Mengorbankan cinta untuk sahabat?
Cintanya pada seorang laki-laki ia pertaruhkan demi kesembuhan sahabat yang menderita depresi.
Bisakah Salma mengikhlaskan Doni hidup bersama Esti. Atau mereka akan tetap bersatu dengan cinta mereka?
Temukan jawabannya di Biarkan Ku Mengalah cerita yang seru dan mengharukan tapi ga usah baper. Happy reading💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 Petuah Adam
"Benar-benar surprise....silakan diminum, Kak!" Darma dengan wajah berbinar setelah Roni menyuguhkan minuman dan cemilan di atas meja.
"Doni kenapa ga diajak?"
"Doni sedang sibuk sama istrinya"
"Beneran dia sudah menikah? CK...CK .. tuh bocah ga ngundang-ngundang" Darma masih tidak percaya pantas saja kemarin Doni memintanya datang ke rumahnya sekalian akan memperkenalkan istrinya.
" iya. Lantas kamu sendiri kapan nikah?"
Uhuk....uhuk....uhuk Darma yang sedang minum tersedak setelah mendengar pertanyaan Adam.
"Sebaiknya memiliki pasangan halal daripada menjalin kasih tanpa ikatan yang sah. Agar terhindar dari fitnah" Lanjut Adam cukup menohok. Darma nyengir kuda.
"Cewek yang tadi itu bukan pacar, Kak." Jelasnya khawatir Adam salah paham
"Kakak tahu. Dia orang yang selama ini ngejar-ngejar kamu kan?" Darma mengangguk.
"Kalau kamu ingin terbebas dari cewek model tadi menikahlah!" Darma tertawa.. Yang benar saja Darma masih ingin dalam kesendirian tanpa ikatan yang sah walaupun statusnya di kalangan kampus sudah menjadi milik orang lain. Darma tahu batasan-batasan yang dilarang dalam agamanya. Kadang teman-teman perempuan di kampus sering salah paham akan sikapnya yang perhatian terhadap mereka. Di sisi lain Darma masih kuliah, dia ingin menyelesaikan pendidikannya terlebih dahulu baru memikirkan hal terbesar dalam hidupnya.
"Berapa banyak pacar kamu di sini?" Adam bertanya seperti itu bukan tanpa alasan. Sejak SMA Darma memiliki pacar lebih dari dua walaupun itu hanya sebatas cinta monyet. Darma salah tingkah ia tidak bisa berbohong dengan guru spiritualnya. Dulu juga Adam yang memberi nasehat sehingga ia tidak kebablasan dalam berteman.
"Jangan pernah mempermainkan hati. pilih satu orang yang akan membawamu pada kebaikan dunia dan akhirat. Kalau kamu bersedia datanglah ke pondok. Jemput nikmat yang akan membawamu pada perubahan yang hakiki dalam hidupmu. Oke itu saja cukup. Kakak ga bisa lama di sini. Banyak hal yang harus kakak kerjakan di pondok." Adam menepuk bahu Darma seolah memberi semangat dalam menentukan hidup yang lebih menantang untuk masa depannya.
"Secepatnya kakak tunggu!" Petuah Adam seolah sebuah tamparan keras yang harus mengakhiri permainannya dengan wanita. Ia tersenyum bangga pada sosok yang telah meninggalkannya menuju terminal kota.
Kegiatan di kampus cukup menyita waktu. Terkadang Darma lupa untuk sekedar makan sehingga sering kekasih hatinya sengaja membawakan makanan kesukaannya sebagai menu favorit makan siang. Perhatian Dewi yang menonjol membuat Darma semakin khawatir tidak bisa melepas Dewi kelak, karena terus terang Dewi bukan lah orang yang memenuhi standar wanita muslimah, yang menjadi impiannya jika memilih pasangan hidup. Gadis cantik berambut hitam panjang berpakaian kemeja lengan panjang dan celana kulot berwarna navy.membuka rantang yang berisi nasi, ayam pedas manis dan tumis kulit tangkil makanan kesukaan Darma sejak ia tinggal di Banten. Bagi Dewi untuk mendapatkan makanan khas Banten butuh pengorbanan yang luar biasa karena memang di kota Bandung kulit tangkil tidak dilirik oleh masyarakat setempat bahkan dibuang begitu saja padahal makanan ini sangat enak. Demi seorang Darma, Dewi rela melakukannya keluar masuk pasar tradisional untuk mendapatkan kulit tangkil.
