merapikan dan membereskan rumahnya. Rencananya Kirana akan menemui Bapak Arif dan mengantarkan makanan untuk sarapan dan makan siang nanti di sel.
Pagi-pagi sekali setelah shubuh, Kirana berbelanja sayur dan beberapa kebutuhan lainya.
"Assalamu'alaikum, Kiran," panggil Syakir pelan sambil mengucap salam dan mengetuk pintu rumah itu dengan pelan.
"Waalaikumsalam, sebentar," jawaban salam dari dalam rumah. Kiran berjalan menuju pintu depan dan membuka pintu rumahnya dengan lebar.
"Kiran? Pakai hijabmu!" tegas Syakir kepada Kiran yang membuka pintu dengan berpakaian adanya dan tanpa balutan hijab di kepalanya.
Syakir memutar tubuhnya menghadap ke arah jalan dan tidak menatap Kiran yang sudah ada di depannya.
"Maafkan Kiran, Syakir, masuklah. Kiran ganti pakaian dulu," ucap Kiran pelan dan berlari cepat menuju kamarnya untuk segera mengganti pakaiannya yang lebih sopan dan memakai hijab instan di kepalanya.
Syakir membalikkan tubuhnya dan masuk ke dalam rumah Kirana. Harum wangi masakan dari arah dapur, entah apa yang sedang di masak oleh Kiran.
Kiran keluar dari kamar tidur dengan pakaian gamis sederhana bermotif bunga-bunga berwarna kuning cerah. Wajahnya semakin tampak cerah dan ayu dengan balutan hijab instan yang panjang dengan warna senada.
Senyumnya merekah tampak senang dan bahagia.
"Kiran?" panggil Syakir dengan suara lirih, tatapannya tertuju pada Kirana yang berjalan keluar dari kamar tidurnya menuju dapur.
Syakir begitu terpana dan semakin terpesona dengan wajah cantik Kirana yang makin mempesona.
Suara lirih dan lembut itu terdengar di telinga Kirana. Kirana menoleh ke arah Syakir yang menatapnya tanpa berkedip.
"Ada apa Syakir? Tadi memanggil Kiran, bukan?" tanya Kirana dengan suara pelan.
Kirana membalas tatapan Syakir dan melambaikan tangannya di depan mata Syakir yang masih terdiam seperti melamun.
miris pola pikir mu thor
belajar lagi ajaran islam
*islam melaknat pelakor dan pebinor
*islam melaknat lelaki mendekati istri orang
*islam melaknat istri mencerita masalah rumah tangganya pada lelaki lain
*islam melaknat istri yang dekat dengan pria lain
*islam melaknat istri yang membela pria lain didepan suaminya
*islam melaknat istri menjatuh kan kehormatan suaminya didepan pria lain
*islam melaknat istri yang tidak bisa menjaga kehormatan suaminya
*islam melaknat istri yang bisa membuat fitnah dengan dekat dengan pria lain
belajar agama lagi dengan benar, ingat thor walaupun ini hanya novel tapi cara kau membenarkan sebuah kesalahan niscaya kau akan diminta pertanghunh jawaban
renungkan lah
kelakuan Kirana lebih menjijikan dari seorang pelacur sekalipun, tapi miris, tidak bermoral nya, munafik nya novel ini dan pemikiran author malah membenarkan semua kelakuan Kirana
mudah mudahan saja author punya suami yang sifatnya kayak Kirana dan punya teman wanita yang baiknya kayak fahad, amin
*melaknat kelakuan pelakor fatma tapi kalian memuja kelakuan pebinor fahad
*kalian melaknat intrkasi syakir dan fatma tapi kalian malah membenarkan intrkasi Kirana dan fahad
Orang lelaki ketika kamu menikah keluarga kecilmu adalah tanggungjawab utama , Anak-anak boleh patuh pada orang tua tapi itu berlaku kalau orang tua masih hidup berlandaskan syariat agama , Ini orang tua seperti ibu bapa Syakir tak wajib ditaati lelaki itu boleh bersikap keras kerana mereka nakhoda setiap bahtera rumah tangga .
ibu ayu terlalu memaksakan dan telah memisahkan antara Syakir dan Kirana