NovelToon NovelToon
Barbarian Duke Daughter

Barbarian Duke Daughter

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Fantasi / TimeTravel / Tamat
Popularitas:372k
Nilai: 4.8
Nama Author: Erofantic

Clarissa Joanna Lyon Watson, seorang putri Duke satu-satunya yang awalnya punya sifat manja serta lemah berubah menjadi karakter wanita bar-bar setelah siuman dari tidur panjangnya. Dengan jiwa yang berbeda. Konflik antara ayahnya yang seorang Duke dengan Putra Mahkota yang merupakan tunangannya menjadi pemicu ketidak stabilan duchy (wilayah) Lyon yang membuat Clarissa harus turun tangan dengan memberi pelajaran pada Putra Mahkota atau membuatnya mencintai setengah mati.

jangan lupa like, komen, rate dan vote ya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erofantic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14 : Investigasi

Hari ini tiga hari terlewat semenjak aku menugaskan Ronald untuk bertransaksi dengan organisasi Zelda. Aku sudah tidak sabar menunggu informasi apa yang akan pihak Zelda beri dan seakurat apa investigasi organisasi Zelda yang terkenal itu.

"Nona, tamunya sudah datang." ucap Ronald.

"Persilahkan dia masuk." sahutku.

"Baik, Nona." Ronald berlalu dan tak lama seorang wanita yang cukup cantik dengan kulit kecoklatan muncul.

Kharismanya berbeda. Sungguh elegan. Aku yakin wanita ini bukan hanya informan biasa, tapi memiliki kedudukan diorganisasi itu sendiri.

"Salam, Nona. Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda." Sapa wanita itu santun.

"Terima kasih atas kedatangannya. Saya Clarissa Joanna Lyon Watson. Silahkan duduk." ujarku mempersilahkan.

"Saya tidak pandai berbasa-basi jadi saya akan langsung ke intinya saja." Ujarku yang ditanggapi senyuman cantik wanita itu.

"Jadi, informasi apa yang sudah Anda dapat? Semoga informasi yang didapat sesuai dengan reputasi organisasi Zelda." timpalku lagi, terkesan arogan.

Wanita itu tertawa kecil, lalu menyerahkan sebuah dokumen. Aku mengambil dokumen dan segera membukanya.

"Saya yakin Anda tidak akan kecewa dengan hasil informasi yang kami dapat. Dan kami sedikit akan menegaskan sesuatu, bahwa apapun yang terjadi kedepannya mengenai informasi yang kami dapat, kami sama sekali tidak ingin terlibat." sahutnya tegas.

Aku suka sikap tegas itu. Penegasan yang dia ucapkan dengan tatapan tajam menunjukan bahwa mereka tidak ingin terlibat bukan karena takut, tapi keprofesionalan mereka hanya sebatas memberi informasi saja. Aku yakin sikap percaya diri mereka karena ada koneksi orang yang berpengaruh dibelakangnya.

"Saya mengerti. Anda tidak perlu khawatirkan itu. Saya menghormati keprofesionalan organisasi Anda karena organisasi Anda hanya menjual jasa saja."

Aku tersenyum menatap wanita berkharisma di depanku ini.

"Sekalipun terlibat, saya yakin orang dibelakang organisasi Anda cukup berpengaruh untuk membungkam semuanya."

Sesaat ekspresinya berubah, lalu dengan cepat tersenyum menanggapi. Ternyata ucapanku yang asal cukup membuat wanita ini bereaksi. Berarti benar, orang yang berdiri dibelakang organisasi ini cukup hebat. Mengumpulkan informasi seperti ini tidaklah mudah, dan sangat beresiko karena ini menyangkut sebuah keluarga bangsawan besar.

"Anda cukup cerdas, Nona. Tapi kami tidak tertarik untuk terlibat didalam urusan kostumer." tegasnya lagi

"Saya mengerti."

Aku memeriksa hasil dokumen yang diserahkan dan terkejut dengan informasi yang aku baca.

"Apa Anda yakin informasi ini akurat? Kenapa Duchy Arched tercantum dari informasi Anda ini?"

"Iya, informasi yang kami dapat itu terpercaya. Pelelangan budak dilakukan dipusat kota kekaisaran. Bangsawan yang dicurigai sebagai pelaku utama ada di Duchy Lyon yaitu Count Lumird dan Duchy Arched yaitu Marquess Luke."

Aku menghela nafas panjang. Kedua orang itu bukan sembarang bangsawan. Count Lumird memang terkenal seorang yang picik, karena kepicikannya itu dia bisa memonopoli beberapa perdagangan hingga bisnis yang dijalaninya cukup sukses. Siapa sangka uangnya yang melimpah itu ternyata ada hasil dari perjual belian budak. Benar-benar tidak bisa dimaafkan. Dan untuk Marquess Luke, aku tidak terlalu tahu bagaimana karakternya, karena dia bukan bangsawan yang berada di bawah Duchy Lyon. Yang aku tahu dia cukup terkenal berpengaruh di kalangan bangsawan, terutama dalam koneksi jalur belakangnya. Mungkin dengan koneksi jalur belakangnya itu dia cukup sukses dalam tiap bisnis. Tapi apa pihak Duchy Arched tidak mengetahui hal ini? Karena hubungannya dengan Marquess Luke terlihat baik-baik saja.

