NovelToon NovelToon
Pewaris Sang Triliuner

Pewaris Sang Triliuner

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Identitas Tersembunyi / Kebangkitan pecundang / Kaya Raya
Popularitas:440.3k
Nilai: 4.7
Nama Author: Djennar

Surya Aditama tak pernah menyangka bahwa upacara pemakaman aneh yang tak sengaja ia hadiri membuatnya menjadi pewaris seorang triliuner. Namun demi mencegah perhatian dari orang - orang yang tak diinginkan, ia harus menunggu selama seminggu agar bisa mewarisi kekayaan lima belas milyar dolar Amerika.

Kejadian ini menjadi titik balik kebangkitan siswa pecundang yang selalu jadi sasaran perundungan. Simak ceritanya untuk membalas setiap perbuatan buruk pada dirinya dengan cara yang elegan dan berkilau.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djennar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Sardjono

Jam tujuh malam tepat mobil Mercedes Benztelah terparkir di jalan depan rumah pemilik Sardjono Estate, Sardjono Hardadi. Surya memang sengaja menyuruh Pak Seno untuk tidak masuk ke halaman untuk memancing Pak Sardjono keluar.

Sejak sore tadi Surya sedang mengatur rencana bagaimana mendapatkan kembali Pujasera Sentono tanpa mengeluarkan uang lebih dari lima milyar. Ia mendapatkan kabar dari Pak Rama jika Sardjono Estate telah mengajukan proposal kerjasama pada cabang usaha baru yang telah resmi bernama Aditama Investama. Nilai kontrak yang diajukan adalah 50 milyar.

Pihak Direksi masih mengkaji proposal itu dan delapan puluh persen bisa disetujui. Kemungkinan karena itulah Sardjono berani membeli Pujasera Sentono dengan mengandalkan pinjaman dari Bank Nasional Pusat.

Berita ini bisa menjadi jalan bagi Surya untuk mendapatkan kembali Pujasera Sentono. Hanya dengan satu kalimat dari Surya, proposal kerja sama itu bisa saja tidak diloloskan.

Memikirkan strategi ini di mobil mewah membuatnya seperti seorang bos besar. Setiap pandangan dan langkah penuh kalkulasi. Membuatnya tampak seperti seorang yang tidak bisa dianggap remeh.

S-Class mungkin tidak akan terlalu menarik perhatian bagi orang awam, tetapi bagi kalangan atas mobil ini masih jadi incaran. Benar saja, lima belas menit kemudian seorang pria bertubuh tambun dan berkumis tebal keluar dari rumah. Surya mengira karena cahaya yang kurang mengakibatkan kulit pria itu terlihat hitam, ternyata memang hitam alami.

Pria itu lantas menghampiri jendela sopir dan mengetuknya.

"Kenapa berhenti di sini, Pak? Apakah ada masalah?" Tanya pria itu begitu Pak Seno menurunkan kaca jendelanya.

"Anda ini siapa?" Pak Seno pura-pura mengerutkan dahi.

"Nama saya Sardjono pemilik rumah itu." Pak Sardjono menunjuk rumahnya dan tersenyum bangga. Rumahnya memang megah dan kelihatan paling bagus di kompleks ini.

"Kebetulan majikan saya mencari seseorang bernama Sardjono yang katanya tinggal di daerah sini. Apakah itu anda?" Pak Seno benar-benar pandai berakting. Dia benar-benar melakukan sesuai instruksi Surya.

"Sudah pasti itu saya! Di daerah sekitar sini hanya saya yang bernama Sardjono. Bahkan jika ada orang yang memiliki nama yang sama sudah saya usir dari sini. Tapi cukup panggil saya dengan Djono saja."

Pak Djono yang tertarik mendengar kata majikan, mengintip ke belakang. Ia penasaran siapa pemilik mobil mewah ini.

Meskipun bisa dikatakan sebagai bos real estate, tetapi kekayaannya juga belum mencapai puluhan milyar. Ia baru bisa membeli E-class setelah menabung beberapa tahun. Harganya tentu tidak mencapai setengah dari mobil yang terparkir di depan halamannya ini.

Melihat orang di kursi belakang adalah seorang yang masih muda, Pak Djono membelalakkan matanya karena kaget. Ia tidak mengira jika orang yang masih sangat muda ini adalah pemilik mobil mewah ini.

Surya yang ditatap dengan intens mencoba menyembunyikan rasa tidak nyamannya. Remaja itu membalas hanya mengerling ke arah Sardjono dan mengangguk malas. Surya ingin memperlihatkan bahwa statusnya jauh di atas Sardjono.

Mendapatkan balasan yang tidak terlalu antusias membuat Sardjono jadi salah tingkah. Orang ini mencarinya pasti bukan hanya sekedar penasaran. Pasti karena bisnis.

Sardjono baru saja mengeluarkan uang 3 milyar untuk membeli Pujasera Sentono. Ia ingin segera meraih keuntungan untuk menambal lubang besar di kasnya. Bisnis apapun itu asal mendatangkan uang pasti akan ia ambil. Apalagi yang datang sendiri seperti ini. Benar-benar seperti ketiban durian runtuh.

Tidak mau kesempatan bagus ini hilang begitu saja, Sardjono segera bermanis muka.

"Silakan masuk ke gubug saya! Anda pasti lelah setelah perjalanan." Senyum Pak Sardjono melebar. Bisa menyambut orang kaya seperti ini sudah pasti akan mendatangkan keuntungan baginya.

"Sepertinya dia orang yang kita cari, Seno." Surya merasa lidahnya sedikit kaku saat memanggil nama langsung pada Pak Seno.

