Kisah ini sekuel dari ABANG TENTARA, TEMBAK AKU!!!
Andra tumbuh bersama keluarga angkatnya yang tidak lain adalah sahabat dari mendiang bundanya. Andra juga memiliki seorang adik perempuan yang sangat manja bernama Lala.
Walaupun sering ditinggal tugas oleh ayah kandungnya, Andra tidak pernah kehilangan kasih sayang keluarga lengkap. Bersama orang tua angkatnya Andra dididik dengan kedisiplinan dari Andi sang papa angkat serta dari mama Rani, Andra didik dengan kejujuran serta berpikiran terbuka.
Andra besar dengan impian tinggi menjadi pengusaha dan berhasil mewujudkan impiannya setelah mewujudkan kuliah S2 di Singapura.
Akan tetapi huubungannya dengan sang adik tiba-tiba harus renggang karena status mereka tidak sedarah.
Bagaimana kisah Andra selanjutnya???
Happy Reading...🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zur Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bimbang...
Pagi-pagi sekali Andra sudah bangun, dia ikut bersama papanya ke mesjid. "Eh, nak Andra sudah lama tidak nampak, kemana aja?" Tanya seorang tentangga yang juga ikut shalat subuh di mesjid.
"Di Singapura Pak, inj baru dapat cuti." Jawab Andra.
Sementara di rumah, Lala sudah terbangun dari tadi azan subuh. Lala melihat mamanya sedang shalat. Selama Lala sakit, Rani memutuskan tidur di kamar anaknya, Andi juga sesekali ikut tidur di sofa didalam kamar tersebut.
"Nak, cepat sembuh ya! Apa kamu gak mau shalat dan berdoa untuk Roni? Doa setelah shalat akan lebih cepat dijabah, berusahalah untuk bangkit, karena Roni juga tidak suka melihat kamu seperti ini, kamu murung sebentar aja dia udah kalang kabut, apalagi kamu begini, kakak kamu gak akan lama disini, jadi berusahalah selagi kakak kamu mau mendampingimu, jangan sampai dia juga kecewa karen kamu yang putus asa." Rani memberi petuah dipagi hari sambil melipat kembali mukena dan sajadahnya.
"Lala udah bangun Ma?" Tanya Andi yang melihat istrinya menyiapkan sarapan pagi.
"Sudah Pa, nih lagi mama buatkan sarapan, minum dulu kopinya Pa, Ndra!" Rani meletakkan dua cangkir kopi lengkap dengan beberapa kue.
"Makasih ya kamu mau bantu Lala." Ucap Andi sepeninggalan istrinya.
"Papa aneh, Lala itukan adek Andra Pa, sudah pasti Andra akan ada buat dia, cuma dia adek Andra, Pa." Andi hanya menarik nafasnya dalam tampa mengucap satu katapun.
Setelah mengganti baju, dengan sedikit polesan bedak hasil kerjaan mamanya, Lala kembali di gendong ke mobil, kursi rodanya juga sudah tersedia di dalam mobil. Hanya lambaian tangan serta senyum penuh harap yang terpancar dari wajah sepasang suami istri yang sudah tidak muda lagi.
Sementara di mobil, Andra kembali memancing adiknya. "Dek, kakak cuma seminggu disini, kira-kira kaku bisa jalan gak dalam waktu seminggu?" Andra melirik pergerakan adiknya yang sedang meremas pelan baju yang digunakan.
Andra tersenyum kecil, "Kakak juga sepertinya bakal pindah lagi, salah satu investor di perusahaan ingin kami membuka cabang di Korea, dan kemungkinan kakak juga harus pindah ke Korea dalam waktu dekat, kamu bisa kan kalo gak ada kakak?" Lagi-lagi Andra memancing reaksi adiknya.
Tampa terasa mobil sudah berhenti di depan pemakaman umum, dan saat berada di makam Roni, lagi-lagi Lala mengeluarkan air mata dengan suara tertahan, "Mas." Lirih Lala masih dengan deraian air mata.
Andra mengusap bahu adiknya sebagai bentuk memberikan kekuatan untuk bertahan. Hanya 10 menit waktu mereka disana, karena selanjutnya merek akan melakukan terapi, dan itu mesti pagi.
Setelah melakukan pemeriksaan kembali, terlihat bahwa retakannya sudah sangat mengecil. Dokter kemudian meminta Andra berbicara di tempat lain sebentar.
"Fisiknya sudah hampir normal, tidak ada yang perlu di khawatirkan, tapi psikisnya yang berbahaya, terapi ini sebenarnya tidak perlu dilakukan disini, asal pasien mau, di rumah juga bisa. Saya sarankan, sebaiknya pasien dibawa menjauh dari berbagai ingatan yang akan membuatnya kembali mengingat masa-masa sebelum kecelekaan, hal tersebut tentu menambah tekanan pada jiwany."
