Putri seorang gadis berusia 17 tahun. Harus rela menerima kenyataan dijodohkan dengan seorang tentara berpangkat Lettu dari kesatuan Angkatan Udara skuadron pesawat tempur. Seperti gadis kebanyakan seusainya. Alias lagi masa puber-pubernya, dan zaman sekarang lagi demam-demamnya K-POP. Tentu dia mengidam-idamkan memiliki pacar seperti Oppa-Oppa Korea. Meski calon tunangannya ganteng dan berpangkat. Tapi masa, dia nikah sama om-om?
Ken yang saat ini menginjak usai 33 tahun. Tak menyangka akan mendapatkan malapetaka ini. Sejak ditinggal kekasihnya 5 tahun silam. Dia belum siap menjalin hubungan lagi. Tapi sekarang dia bisa apa? Tambah bikin suntuk lagi, kenapa lah calonnya cabe-cabean?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonelondo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15 Ngerusuh
“Makasih ya, Pak.”
“I-ya, N-eng."
Supir taxi tergagap-gagap diiringi bernafas lega, setelah gadis itu keluar dari mobil. Jadi tadi sepanjang jalan orang itu terus komat-kamit istigfar.
Kemudian Putri berjalan ke pos piket. Sontak semua yang ada di sana langsung pada berdiri dan melongo. Atas apa yang disuguhkan di depan mata mereka.
Tentara manusia juga, kan... Apa lagi ini laki-laki. Hal yang normal, bukan? Biasa, Putri pakai bawahan idolanya. Jadi wajar saja jika supir taxi tadi begitu.
“Permisi... Tentara-tentara Om. Putri mau ketemu, Om Ken.”
Siapa pun orang yang dekat dengan Ken dilabelin Putri di belakangnya ‘Om’. Hanya Ibu Ken saja yang nggak, karena manggilnya 'tante'. Tapi entahlah... Nggak tahu deh nanti berikutnya gimana.
"....." Tidak ada yang menjawab.
“Tentara-tentara Om.”
"....." Tetap hening.
“Hellooowww...?"
“Ah, iya!” Sadar satu orang.
“Mau cari siapa, Dek?” Diikuti orang yang ke dua.
“Mau cari, Om Ken.”
“Lettu Kenadi Kusnadi?” tanya yang ke tiga, yang turut tersadar.
Putri mengangguk-angguk. Padahal dia nggak tahu nama panjang Ken. Maklum, waktu acara termasuk nggak dipedulikannya.
“Kamu siapa?” tanya yang terakhir, yang juga sudah sadar.
“Keponakan, Om Ken.”
“Keponakan?”
Sontak semua jadi pada mengerutkan kening. Jelas, gimana mereka gak begitu. Karena dalam pikiran mereka...
Nggak salah nih keponakan, Lettu Ken. Apa nggak diberi tahu, bertandang ke markas harus pakai baju apa?
Jadi di dalam pos itu ada 4 orang. Karena itu tadi diatas ada kata 'yang terakhir'.
Tapi karena sudah tahu tamu yang mereka hadapi adalah keponakan Lettu Ken. Alias saudara dari tentara di sini. Jadi mereka melupakan apa yang diherankan mereka.
“Ayo, ayo, sini, sini, masuk, Dek! Panas loh di luar," ajak tentara yang ke tiga, penuh antusias keluar dari pos, menggiring Putri ke dalam.
“Aduh... Ini, keponakan Lettu Kenadi Kusnadi. Awas, awas, kalian... Kasih dulu keponakan Lettu duduk," lanjutnya.
Serentak yang lain pada menyingkir untuk memberi ruang. Karena mereka berdiri di bangku. Jelas, karena sebelumnya kan tadi mereka lagi duduk tenang. Tapi akibat melihat gadis itu jadi shock dan spontan berdiri.
“Iya, Tentara Om. Putri panas nih!"
“Ho oh! Memang panas, Dek! Ayo, duduk dulu," kata orang itu lagi.
Dan bagaikan ada gula ada semut, sebaik Putri duduk, langsung dikerubutin mereka. Lalu sebelum mereka angkat bicara, Putri buka suara duluan.
“Putri haus nih, Tentara Om.”
“Oo... Cah Ayu haus ya. Hei! Kasih air, hei!" respon tentara yang terakhir.
Berbicara ke rekannya yang di didekatnya. Alias ke tentara yang ke dua. Kemudian tentara itu berdiri berjalan ke dispenser.
“Jadi namamu, Putri?" tanya tentara yang pertama.
“Iya, Tentara Om.”
“Kok manggil Om, Tentara Om sih?” heran tentara itu.
