Bagaimana sih rasanya dicintai oleh ketua gangster yang kejam, dan dijerat dengan trik kotor dan licik? Kesel dong, kesel ya?
Begitu pun dengan Aliyah, gadis belia yang baru saja menerima ijazahnya, harus menanggung beban hidup menghadapi kenyataan hamil padahal dia tak merasa melakukan hubungan badan. Lebih ngeri lagi dia jadi buronan gengster karena sebuah ketidak sengajaan.
Bagaimana Aliyah akan menjalani hidup penuh drama nya? Dan ketua ganster mana yang jatuh cinta padanya?
Han Yo Il? Ataukah Devan? Dan bagaimana nasib bayi nya?
Ayookk baca biar tau. jangan lupa, like dan komennya😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chap 15
"Apa kau senang Tuan suami?"tanya Aliyah untuk satu suapan yang kesekian kalinya.
"Tidak! Lukaku masih sakit."Devan memasang wajah melas.
"Apa yang harus aku lakukan untuk menyenangkanmu Tuan suami?"
Devan menepuk bahunya. Aliyah menggerti, pria itu minta pijit. Dengan segera Aliyah bangkit dari duduknya dan berpindah kebelakang Devan memijit bahunya.
Devan cukup menikmati pijitan Aliyah.
"Sebenarnya Pijitanmu lumayan." puji Devan memejamkan matanya, sementara Kim masih menjelaskan beberapa hal masalah pekerjaannya.
"Hanya lumayan?"
"Heemmm.. tidak seperti profesional. Tapi lumayan." Ucapnya.
"Kim, apa kelompok Simba sudah mengirim utusannya?" tanya Devan beralih pada Kim.
"Belum."
"Haruskah kita bergerak dulu?" suara Devan mencoba memastikan.
"Saya rasa jangan tuan. Beberapa pesaing kita memantau pergerakan kecil kita. saya kuwatir mungkin nanti malah timbul masalah lain."jelas Kim membaca situasi.
"Hmmm... baiklah." Devan manggut manggut menyendok Puding kemulutnya.
"Apa ini sudah cukup?" tanya Aliyah menyudahi pijitannya."Boleh aku pergi?"
"Duduklah disini." Devan menepuk pahanya.
Sialan, Aku benci duduk disitu! batin Aliyah, Aku harus memikirkan cara kabur dari ini.
Aliyah menepuk tangannya.
"Aku harus ke kamar mandi dulu. Aku sudah tidak tahan."
"Baiklah." Devan dengan mudahnya menyetujui.
Yeess!
Aliyah melangkah menuju pintu keluar.
"Tunggu!"
Langkah Aliyah terhenti. Dia menoleh, Devan menunjuk ke arah sisi sebelah pintu masuk ruang kerjanya.
"Toilet disebelah sana."
"Apa?" Aliyah tertegun,"Apa di dalam sini ada toilet?" bertanya dengan mata membulat.
Devan kembali menggerakkan jarinya menunjuk ke arah samping, dengan tatapan perintah tanpa dibantah.
Haaaiissshhhh... ngk bisa kabur kalau kek gini mah. batin Aliyah kesal.
Aliyah bersungut ke kamar mandi dengan perasaan kesalnya.
Devan menyungging senyum, melihat wajah kesal Aliyah.
"Baiklah sampai dimana kita?"tanya Devan beralih fokus dengan Kim.
Aliyah dikamar mandi hanya berdiri didepan wastafel. Menatap pantulan dirinya.
Bagaimana selanjutnya? Aku sudah bosan dikurung disini. Haaaahhh, aku juga takut kalau harus keluar dan menghadapi kayak kemarin lagi. Hampir saja aku mati. Haaaaahhh.. sudahlah. buat apa mengeluh. batin Aliyah lagi.
Dengan lesu dia keluar dari kamar mandi. Di ruang kerja hanya tetlihat Devan seorang, sedang mengunyah makanan.
"Di mana Kim?" tanya Aliyah melihat sekitar.
"Sudah pergi." jawab Devan singkat.
"Haaaaahhh....." Aliyah menghela nafas lanjangnya dan duduk di sofa yang agak jauh dari meja Devan.
"Kenapa mendessaaahhh seperti itu?" tanya Devan tifak senang, "kamu kecewa kim pergi."
"Tidak bukan begitu.... haaaaahhh... lupakan saja."dessaaahhh Aliyah penuh beban mengalihkan pandangannya.
Devan meliriknya, dan menghentikan aktifitasnya.
"Boleh aku keluar sekarang?"tanya Aliyah menunjuk pintu keluar.
"Mau apa diluar? kamu mau menemui siapa?"
"Aku hanya bosan tuan suami!"
Devan menatap Aliyah dari tempatnya duduk. Pria itu lalu berdiri dan melangkahkan kaki mendekat. Dia duduk disamping Aliyah duduk.
"Jadi kamu bosan disini."tanya Devan menatap wajah Aliyah,
Wanita itu mengalihkan pandngannya.
"Kau bosan?" Devan mendekat dan menempelkan wajahnya pada ceruk leher Aliyah.
Aaarrggg,, orang ini benar-benar mengganggu. batin Aliyah sedikit bergeser menjauh.
