Demi menghindari aib, Naresta dan Elvan memilih meninggalkan keluarga mereka dan memulai hidup baru di sebuah desa. Dengan kerja keras, mereka berhasil membangun sebuah toko yang berkembang pesat dan menjadi sumber penghidupan mereka.
Namun, kesuksesan itu tak membuat mereka diterima. Elvan yang merupakan penyandang autisme terus menjadi sasaran hinaan dan cemoohan warga. Meski begitu, Naresta tetap setia berada di sisinya, membuktikan bahwa cinta sejati tidak pernah memandang kekurangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Bu Rt
"Saya nggak habis pikir sama pemikiran kalian itu. Mbak Naresta punya suami, ya wajar dong kalau bisa hamil," ucap Bu Ratih dengan wajah kesal.
Wanita yang tadi menghina Naresta langsung mengerutkan dahinya.
"Kami cuma heran, Bu."
"Heran apanya?"
Bu Ratih menunjuk pelan ke arah Elvan.
"Mas Elvan memang penyandang autisme. Tapi dia laki-laki dewasa, punya istri, dan sudah menikah empat tahun dengan Naresta."
Wanita itu mulai terdiam.
"Jangan karena cara bicara Mas Elvan berbeda, kalian menganggap dia tidak bisa menjalani kehidupan rumah tangga."
Aya yang sedang menyiapkan pesanan ikut menganggukkan kepalanya.
"Benar, Bu."
Bu Ratih semakin kesal.
"Kalian itu kalau mau bertanya, pikirkan dulu perasaan orang."
"Bayangkan kalau kalian sedang bahagia karena menunggu anak setelah empat tahun menikah, lalu ada orang datang dan malah mempertanyakan bagaimana kalian bisa hamil."
Wanita itu menundukkan wajahnya.
"Sakit hati nggak?"
Tidak ada jawaban.
Bu Ratih menggelengkan kepalanya.
"Kemarin Naresta sampai pingsan gara-gara terlalu banyak menghadapi omongan orang."
"Baru hari ini dia buka toko lagi, sudah ada yang mulai menghina."
Naresta yang sejak tadi diam akhirnya menyentuh lengan Bu Ratih.
"Bu, sudah."
"Nggak, Naresta."
Bu Ratih menoleh kepadanya.
"Kamu itu terlalu sabar."
Naresta tersenyum tipis.
"Saya cuma nggak mau ribut lagi, Bu."
"Nah, itu masalahnya."
Bu Ratih kembali menatap para wanita di depannya.
"Karena Naresta selalu diam dan mencoba sabar, kalian merasa bebas ngomong apa saja."
Elvan perlahan menggenggam tangan istrinya.
Naresta langsung menoleh.
"S-sayang..."
"Iya, Mas. Aku nggak apa-apa."
Bu Ratih mengembuskan napas panjang.
"Mulai sekarang kalau mau belanja, ya belanja."
"Kalau mau ngobrol, silakan."
"Tapi jangan datang ke toko orang hanya untuk mengomentari kehidupan rumah tangganya."
Suasana toko mendadak hening.
Aya yang sejak tadi berdiri di dekat tumpukan barang akhirnya bertepuk tangan kecil.
"Nah, begitu, Bu RT."
Naresta langsung menoleh.
"Mbak Aya."
Aya buru-buru menurunkan tangannya.
"Hehe... maaf, Mbak."
Tring!
Pintu toko kembali terbuka.
Semua orang yang berada di dalam langsung menoleh ke arah pintu. Ternyata yang baru saja datang adalah Dewi.
Bu Ratih yang masih kesal karena kejadian sebelumnya langsung mengerutkan dahinya.
"Ini lagi datang. Mau apa kamu kemari, ha?" tanyanya tanpa basa-basi.
Dewi yang baru melangkah masuk langsung berhenti.
"Lho, Bu RT. Saya mau belanja."
"Mau belanja atau mau bikin masalah lagi?"
Dewi mendecak pelan.
"Ya ampun, Bu. Saya baru masuk."
"Makanya saya tanya dari awal. Biar jelas."
Naresta yang berada di belakang meja kasir langsung menghela napas.
"Bu Ratih, sudah."
Bu Ratih menoleh.
"Kamu diam dulu, Naresta. Saya masih kesal."
Dewi melipat kedua tangannya.
"Memangnya ada apa lagi?"
Aya langsung muncul dari samping rak.
"Ada yang pagi-pagi sudah menghina Mbak Naresta sama Mas Elvan."
Dewi mengangkat alisnya.
"Menghina apa?"
Aya menunjuk wanita yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari kasir.
"Katanya heran kok Mbak Naresta bisa hamil, padahal Mas Elvan penyandang autisme."
Dewi terdiam sesaat.
Kemudian pandangannya langsung beralih kepada Naresta.
"Kamu hamil?"
Naresta mengangguk pelan.
"Iya."
Dewi membelalakkan matanya.
"Serius?"
"Iya, Mbak."
Dewi kemudian melirik Elvan yang berdiri di samping istrinya.
Entah apa yang ada di pikirannya, tetapi tatapannya membuat Naresta langsung waspada.
"Mbak Dewi."
"Apa?"
"Kalau mau belanja, silakan."
Naresta menatapnya serius.
"Tapi kalau mau mengatakan sesuatu tentang suami saya, tolong dipikirkan dulu."
Dewi langsung mendecak.
"Belum apa-apa sudah curiga."
Bu Ratih menyahut cepat.
"Bukan curiga."
Ia menatap Dewi tajam.
"Kami cuma sudah hafal mulut kamu."