Tentu Putri buat bingung karena manggilnya kebalik. Harusnya kan, Om tentara.
“Kan Tentara Om, temannya Om Ken.”
Tentara itu tetap bingung dengan mengerutkan dahinya. Termasuk yang duduk di situ, dan yang lagi berjalan membawakan minuman untuk Putri.
Wkwkwk... Ngakak! Sorry, Gengs... Eyke nimbrung habisnya lucu.
“Ya sudah. Kita biarin aja...,” tegur tentara yang terakhir.
“Iya, iya, iya.” Orang itu mengangguk-angguk, termasuk yang lain.
“Nah! Ini airnya,” serah tentara yang ke dua, yang ambilin air.
Putri mengambil dan menenggaknya. Orang itu memperhatikan.
“Aduh... Keponakan Lettu Kenadi Kusnadi kehausan.”
“Ho oh!" Putri menyahut berbicara di dalam gelas.
“Putri bisa ketemu Om Ken nggak, Tentara Om?” lanjutnya, usai menuruni gelas.
“Kamu ada KTP, Putri?” tanya tentara yang pertama.
“Putri kan, masih sekolah. Gimana sih Tentara Om?!"
“Aduh... Gimana sih kamu! Orang masih sekolah juga!" tegur tentara yang ke dua, ke rekannya yang bertanya begitu.
“Iya, Tentara Om. Putri masih imut-imut." Putri menimpali memasang muka polos.
“Iya, iya, iya,” setuju mereka, pada mengangguk-angguk serempak.
“Kalau begitu, Putri ada kartu pelajar?” tanya yang pertama lagi.
“Ada, Tentara Om.” Putri membuka tas, dan menyerahkan.
“Sudah, antar saja ke pos piket Kesatuan. Nanti biar mereka yang urus di sana," ucap tentara yang terakhir.
Yang gadis itu datangi itu masih pos POMAU ya, Gengs... Seperti cerita sebelumnya sudah eyke kasih tahu. Nanti melewati pos ke dua, baru gadis itu ketemu calon suaminya.
“Tapi, siapa yang antar ya?” Tentara itu berkata lagi.
“Aku, aku, aku...”
Mereka pada berebutan mengantar. Termasuk tentara yang berkata begitu ke mereka. Karena dia baru sadar. Masa iya, dia mau melewati kesempatan emas ini.
Setelah hompimpa alaium gambreng. Asli, Putri berhasil membuat mereka bertingkah kayak anak kecil. Akhirnya tentara yang mengajak Putri masuk ke pos piket yang menang.
“Putri... Ayo, naik motor sama Om. Biar Om yang antar,” ajak tentara yang ke tiga, dengan nada nggak sabaran sudah nangkring di atas motor.
“Iya, Tentara Om.”
Lekas Putri berdiri, dan naik. Kemudian motor berjalan. Dan yang sisanya pada menonton...
“Aduh... Bening banget keponakan Lettu Ken. Hmm... Ckckck...”
“Enaknya siang, siang gini... Di kasih yang seger-seger. Itu nanti gimana ya, reaksi yang di dalam.”
“Paling sama kayak kita pada melongo.”
“HUAHUAHUA...” Mereka pada tertawa bersama.
Nggak lama motor yang dinaikin Putri dan tentara itu tiba di pos piket Kesatuan. Lalu mereka turun. Namun sebaik Putri turun, semua yang jaga di sana pada tercengang. Tapi sebenarnya dari Putri masih di atas motor saja, mereka sudah begitu.
“Ini, keponakan Lettu Kenadi Kusnadi mau ketemu,” terang tentara yang mengantar Putri.
"....." Hening.
Ya, sama seperti tadi. Gadis itu mampu membuat tentara yang terkenal kegarangannya, gagah, dan berwibawa, juga tingkat kewaspadaan tinggi. Jadi pada melongo nggak mampu berkata apa-apa atas penampilannya.
“Hei!" tegur tentara itu.
“Oh!” seru mereka serempak.
“Keponakan, Lettu Ken?” ujar satu dari mereka.
“Iya. Ya udah, saya hanya antar.”
Lalu tentara itu naik motor lagi, dan melajukan motornya lagi, sambil melambai-lambaikan tangan ke Putri.
“Daaa... Putri...”
“Daaa... Tentara Om..."
Setelah Putri membalas lambaian tangan, dia kembali menoleh ke pos. Rupanya yang dilihatnya kembali pada bengong.
Sementara itu di barak, Ken sedang sibuk mengontrol anak buah bersama dua rekannya. 30 menit lagi Komandan akan melakukan peninjauan. Seperti dibilang kemarin, hari ini ada inspeksi kebersihan. Dan saat ini tinggal tempat itu saja yang belum selesai.