"Untuk pelelangan itu sendiri dilakukan diwaktu tertentu sekali dalam sebulan dengan kedok sebuah pesta. Untuk bisa menghadiri pesta tersebut dibutuhkan sebuah undangan khusus yang tidak sembarang orang bisa dapat."

Aku melihat gambar diantara lembaran dokumen informasi. Sebuah gambar dengan motif mawar merah ditengah topeng hitam putih.

"Apa ini?" tanyaku heran.

"Itu contoh kartu undangan yang saya dapat. Untuk dapat akses ke pesta itu Anda harus mencari kartu undangan dengan motif gambar seperti itu. Informasi detailnya Anda bisa baca, semua tercantum di dalam dokumen." jelasnya.

"Baiklah, informasi yang tercantum cukup akurat. Mungkin kedepannya saya akan kembali meminta jasa Anda untuk perkembangan informasi selanjutnya."

Aku mengakhiri percakapan dengan sebuah transaksi sesuai kesepakatan. Harga yang cukup mahal sebenarnya, tapi cukup sebanding dengan informasi didapat. Wanita itu pamit dan berlalu dari hadapanku.

"Bagaimana tindakan selanjutnya, Nona?" Ronald yang sedari tadi hanya diam menyimak baru membuka mulutnya.

"Apalagi kalau bukan menyelidiki kediaman Count Lumird. Kita mulai menyelidiki dari salah satu bisnisnya yang mencurigakan. Bukankah dia memiliki bar?"

Ronald mengangguk.

"Benar, Nona."

"Malam ini kita bergerak, kita cari peluang semaksimal mungkin."

Aku membuka laci, mengambil benda lalu menyodorkannya pada Ronald. Dia tampak bingung dengan benda yang berada ditangannya.

"Ini apa, Nona?" tanyanya heran.

"Itu earpiece." jawabku singkat.

Kembali wajahnya menunjukan kebingungan.

"Er.. apa, Nona?"

"Itu alat komunikasi jarak jauh. Dengan alat itu meskipun jarak kita berjauhan kita bisa saling berkomunikasi untuk menginformasikan situasi."

Aku beranjak dari kursi, menghampiri Ronald dan memasangkan alatnya.

"Cara pasangnya seperti ini."

Ah, kulihat telinga Ronald sedikit memerah ketika tanganku menyentuh telinganya, bukan karena sakit terpasang earpiece. Wajahnya merona. Ekspresi yang lucu. Aku mengulum senyum, menahan tawa.

"Nah, ada sedikit bagian yang menonjol, coba tekan. Itu tombol untuk mengaktifkan alat ini dengan sihir. Lalu keluar dari ruangan ini dan coba dengarkan suaraku." Ronald mengikuti sesuai intruksiku kemudian melangkah keluar ruangan.

"Apa suaraku terdengar?" ucapku lirih

"Ah...i-iya, Nona. Bagaimana bisa alat sekecil ini mengeluarkan suara? Hebat sekali."

Aku menahan tawa mendengar reaksi Ronald yang tidak biasanya.

"Bersiaplah, nanti malam kita bergerak."

"Baik, Nona."

Penyelidikan kali ini aku melakukan penyamaran menjadi seorang pria, dengan rambut palsu dan sedikit kumis tipis. Tempat yang aku datangi merupakan sebuah bar yang banyak di datangi para pria, baik itu prajurit bayaran, para pekerja serabutan atau para pendatang yang singgah untuk sekedar cari hiburan dan minum alkohol. Sangat beresiko kalau seorang wanita datang ke tempat seperti itu, kecuali wanita panggilan.

Suasananya sama seperti yang aku bayangkan. Hanya saja tidak terpikir akan seramai ini orang-orang datang ke bar. Rupanya bar milik Count Lumird ini cukup banyak diminati orang-orang. Aku dan Ronald memilih tempat duduk yang langsung berhadapan dengan bartendernya.

"Kalian pasti pendatang, ya? Aku baru lihat wajah-wajah kalian." Ujar si bartender.

Ronald mengangguk. Sikapnya natural sekali seolah sering datang ke tempat seperti ini.

"Dari penampilan sepertinya kalian cukup banyak uang haha..." ujarnya lagi seraya tertawa.

Ya, penampilan kami memang sengaja tidak terlalu biasa. Biar ada kesan pendatang yang kaya.

"Minuman dua. Yang paling bagus." sahut Ronald. Tak lama minuman pun datang.

Pandanganku menjelajah melihat sekeliling bar, tampak disudut kanan terdapat tangga. Apakah disana ada ruangan lagi? Aku memberi isyarat pada Ronald keberadaan tangga itu. Ronald mengangguk pelan.

"Baru sekarang aku melihat bar seramai ini. Tapi tidak ada hiburannya." Ronald mencoba basa-basi memulai percakapan dengan si bartender.

"Wanita misalnya." bisik Ronald.

Si bartender tersenyum lebar.

