AL harus pergi dari rumahnya karena di usir oleh orangtuanya, mereka lebih menyayangi adiknya ketimbang dirinya.
Meskipun begitu, ia tatap bangkit untuk bertahan hidup. Takdir berkata lain, ia mendapatkan sebuah sistem yang mengubah hidupnya dan membuat orang tuanya menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Ari yang melihat kejadian tersebut langsung mengepalkan tangannya. Amarahnya memanas menyaksikan pemandangan yang membuatnya iri.
Bagaimana mungkin? Orang yang belum lama ini diusir dari rumah mereka dengan baju seadanya, sekarang bisa memiliki mobil mewah yang bahkan orang tuanya sendiri tidak akan pernah sanggup beli seumur hidup.
"Aku harus bilang sama Ibu nih! Gak bisa dibiarin. Bisa-bisanya Al kaya sekarang?" kata Ari tak terima, suaranya bergetar menahan amarah dan rasa iri yang mendalam
Tak lama kemudian, Al pun sampai di halaman rumah. Pintu gull-wing Lamborghini hitam mengilat itu terbuka ke atas.
Al keluar dari mobilnya dan membukanya dengan dengan percaya diri.
Tepat di belakangnya, sebuah mobil truk penarik yang mengangkut sebuah motor sport edisi terbatas berhenti. Beberapa pria berjas hitam segera turun dan dengan hati-hati menurunkan motor tersebut ke halaman.
"Tuan Muda, motornya sudah kami turunkan. Kalau begitu, kami permisi dulu," kata pria berjas hitam yang tampaknya adalah kepala pengawal, sambil membungkuk sangat hormat.
"Baik, terima kasih atas bantuannya. Hati-hati di jalan," kata Al.
Al membawa masuk motornya ke dalam bagasi rumahnya yang luas dan bersih. Ia memandangi bodi motor sport itu dengan tatapan sayup, mengusap bagian tangki yang lecet parah.
"Hm... motor ini sudah jelek banget sejak Deno merusaknya. Sayang sekali motor edisi terbatas begini rusak baru sekali pakai," kata Al menyayangkan.
Sambil menghela napas panjang, ia menutup kembali pintu bagasi otomatisnya dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Saat Al sedang asyik menghitung potensi kekayaannya, ponselnya tiba-tiba bergetar kuat.
Sebuah panggilan video masuk dari sahabat dekatnya, Saka. Al cepat-cepat menekan tombol hijau.
"Al! Lu di mana sekarang?" suara Saka langsung menggelegar dari speaker ponsel.
"Di rumah. Ada apa, Saka?" jawab Al.
"Ah aku cuma penasaran, tadi kamu mendadak dapat mobil Lamborghini, lu dapet duit dari mana sih? Lu gak ikut pesugihan kan? Atau jangan-jangan lu miara tuyul premium?" seloroh Saka sambil menyipitkan mata, bercanda namun sebenarnya juga heran.
Al tersenyum. "Tuyul premium? Kagak lah, mana ada yang begituan. Ini murni hasil 'investasi' cerdas aku beberapa bulan lalu. Hasil yang aku tanam akhirnya berbuah manis."
"Investasi apa anjir yang hasilnya bisa beli Lambo dalam sekejap? Bisikkin ke aku dong, biar aku bisa dapat untung dari uang jajan yang cuma numpang lewat ini!" seru Saka memelas.
"Ada deh, rahasia perusahaan," goda Al. "Lagian, lu ingat kan si Deno yang ngerusakin motor sport ku?"
"Oh, si Deno sialan itu? Kenapa emangnya? Dia minta maaf?"
"Boro-boro. Tapi tadi aku minta kepala sekolah untuk mengeluarkan Deno dari sekolah dan meminta bapaknya buat ganti rugi. Enak aja minta maaf terus bebas," kata Al.
"Paling besok aku suruh orang bengkel resmi buat jemput dan benerin total. Kalau emang gak bisa mulus lagi, ya sudahlah, ku jual aja kali ya, kan soalnya udah ada mobil," ucap Al enteng.
Saka di seberang telepon langsung melongo. "Sombong bener sekarang ya, Sultan Al! Tapi gapapa, aku dukung. Biar tahu rasa tuh si Deno sama keluarganya kalau lu sekarang udah gak selevel sama mereka."
"Udah ah, Saka. Aku mau istirahat dulu, capek abis berurusan sama orang-orang stres tadi," kata Al menyudahi.
"Siap, Pak Bos! Kapan-kapan ajak aku muter-muter pakai Lambo lu ya!"