Aria Evander, seorang mahasiswi kedokteran brilian di dunia modern, terbangun di dalam tubuh putri Baron yang bangkrut dalam novel fantasi yang pernah ia baca. Mengetahui nasibnya adalah kematian tragis sebagai pion politik, ia menolak tunduk pada naskah 'takdir'. Dengan bantuan Lumi, roh pena takdir yang memberinya kemampuan memanipulasi narasi realitas, Aria memulai permainan catur politik di Kekaisaran Sihir Elgarth. Ia harus menyeimbangkan antara bertahan hidup, memperbaiki kondisi keluarganya yang terpuruk, dan menjinakkan hati para penguasa yang memegang kunci kelangsungan dunianya, sambil menyadari bahwa setiap perubahan yang ia buat menciptakan riak yang mengancam keseimbangan antara terang dan kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan Pulang
Derit roda kereta kuda yang beradu dengan jalanan berbatu menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan sore itu. Di dalam kabin yang sempit, aroma kulit jok yang mengelupas bercampur dengan sisa kelembapan hujan yang baru saja reda. Kabut tipis mulai turun, membungkus jalanan pinggiran ibu kota Kekaisaran Elgarth dengan warna abu-abu yang dingin.
Baron Edward Evander mengembuskan napas panjang. Jemarinya yang kasar karena bekas luka perang berulang kali mengetuk hulu pedang tua di pangkuannya. Ia menatap putrinya yang duduk tegak di hadapannya, tampak begitu tenang seolah baru saja menyelesaikan minum teh biasa, bukan baru saja keluar dari sarang singa bernama Duke Lucien Veritas.
“Aria,” suara Baron Edward terdengar berat, sarat akan kecemasan yang coba ia sembunyikan di balik wibawa seorang mantan jenderal. “Apakah Duke Veritas mengancammu? Jika dia menggunakan kekuasaannya untuk menekan keluarga kita, Ayah tidak akan tinggal diam, sekalipun harus menghadap Kaisar.”
Aria mengalihkan tatapannya dari balik jendela kaca yang berembun. Ia tersenyum tipis, sebuah lengkungan kurva yang lembut namun menyimpan ketegasan yang belum pernah dilihat sang ayah sebelumnya. Tangan kanannya bergerak merapikan lipatan gaun sederhananya yang mulai memudar.
“Tidak perlu cemas, Ayah,” kata Aria tenang. “Duke Veritas hanyalah seorang pria yang terlalu banyak tahu. Pertemuan tadi berjalan dengan sangat baik. Setidaknya, beliau kini tahu bahwa keluarga Evander bukanlah pion yang bisa digerakkan sesuka hati.”
Baron Edward mengerutkan kening, menatap putrinya dengan campur aduk antara rasa bangga dan kebingungan. Sejak terbangun dari demam tingginya beberapa pekan lalu, Aria telah berubah. Gadis kecilnya yang pemalu dan rapuh kini menjelma menjadi sosok yang penuh perhitungan, dengan sorot mata yang begitu dalam seolah mampu membaca masa depan.
Kereta kuda akhirnya berhenti dengan sentakan pelan di depan kediaman Evander. Rumah bangsawan yang dulunya megah itu kini tampak sepi, dengan cat dinding yang mengelupas di beberapa sudut dan taman yang hanya dihiasi rumput liar. Namun, bagi Aria, tempat ini adalah benteng pertahanan pertamanya.
Mia Florent sudah menunggu di balik pintu kayu ek yang berat. Gadis pelayan itu segera membungkuk hormat, wajahnya yang bulat tampak cerah saat melihat Aria kembali dalam keadaan utuh tanpa kurang suatu apa pun.
“Selamat datang kembali, Nona, Tuan Baron,” sambut Mia hangat. “Saya telah menyiapkan teh hangat dan sup kentang di ruang makan.”
“Terima kasih, Mia. Bawakan saja tehnya ke kamarku,” jawab Aria lembut. Ia menepuk bahu ayahnya perlahan untuk menenangkannya sebelum melangkah menaiki tangga kayu yang berderit pelan di bawah langkah kakinya.
Begitu pintu kamar pribadinya tertutup rapat, keheningan langsung menyelimuti Aria. Ia mengunci pintu, lalu bersandar di sana sembari mengembuskan napas panjang. Ketegangan yang sejak tadi ia tahan di hadapan Duke Lucien akhirnya runtuh. Bahunya merosot, dan sebersit rasa lelah yang amat sangat menghinggapi fisiknya.
“Kau bertindak terlalu berani hari ini, Aria.”
Sebuah pendar cahaya keemasan muncul dari balik saku gaun Aria. Cahaya itu perlahan merenggang, membentuk sosok peri kecil bersayap transparan selembut sutra. Lumi, sang roh pena takdir, melayang di udara dengan wajah cemas yang menggemaskan.
“Mengalihkan perhatian Duke dengan burung hantu salju adalah ide yang bagus,” lanjut Lumi, mendarat di atas meja kayu yang retak. “Namun, kau menggunakan Mana Suci yang belum sepenuhnya stabil di tubuh ini. Ditambah lagi, tatapan Duke itu... dia hampir saja menyadari keberadaanku.”