Mendengar penuturan Surya, wajah Pak Djono langsung berubah cerah. Seperti ada yang menyalakan bola lampu di dalam kepalanya. Ia benar-benar mendapatkan rejeki nomplok.

"Mari silakan parkir mobilnya di dalam saja agar aman." Pak Djono segera membuka pintu gerbang lebar-lebar dan menjadi juru parkir Mercedes Benz S-Class itu.

Rumah pemilik Sardjono Estate ini cukup megah. Bangunannya terdiri dari 3 lantai dan memiliki halaman pavin yang luas. Ada garasi mobil di sisi kiri bangunan. Dari ukurannya bisa memuat 2 hingga 3 mobil.

Setelah turun dari mobil Pak Seno segera menghampiri Surya dan membungkuk.

"Apa perlu saya temani ke dalam, Pak Surya?" Bisiknya.

"Tidak perlu. Saya bisa mengatasi ini sendiri." Jawab Surya pelan.

"Kalau begitu saya akan menunggu di sini. Jika anda butuh apapun segera hubungi saya."

Surya hanya membalas dengan senyuman ringan dan anggukan pelan. Ini adalah peperangannya untuk memperjuangkan hak para pedagang di Pujasera Sentono. Ia akan mengerahkan seluruh pikirannya untuk bisa mendapatkan kembali tempat itu. Meskipun harus mematahkan kaki dan tangan Sardjono.

Setelah memantapkan hatinya Surya berjalan dengan percaya diri masuk ke ruang tamu. Bagi Surya yang sudah pernah masuk restoran bintang lima ruang tamu Sardjono hanya terlihat seperti meja paling murah saja.

Sardjono menyambutnya di sisi sofa dan mempersilakan remaja itu untuk duduk. Selama itu Surya terus memasang wajah sedikit acuh dan tidak terlalu memperhatikan detil ruangan. Ia tidak ingin dianggap norak dengan berdecak kgum melihat barang murah ini.

"Jadi kalau boleh tahu, Ada perlu apa tamu agung seperti anda ini sampai repot-repot mencari saya?" Tanya Pak Sardjono membuka pembicaraan.

"Terlebih dulu perkenalkan nama saya adalah Surya Aditama. Saya sedang ingin mencari lahan untuk berbisnis. Saya sudah mencari ke berbagai daerah dan menemukan satu tempat yang cocok di Semarang ini. Saya sudah memberitahu pada pemiliknya bahwa saya akan membeli tempat itu berapapun harganya."

"Saya kemudian kembali ke Jakarta untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Hari ini saya kembali ke sini untuk mencari pemilik tempat itu dan menetapkan kesepakatannya."

"Sayangnya pemilik mengatakan jika dia sudah menjual tempat itu pada seseorang."

"Lalu apa hubungannya cerita itu dengan saya, Pak Surya?" Pak Sardjono sebenarnya sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan Surya. Remaja ini pasti membicarakan mengenai Pujasera Sentono yang baru saja dibelinya.

"Anda tidak perlu berpura-pura tidak tahu, Pak Djono. Yang saya maksudkan tentu saja adalah Pujasera Sentono." Surya menatap tajam ke arah pria di depannya.

"Oh ternyata itu yang anda maksud. Kenapa tidak mengatakan langsung saja?" Benar dugaannya bocah ini memang mengincar Pujasera Sentono. Apalagi dia bilang tadi akan membeli tempat itu berapapun harganya. Ini kesempatan baginya untuk menjual tempat itu dengan harga berkali-kali lipat.

"Oleh karena itu saya akan membeli Pujasera Sentono dari anda, Pak Djono." Kata Surya tenang.

"Saya tidak akan keberatan untuk menjualnya pada anda. Tetapi anda perlu ingat, saya tidak membelinya dengan harga seratus atau dua ratus juta saja. Saya membeli tempat itu dengan harga 3 milyar. Jika saya ingin menjualnya, maka harganya harus lebih dari itu."

"Saya sangat mengerti tetang hal itu, Pak Djono. Tentu saja dalam berbisnis harus memikirkan keuntungan, bukan?" Surya tersenyum ketat.

"Jika boleh tahu, berapa harga yang anda tawarkan?"

Sardjono tanpa pikir panjang mengangkat lima jari tangan kirinya, "Saya menginginkan 50 milyar untuk tempat itu." Jawab Pak Djono tegas.

1
my heart
bego mc nya bego lu juga thor bikin novel tuh yang pikirannya dewwsa sikit ini pikirannya bego
Joe Harry
Karena ceritanya terputus yang tersisa hanya kecewa
hisap sur wewek nya nti cri baru lg
Cecef Rachman
gimana mau kasih komentar ceritanya aja blm selesai
Cecef Rachman
👍
Ivan Sumampouw
lumayan jelek
Ivan Sumampouw
udah sangat kaya, pinter, jago beladiri,, kog bisa2nya diarahkan penulis jadi picik, bodoh dan lemah 🤣🤣🤣🤣
スターレット: penulis lagi memble
total 1 replies
Adam Wartono
tamat
Hayella Andini
ceritanya akan berlanjut apa kaga yah,mandeg
Teddy Aktadi
Luar biasa
Darma Elmo
bgus
Zola m riski
owch ooo sudah macet kah cerita nya.kalau sudah bikin tamat aja
Imam Sutoto
keren
Syahrizal
Luar biasa
Kamal Udin
mantaaap
TJONG KIAN HIN
Mantap…..
Choky Ritonga
omong kosong thor " kamu mimpi ngomong seperti itu " jangan buat wacana pembaca cerita mu " jadi Pengecut "
Hary
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Hayella Andini
lanjutan ceritanya mana thooooorrr
Hary
penulis muda rata2 terlalu berlebihan dalam menuangkan cerita...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!