NovelToon NovelToon
AJIAN RAJAH

AJIAN RAJAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kutukan / Misteri
Popularitas:829
Nilai: 5
Nama Author: Alvian Adi Pratamaa

Bau kemenyan menyengat hidung Raka jam 12 malam pas. Bukan dari kamar bapak nya yang udah kosong 40 hari. Dari punggung nya sendiri. Pekat, anyir, kayak kemenyan di campur darah basi.

"Arghh!" Raka jatuh dari kasur, sprei putih nya ketarik. Punggung nya serasa di sayat silet panas dari tulang ekor sampe tengkuk. Keringet dingin langsung mengucur segede jagung.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvian Adi Pratamaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Kebangkitan Sang Penjaga Tua

Udara di sekitar tubuh raka tiba tiba menjadi berat seperti ada gunung yang menekan dadanya. tanah di bawahnya bergetar pelan, getaran itu merambat naik ke tulang keringnya sampai ke jantung.

Serpihan mahkota kala raja yang menempel di jari telunjuknya memanas. panasnya tidak seperti api biasa yang membakar kulit, tapi panas yang merambat langsung ke aliran darah, masuk ke jantung, lalu menyebar ke seluruh tubuhnya.

Raka masih berlutut di tanah dengan mata terpejam. napasnya tersengal, tapi tidak berhenti. anak kecil yang tadi meniup pipinya mundur selangkah, menatap dengan mata ketakutan sekaligus penasaran.

Di kejauhan, kyai wirajaya yang sudah berupa cahaya transparan mengerutkan alisnya. "itu bukan suara kala rahu," gumamnya pelan. "itu lebih tua. jauh lebih tua dari apapun yang pernah aku kenal dalam hidupku."

Suara gemuruh dari dalam tanah semakin jelas. "kala raja, kau belum selesai." kata-kata itu masuk langsung ke kepala raka tanpa melalui telinga. rasanya seperti ada palu besar yang mengetuk tengkoraknya dari dalam.

Raka mengerang pelan, tapi tidak membuka mata. dia tahu, kalau dia membuka mata sekarang, dia akan kembali terseret ke dalam kegelapan yang baru saja dia lepaskan.

Tiga bulan terakhir hidupnya dipenuhi darah, kutukan, dan suara-suara yang memerintahkannya untuk membunuh. dia lelah. sangat lelah. satu-satunya alasan dia masih bertahan adalah karena anak kecil di depannya itu.

Serpihan mahkota kala raja di jarinya bergetar hebat. cahaya emas gelap keluar dari celah-celah retakan di kulitnya. cahaya itu membentuk pola aneh di tanah.

"Menjauh dari dia, nak," teriak kyai wirajaya kepada anak kecil itu.

Anak itu menurut. dia berlari kembali ke pangkuan ibunya yang berdiri gemetar sepuluh meter dari sana. ibunya langsung memeluknya erat, seolah takut anak itu akan diambil lagi oleh kegelapan.

Raka akhirnya membuka mata. separuh matanya kembali coklat. separuh lagi masih menyala seperti bara api yang hampir padam.

"Kenapa kau masih hidup," tanya raka pelan. suaranya serak seperti orang yang sudah tiga hari tidak minum.

Tanah di depannya retak dengan suara keras. dari dalam retakan itu keluar asap hitam kental yang berbau belerang dan kematian. asap itu membentuk wujud manusia tinggi kurus dengan jubah hitam.

"Aku adalah yang pertama," kata makhluk itu. suaranya bergema dari segala arah sekaligus. "sebelum prabu kala jaya, sebelum kala rahu, aku sudah ada di sini menjaga kutukan ini."

Raka mencoba berdiri, tapi kakinya lemas. "siapa lu," tanyanya. dia tidak takut lagi. dia sudah melewati batas takut.

"Aku adalah penjaga tua," jawab makhluk itu. "aku yang menyimpan kutukan ini sebelum diberikan kepada darah sangkala. aku yang membuat perjanjian pertama dengan kala rahu. dan aku yang akan mengakhirinya jika memang waktunya telah tiba."

Kyai wirajaya melayang mendekat. "penjaga tua," gumamnya pelan. "legenda itu benar. aku pikir itu hanya dongeng."

"Legendamu benar, kyai," kata penjaga tua itu. "tapi legenda itu belum selesai."

Penjaga tua menatap raka. "kau membunuh kala rahu. bagus. tapi itu hanya satu kepala dari tiga kepala."