“Hei, kamu! Rak senapan pindahin ke sana,” perintah Budi.
“Siap Letda!” balas orang yang disuruh itu.
“Itu, di pel yang bersih! Masa, masih kotor begitu!” omel Aryo.
"Siap Letda!” balas orang yang diomelin itu.
“Ayo, tinggal 15 menit lagi kalian harus sudah selesai!” teriak Budi ke semua.
“Gimana, Lettu? Habis ini mereka kumpul di depan barak?” tanya Aryo ke Ken.
“Iya, kita semua harus sudah pada kumpul sebelum Komandan datang."
“Baik, Lettu!”
“Dan...” Ken berhenti bicara, rasanya dia melihat sosok Cabe Rawit di kejauhan.
“Dan, apa Lettu?”
Ah, ini kayaknya perasaannya saja. Mungkin 3 hari dibuat puyeng dengan gadis itu. Putri seperti menghantuinya dimana-mana. Ken mencoba untuk tidak menghiraukan. Namun saat dia mau kembali bicara, bibirnya malah mangap saja di udara, dan itu membuat Letda Aryo jadi menegur.
“Lettu?”
Eh! Tunggu dulu, kayaknya benar. Ken menyipitkan mata, memajukan kepalanya. Sosok Putri mulai terlihat jelas dipandangannya. Lagi berjalan di taman menuju gedung tempatnya bekerja bersama seorang tentara. Letda Aryo jadi turut melakukan apa yang dilakukan Ken.
“Ada apa, Lettu?”
Astaga! K-e, K-e... K-encur!
Ken jadi belepotan ngomong, Gengs... Wkwkwk...
Sontak bola mata Ken rasanya mau lompat dari sarangnya. Berikut juga jantung dan hatinya, bila perlu sama ampelanya. Gimana nggak panik, pertama dia didatangi si Cabe Rawit. Ke dua, Putri pakai rok mini. Ke tiga, ini markas. Sudah tentu sarangnya para lelaki rimba! Ke empat, habislah dia ini diomelin Komandan jika melihat Putri pakai pakaian begitu. Lekas Ken berjalan tergesa-gesa menuju ke sana. Letda Aryo melongo.
"Ada apa sih?"
Selagi Ken berjalan. Sementara itu Putri dengan tentara yang mengantarnya dari pos Kesatuan. Mereka terlibat percakapan.
“Jauh ya, ternyata ruangannya Om Ken," keluh Putri.
Biasa, anak itu kan dikit-dikit capek. Untungnya tentara itu paham karena dari tadi dilihatnya Putri memang terlihat lelah. Namun diluar dari itu, ada yang diharapkannya juga. Bodohnya, dia baru sadar.
“Iya, Putri... Putri kalau capek, kita bisa duduk dulu di sini," ajak tentara itu penuh harap.
Lumayan bisa agak lama berduaan dengan keponakan Lettu yang super bening ini.
Kebetulan nggak jauh dari mereka berjalan ada bangku taman. Yang posisinya pas di bawah pohon. Jadi biar mereka sekalian bisa meneduh dari sinar matahari.
“Iya, Tentara Om. Kita duduk dulu aja, yuk!”
"Yuk!"
Pada saat Putri dan tentara itu mau menempelkan pantatnya ke bangku. Dari kejauhan ada suara yang menggelegar mengganggu mereka...
“PUTRI...!!!”
Lekas mereka berdua menoleh. Ken dengan deru nafas tidak beraturan cepat-cepat ingin terus menghampiri. Lalu setibanya, tentara yang bersama Putri buru-buru angkat bicara.
“Oh! Lettu Ken, saya...”
“Iya, iya, iya. Terima kasih sudah mengantar. Kamu bisa kembali ke pos,” potong Ken, gak sabaran pengen cepat tentara itu pergi.
“Siap Lettu!” Tentara itu memberi hormat lalu pergi.
“K-amu, k-enapa bisa ada di sini?”
Ken bertanya jadi terbata-bata. Tentu karena emosinya lagi tidak stabil.
“Putri bosan di rumah, Om...”
“K-amu, k-enapa, pakai...”
Ken nggak bisa melanjutkan bicaranya. Karena saat ini tangannya sudah gatal ingin mencubiti paha Putri.
“Em, em, em...”
“Aduh... Sakit, Om... Sakit, Om...” rintih Putri, mengelak-elakkan ke dua kakinya.
Ini, nggak benar ini... Ken lekas menarik tangan Putri, dan membawanya ke ruangan kerjanya. Asli, dia takut sekali penampilan Putri dilihat Komandannya.
