Setelah resmi menyandang gelar sebagai Janda Febry Lie Prayoga, Andita akhirnya memutuskan menerima lamaran Bagas yang merupakan mantan kekasihnya.
Shinee yang diam-diam mencintai Bagas,tidak terima atas lamaran Bagas kepada Andita yang adalah mantan istri kakaknya Yoga.
Apakah Shinee dapat merebut Bagas dari Andita ?
atau justru terjebak dalam kebuasan Erwin ?
Ikuti ceritanya di "Pacarku Suami Temanku Part 2"
Bagi pembaca baru Novel ini, silakan baca Pacarku Suami Temanku Bagian 1.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adelmia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB~15
Saat Bagas dan Robert sedang ngobrol serius ponsel Bagas berdering, panggilan dari Andita.
Bagas memberikan kode pada Robert untuk menunggu sebentar, sementara dirinya menjawab telpon Andita.
“Halo...Assalamualaikum sayang. Ada apa, hmmm.?” Sapa Bagas.
“Mas Dita kangen.”
suara manja Andita di seberang sana meruntuhkan seluruh fokus Bagas,tersenyum bahagia. ingin segera pulang dan bertemu sang kekasih hati.
“Mas juga kangen sayang.” Sahut Bagas girang
“Makan siangnya pulang kerumah aja ya mas, Dita masak tadi tanpa bantuan mama.” Cerita Andita di seberang sana dengan bangganya.
“Ohya, dengan senang hati. Mas akan makan semua masakan kamu hari ini, 1 jam dari sekarang mas sampai rumah.” Jawab Bagas mantap
“Dita tunggu ya mas, hati-hati di jalan. Assalamualaikum.” Andita mengakhiri panggilannya
“Walaikumsalam.” Bagas kembali duduk bersama Robert, melanjutkan obrolannya yang sempat tertunda.
Robert yang mengerti bahwa Bagas akan pergi, sebelum di usir dia sudah pamit lebih dulu sama empunya perusahaan Subroto Group.
“Gue duluan Gas, mau jemput Alga. Bentar lagi dia keluar kelas,emaknya lagi keluar kota.” Robert pamit undur diri.
“Sampaikan salamku pada jagoan kecil itu, kapan Alen akan kembali.?” Tanya Bagas sembari bergegas membereskan kerjaannya.
“Mungkin minggu depan.” Sahut Robert dari ambang pintu.
Sebelum pergi Bagas menitipkan pekerjaannya sebagian sama Andre, sebagian ia bawah pulang.
“Dre, saya harus pulang lebih awal hari ini. Untuk meeting dengan beberapa klien kita, tolong kamu handle ya. Kalau yang mengharuskan saya hadir, kamu tunda saja dulu meetingnya.” Pesan Bagas, tanpa menungu jawaban sang sekretaris sekaligus asistennya itu ia berlalu.
Andre hanya mengangkat kedua tangannya, pasrah. Mau gimana lagi, namanya juga kerja sama orang mau gak mau, suka tak suka harus di jalani. Terlebih lagi, Bagas tidak memperlakukannya layaknya benar-benar karyawan karena memang mereka sahabat. karena terkendala pekerjaan yang selalu menuntut dan menumpuk Andre jarang gabung bersama mereka bertiga,sebagai bawahan Andre harus tetap profesional, apalagi Bagas suka membantunya saat ia kesusahan.
Bagas melenggang pergi menyusul Robert. “Kasihan gue sama Andre, masa lajangnya hampir separo dia habiskan mengabdi sama lu.” Robert menatap sahabatnya itu.
“Dia bukan mengabdi, tapi dia bekerja untuk dirinya. Dia harus kuat, suatu hari dia bisa seperti kalian juga. Untuk menjadi besar itu tidaklah mudah, lu tau sendiri gimana susahnya hidup.” Bagas menanggapi ucapan Robert
“Iya lu benar Gas.” Jawab Robert datar, merasa tersenggol.