"Aa hayu makan dulu!" Sudah seperti isteri pada suaminya, Dewi mengambil sepiring nasi untuk Darma.
"Hemmm" Darma hanya bergumam. Darma sebenarnya jengah dengan perilaku Dewi yang sering perhatian padanya. Kalau masih dianggap wajar mengapa tidak? Darma akan menerima perhatian itu. Biasanya Dewi menyuapi Darma jika Darma terlihat sibuk. Benar-benar pasangan yang pengertian tapi sangat disayangkan dibalik perhatian yang berlebihan itu ternyata ada udang di balik bakwan. Dewi sering meminta Darma menyelesaikan tugas perkuliahan yang belum ia kerjakan. Seolah Darma dijadikan alat untuk mengerjakan PR kuliahnya. Karena tidak bisa dipungkiri Darma termasuk mahasiswa yang cerdas.
"Tidak perlu. Aku bisa makan sendiri!" Tolak Darma ketus. Ini sesuatu yang baru dilakukan Darma. Darma sudah hapal betul jika kekasihnya akan melakukan apa saja agar PRnya bisa dikerjakan olehnya.
Dewi cemberut dan merajuk.
"Kenapa sih....tumben kamu menolak untuk disuapi?"
"Karena aku tau setelah ini kamu akan memintaku untuk mengerjakan PR kamu yang segunung itu, maaf aku lagi sibuk. Tidak bisa menerima layanan PR. Kalau kamu tulus mau memberiku makan silakan berada di tempat ini tapi kalau kamu memberiku makan karena aku harus menyelesaikan tugas-tugasmu itu silakan tinggalkan tempat ini!"Jelas Darma panjang lebar ingin agar kekasihnya itu lebih berpikir untuk tidak bergantung padanya.
"Jadi mahasiswa itu harus lebih kreatif tidak bergantung pada orang lain. Jangan mentang-mentang aku bisa lantas kamu seenaknya menyuruhku untuk mengerjakan tugas-tugas kamu, kapan bisanya? Sekarang kerjakan sendiri tugas kamu itu!" Tambahnya. Yang membuat raut wajah Dewi memerah menahan tangis. Ya Dewi baru kali ini diperlakukan seperti itu oleh Darma. Ternyata karakter asli Darma yang arogan baru saja diketahui Dewi karena selama menjalin kasih Darma selalu bersikap manis padanya, selalu menuruti kemauannya, ini membuat Dewi berburuk sangka. Jangan.....jangan Darma sudah bosan dengannya.
"Aa ga sayang lagi sama Uwi? Apa AA punya pacar baru?" Akhirnya kata-kata itu keluar dari mulut Dewi.
"Sudahlah Wi, jangan bikin moodku rusak siang ini. Kalau kamu ngajak aku berantem lebih baik pulang saja sana. Sekalian bawa makananmu itu. Aku jadi ga nafsu makan."
Darma meninggalkan ruangan tersebut karena ia tidak mau melihat Dewi semakin mendrama. Biasanya kalau Darma sudah marah seperti ini, dia tidak bisa mengontrol diri. Lebih baik pergi meninggalkan Dewi yang sedang membereskan rantang sambil menangis karena usahanya memasak makanan kesukaan Darma sama sekali tidak disentuh. Terasa sakit. Beberapa menit kemudian Roni masuk ruangan tersebut dengan gaya khasnya yang santai..
"Wahhh ada makanan nih. Wi gue makan ya, dari pada mubazir". Dewi menghapus air matanya dengan kasar.
"iya abisin aja." Dewi tidak kuasa untuk berlama-lama di tempat itu. Ia meninggalkan Roni yang sedang makan dengan lahapnya. Roni tidak perduli Dewi menangis. Yang penting perutnya bisa kenyang.
"Makasih Wi....Entar rantangnya gue anterin! Dengan mulut yang penuh Roni berseru. Ia melanjutkan makannya yang merupakan Rizki yang tak terduga. Siang ini ia tidak perlu mengeluarkan isi dompetnya. Alhamdulillah. Kenyang.