Jangan lewatkan juga "DITAKDIRKAN MENCINTAIMU" dan "NGUMBARA CINTA"
Mengandung adegan dewasa 21+ jadi bijaklah dalam membaca.
Seorang dokter cantik bernama Ziya Almahiyra yang harus membayar hutang ayahnya dengan menjadi pembantu dirumah Aditya Dewa Bagaskoro tanpa gaji sedikitpun selama satu tahun.
Lalu bagaimana dengan cita citanya yang ingin mendirikan klinik sendiri,untuk menolong sesama, meringankan rasa sakit yang diderita pasien?
Ayahnya yang bangkrut karna hutang menggunung.Membuat sang ayah mengidap sakit jantung.Sang kakak bernama Nabila Sahara yang selalu pergi ke klub bersama teman temannya seperti tidak mau tau akan keadaan yang menimpa keluarga, adalah persoalan rumit bagaikan benang kusut yang tak mampu Ziya uraikan.
Aditya Dewa Bagaskoro menikahi Ziya. Kebahagiaan pun menghampiri keduanya. Namun apa jadinya jika ternyata ibunya tidak menyetujui pernikahan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafi', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayah
Nabila berlari menyusuri koridor rumah sakit dengan terburu-buru. Karna sudah hapal letak rumah sakit, dia langsung menuju ruang ICU, sudah pasti ayahnya disana mengingat sakit yang diderita ayahnya.
"Halo pak Agus ada apa?"
"Non, ini darurat tuan non!"
"Darurat apa pak?" dengan jantung berdetak kencang.
"Tuan tadi jatuh dikamar mandi non!"
"Cepat bawa kerumah sakit pak Agus, aku akan segera kesana"
Andai aku tahu akan kejadian seperti ini aku tidak akan pergi ayah. batin Nabila
Perjalanan dari hotel ke rumah sakit ayahnya dirawat cukup jauh, hampir memakan waktu 3 jam. Sebenarnya ada juga jalan pintas, tapi jalannya rawan dan banyak lubang sana sini selain itu juga gelap karna melewati kebun karet.
Ya Allah, aku mohon selamatkan ayahku, hamba bukanlah orang baik, tapi ayah adalah hamba yang taat padaMU berilah kesembuhan padanya. Ayah apa yang akan aku katakan pada Ziya nanti? aku sudah berjanji untuk menjaga ayah. Haruskah aku mengabari Ziya?
Dalam kebingungan nya datanglah Steven Gerrard menepuk bahu Nabila dengan lembut.
"Nana!"
Merengkuh Nabila dalam pelukannya. Setelah itu mereka masuk untuk melihat kondisi sang ayah setelah memakai baju steril.
Nabila hanya terdiam dan memandang wajah pucat ayahnya. Alat alat medis banyak menempel di dada, selang selang yang banyak di sana sini layar monitor yang berjalan lambat. Nabila semakin tak karuan menahan tangisnya yang hampir meledak.
Terbayang semua kenangan bersama sang ayah, ayah yang selalu sabar dan telaten mengajarinya belajar, juga saat membujuknya ketika ngambek dengan ibu. Yang masih menyempatkan waktu untuk bermain bersamanya walau ayah terlihat capek.
"Ayah cepatlah bangun ayah, apa yang akan aku katakan pada Ziya? Ayah ingin aku dimarahi Ziya ya, karna teledor menjaga ayah" mengusap ingusnya pelan. Steven masih dengan sabar menemani dan memegang bahu Nabila untuk memberi kekuatan.
"Ayah bilang, ayah ingin melihat cucu dariku, tapi sepertinya ayah bohong ya, ayah aku tidak akan ke klub lagi, aku janji" Mengelap wajahnya kasar dengan tangan.
"Ayah, ayolah ayah" Menggenggam tangan ayahnya. "Bangun yah, aku akan bekerja lagi agar ayah bangga memiliki anak yang sukses, tapi aku tidak bisa lakukan itu tanpa ayah!"
"Bu, permisi ya, pasien kami periksa sebentar"
Nampak seorang perawat datang memeriksa alat alat medis apakah semua normal atau tidak, lalu mengganti infus. Steven menggandeng Nabila dan menuntun nya keluar agar perawat leluasa memeriksa pasien.
Nabila sudah berdiri dan keluar dari ruang ayahnya.
Nabila ingat saat hari pernikahan nya, ayahnya sempat bertanya kenapa Ziya tidak hadir di pernikahan Nabila.
"Adikmu kenapa tidak datang nak?"
"Ziya mungkin sibuk ayah, aku tidak bisa menghubunginya" bohong Nabila.
"Nabila, jika ayah tiada, jangan sekali kali kamu mengabaikan adikmu, jaga dia ya nak." Deg, saat itu Nabila pun tercekat karna ayahnya seperti tahu kalau Nabila sedang bohong.
"Kenapa ayah bicara seperti itu, ayah pasti sembuh, kita akan berusaha untuk kesembuhan ayah, tapi kalau ayah pesimis gini usaha kita sia sia ayah."
