Arzya Geovanka Razeta, yang kerap disapa Arzya atau zaza ini merupakan gadis yang sangat terkenal dengan sikapnya yang pendiam. Bahkan ia sempat dijuluki sebagai patung berjalan karena wajahnya yang selalu terlihat datar. Arzya memang selalu bersikap seperti itu pada orang-orang yang baru ia kenali.
Di dalam diamnya Arzya menyimpan begitu banyak rahasia yang ia simpan dengan rapat, bahkan hatinya yang rapuh pun hanya dia yang tahu. Terlebih lagi
Arzya sangat pandai menutupi sifat asli yang ceria, cerewet, gokil dan apa adanya.
Tanpa sengaja ia bertemu dengan seseorang yang memberikan dia sesuatu yang selama ini tidak ia rasakan. Ya Arzya mendapatkan kasih sayang dari sang ketua osis disekolagnya. Dia mampu meluluhkan hati Arzya yang dingin itu.
Seperti kata orang, apa yang kita dengar belum tentu yang sebenarnya, kata itu selalu terngiang dibenak Arzan.
Follow IG : eh.han28
....
INI MURNI KARYA AUTHOR JIKA ADA KESAMAAN NAMA ATAU TEMPAT ITU HAL YANG WAJAR KARENA INI HANYA FITIF BELAKA! DAN MOHON JANGAN ADA PENIRU ATAUPUN PLAGIATISME KARENA ADA HUKUM YANG BERLAKU BAGI YANG MELAKUKAN PLAGIATISME!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aku masih menunggu mu!, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liatin doi butuh tenaga
"Jangan lupa, traktirnya!" kata Diva dengan penuh semangat.
"Yaelah giliran yang kaya gitu mah inget mulu," gerutu Sari.
"Harus dong, yang gratisan gak boleh sampai lepas hehe," tawa Diva pecah mengisi koridor kelas yang lumayan sepi karena masih jam pelajaran sedangkan mereka sudah selesai berolahraga.
"Langsung kantin aja gikmana, kalau mau ganti baju dulu pasti toiletnya masih penuh?" tanya Arum.
"Ayok lah, gas!" kata Diva semangat.
"Iya-iya yang dapat traktiran mah bahagia banget," sindir Sari.
"Padahal yang masukin bolanya si Arzya terus dia mah cuma apa? Teriak-teriak gak jelas bukannya bantu," sindir Arum.
"Biarin aja yang penting kita menang ya gak, Zya?" Diva meminta persetujuan dari Arzya yang sejak tadi hanya diam saja.
"Iya, dapet makan gratis," ucap Arzya sambil menyunggingkan senyumnya.
"Ini anak patung juga suka yang gatrisan?" tanya Arum sambil tertawa, membuat yang lainnya pun ikut tertawa.
Arzya yang diledek seperti itu tidak marah sama sekali, karena ia tidak pernah memasukkan kedalam hati perkataan-perkataan yang tidak penting itu. Arzya tau mana yang hanya bercanda dan mana yang serius.
Setelah sampai dikantin belakang mereka langsung memesan bakso dan mie ayam tak lupa minumnya segelas es teh.
Saat asik bercanda sambil menunggu pesanan mereka datanglah Ilham yang entah kenapa selalu saja muncul dimana pun.
"Hai, Zya!" sapa Ilham.
Arzya hanya melirik sekilas pasalnya ia lupa dengan Ilham, lalu ia kembali fokus pada ponselnya.
"Halo kak Ilham, mau pesen makan juga?" tanya Diva yang duduk disebelah Arzya.
"Iya, Va." mata Ilham terus saja menata Arzya.
"Kan belum istirahat, kok bisa ke kantin?" tanya Sari.
"Matanya dikondisikan kak, udah mau keluar tuh!" canda Arum sambil terkekeh.
Sedangkan Ilham hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia bisa matu kutu dihadapan empat gadis ini. Terlebih lagi ada Arum yang memiliki mulut tak kalah pedas dengan Diva.
Pesanan mereka pun datang bersamaan dengan Arzan dan sahabatnya datang, bedanya mereka sudah berganti dengan seragam putih abu-abunya.
Arzan duduk tidak jauh dari Arzya, namun matanya terus menatap tajam kearah Ilham yang duduk didepan Arzya. Ilham yang merasa ditatap ia menoleh dimana Arzan duduk.
"Mak, pesen mie ayamnya empat es tehnya juga empat!" teriak Alvin.
"Siap, ditunggu ya!" teriaknya yang biasanya di panggil mak oleh anak-anak lainnya.
Arzan terus menatap Arzya yang sedang memasukkan beberapa sendok sambal kedalam mie ayamnya, tidak hanya sambal Arzya juga menambahkan saos pedas membuat mereka semua menggeleng melihatnya.
"Mules, Zya!" ucap Arum.
"Siapa?" tanya Arzya bingung.
"Gue yang mules liat mie ayam lo kaya larva merah gitu," kata Arum sambil menutup mulutnya, ia tidak bisa membayangkan bagaiamana rasa mie ayam milik Arzya.
"Awas lo nanti diare," saut Diva.