"Tidak. tidak bosan."
"Kau tadi bilang bosan."menyentuh pipi Aliyah, memaksanya menatap wajah Devan.
"Aku bosan, kalau hanya begini."
"Hanya begini bagaimana? Kau mau lebih?" Devan semakin memepet Aliyah, mengangkat tubuh kepangkuannya. Pria itu menghirup ceruk leher Aliyah.
Aaarrrgggg ini tidak benar.
"A-aku ingin keluar." Aliyah mendorong tubuh Devan agar menjauh darinya.
"A-aku pikir ada perayaan di kota, aku ingin kesana." ucap Aliyah sedikit terbata.
Devan menatap Aliyah tajam,
"Ta-tapi, aku juga sadar, aku sedang diburu komplotan gangster." Dessaaahh Aliyah lagi.
"Aku bisa membawamu keluar. Tentu saja dengan beberapa penjaga."
"Benarkah?" Aliyah bersemangat dengan mata berbinar.
"Heemmm... Tapi itu tergantung bagaimana kamu bisa menyenangkanku."tantang Devan dengan senyum licik.
"Menyenangkan bagaimana?"
"Entah. Bagaimana menurutmu?"
Sebenarnya dia mau membawaku keluar atau tidak sih? batin Aliyah jengah.
"Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu senang?"
"Apa yang membuatku senang?" Devan terlihat berpikir, "Mungkin dengan sebuah ciuman."
Mata Aliyah melebar,Apaaa?? Dasar mesumm..
Aliyah menyipitkan matanya,
Hanya ciuman kupikir tidak masalah, toh kami sudah pernah melakukannya. Yahh,, walau dia melakukannya dengan pemaksaan. pikir Aliyah menatap Devan.
Baiklah. Hanya ciuman.
Aliyah menangkup wajah Devan lalu mencium bibirnya dengan cepat.
Uuugghhhh...
Muuuaaaaaaahhh...
Kupikir itu sudah cukup. batin Aliyah memalingkan wajahnya.
Devan menatap Aliyah, entah apa yang ada dalam pikirannya. Pria itu menangkup wajah Aliyah dan menciumnya dengan buas dan rakus.
Uuuuummm......
Aaarrrgggghhh... begini lagi.
Lima belas menit kemudian.
Uuuuummmmmmhhhhh....
Aliyah mendorong tubuh Devan, dia sudah ngos-ngosan.
"Kau! Mau mencium sampai kapan?"protes Aliyah menatap Devan marah.
"Kau..... sudah membangunkan yang tertidur. Jadi kau harus tangung jawab." Devan kembali mencium Aliyah dengan rakusnya.
Uuummmm... bertanggung jawab apa maksudnya?
PREEEEKKKK.....
aaaaarrrggggg, dia merobek bajuku? Dasar gila! Apa dia mau memperkkoosaku? pikir Aliyah jengkel.
Tunggu! Dia benar-benar mau meperkosaku? batin Aliyah lagi, meraskan tangan Devan makin bruttaaalll dan menjelajah kesana kemari.
Aaaarrrrgggghhhhhh...
Setelah, pertempuran selama satu jam.
Dia melakukannya.... Benar-benar melakukannya padaku? Kenapa bagian sensitif ku terasa sangat sakit dan perih.. batin Aliyah berkeluh kesah.
Aliyah menyingkirkan tangan Devan yang memeluknya diatas sofa. Pria itu terlelap karena kelelahan.
"Dia berat sekali.." gumam Aliyah lirih. Dia berdiri namun tumbang dan merosot ke lantai. Matanya melihat bercak darah di atas sofa.
Aliyah tertegun.
"Apaa???" pekiknya spontan.
"Aku pendarahan." Aliyah menutup mulutnya dengan tangan bergetar.
Aliyah menggoyangkan lengan Devan agar pria itu bangun.
"Tuan suami! Bangunlah! Aku pendarahan!" mengguncang lengan Devan dengan kuat, pria itu mengerjap dan membuka matanya.
"Tuan suami! Aku pendarahan! Bagaimana ini?"
Devan tertegun, dan langsung bangkit.
"Pendarahan bagaimana?"tanyanya sedikit panik.
"Lihat! " Aliyah menunjuk sofa yang ada percikan darahnya.
Devan terdiam. lalu tersenyum tipis.
"Bagaimana dengan bayinya?"seru Aliyah dengan panik..
"Apa yang harus kita lakukan? Dokter. ayo kita ke dokter."Aliyah
"Apa? tidak perlu! Untuk apa ke dokter."Devan yang giliran panik.
"Kau masih bertanya? Apa kau tak punya hati?"Aliyah jadi kesal
Devan sedikit gusar.
"Aku panggilkan dokter pribadi saja."
____€€€____
Reader kuuh , kasih semangat donk, biar aku up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
😊
hnya dugaan ya thor
baguuus bangeeet
ceritanya bagus kak author. seru, berasa ikut lari 🤣🤣
cm masih ada ganjalan dikit, apakah pertemuan pertama Devan dan Aliyah saat stlh Aliyah periksa ke 3 dokter ? atau sblmnya pernah ketemu ? 🙏🙏🙏