Shafira Nareswari sangat bahagia ketika sang kekasih, Marshal telah selesai studynya di New York. Dia berharap ada kelanjutan atas hubungannya setelah kepulangan sang kekasih. Berhubungan selama 5 tahun membuat Shafira meyakini bahwa Marsal cocok untuk menjadi pendamping hidupnya.
Akan tetapi keluarga Marshal sangat tidak setuju dengan hubungan mereka. Marshal merupakan anak dari seorang pengusaha kaya Tuan Rusdi Hartono pemilik perusahaan Hartono Group. Setelah mengetahui bahwa Shafira hanya wanita biasa dan hanya hidup sebatang kara Papa Marshal tidak menyetujui hubungan mereka atas dasar menyangkut nama baik keluarga Hartono
Disisi lain Leo Hariwijaya, seorang CEO muda menerima sepenuhnya Shafira untuk menjadi pendamping hidup begitupun keluarganya.
Siapakah yang akan menjadi pendamping hidup Shafira yang sesungguhnya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Opick Juga Sofia Fuadah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Marshal
" Nggaaakk…nggak mungkin, Shafira cuma milik aku, nggak nggak, ini hanya permainan Shafira saja agar aku menjauhinya, hhaaaaaaaahhhhhhh !!!!!" Marshal membuang semua barang barang didepannya membuat suara gaduh dalam kamarnya.
Marshal masih tidak percaya dengan perkataan lelaki yang bersama Shafira waktu itu. Sampai detik ini Marshal masih sangat menginginkan Shafira. Walaupun kedua orang tuanya sangatlah membenci Shafira.
Bi Inah, asissisten rumah tangga Marshal yang sedang membersihkan ruangan disebelah kamar Marshal sangatlah terkejut dan langsung memastikan apa yang terjadi dengan Marshal. Kebetulan kamar Marshal tidak terkunci meskipun tertutup.
" Astaga Aden, apa yang terjadi Den...? " tanya bi Inah dan melihat seluruh ruangan kamar Marshal seperti kapal pecah kemudian menghampiri Marshal yang sudah terduduk disebelah ranjang.
Dipeluknya tubuh Marshal oleh bi Inah, dan mengelus elus rambutnya. Bagi Marshal bi Inah adalah orang tua kedua bahkan lebih dari itu, dari kecil bi Inah yang merawatnya sehingga bi Inah lebih tau apa yang sedang terjadi dengan Marshal. Begitu juga Marshal, selalu menceritakan sekecil apapun masalah hidupnya pada bi Inah.
" Kalau ada masalah ceritakan pada bibi Den..., sekarang tenangkan fikiran Aden, kemudian baru cerita ke bibi ya " mengadahkan wajah Marshal dengan kedua tangannya seraya meyakinkannya.
Sungguh ini lebih dari kata orang tua bagi Marshal.
" Bi Inah..." Marshal mulai berkata.
" Iya Den..." jawab bi Inah.
" Sekarang aku tak tahu harus bagaimana bi, orang yang sangat aku cintai bahkan melebihi diriku sendiri kini benar benar meninggalkan aku, aku harus bagaimana bi sekarang....hiks....hiks...hiks..." Marshal bercerita dengan sesenggukan, hatinya kini sangat merasakan sakit.
" Apa yang dimaksut Den Marshal itu nak Shafira ?" bi Inah memperjelas maksut pembicaraan Marshal.
Marshal menjawab dengan anggukan.
" Loh setahu bibi bukannya kalian masih berhubungan meskipun orangtua Aden tidak menyukai non Shafira ? Memangnya apa yang terjadi sehingga Aden bilang kalau non Shafira meninggalkan Aden ?" bi Inah masih belum mengerti.
" Bi, kemaren saya ketemu dengan Shafira disebuah tempat, kita memang sudah putus hubungan semenjak kejadian itu, bermaksut ingin memperbaiki lagi hubungan kita bi, tapi apa yang aku dapat, Shafira dengan mudah menggandeng laki laki lain dan apa yang dikatakan laki laki itu bi, di…di…dia mengaku sebagai calon suami Shafira bik...hiks hiks hiks..." kini Marshal memeluk bi Inah.