"Kan ada lo," jawab Arzya santai.
"Tambah kecap Zya, biar ada manis-manisnya gitu." saran Sari.
"Gak suka kecap," saut Arzya sambil memulai menyendokkan kuah mie ayam.
Arzan yang melihat itu hanya bisa menelan ludahnya, entah kenapa melihat Arzya makan terasa menggoda membuatnya ingin makan seperti Arzya. Tapi sayangnya perutnya tidak kuat dengan makanan yang terlalu pedas.
"Makan, Zan. Liatin doi juga butuh tenaga," canda Pandu sambil menyodorkan mie ayam milik Arzan.
"Ini juga mau makan kok," kata Arzan sambil menambahkan saos dan juga kecap pada mie ayamnya.
Alvin yang sejak tadi diam tiba-tiba saja bangkit dari duduknya dan pergi mengahampiri mak kantin. Setelah beberapa saat Alvin kembali dengan sebotol air mineral dingin, ia memberikannya pada Arzya tapi sebelum itu ia sudah membukakan tutup botolnya agar Arzya langsung meminumnya.
Arzya bingung saat melihat botol mineral itu disodorkan didepan wajahnya, hingga membuat Alvin buka suara.
"Minum!" ucap Alvin.
Arzya melirik segelas es tehnya yang ternyata sudah habis, karena sejak tadi ia makan sambil minum. Dan dengan terpaksa Arzya menerima pemberian Alvin itu karena saat ini Arzya sangat membutuhkannya.
"Makasih!" kata Arzya langsung meminum air dingin itu.
Sedangkan Arzan dan Ilham sudah terlihat memerah wajahnya mereka tidak menyangka jika Alvin akan bergerak cepat untuk mencari perhatian Arzya.
"Berani-beraninya lo duluin gue!" batin Ilham.
"Lo teman apa musuh gue sih, Vin!" batin Arzan.
Tanpa mereka sadari sejak tadi ada seorang gadis yang menatap tajam kearah Arzya, ia merasa kesal kenapa semua orang begitu menyukainya padahal dirinya tidak kalah cantik dengan Arzya.
"Awas ya lo, kalau peringatan gue kemarin gak lo dengerin gue gak akan segan-segan lagi sama lo!" gumamnya sambil mengepalkan tangannya.
"Tunggu aja pembalsan gue, gue pastiin lo gak akan bisa tertawa lagi!" batinnya.
Gadis itu memutuskan untuk kembali ke kelasnya karena ia tidak mau melihat pemandangan yang membuat hatinya semakin sakit.
"Uhuukk!" Diva yang melihat begitu perhatiannya Alvin pada sahabatnya menjadi tersedak.
"Mau minum air mineral juga lo, Va?" sindir Arum sambil terkekeh.
Sari yang tanggap pun langsung memberikan es teh miliknya pada Diva.
"Gila gue tersedak beneran oe!" kesal Diva setelah lega.
Arzya menyerahkan botol minumnya pada Diva membuatnya semakin kesal.
"Udah kelar baru dikasih," geram Diva.
"Salah sendiri gak bilang," kata Arzya.
"Peka dong peka, masa gak peka padahal didepan mata!" kesal Diva.
"Curhat bu!" ledek Arum sambil terkekeh.
Setelah selesai makan mereka segera kembali ke kelas, terlebih lagi mereka belum berganti seragam.
"Duluan kak!" kata mereka kecuali Arzya.
Arzan hanya diam saja sejak tadi, entahlah ia juga tidak paham kenapa ia merasa kesal dan mendadak selera makannya menjadi hilang saat melihat Alvin yang memberikan perhatian khusus pada Arzya.
"Kenapa Zan?" tanya Daffin.
"Gak!" satu kata yang keluar dari mulut Arzan dengan ketus membuat mereka semua heran namun tidak dengan Alvin.
Arzan tidak kembali ke kelasnya ia memilih pergi ke ruang osis untuk menengakan diri. Sedangkan temannya yang lain masih sibuk menghabiskan makanan mereka.
Ilham pun segera pergi setelah Arzya dan teman-temannya kembali. Memang niatnya kekantin karena ingin bertemu dengan Arzya. Tapi siapa yang menyangka disana ia juga bertemu dengan musuhnya sejak kelas satu. Ilham juga tidak mengerti kenapa selalu saja apa yang ia inginkan selalu sama dengan Arzan. Dan lebih parahnya mereka lebih memilih Arzan dari pada dirinya.
Sehingga Ilham tidak akan melepas Arzya untuk siapapun, ia akan berjuang meluluhkan hati Arzya.
"Lo liatan aja, gue gak akan biarin Arzya suka sama lo atau pun Alvin," gumam Ilham sambil menatap tajam Arzan yang sudah pergi terlebih dulu.
"Apa sih kurangnya gue, sampai semua cewek yang gue suka lebih milih lo!" kesal Ilham.
Bahkan ia sudah menendang tong sampah yang ada didepannya hingga berantakan setelah itu ia pergi begitu saja.
...----------------...
jan bikin pembully jaya dong thor.cepet kasih pelajaran buat si pembully