Raka mengernyit. "maksud lu apa," tanyanya.

"Kala rahu adalah wujud kebencian," kata penjaga tua. "selama manusia masih bisa benci, dia akan selalu kembali dalam bentuk lain. tapi ada dua wujud lain yang tidak kau bunuh."

"Apakah itu," tanya raka.

"Keserakahan dan keinginan untuk menguasai," jawab penjaga tua. "keduanya masih hidup. dan mereka sedang datang ke sini sekarang juga."

Langit di atas solo menggelap lagi. dua bayangan besar bergerak di atas kota seperti makhluk raksasa. satu membawa timbangan emas. satu lagi membawa mahkota dengan seribu duri yang meneteskan darah hitam.

Warga yang baru saja keluar dari tempat persembunyian langsung berteriak dan lari lagi. anak kecil itu menangis di pangkuan ibunya.

Raka mengepalkan tangan. "jadi gue harus lawan mereka juga," tanyanya.

"Ya," kata penjaga tua. "tapi kali ini kau tidak bisa menggunakan kekuatan kutukan. karena kau sudah memilih jadi manusia."

"Lalu gue harus gimana," tanya raka dengan suara putus asa.

Penjaga tua mengulurkan tangan. dari telapak tangannya keluar cahaya putih keperakan. cahaya itu masuk ke dalam dada raka.

"Inilah kekuatan asli darah sangkala," kata penjaga tua. "bukan kutukan. tapi kemampuan untuk melihat kebenaran di balik kebohongan. untuk memutuskan rantai kebencian dengan pengorbanan."

Raka merasakan sesuatu yang hangat menyebar di dadanya. dia tiba-tiba bisa melihat semua benang yang menghubungkan setiap orang di kota ini.

"Gue bisa lihat semuanya," bisik raka.

"Ya," kata penjaga tua. "Sekarang gunakan itu untuk menghentikan mereka."

Gua bayangan raksasa mulai turun perlahan. tanah bergetar setiap kali mereka melangkah. suara timbangan emas itu berdenting nyaring, membuat telinga semua orang sakit dan berdarah.

Raka berdiri. kali ini dia berdiri tanpa bantuan siapa pun. di tangannya tidak ada keris. tidak ada mahkota. hanya tangan kosong.

"Raka, jangan," teriak kyai wirajaya. "Kau akan mati kalau kau melawan mereka dengan tangan kosong."

Raka menoleh ke arah kyai itu. dia tersenyum lemah. "kakek, kalau gue mati sekarang, setidaknya gue mati sebagai manusia."

Dia melangkah maju. bayangan raksasa yang membawa timbangan emas menundukkan kepalanya.

"Siapa kau yang berani menghadapku, manusia lemah," katanya.

"Aku Raka wiraatmaja," jawab raka. "aku anak dari seorang ayah yang dibunuh karena keserakahan. aku cucu dari seorang kakek yang mati karena ingin menguasai dunia. dan aku adalah orang terakhir yang akan membiarkan kalian merusak kota ini lagi."

Bayangan raksasa itu tertawa. "kau hanya manusia biasa sekarang, raka wiraatmaja. tanpa kutukan, kau tidak ada apa-apanya."

"Benar," kata raka. "aku manusia biasa. tapi manusia biasa yang sudah capek lihat kalian main-main dengan nyawa orang lain."

Raka mengangkat tangan kanannya. cahaya keperakan dari penjaga tua keluar dari dadanya. cahaya itu menyelimuti bayangan raksasa itu pelan-pelan seperti kabut pagi.

Bayangan itu langsung berteriak kesakitan. "Apa ini, kekuatan apa ini."

"Ini kekuatan kebenaran," jawab raka. "Kalian hidup dari kebohongan. kalian hidup dari janji kekuasaan yang tidak pernah ada. sekarang lihat diri kalian sendiri dengan jujur."

Cahaya itu semakin terang. bayangan raksasa itu mulai retak dari dalam. dari dalam retakan itu keluar wajah-wajah manusia yang pernah tertipu dan mati karena keserakahan.

Bayangan kedua yang membawa mahkota duri langsung berbalik dan mencoba lari. "tidak ada yang bisa lari dari kebenaran," kata raka pelan.

Dia mengangkat tangan kirinya. cahaya keperakan kedua mengejar bayangan itu seperti meteor. dalam sepuluh detik, kedua bayangan raksasa itu hancur menjadi debu cahaya keperakan.