Bi Inah juga tidak percaya jika Shafira akan menikah tapi bukan dengan anak majikannya yang memang hubungannya sudah lama sejak masih dibangku sekolah. Bi Inah memang sangat tau seluk beluk hubungan antara Marshal dan Shafira. Kedua orang tua Marshal memang sangat keterlaluan.
Bi Inah akhirnya membaringkan Marshal ke ranjang kemudian mebersihakan kamar Marshal yang sudah tak berbentuk.
Beberapa hari setelah kejadian itu, Marshal terus mengurung diri di kamar. Tidak mau melakukan aktifitas apapun sampai tidak mau makan. Bi Inah yang melihat kondisi Marshal sangatlah sedih, orangtua Marshal sejak beberapa hari ini berada diluar kota.
Bi Inah masuk ke kamar Marshal membawa nampan berisi menu sarapan untuk Marshal.
" Den ini makan dulu, sudah beberapa hari ini Aden tidak makan apapun, saya khawatir kalo Aden kenapa napa, oh iya tadi ada pihak kantor datang kesini meminta tanda tangan aden untuk beberapa berkas, itu saya taruh di atas nakas " bi Inah mulai menyuapi Marshal.
" Ahhhh bi aku tidak nafsu makan, makan bibi aja, soal kantor nanti biar Papa yang mengurus setelah pulang dari luar kota sekarang bibi keluar aku sedang ingin sendiri, cepat bi keluar " jawab Marshal lemas.
" Tapi Den, Aden sekarang mulai pucat dan…"
"BIBI KELUAR SEKARANG!!!" Marshal kali ini membentak bi Inah. Bi Inah akhirnya keluar dari kamar Marshal.
Bi Inah berfikir untuk menemui Shafira agar Marshal bisa kembali seperti semula.
………………………………………………
Leo membukakan pintu untuk Shafira setelah mobilnya sampai didepan rumah Shafira. Leo sangat senang karena setelah kejadian di toilet waktu itu Shafira tidak merasa canggung bertemu dengannya.
" Terimakasih Leo, jadi ngerepotin kamu terus nih," Ujar Shafira setelah keluar dari mobil.
" Jadi sopir dadakan buat kamu sih sangat menyenangkan, emmhh sudah sana masuk entar digondol mak lampir bau tau rasa kamu" Leo mulai bergurau.
" Emhh iya kamu hati hati dijalan ya, aku masuk " jawab Shafira mengakhiri.
" Iya, bye..." Leo masuk mobil tanpa melihat pandangannya masih tertuju kepada Shafira dan akhirnya....
Duukkkk
" Awww..." pelipis Leo menabrak bagian atas mobil.
" Uppssss..." Shafira yang mulai berjalan akhirnya berhenti dan berbalik badan melihat Leo kesakitan tapi tak digubrisnya, Shafira hanya tersenyum dan geleng geleng kepala.
Leo akhirnya melajukan mobilnya meninggalkan area rumah Shafira.
Setelah membersihkan diri, Shafira duduk didepan meja rias. Dilihat wajahnya dan tiba tiba teringat akan kata kata Leo.
" Dia Calon istriku "
Shafira senyum senyum sendiri dan tiba tiba berhenti.
" Ihh apaan sih, ada apa dengan aku Tuhan ?" Shafira bergumam sendiri.
Setelah itu Shafira merebahkan tubuhnya di ranjang. Matanya jauh menerawang menatap langit langit dinding.
Tuhan, jika memang dengan Leo aku bisa melupakan Marshal, apa aku.... Ahhhh
Apa yang sedang dalam fikiran Shafira kali ini. Shafira membolak balikkan badannya.
Ting Tong…Ting Tong
Shafira terduduk kemudian bergegas untuk membuka pintu.
" Loh Bi Inah ?" Shafira tidak percaya akan kedatangan Bi Inah.
Shafira mempersilahkan bi Inah masuk dan langsung membuatkan secangkir teh hangat.
" Aduhh jadi ngrepotin nak Shafira ini " ujar bi Inah melihat Shafira datang membawa nampan berisi secangkir teh.
" Ahh cuma sekedar teh bi, ini silakan diminum bi. Ngomong ngomong apa kabar bi Inah, sudah lama tidak bertemu ?" Shafira tersenyum dengan bi Inah.