"Berarti nggak salah dengar, dong, aku dengar gosipnya," ucap Dewi sambil melirik Naresta. "Tapi memang aneh, ya. Kok bisa hamil?"
Bu Ratih langsung menatap Dewi tidak percaya.
"Astaghfirullah, Dewi!"
"Apa lagi, Bu? Saya cuma bilang aneh."
"Aneh dari mananya?"
Dewi menunjuk pelan ke arah Elvan.
"Ya suaminya begitu."
Naresta yang sejak tadi mencoba menahan diri langsung menggenggam tangan Elvan.
Bu Ratih maju selangkah.
"Begitu bagaimana?"
Dewi terdiam sesaat.
"Ya... autisme."
"Terus?"
Dewi mengangkat bahunya.
"Makanya saya heran."
Bu Ratih menepuk dahinya sendiri.
"Ya Allah, Dewi. Tadi baru saja saya menjelaskan hal yang sama, sekarang kamu datang membawa pemikiran yang sama lagi."
Dewi mengerutkan dahinya.
"Memangnya salah?"
"Salah kalau rasa heranmu dipakai untuk merendahkan orang!"
Bu Ratih menunjuk Naresta dan Elvan.
"Mereka itu suami istri."
"Sudah menikah empat tahun."
"Mas Elvan laki-laki dewasa."
"Naresta perempuan dewasa."
"Terus kenapa kalian semua sibuk sekali mempertanyakan bagaimana Naresta bisa hamil?"
Dewi langsung terdiam.
Aya yang berdiri di dekat rak ikut menyahut.
"Nah, itu, Bu. Dari tadi muter di situ terus."
Bu Ratih kembali menatap Dewi.
"Autisme bukan berarti seseorang tidak bisa menikah, tidak bisa mencintai pasangannya, atau tidak bisa punya anak."
Dewi mendecak.
"Saya kan cuma ngomong."
"Mulut itu memang buat ngomong, Dewi."
Bu Ratih berkacak pinggang.
"Tapi otak juga dipakai sebelum ngomong."
Beberapa pelanggan langsung menahan senyum mendengar ucapan Bu Ratih.
Dewi memerah wajahnya.
"Bu RT kok malah mempermalukan saya?"
Bu Ratih langsung mengangkat alis.
"Lho, kamu merasa malu?"
"Iya!"
"Nah, bagus."
Bu Ratih menunjuk Elvan yang sejak tadi hanya diam di samping istrinya.
"Berarti kamu masih tahu rasanya malu. Sekarang coba pikirkan bagaimana perasaan Mas Elvan setiap kali kondisi dirinya dijadikan bahan hinaan oleh kalian."
Dewi tidak mampu menjawab.
Naresta mengusap pelan tangan suaminya.
Elvan menoleh kepadanya.
"S-sayang..."
"Iya, Mas."
Naresta tersenyum lembut.
"Jangan didengarkan."
Elvan menganggukkan kepalanya pelan.
Sementara Bu Ratih masih berdiri di hadapan Dewi dengan wajah kesal.
"Kalau datang mau belanja, belanja. Tapi kalau datang cuma mau menambah sakit hati orang, lebih baik pulang."
"S-saya memang mau belanja sama bayar utang, Bu," jawab Dewi dengan wajah kesal sekaligus malu.
Bu Ratih langsung menunjuk meja kasir.
"Iya sudah, sana bayar utangmu. Jangan lagi bertanya-tanya apa pun."
Dewi mendecak pelan, lalu berjalan menuju meja kasir.
Naresta tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menunggu Dewi mengeluarkan uang dari dalam tasnya.
"Ini."
Dewi meletakkan beberapa lembar uang di atas meja.
Naresta mengambilnya dan mulai menghitung dengan teliti.
"Satu juta rupiah, ya, Mbak?"
"Iya."
Naresta kembali menghitung untuk memastikan jumlahnya.
"Berarti utang Mbak yang sebelumnya sudah lunas."
Dewi mengangguk.
"Iya."
Naresta mengambil buku catatan utang, lalu mencoret nama Dewi setelah memastikan seluruh jumlahnya sudah dibayar.
"Sudah, Mbak. Lunas."
"Nah, sekarang saya mau belanja."
"Silakan. Mau beli apa?"
Dewi melirik Bu Ratih yang masih berdiri tidak jauh darinya.
"Kenapa Bu RT masih lihat-lihat saya?"
Bu Ratih langsung berkacak pinggang.
"Saya juga pelanggan di sini. Barang pesanan saya belum selesai disiapkan."
Aya yang sedang membawa beberapa barang langsung menyahut.
"Benar, Bu. Ini minyaknya masih kurang."
"Nah, dengar itu."
Dewi mendecak.
"Iya, iya."
Ia kemudian mengambil beberapa barang dari rak dan membawanya ke meja kasir.
Naresta mulai menghitung belanjaannya tanpa banyak bicara.
Dewi beberapa kali melirik ke arah Elvan, tetapi kali ini ia memilih menutup mulut.
Bu Ratih yang menyadarinya langsung memperingatkan.
"Jangan."
Dewi menoleh.
"Apa?"
"Saya tahu tatapan kamu."
"Saya belum ngomong apa-apa, Bu."
"Makanya. Pertahankan."
Aya yang mendengar itu langsung menundukkan kepala sambil menahan tawa.
Naresta sendiri hanya menggeleng pelan melihat tingkah Bu Ratih yang sejak pagi benar-benar tidak memberikan kesempatan sedikit pun kepada siapa saja untuk kembali menghina Elvan.