Andra mengangguk paham, Andra juga sudah mendapatkan beberapa strategi dalam membangkitkan respon serta keinginan Lala untuk mengeluarkan suaranya lagi."
Hari yang lelah untuk Lala, begitu sampai ke rumah, Rani segera mengganti baju putrinya, tidak lama Lalapun terlelap.
"Bagaimana kata Dokter?" Tanya Andi saat mereka di meja makan.
Andra menatap Andi dan Rani bergantian, "Kita harus sedikit tegas Ma, Pa. Dia sudah sembuh, dia juga bisa berjalan, secara fisik dia sehat, tapi psikisnya yang bermasalah, ada dorongan dalam dirinya yang membuat dia diam juga tidak mau berjalan, semacam ingin menyalahkan diri sendiri, dokter juga minta, jika bisa Adek harus dipindahkan dari semua ingatannya selama ini, ganti tempat dan suasana, karena jika disini terus dia akan selalu mengingat semua yang sudah terjadi."
Rani menatap suaminya, raut wajah kesedihan jelas terpancar disana. "Jadi sekarang kita harus gimana Nak? Apa kita pindah ke kampung Mama aja Pa?" Tanya Rani pada suaminya.
Andi menghela nafasnya sesaat, pikirannya kembali buntu memikirkan tentang kepindahan itu bukan hal yang mudah.
"Kalo mama dan papa izinkan, Andra mau bawa Adek ke Singapura." Rani dan Andi terkejut mendengar perkataan anaknya.
"Andra gak bisa lama disini, kalo disana Andra bisa bawa dia sekalian ke kantor, karena masih satu tower, gimana Ma, Pa?" Andi dan Rani bukannya tidak mau memberikan ijin, tapi status mereka yang bukan mahram tentu sangat tidak baik untuk keduanya.
"Nak, kami tidak masalah kamu membawanya, tapi status kalian akan menjadi dosa buat kami jika membiarkan Lala tinggal dengan kamu." Ucap Andi.
Andra cukup paham dengan maksud orang tuanya, "Nikahkan kami, supaya Papa dan Mama tenang saat Andra bersama adek."
Ucapan Andra sontak membuat kedua orang tua angkatnya terkejut. "Tidak semudah itu Nak, kita lihat aja terapinya dalam seminggu kedepan, jika ada perubahan lebih baik Lala disini saja, nanti Papa pikirin mengenai saran dokter untuk pindah." Jawab Andi.
Bukannya Andi menolak untuk menikahkan anaknya dengan Andra, mengingat keadaan Lala yang belum pulih secara mental, Andi tidak mau memaksa kehendaknya saat ini. Andi juga tidak mau kejadian dulu terulang kembali, kata-kata Yogi setahun lalu masih membekas dihatinya.
"Apa yang dipikirkan bang?" Rani mendudukkan dirinya disamping sang suami.
Andi menatap lekat istrinya, "Lebih baik tidak terlalu jauh melibatkan Andra dalam masalah anak kita, Abang tidak mau mendengar kata-kata setahun lalu terucap lagi." Rani tersenyum mendengar curahan hati suaminya, mengelus pelan dada suami yang begitu setia mendampingi serta menyayanginya.
Tampa mereka sadari, Andra mencuri dengar apa yang dibicarakan oleh orang tuanya di kamar. Seumur hidup baru baru kali ini Andra berani menguping pembicaraan orang tuanya di kamar. Jika tidak terpaksa, Andra tidak akan melakukannya.
Andra bertekad untuk bertemu dengan ayahnya terlebih dahulu, dia tidak mau hubungan ayahnya dengan orang tua angkatnya akan kembali memburuk akibat keinginan dadakannya.
Disaat bersamaan, Andra juga bingung dengan keinginan dadakan yang meluncur dikepalanya. Andra hanya berpikir untuk membawa adiknya keluar dari lingkungan yang akan membuat pikirannya tidak mennentu, Andra hanya ingin memberikan suasana baru agar adiknya kembali ceria seperti dulu.
Menikah adalah satu-satunya cara supaya bisa membawa Lala ke lingkungan baru. Ada sedikit keraguan di hatinya, bagaimana reaksi Lala jika tau mereka menikah, apakah keputusannya sudah benar atau justru dengan menikahinya, dia akan tambah terpuruk. Keadaan yang ini saja belum sembuh bagaiman Andra sudah menambah lagi dengan pernikahan dadakan.
***
Like...
Komen...
Vote...