Bi Inah masih memperhatikan seluruh ruangan, terakhir kali Bi Inah berkunjung ke rumah Shafira saat ibunya meninggal. Memang sudah cukup lama. Waktu itu Bi Inah mengantar sekaligus mendampingi Marshal yang memang saat itu masih butuh pendamping untuk kemana mana. Ruangan ini sudah banyak berubah fikirnya.
" Bi Inah ?" Shafira membuyarkan lamunan Bi Inah.
" Ehhh iya nak Shafira maaf, kabar bibi baik, tapi..."
" Tapi apa bi, apa bibi kesini atas perintah dari Marshal ?" Shafira mulai curiga.
Bi Inah kali ini benar benar menjadi gugup. Tangannya tak bisa berhenti memainkan jari jemarinya. Dengan perasaan yang tak pasti Bi Inah memberanikan diri.
" Nak Shafira, sebelumnya bibi minta maaf maksud kedatangan bibi kemari inisiatif saya sendiri. Den Marshal sedang sakit, semenjak bertemu dengan nak Shafira bersama seorang laki laki yang mengaku sebagai calon suami nak Shafira Den Marshal menjadi tidak karuan kelakuannya. Dan hingga sampai detik ini dia tidak mau keluar kamar bahkan tidak mau makan, bibi mohon nak Shafira untuk menjenguknya barangkali dengan nak Shafira kesana Den Marshal bisa seperti semula " Bi Inah tertunduk.
Shafira mengerti akan perasaan Marshal saat itu. Bahkan Shafira pun tak menyangka jika Leo akan berkata secepat itu. Tapi apa yang akan terjadi jika nanti orangtua Marshal mengetahui jika dirinya menginjakkan kaki kerumahnya lagi.
Demi kesehatan Marshal hanya sebatas itu saja Fir tidak lebih
" Kedua orang tuanya sedang diluar kota nak Shafira,..." Bi Inah seperti mengerti apa yang difikirkan Shafira.
" Tapi bi, apakah nantinya Marshal berfikir jika saya membuka hati lagi untuknya, aku tidak..."
" Untuk kali ini nak, bibi mohon....bibi mohon.." memegang tangan Shafira.
Shafirapun luluh akan permintaan bi Inah. Jika memang tidak darurat mana mungkin Bi Inah jauh jauh datang kemari. Shafirapun akhirnya mengiyakan.
Dalam Perjalanan Shafira berfikir apa yang akan dilakukan nanti. Terakhir bertemu saja sudah sangat kaku, bahkan Shafira seperti agak trauma.
Setelah memakan beberapa waktu perjalanan, akhirnya mereka sampai dirumah Marshal. Seakan akan seperti menginjakkan kaki di neraka saja, kaki Shafira seperti tidak mau menginjakkannya lagi. Andai saja dulu tidak pernah mengenal Marshal mungkin tak akan terjadi seperti ini.
Bi Inah berjalan lebih dulu diikuti Shafira menuju kamar Marshal. Dibukanya pintu kamar itu. Terlihat Marshal yang terbujur di ranjang, mukanya sangat pucat pasi.
" Rupanya kau bisa sakit juga anak mami " gumamnya dalam hati.
Shafira melangkahkan kaki ke arah ranjang. Marsal yang tertidur pulas sedikit sadar akan bau parfum yang tidak asing baginya. Tapi Marshal berfikir mana mungkin dia kesini.
" Den bangun ayo makan dulu" bi Inah mencoba membangunkan Marshal.
Marshal tak bergeming. Berulang kali Bi Inah membangunkannya tapi tetap saja nihil. Shafira yang mulai terpancing emosi akan kelakuan Marshal akhirnya memberi isyarat ke bi Inah untuk keluar. Shafira mendekati Marshal dan kini dia berdiri tepat disebelah ranjang.
" Hay anak mami !!!" dengan agak malas Shafira akhirnya buka suara dengan nada tinggi.
Marshal yang sangat kenal akan sebutan " Anak Mami" langsung membuka matanya. Alangkah bahagianya Marshal ketika melihat sosok Shafira berdiri didekatnya.
" Sha…Shafira ?"
Bersambung......
Jangan Lupa Vote nya ya dear...🤩