Dian meninggal dengan sangat menyedihkan: dikhianati tunangannya sendiri dan saudara tirinya, dihina sebagai wanita miskin pengemis cinta, lalu tewas dalam kecelakaan yang "disengaja". Namun saat membuka mata, ia kembali ke masa 3 tahun lalu—tepat saat ayahnya menawarkan pernikahan kontrak dengan pria paling dingin, misterius, dan ditakuti di kota: Erlan Pratama.
Di kehidupan dulu, Dian menolak tawaran itu dan memilih setia pada tunangannya yang brengsek. Kali ini, Dian tersenyum dingin dan menyetujuinya. Ia pikir ini hanya langkah untuk selamat dari nasib buruk—sampai ia perlahan sadar: pria yang terlihat tidak peduli itu diam-diam melindunginya, menyembunyikan rasa sakit yang sama, dan ternyata sudah mencintainya sejak lama... bahkan di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristika Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Tanda yang Berbicara dan Suara dari Bayang Masa Lalu
Angin sore yang berhembus dari arah bukit membawa serta aroma tanah yang kering, dedaunan yang layu, dan sesuatu yang tak bisa kuuraikan, seperti bau hujan yang tak kunjung turun, atau aroma kuno yang tersimpan di dalam gua tertutup selama ribuan tahun. Sepanjang perjalanan pulang dari puncak bukit, Erlan tidak sekali pun melepaskan genggamannya dari tanganku. Jarinya saling mengait erat di sela-sela jariku, seolah ia sedang memastikan bahwa apa yang baru saja kami saksikan bukanlah khayalan semata. Wajahnya yang biasanya dingin dan tenang kini tergambar jelas keresahan yang mendalam. Matanya sesekali melirik ke arah pergelangan tangan kirinya, tempat tanda merah samar itu kini tersembunyi di balik lipatan lengan kemeja yang sengaja ia turunkan. Meski ia tak banyak bicara, aku bisa merasakan badai emosi yang sedang berkecamuk di dalam dirinya, sebagian jiwanya perlahan menyadari potongan-potongan kejadian yang seharusnya sudah hilang bersama ingatan masa lalu, sementara sebagian lainnya masih terjebak dalam kebingungan yang tak berujung.
Sesampainya di rumah, suasana yang biasanya terasa teduh dan aman kini terasa sedikit berbeda. Bayangan pohon di halaman tampak lebih panjang dan gelap dari biasanya, seolah ada sesuatu yang mengintip dari balik dedaunan itu. Erlan langsung melangkah masuk ke dalam kamar, duduk di tepi tempat tidur, dan perlahan melipat kembali lengan bajanya. Tanda merah itu masih ada di sana, kini berdenyut pelan dan teratur, persis seirama dengan detak jantungnya sendiri. Saat aku mendekat dan dengan hati-hati menyentuh permukaan kulit di sekitar tanda itu dengan ujung jariku, tidak ada rasa panas atau perih yang terasa. Namun anehnya, begitu kulitku bersentuhan dengan kulitnya, tanda itu perlahan berubah bentuk, meluas sedikit lebih lebar dan warnanya menjadi jauh lebih pekat, seolah benda itu mengenali dan merespons kehadiranku secara langsung.
"Saat kau menyentuhnya..." bisik Erlan, matanya menatap lekat-lekat pergelangan tangannya sendiri dengan pandangan yang tak percaya. "Aku mendengar suara itu menjadi lebih jelas. Bukan suara orang asing, Dian. Itu suara kita sendiri... seolah kita sedang berbicara di masa yang jauh lebih tua, jauh sebelum kita bertemu kembali di kehidupan ini."
Ia memejamkan matanya rapat-rapat, menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan, berusaha sekuat tenaga mengumpulkan potongan-potongan kesadaran yang datang dan pergi seiring denyutan tanda merah itu. Wajahnya berkerut seolah sedang berjuang menerobos tembok tebal yang memisahkan ingatan lamanya dengan kesadarannya saat ini. "Aku melihat sebuah tempat," lanjutnya dengan suara bergetar pelan. "Bukan bukit ini, bukan pula rumah besar tempat kita tinggal sekarang. Sebuah tempat terbuka yang luas, di mana langit seolah terbelah dua warna, satu sisi terang benderang, sisi lain gelap gulita. Dan tepat di tengah perbatasan itu berdiri sebuah tiang batu yang menjulang sangat tinggi hingga menembus awan. Di sana, ada dua orang yang berdiri berhadapan sambil memegang benda yang sama persis dengan milik kita, satu berbentuk matahari, satu lagi berbentuk bulan. Mereka berjanji dengan nyawa mereka untuk menjaga keseimbangan dunia agar tidak hancur. Namun takdir kejam memaksanya berubah. Salah satu dari mereka terpaksa melanggar janji itu... terpaksa membiarkan keseimbangan itu retak demi menyelamatkan nyawa orang yang paling ia cintai. Dan itulah... itulah awal dari segala kesalahan yang kini kita hadapi kembali."
Darahku terasa berdesir hebat mendengar penuturannya. Jadi kisah perjuangan kami bukanlah sesuatu yang baru terjadi belakangan ini. Ini adalah pengulangan dari sebuah kisah tragis yang telah terjadi ribuan tahun silam, sebuah siklus yang tak terputus karena satu hal yang tak pernah berubah sepanjang masa: kasih sayang yang tak kenal takut.