“Maaf bro, gue gak bermaksud nyindir lu ya. Tapi apa yang gue lakukan sama Andre sama seperti apa yang papa lakukan dulu sama lu dan Erwin. Di tempah supaya kuat dan besar, ngesot dulu gak apa,yang penting tujuannya meraih apa yang di impikan.” Robert mengangguk menatap Bagas, kagum sama sahabatnya itu. Begitu perduli terhadap orang-orang di sekelilingnya, sama persis dengan Brata.
Konon katanya Almarhum kakek Bagas juga seperti itu orangnya, membantu tanpa pamrih. Mendorong kuat bagi yang ingin maju, dan akan mengucilkan bagi yang tidak mau bergerak maju. Mengucilkan dalam artian,buat apa terus menyemangati orang yang tidak punya kemauan untuk menjadi lebih hebat, hanya pasrah dan terpaku pada apa yang sudah di dapat, lebih baik tinggalkan dan biarkan mereka tetap selalu berada di belakang.
Kedua sahabat itu berpisah di parkiran dan masuk ke mobil masing-masing, Robert pergi lebih dulu dari Bagas karena mengejar waktu untuk menjemput Alga. Bagas pun mengemudi ke arah yang berbeda yaitu menuju kediaman Brata, di perjalanan Bagas melihat toko bunga ia menghentikan laju mobilnya dan membeli satu buket mawar putih.
Ia tersenyum memandang mawar putih mekar nan indah di tangannya, setelah membayarnya Bagas kembali ke mobil dan melaju cepat, ia tak ingin kekasih hatinya itu terlalu lama menunggu.
Lewat dari 10 menit dari janji yang Bagas ucapkan tadi, Andita menunggu gelisah mondar-mandir di teras rumah megah itu. Di tengah kerisauan hatinya deru mobil Bagas terdengar memasuki halaman parkir, Andita tersenyum dan segera berlari mengejar Bagas.
Sebelum turun Bagas menatap wajah bahagia Andita, keluar merentangkan kedua tangannya.
“Mana yang kangen ?” tanya Bagas.
Andita menunjuk dahinya, Bagas segera mengecup lembut kening bidadari hatinya. Andita pun mengecup pipi Bagas.
“Ini hadiah untuk orang yang kangen dan masak untuk mas hari ini.” Bagas memberikan buket bunga pada Andita.
“Terima kasih mas.” Andita menciumi wangi bunga di tangannya.
“Ayo masuk, mas udah gak sabar mau makan masakan calon istri.” Ajak Bagas, wajah Andita bersemu merah dan mengangguk malu-malu.
Ayuningtyas tersenyum menatap kedatangan Bagas, sebelum melepas jasnya Bagas menyambut dan mencium tangan Ayu seperti biasanya. Setelah melepaskan Jasnya Bagas menggulung kemejanya asal hingga sikut, dan tersenyum menatap Andita.
“Ayo kita makan.” Bagas melirik Andita yang berdiri disisinya
“Ayo,” ajak Andita semangat.
“papa mana ma, ?” tanya Bagas sembari mencari sosok Brata.
“Papa masih di atas sebentar lagi turun.” Sahut Ayu.
Mereka bertiga menuju ke ruang makan lebih dulu sembari menunggu kedatangan Brata. Ayu di bantu ART nya menyiapkan makanan, di sela-sela menyiapkan makanan Ayu berbisik pada Bagas.
“Kalau masakannya gak enak jangan salahin mama, dia yang masak sendiri katanya khusus buat kamu.” Bisik Ayu, Bagas mengangguk paham.
“Racun pun aku makan asalkan Andita yang memberi.” Batin Bagas
Bagas menatap tangan Andita yang sedikit melepuh, mungkin terkena percikan minyak panas. Tapi ia membiarkannya tanpa bertanya dan protes, kalau di tanya sekarang khawatir nanti salah persepsi.Kemudian, Brata datang dengan senyum khasnya...
“Hai son...tumben sekali datang tiba-tiba.” Brata menarik kursi dan duduk di seberang Bagas.
Bagas tersenyum...