"Tentu saja ada, para pendatang seperti kalian terkadang memang suka ada yang mencari hiburan selain minum-minum. Jangan khawatir, kami baru mendapatkan barang baru. Masih segar." jawabnya. Seraya tersenyum bartender itu berbisik.

"Para gadis baru saja datang. Kalau cepat, kalian akan dapat yang menarik tapi harga akan mahal. Sebelum dibawa pergi, kalian bisa mencicipi dulu hahaha..."

Tanganku bergeretak, menahan emosi.

"Memangnya 'barang baru'nya mau dibawa kemana?" tanya Ronald dengan berbisik.

"Itu rahasia. Kalian harus bertransaksi dulu dengan tuan kami, baru tuan kami akan berikan lokasinya."

"Bertransaksi disini tapi barangnya tidak ada? Kalian mau menipuku?"

"Hahaha... Tentu saja tidak. Ketika tuan kami datang, akan aku pertemukan dengan kalian."

Ronald menunjukan sebuah botol minuman yang terpajang paling pojok, seolah mengerti bartender itu pergi mengambil botol yang dimaksud. Aku segera beranjak pergi, dan mengendap menuju arah tangga. Melihat sekeliling orang-orang yang tidak memperhatikan, aku langsung menaiki tangga.

Dan benar saja, terlihat sebuah pintu tertutup rapat disini. Terkunci. Aku mengeluarkan sebuah kawat kecil, sedikit mengorek ke lubang kunci mencoba membuka pematik kunci. Ceklek. Pintu sedikit terbuka. Aku bergegas memasuki ruangan.

Ruangan yang cukup luas dengan meja kerja yang membelakangi jendela dan kursi tamu ditengah ruangan. Lemari dengan berbagai jenis buku tertata tak beraturan. Beberapa buku dan lembaran kertas berserakan di meja. Aku mencari barang yang sekiranya bisa dijadikan bukti atau petunjuk. Mataku seketika tertuju pada buku usang yang tertumpuk buku-buku. Aku meraihnya dan sekilas membaca isi buku. Ada deretan nama-nama orang, beberapa tertera nama bangsawan. Salah satunya Marquess Luke. Segera aku selipkan bukunya dibalik pakaian.

Tanganku dengan cepat kembali mencari-cari petunjuk lain, membuka satu persatu laci meja. Tidak ada apa-apa. Pandanganku beralih ke sebuah lemari dengan deretan buku yang tak teratur.

'Ssrrkkk... 'Suara earpiece bergemuruh.

"Nona, segera keluar! Beberapa orang menaiki tangga menuju kesana!!" suara Ronald terdengar sedikit panik.

"Gawat!"

1
Taris
Luar biasa
Ary Suwetty
Kecewa
Ary Suwetty
Thor??? gimana kisah lanjutnya sdh mau 6 bln g update....ditunggu thor
Dede Mila
adegan legen....😜😜😜
Mi Nu Chie
knp cerita ini ga d lanjutin Thor 😭
Mi Nu Chie
outhor nya kmna y iniii....Uda staun lebih ga upp😭😭
Mi Nu Chie
masih berharap novel ini ada lanjutan nya masih nunggu akuu,,,😭😭😭
kunel
kalau menurutku sih perasaan yang dimiliki sama putra mahkota itu lebih ke obsesi dari pada cinta, karna diakhir nya dijelaskan suka atau tidaknya clarisa dia akan tetap di sisi nya


(Ini pendapat pendapat aku pibadiya)
kunel
hmm....menarik awal yang bagus
Cty Badria
hiatus ya thor ...g up2 lg
Ary Suwetty
thoor ini sudah lama g update...di-update lagi yg thoor...
senja
wah hiatus
Ririn Santi
kapan up ceritanya lagi Thor? please....
Wiwuk Putri
tamat nya gantung
Wiwuk Putri
logan anggota array? jangan2 pemimpinnya lg
⍣⃝⃞🌈ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ★᭄᭄R⃟нǟᰔᩚянǟ☯︎⃟࿐❥
∧_∧  
( ・∀・)
⊂_へ つ
 (_)| 🙋‍♀️ 💕 янǟ࿔ янǟ࿔ ☘
◦•●◉✿ Terima kasih ✿◉●•◦
ʕっ•ᴥ•ʔっ 💜 ⭕ ( ͡°ᴥ ͡° ʋ) (๑•́ ₃ •̀๑)
💐🌻🌹🥀🌻⚘🦋🎀💎💘⚘🌻
✾༊᭄◉absent 🆁‏‏‏🄷🅰✿🆁‏‏‏🄷🅰 ∘̥⃟⸽⃟ ೄྀ
Wiwuk Putri
kok mirip2 komik yg tak baca udah tamat ya
mirip loh tp aq suka
Fatma Intan
lama gk up ya
Fatma Intan
woooowwww ungkapan cinta yg bgt dalam
sehingga meleleh kan hatiku😂😂😂🥰🥰🥰🥰
Fatma Intan
uhuhhu pantassss lah pertunangan d batalkan.
Pokoknya gk rela bngt clasisa sm si pengecut putra mahkota
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!