Malam semakin larut, namun kantuk tak sekalipun menyapa kami. Kami duduk berdampingan di tepi tempat tidur, saling merangkul seolah kekuatan terbesar kami hanyalah kebersamaan itu sendiri. Tiba-tiba, cahaya merah samar itu kembali menyala dari pergelangan tangan Erlan, kali ini lebih terang dan lebih kuat hingga membuat seluruh ruangan seolah bergetar pelan. Cahaya itu tidak menyilaukan mata, namun memancarkan getaran yang terasa hingga ke dalam tulang. Di dinding kosong tepat di hadapan kami, bayangan samar perlahan terbentuk kembali, bukan bayangan masa lalu yang jauh, melainkan pantulan langsung dari kejadian yang sedang berlangsung di tempat lain saat ini juga.
Kami melihat sosok Dimas. Ia sedang berdiri sendirian di pinggir dermaga tua yang sudah lama ditinggalkan, tempat yang jarang dikunjungi orang karena lokasinya yang terpencil dan angin yang selalu berhembus kencang di sana. Di tangannya, ia memegang sebuah benda kecil yang berkilauan samar, seolah benda itu baru saja ia temukan atau terima dari seseorang. Di hadapannya berdiri sosok bertubuh tinggi besar yang seluruh wajahnya tertutup bayangan gelap pekat, namun dari cara berdiri, postur tubuh, dan cara ia memiringkan kepala, sosok itu terasa begitu akrab, seperti seseorang yang pernah kami percaya sepenuhnya namun kini menjadi musuh terbesar.
Dimas tampak berdebat dengan sosok itu. Tangannya terangkat menolak, kepalanya menggeleng kuat menolak tawaran yang disampaikan. Namun sosok itu perlahan mengulurkan tangan kanannya, dan di bagian dada baju yang ia kenakan, terlihat jelas sebuah lencana yang persis sama dengan pola yang muncul di atas meja batu dan kertas di ruang kerja Erlan, dua lingkaran bertaut dengan seberkas cahaya merah di tengahnya. Perlahan, tangan Dimas yang tadinya menolak mulai terkulai lemah, seolah ada kekuatan tak kasat mata yang sedang menarik kesadarannya pergi menjauh.
Saat itu juga, Erlan tersentak bangkit berdiri dengan napas memburu. "Mereka menjebaknya sejak awal. Dimas tidak tahu apa yang sebenarnya sedang ia hadapi. Sosok itu bukan sekadar utusan atau pengikut setia... ia adalah bagian dari entitas yang terperangkap di antara dua waktu itu. Ia menggunakan wajah dan kepercayaan orang-orang yang kita sayangi untuk melumpuhkan kita."
Kami segera meraih jaket dan bergegas menuju pintu keluar, namun tepat saat kaki kami melangkah melewati ambang pintu, ponselku berdering nyaring memecah kesunyian malam. Nama penelepon tertulis jelas di layar: Dimas. Dengan tangan gemetar aku segera mengangkatnya.
"Halo? Dimas? Di mana kau?" suaraku terdengar panik.
Di seberang sana, napas Dimas terdengar berat, terengah-engah seolah ia sedang berlari atau sedang dicekam ketakutan yang luar biasa. "Dian... dengarkan aku baik-baik. Jangan percaya apa pun yang terlihat di depan matamu nanti. Jangan percaya pada wajah yang kau kenal. Selalu ingat... yang sebenarnya mereka cari bukanlah kekuatan benda itu... bukan pula takdir..."
Suaranya tiba-tiba tercekik, seolah ada tangan yang kuat mencekik lehernya. Dan detik berikutnya, suara Dimas hilang, digantikan oleh suara yang berat, dingin, hampa, dan seolah berasal dari dasar bumi yang paling dalam:
"Terima kasih telah mengantar kuncinya kembali kepadaku, keturunan yang setia. Sekarang... tinggal menunggu waktu yang tepat untuk mengambil sisanya."
Panggilan terputus seketika. Di saat yang sama, tanda merah di pergelangan tangan Erlan berdenyut sangat kuat hingga ia meringis menahan rasa sakit yang tajam, sementara di langit tepat di atas puncak bukit tua itu, cahaya merah yang tadinya samar kini meledak menjadi sorotan cahaya menyala terang yang menembus pekatnya awan malam, menyinari seluruh penjuru kota seolah matahari berwarna merah darah baru saja terbit di tengah kegelapan abadi.
Kami melajukan mobil secepat mungkin menuju dermaga tua itu, jantungku berpacu tak karuan. Namun di dalam lubuk hati yang paling dalam, aku tahu satu hal yang mengerikan: kami tidak lagi berhadapan dengan manusia yang memiliki ambisi kekuasaan semata. Kami sedang berhadapan dengan sesuatu yang telah ada sejak alam semesta terbentuk, sesuatu yang menggunakan kasih sayang kami sebagai jalan masuk, dan sesuatu yang kini telah mengambil sahabat kami sebagai bagian dari rencananya yang tak terbayangkan. Dan pertanyaan yang kini menghantui setiap inci pikiranku adalah: saat kami tiba di sana nanti, apakah kami akan menemukan Dimas yang kami kenal? Atau kami justru akan berhadapan dengan sosok asing yang kini mengenakan wajah sahabat kami itu untuk menjatuhkan kami satu per satu?