Langit kembali biru jernih. angin bertiup pelan membawa aroma tanah basah dan harapan baru. kota solo yang hancur tiba-tiba terasa tenang.

Raka jatuh berlutut. kekuatan itu menguras semua yang tersisa darinya. penjaga tua mendekat. tubuhnya mulai memudar seperti asap yang tertiup angin.

"Kau melakukannya, raka wiraatmaja," katanya pelan. "kau memutuskan rantai yang sudah mengikat darahmu selama dua ratus tahun."

"Terus sekarang apa," tanya raka pelan.

"Sekarang kau bebas," jawab penjaga tua. "Bebas memilih hidup sebagai siapa saja yang kau inginkan tanpa kutukan yang membayangi."

Penjaga tua menatap anak kecil yang masih menatap raka dari kejauhan. "jaga anak anak itu, raka. mereka adalah masa depan yang tidak pernah kami punya di zaman kami dulu."

Penjaga tua menghilang menjadi titik cahaya kecil, lalu lenyap bersama angin. kyai wirajaya mendarat di samping raka.

"Kau melakukannya, cucu sangkala," katanya pelan.

Anak kecil itu berlari ke arah raka. "kak, kau baik baik aja," tanyanya sambil memegang tangan raka.

"Gue baik baik aja, dek," jawab raka pelan. "Nakasih ya sudah mau nolongin kakak."

"Mau aku temenin pulang," tanyanya polos.

Raka tertawa pelan. "baiklah," kata raka. "ayo pulang."

Sia berdiri dengan bantuan anak itu. langkahnya masih tertatih dan tidak stabil. tapi untuk pertama kalinya, dia berjalan ke depan tanpa menoleh ke belakang.

Di belakang mereka, kyai wirajaya menatap pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca. "Akhirnya," bisiknya pelan. "Darah sangkala bebas dari kutukan."

Kota solo mulai hidup lagi perlahan. orang orang keluar dari persembunyian. mereka melihat raka berjalan bersama anak kecil itu.

Tiga hari setelah kejadian itu, pemerintah mengumumkan bahwa bencana yang terjadi di solo adalah akibat gempa tektonik dan longsor besar. tidak ada yang berani membantah.

Di kamar rumah sakit, raka bangun pada hari ketiga. "Kak," kata anak kecil itu pelan. "Kamu sudah bangun."

Raka mengangguk pelan. dia masih lemah, tapi kesadarannya penuh.

Si luar jendela, kota solo mulai dibangun lagi. orang orang bekerja sama membersihkan puing puing. tidak ada lagi rasa takut di wajah mereka. hanya ada kelelahan dan harapan.

Raka teringat kata kata ayahnya dulu. "Jangan pernah lupa rasanya sakit. karena kalau kau lupa, kau akan jadi monster."

"Gue nggak akan lupa, yah," bisik raka pelan.

Raka keluar dari rumah sakit dua minggu kemudian. dia memilih tinggal di desa kecil di kaki gunung lawu. dia bekerja membantu warga membangun kembali rumah mereka. dia tidak lagi menggunakan nama kala raja. dia hanya raka. manusia biasa yang pernah hampir menjadi monster.

Suatu malam, saat dia duduk di depan rumahnya sambil memandangi bintang, anak kecil itu datang lagi. "kak," tanya anak itu. "kenapa kakak nggak marah lagi."

Raka tersenyum. "karena marah nggak nyelesaiin apa apa, dek. yang nyelesaiin itu memaafkan."

Anak itu mengangguk seperti mengerti. lalu dia duduk di samping raka. mereka berdua memandangi langit malam yang penuh bintang.

Di dalam tanah, jauh di bawah istana bawah tanah yang sudah runtuh, sesuatu bergerak pelan. sangat pelan. seperti napas seseorang yang baru bangun dari tidur panjang.

Tapi suara itu tidak sampai ke permukaan. dan raka tidak mendengarnya lagi.

Kutukan sudah berakhir. tapi dunia tidak pernah berhenti bergerak. dan selama manusia masih hidup, akan selalu ada pilihan. menjadi manusia. atau menjadi monster. raka sudah memilih.

Malam itu, raka tidur nyenyak untuk pertama kalinya dalam hidupnya. tanpa takut. tanpa benci. tanpa kutukan.

1
ML.Quinn_Zamira07
mantap kak, semangat ya^^
Alvian Adi Pratamaa: iya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!