Squel dari "OM KITA BERBEDA"
Di sarankan untuk mampir kecerita sebelumnya agar tidak bingung bin pushyeng!
Follow IG cerita ini: Caiyo_03.horelalalay
🥀🥀🥀
Breyen Wijaya siapa yang tak kenal dengan sosok hot daddy satu ini. Kehilangan pemilik hatinya pasca melahirkan anak pertama mereka membuatnya menjadi sosok ayah sekaligus ibu.
"Ikhlas itu bohong, yang benar itu adalah terpaksa lalu terbiasa"-BREYEN
"Bagian diriku merasa sakit mengingat dirimu yang sangat dekat, tapi tidak tersentuh"-MEY
"cara kerja perasaan itu lebih rondom dari pada arah dan tujuan nyamuk terbang!"-ZAHRA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iza cans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
See you
JANGAN LUPA, LIKE, KOMEN, AND VOTE
FOLLOW JUGA IG AUTHOR
riyaferizap_
HAPPY READING ALL...
"Mami!" Teriak Mayra girang saat melihat Wulan tengah berbincang-bincang dengan Rani.
"Mayra kangen mami" ucapnya lalu ikut duduk di samping Wulan.
"Mami juga kangen sama Mayra. Benar Mayra mau ninggalin mami biar ketemu sama om William?" Tanya Wulan mengelus pipi gembul Mayra.
Gadis manis dengan lesung pipi itu diam tak tau harus menjawab dengan apa, haruskah ia berkata jujur tapi ia takut Rani tak jadi membawanya bertemu sang bunda.
"Mayra akan ikut mama ke Jerman, bukankah itu lebih baik. Dia tidak akan kesepian sedangkan di sini Breyen sibuk dengan pekerjaannya" sahut Rani menimpali pertanyaan yang seharusnya di jawab oleh Mayra.
"Ma, Mayra bisa tinggal sama Wulan"
"Kamu harus mengurus Ahmad, David belum lagi butik kamu. Biarkan Mayra ikut mama di sana juga ada William yang akan ikut menjaganya" ucap Rani yang mau tak di angguki Wulan.
"Mayra, tidur siang dulu ya di temani mbak Ina. Nenek mau bicara serius sama mami"
"Kapan David pulang?" Tanya Rani lagi setelah kepergian Mayra.
"Lusa mas David sudah pulang mah, kalau Wulan boleh tau ada apa ya mah? Tumben banget mama nanyain mas David?"
"Aku ingin membunuh suami tak bergunamu itu bodoh, gara-gara dia bibit pelakor unggul sudah mendekat ke lingkungan anakku. Bagaimana nasib menantu kesayanganku jika Breyen terhasut pesona pelakor sialan itu hiks" sayang beribu sayang kalimat itu hanya bisa Rani ucapkan pada dirinya sendiri.
"Tidak apa-apa mama hanya merindukan David Hahaha sudah lama dia tidak mengunjungi mama" jawab Rani dengan tawa yang terkesan di buat-buat.
"Apa mama berniat menjodohkan kak Breyen lagi?" Tanya Wulan
"Tentu saja. Jika ada wanita yang setara dengan menantu kesayanganku, baik dari segi fisik maupun harta dan kekuasaan" jawab Rani enteng
"Assalamualaikum" ucap Breyen yang tak pulang dari semalam.
"Masih ingat rumah?" Sindir Rani tanpa menjawab salam Breyen
"Waalaikumsalam warahmatullahhi wabarakatuh, kak Breyen dari mana aja?" Tanya Wulan memperhatikan penampilan Breyen.
Rambut acak-acakan, kemeja kusut dan mata panda yang begitu terlihat. oh tidak sejak kapan seorang Breyen Wijaya mabuh, bau alkohol begitu menusuk indra penciuman Rani dan Wulan.
PLAKKK
"Melihat kamu saat ini membuat mama yakin harus membawa Mayra pergi jauh dari seorang ayah tak bertanggung jawab. Sejak kapan keturunan Wijaya suka mabuk, kamu benar-benar membuat mama kecewa!" Marah Rani setelah menampar wajah kusut Breyen.
"Hahaha silakan mama bawah Mayra pergi bawah dia sejauh yang mama mau! Biarkan semua orang meninggalkan aku sendiri. Tidak cukupkah wanita penjaga hati ku pergi?" Jawab Breyen dengan suara berat.
PLAKKK
"Ayah!!!!" Pekik Mayra melihat wajah tampan ayahnya mendapat tamparan kedua kalinya dari Rani.
Dengan langkah kecilnya gadis lima tahun itu tergesa-gesa menuruni anak tangga menuju Breyen yang entah sejak kapan sudah terduduk di lantai dengan isakan yang terdengar begitu perih.
"Ayah" panggil Mayra mengusap pipi Breyen yang sudah memerah.
"Hiks ayah jangan diemin Mayra, nenek jahat sama Ayah Mayra"
"Mayra cepat masuk kamar! tadi nenek suruh Mayra tidur. ke mana mbak ina?" Ucap Rani yang tanpa sadar sudah membentak Mayra.
"Mami, nenek jahat sama Mayra dan Ayah" adu Mayra kepada Wulan.
"Mayra cepat masuk kamar! Atau kamu gak usah ikut nenek ketemu om William" serkas Rani dengan nada tak terbantahkan.
"Ayah, Mayra mau ke kamar. Ayah jangan nangis lagi" ucap Mayra lalu mengecup pipi Breyen secara bergantian.
"Iya, ayah gak nangis kok. Ya udah sana Mayra masuk kamar"
"Apa yang mama berikan sampai Mayra mau masuk kamar hanya karena mendengar ancaman tak boleh ikut?" Tanya Breyen dengan nada curiga
"Hal yang tak akan pernah kamu duga. Bersiaplah satu jam lagi kamu harus mengantar kami ke bandara!"
"Tidak mau!"
"Mau tidak mau kami tetap akan pergi. Seharusnya kami sudah pergi sejak tiga jam yang lalu, tapi dengan baik hatinya mama rela memundurkan jadwal penerbangan agar kamu bisa mengantar Mayra" sinis Rani lalu meninggalkan Breyen dan Wulan menuju kamarnya.
"Maafkan mama yang harus menjauhkan kamu dengan Mayra. Akan ada saatnya di mana kamu, Mey dan Mayra berkumpul seperti keluarga pada umumnya. Bersabarlah beberapa saat lagi setelah Mey benar-benar sembuh dan orang yang membuat istrimu seperti saat ini kami temukan maka saat itu juga kalian akan kembali di persatukan" batin Rani
BERSAMBUNG....
NEXT OR STOP?
at juga dong thor