"Ayah tidak yakin nak, maafkan ayah, ayah rasa sudah waktunya ayah meninggalkan nikmatnya dunia, tapi ayah merasa gagal nak, karna sudah membuat susah hidup kalian. Maafkan ayah yang hanya merepotkan saja." Ardi tak kuasa menahan air matanya pun menetes.
"Satu pesan ayah, jaga adikmu baik baik, kamu yang lebih dewasa harus bisa lebih bertanggung jawab. Saudara seperti anggota tubuh kita nak, yang saling menguatkan dan merasakan sakit satu dan lainnya.
Begitu pula ketika hati sakit, pikiran kita pun tak tenang mata kita juga tak bisa terpejam. Jika kaki kita merasakan sakit, tangan kita tanpa disuruh akan langsung memberi pertolongan, mata kita pun menangis, dan hati kita sedih."
"Iya, Nabila janji, tapi ayah harus sembuh. Kalau ayah tiada siapa yang akan membimbing kami? bukankah ayah ingin melihat kami berkeluarga dan bahagia?"
Ardi pun tersenyum lalu memeluk putrinya.
"Ada atau tidaknya ayah didunia nanti, akan tetap bisa melihat kalian nak, ketika yang didunia sengsara, mereka yang di alam kubur juga bisa melihat kehidupan didunia. Ahli kubur juga menginginkan kiriman doa dari anak turunnya"
Membelai lembut rambut Nabila.
"Jangan lagi ke klub nak, walau ada manfaat yang kau ambil disana, tapi lebih banyak mudhorot nya bagimu nak. Satu lagi, kau juga harus patuh pada suami mu nantinya, selama itu dalam kebaikan." keduanya saling tersenyum dan pelukan kembali.
"Semoga aku bisa selalu menjaga amanah ayah, doakan ya ayah. Dan doakan aku agar aku bisa segera menyelesaikan semua masalah ini." Ayahnya mengangguk pelan.
Nabila mendongak mendapati suaminya yang menghapus air mata di pipinya.
"Kamu harus kuat sayang I will always be with you, menghadapi semua cobaan ini, be patient and strong." Menangkup kedua pipi Nabila dan menyatukan hidung mereka lalu Steven mencium bibir istrinya lebih lama.
"Kakak!, apa yang kakak lakukan?"
Ziya kaget saat melihat adegan kakaknya berciuman.
Setelah dari acara reuni dia pulang dan berganti pakaian, masih memikirkan perubahan sikap kakaknya. Ziya sangat merindukan sang kakak yang lemah lembut dan perhatian terhadapnya.
Karna kelelahan diapun menghempaskan tubuhnya ke kasur. Rasa kantuk dan letih pun menyergapnya, baru saja hendak memejamkan mata sebuah getaran membangunkan nya lagi. Ternyata bik Narsih menelpon.
Kenapa bi Narsih malam malam seperti ini menelpon ku?
"Halo bik!"
"Halo non, tuan masuk rumah sakit non",
"Aku akan segera pulang bi, terima kasih sudah memberi tahu."
Dilihatnya jam menunjukkan pukul 01:00 malam. Tapi tak menyurutkan niatnya untuk pulang dan melihat sang ayah. Ziya bergegas kekamar Cak Ali untuk meminta izin.
"Cak, izinkan saya pulang ya cak"
"Tapi ini sudah malam, bagaimana nanti kalau dijalan ada apa apa?"
Cak Ali yang khawatir dan takut nantinya akan mendapat amukan dari tuan muda. Karna tadi dia juga melihat tuan muda pergi ditemani oleh Ziya.
"Aku akan baik baik saja kok Cak, doakan saja aku selamat sampai tujuan"
"Saya akan minta izin dulu sama tuan muda ya neng?"
"Jangan Cak, pasti tuan muda tidur, nanti malah mengganggu, aku tinggalkan surat aja ya Cak, aku janji besok aku juga akan menelpon untuk minta izin ulang"
"Tapi perginya neng sama siapa? terus naik apa?"
"Aku nggak apa sendiri Cak, aku pinjam motor Cak Ali aja ya, kumohon" Dengan wajah memelas. Cak Ali sepertinya mulai iba.
"Tapi neng!"
"Aku mohon Cak" menangkupkan kedua tangannya memohon. Orang paruh baya itupun mulai menimbang nimbang keputusan nya.
"Tunggu disini sebentar saja neng" Cak Ali tanpa menunggu langsung melangkah cepat menuju kamar Aditya.
Sepertinya tuan Aditya sudah istirahat. Cak Ali beberapa mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban.
"Bagaimana Cak"
"Neng rumahnya dekat apa jauh"
"Nggak dekat juga nggak terlalu jauh" mencoba tidak bohong.
Ziya mulai jengah karna sepertinya sulit sekali untuk minta izin keluar. Sedangkan Cak Ali juga khawatir melepas kepergian Ziya disaat tengah malam seperti ini.
"Baiklah Cak aku pesen ojol aja" percuma berdebat pikir Ziya.
Akhirnya Cak Ali menyerahkan kunci motornya. Tapi dengan syarat Lisa menemani, Cak Ali takut ada apa apa dijalan, melihat wajah Ziya yang nampak cemas.
ending yang membanggongkan