Aria berjalan mendekati meja, lalu duduk di kursi kayunya. Ia menatap Lumi dengan dahi berkerut. “Dia tahu dunia ini digerakkan oleh 'The Script', Lumi. Aku bisa merasakannya dari bagaimana cara dia memandangku. Dia tidak melihatku sebagai Aria si putri Baron yang bangkrut, melainkan sebagai anomali.”
“Itulah mengapa kita harus berhati-hati,” ujar Lumi serius. Sosoknya yang kecil memancarkan cahaya keemasan yang lebih redup, tanda bahwa energi magisnya juga terkuras setelah memanipulasi kenyataan tadi sore. “Setiap kali kau menulis ulang takdir, riak yang tercipta akan menarik perhatian entitas yang lebih kuat. Dan jangan lupa, Evelyn Roselia masih mengawasimu dari balik bayang-bayang kuil suci.”
Mendengar nama itu, rahang Aria mengeras. Evelyn Roselia—sang protagonis asli dalam novel yang kini ia tinggali. Di mata dunia, Evelyn adalah gadis suci yang penuh belas kasih. Namun, Aria tahu betul bahwa di balik topeng malaikat itu, Evelyn adalah sosok manipulatif yang tidak akan ragu menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya, termasuk keluarga Evander.
Ketukan pelan di pintu memecah konsentrasi Aria. Lumi dengan cepat menghilang, menyatu kembali ke dalam segel magis di pergelangan tangan Aria.
“Nona Aria, ini teh hangat Anda,” suara Mia terdengar dari luar.
“Masuklah, Mia,” jawab Aria, menetralkan ekspresi wajahnya.
Mia melangkah masuk membawa nampan perak berisi teko keramik dan secangkir teh camomile yang mengepulkan uap harum. Namun, Aria menyadari ada sesuatu yang tidak biasa dari gerak-gerik pelayannya. Mia tampak gelisah, matanya terus melirik ke bawah.
“Ada apa, Mia? Kau tampak menyembunyikan sesuatu,” tanya Aria sembari menerima cangkir tehnya.
Mia menggigit bibir bawahnya, meremas celemek putihnya dengan gugup. “Itu... Nona. Sore tadi, saat Anda pergi ke kediaman Duke, seorang kurir dari ibukota mengantarkan ini.”
Mia merogoh saku celemeknya dan mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna merah muda dengan segel lilin berbentuk bunga mawar emas. Simbol keluarga Roselia.
Aria menerima amplop tersebut. Sentuhan kertas bertekstur mahal itu terasa dingin di ujung jarinya. Ia memecahkan segel lilinnya perlahan, membuka lipatan surat di dalamnya. Tulisan tangan yang anggun dan berbelit-belit menyapa matanya.
*Kepada Nona Aria Evander yang terhormat\,*
*Kudengar kesehatan Anda telah pulih sepenuhnya setelah demam yang panjang. Sungguh sebuah mukjizat yang patut dirayakan. Untuk menyambut kembalinya Anda ke lingkungan sosial\, saya dengan tulus mengundang Anda dalam Acara Teh Musim Gugur di kediaman utama Roselia akhir pekan ini. Kuharap kehadiran Anda dapat menjernihkan segala kesalahpahaman yang terjadi di antara keluarga kita belakangan ini.*
*Evelyn Roselia.*
Aria membaca baris demi baris surat itu dengan senyum dingin yang perlahan terukir di wajahnya. Ini bukan sekadar undangan minum teh biasa. Ini adalah sebuah jebakan sosial.
Evelyn baru saja kehilangan muka setelah utusannya, Lady Catherine, dan penilai korup Master Boris gagal mempermalukan keluarga Evander dalam insiden pedang pusaka palsu beberapa hari lalu. Kini, sang 'gadis suci' ingin menarik Aria ke wilayah kekuasaannya sendiri, di hadapan para bangsawan tinggi, untuk menghancurkan reputasi Aria yang baru saja mulai membaik.
“Nona... apakah Anda akan pergi?” tanya Mia cemas. “Semua orang tahu betapa kejamnya para rona di pesta teh seperti itu. Mereka akan mencemooh gaun kita, status kita yang...” Mia tidak melanjutkan kalimatnya, takut menyinggung perasaan Aria.
“Tentu saja aku akan pergi, Mia,” jawab Aria lirih, namun matanya berkilat tajam. Ia meletakkan cangkir tehnya yang mulai mendingin ke atas meja.
Ia tidak bisa terus-menerus bersembunyi di balik tembok kediaman Evander yang runtuh. Jika Evelyn ingin bermain, maka Aria akan melayaninya. Dengan kemampuan 'Penulis Takdir' yang ia miliki dan ingatan medis dari dunianya terdahulu, ia tidak lagi menjadi pion tak berdaya yang bisa ditindas.
Setelah Mia keluar dari kamar, Aria kembali memanggil Lumi. Pena bulu angsa kuno yang biasa ia gunakan kini tergeletak di atas meja, siap untuk menuliskan narasi baru.
“Lumi, mari kita lihat seberapa besar kekuatan naskah ini jika dihadapkan dengan kehendak bebas,” bisik Aria, jemarinya perlahan menyentuh ujung pena bulu yang mulai bersinar keemasan.