“Dapat undangan makan siang dari putri papa yang cantik ini.” Jawab Bagas tanpa canggung memuji kecantikan Andita di hadapan Brata dan Ayu.
“Ohya, kalau begitu ayo segera di cicip masakan putri papa yang hebat dan cantik ini.” Brata ikut menyanjung Andita.
Sepertinya anak dan bapak itu punya bakat yang sama dalam menyanjung hati wanitanya, terbukti sama-sama mampu membuat dua wanita di sisi mereka takluk. Blush wajah Andita bersemu merah, ia berdiri mengambilkan nasi untuk Bagas dan beberapa lauk pauk yang di masaknya tadi.
Karena Andita penggemar masakan oriental, jadi menu masakannya gak geser jauh dari negara korea. Bagas menyendok Bulgogi yang sudah Andita masukkan ke piringnya, rasanya lebih dominan ke manis jauh sekali dari rasa yang biasa ia makan di restoran favorit mereka.
Tapi demi membahagiakan hati sang kekasih, Bagas tetap menelannya meskipun sedikit di tolak oleh lidah dan tenggorokannya. Bagas menyendok sup Haemultang yang kelihatannya menggoda, sepertinya di hirup selagi panas-panas akan sangat segar. Meniupnya beberapa hembusan Bagas menyeruput kuah sup itu.
“Astaga ini sup Haemultang atau Sup cabe.” Batin Bagas, ia meraih gelas minumnya dan menghabiskan separuhnya.
“Gimana mas, enak gak?” tanya Andita.
“Enak banget sayang, makasih ya sudah masakin khusus untuk mas.” Tanpa menoleh pada Andita, kalau Andita melihat ekspresinya yang kepedasan tentu akan ketahuan bahwa masakannya sama sekali jauh dari kata enak.
“Kalau gitu habisin ya mas.” Andita tersenyum bahagia,ketika merasa masakannya tidak gagal sama sekali.
“Mampus gue, bisa di obok-obok usus gue sama ni cabe.” Bagas membatin ketika Andita memintanya untuk menghabiskan sup itu.
“Of course babe.” Sahut Bagas
“Papa cobain juga deh masakan Dita.” Andita menyendok sup buatannya ke mangkok untuk di berikan pada Brata.
Ayu yang melihatnya hanya tersenyum, tanpa menghentikan gerakan Andita saat menyendok banyak sup Haemultang ke mangkok untuk Brata.
“Cukup nak, sedikit saja. Papa tidak terlalu suka masakan korea.” Pinta Brata, ia sadar betul masakan itu mengandung cabe ketika menatap wajah putranya yang menahan sensasi terbakar di mulutnya.
Andita dan Ayu ikut mengisi piringnya dengan lauk pauk, tapi Andita lebih tertarik memperhatikan Bagas yang terlihat sangat menikmati masakannya.
Brata ragu-ragu saat mau mencoba masakan Andita, melirik Ayu sejenak,menatap Bagas terakhir tersenyum pada Andita. Perlahan Brata memakannya, hanya isi sup tanpa kuahnya, untuk meminimalisir rasa pedas Brata hanya makan seafood nya. Bagas memperhatikan pola makan Brata, akhirnya ia mengikuti tanpa makan dengan kuahnya.
Andita mengisi mangkoknya dengan sup masakannya, tapi
Bagas mencekal tangan Andita. cukup dia nanti yang menderita sakit perut, tapi tidak dengan Andita itulah yang di pikirkan Bagas.
“Sayang, kalau kamu ikut makan mas gak bisa tambah dong.” Ujar Bagas
“Dita tadi belum mencicipi sepenuhnya mas, gak banyak kok minta sedikit aja ya.” Bagas pasrah
Andita menyendok dan mulai mencicipi hasil karyanya. “Huaaa...ini cabe semua mas.” Andita menjulurkan lidahnya yang serasa terbakar.
Bagas memberikan minum dan mengelap mulut Andita yang berliur karena kepedasan.
“Kalian tega bohongin Dita, harusnya jangan di makan kalau gak enak.” Andita menagis merasa bersalah, karena sudah memberikan masakan yang gagal dan mengandung cabe.