"Ah!" kaget Putri, karena di tarik paksa.
Kemudian setiba mereka di sana, Putri di lempar ke sofa oleh Ken.
“Duduk situ!”
“Aduh....”
Putri memegangi tangan dan ke dua kakinya yang pada merah-merah. Hasil dari giringan dan cubitan Ken tadi.
Kemudian Ken merogoh kantong celananya mengambil selulernya menghubungi ibunya.
“Iya, Mas?” sahut ibunya di sana.
“Ini, Putri kenapa bisa ke kantor Ken?”
“Hah?” kaget ibunya, langsung berdiri melepas prakarya di tangannya.
“Kok bisa?” lanjutnya.
“Loh! Kok Ibu malah balik nanya?”
“Ibu nggak tahu... Ibu lagi ada urusan PKK ke RW sebelah. Jadi ninggalin Putri di rumah. Kok Putri bisa tahu kantormu ya, Mas?”
“Jadi Ibu gak tahu? Terus dari mana anak ini tahu?”
“Entah... Lantas gimana, Mas? Pakai bawahan pendek ya, dia ke sana?”
“Pakai rok!”
“Aduh... Astaga..."
“Ya sudah, biar Ken kunciin aja dia di ruangan Ken.”
Mendengar itu, Putri panik. Lekas dia berdiri, dan berjalan perlahan-lahan meninggalkan ruangan. Pria itu menelpon membelakangi gadis itu.
Selagi Ken masih bicara dengan ibunya. Sementara itu di luar, si Kencur berlari kencang, sekencang-kencangnya hingga memasuki barak.
“Tolong... Tolong... Putri mau diculik....”
Sontak tentara yang di sana, yang lagi pada pegang kain pel, sapu, pengki, dan kemoceng. Serentak berhenti melakukan aktifitasnya. Otomatis jadi berubah haluan mengambil senjata, amunisi, dan lain-lain sebagainya.
“Dimana-dimana penculiknya, Dek?” panik Letda Aryo.
"....." Putri nggak menjawab, karena nafasnya masih ngos-ngosan.
“Ya sudah, biar aku saja yang kasih tahu pos piket. Biar mereka segera menyalakan sirene, dan biar semua jadi tahu." Letda Budi, berinisitif mau pergi ke sana.
"Oke!" balas Letda Aryo.
Sedangkan Ken di ruangan. Sehabis menutup teleponnya. Pas balik badan, dia terkejut Tuyul hilang dari genggaman.
"Haish... Pantasnya nih anak dikarungin!”
Lekas dia buru-buru keluar dari sana. Namun pada saat bersamaan terdengar bunyi sirene...
TOOT... TOOT... TOOT...
Ken mendongakan kepala. Sudah dengar begitu berarti markas mereka disusupi orang. Lekas dia berlari ke barak.
Kemudian 20 menit berlalu. Saat ini Ken dan Putri sedang berada di ruangan Komandan. Namun Putri duduk di sofa. Sedangkan Ken berdiri di depan Komandan dengan kepala tertunduk malu atas yang terjadi hari ini.
“Bagaimana kamu bertanggung jawab akan hal ini?!” omel Komandan ke Ken.
“Kamu buat rusuh markas kita! Semua kalang kabut gara-gara keponakan kamu!” lanjutnya.
Dengar itu, Putri berdiri dan berjalan menghampiri. Dia berbicara ditengah-tengah mereka demi membela diri.
“Tapi Komandan Om, Putri nggak salah. Putri begitu kan, karena Om Ken mau ngurungin Putri di ruangan. Terus sebelumnya tangan Putri juga dibuat merah-merah sama Om Ken. Dan paha Putri juga dicubit-cubitin sama Om Ken. Tuh, lihat... Tuh, tuh, tuh...,” unjuk Putri.
Seketika Komandan jadi berhenti marahnya. Jadi beralih melihat memar-memar di paha Putri.
“Oo... Iya, iya, iya...”
Sontak Ken melotot. Putri... Biar Komadannya sudah tua begitu, tapi laki-laki Putri...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=@.@\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sesuai perkataan Author, seminggu 4-5 x terbit. Minggu ini sudah 5, sampai ketemu lagi minggu depan. Jangan lupa kasih rating bintang 5, like & komen. Tinggalkan jejakmu...
maaf othor sekedar koreksi menurut saya🙏
sampai sekarang kalo baca pasti lupa kasih like karwna keasyikan baca
tengah malam tahan2 Tawa 🤣🤣🤣🤣
tengah malam ketawak2 sendiri Thor..
semangat trus ya