Bagas memeluk Andita dan menenangkan nya. “Apapun yang kamu masak racun sekalipun tidak akan mas protes, Kamu sudah berusaha memasak untuk mas. Sampai tangan cantik ini ikut menjadi korban, mas sangat menghargai usaha mu. Jangan merasa bersalah begitu, mas tidak apa-apa.” Bagas mengelus lembut rambut Andita
“Iya nak, papa baik-baik aja. Ini enak kok, hanya sedikit kelebihan cabe aja. Besok-besok kamu bisa mengurangi cabenya dalam masakanmu. Tetaplah belajar menjadi yang terbaik, sekali gagal tak masalah.” Brata ikut menenangkan agar Andita tak merasa bersalah.
Sedikit kelebihan cabe aja, pak Brata ada-ada saja.
Andita mengangguk dalam pelukan Bagas, karena mood makan wanita itu sudah menghilang Bagas membawanya duduk di taman. Dia tau gimana rasa kecewa yang Andita rasakan, tadinya merasa bangga bahwa masakannya enak tapi, ketika tau bahwa semuanya tak seperti bayangannya rasa bangga dan bahagianya menghilang tertelan rasa kecewa dan bersalah.
Sama halnya tadinya di sanjung setinggi langit tiba-tiba di jatuhkan, patah dan berderai.
“Saat kita sudah menikah nanti,mas tidak mengharuskan kamu pintar masak, tidak akan menuntut kamu harus menyiapkan segala keperluan mas. Mas hanya memintamu untuk menjadi istri soleha. Selebihnya adalah bumbu di dalam rumah tangga.kalau kamu bisa silakan lakukan, kalau tidak bisa jangan di paksakan. Mas hanya minta dua point saja, menjadi istri sebagaimana mestinya dan menjadi ibu dari anak-anak mas. Tidak perlu di jelaskan secara rinci kamu pasti sudah sangat mengerti makna dari menjadi istri sebagaimana mestinya.” Mereka duduk di bangku taman, Bagas mengusap sisa-sisa air mata Andita.
“Satu hal lagi, mas tidak mau menunda-nunda untuk memiliki anak. Kalau bisa hari ini nikah, besok sudah jadi.” Bisik Bagas menggoda Andita, berusaha menghangatkan perasaan wanitanya itu.
Andita mencubit perut keras Bagas. “ emangnya bikin kue secepat itu, bikin kue aja masih butuh proses.” Sahut Andita
“hahaha...itu kan maunya mas. Ohya besok kita cek baju pengantin, soalnya pernikahannya di majukan khawatir bajunya belum siap sempurna.” Bagas memberitahu rencana besok dan di angguki oleh Andita.
“Mas, maafin Dita ya soal masakan tadi.” Bagas menggeleng dan mengecup bagian tangan Andita yang melepuh.
“Lupakan soal itu, mas baik-baik aja. Setelah menikah langsung pindah tempat tinggal, jadi sebaiknya kamu mulai aja mana barang yang perlu di bawah siap-siapin. Biar nanti Andre jemput, kalau sudah di packing.” Ujar Bagas mengalihkan topik pembicaraan Andita.
“Gak tinggal di sini dulu ?” tanya Andita.
Bagas menggeleng, “kita punya rumah sendiri sayang dan akan lebih baik kita memulainya dari kita berdua dulu. Kalau kamu sudah di rumah, mas akan rekrut ART untuk membantu kamu di rumah.”
“Hmmm, Dita ikut apa kata mas aja.” sahut Andita tanpa penolakan, lagian apa yang di katakan Bagas benar adanya.
“Ayo masuk, mas masih ada kerjaan.” Ajak Bagas
...----------------...
vote
like
tap ❤️
mampir ya Thor ke karya ku
~ Mencintai Istri Temanku
sayang sekali 😥😥
padahal ceritanya bagus 🥰🥰
semangat nulis lagi dong Thor 😇😘😘🥰🥰
buat shinee hamil bayi2 erwin