Arya Sena adalah seorang anak yang tidak diketahui publik dari pasangan Tunggul ametung dan seorang wanita yang merawatnya ketika dia mengalami luka parah akibat perintah penguasa Kediri yang memerintahkannya untuk menumpas pemberontakan disuatu daerah, setelah terluka Tunggul Ametung dirawat oleh seorang perempuan didesa bersama beberapa orang setianya, dan disaat itu mereka tidak sengaja jatuh cinta, ketika sudah benar-benar pulih, Tunggul Ametung menyuruh gadis itu untuk melupakannya, ditambah dihatinya hanya ada istrinya Dedes, lalu tanpa diketahui perempuan itu mengandung, setelah kurang lebih sembilan bulan lahirnya anak di kandungnya seorang laki-laki, tapi tak lama bayi itu kemudian meninggal tak kuasa menahan kesedihan tanpa suami sekarang ditinggal anak yang baru dilahirkan, perempuan itu kemudian juga meninggal, lalu jiwa dari timeline modern merasuki tubuh bayi itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon subspace_illusion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENCULIKAN
Sena yang menyadari tatapan penuh puja dari Dewi Rimbu hanya bisa tersenyum simpul di dalam hati. "Yah, nggak masalah juga sih" batin Sena santai. "Toh secara teknis dan garis keturunan yang rumit ini, kita nggak punya ikatan darah langsung yang bikin pamali. Kalau dia naksir, malah bisa jadi pion yang menguntungkan."
Tepat saat memikirkan kata "pion", sebuah ide gila dan brilian melintas di kepala modern Sena. Otaknya langsung merangkai skenario operasi bendera palsu yang sangat klasik tapi mematikan.
Setelah Dewi Rimbu dan pengawalnya kembali duluan, sementara Sena menahan Anusapati dan Mpu Parwa untuk rapat darurat.
"Kita tidak perlu repot-repot memancing Ken Arok dengan isu sepele," ucap Sena, matanya berkilat licik. "Kita pakai putri kesayangannya."
Mpu Parwa mengerutkan kening, namun dendam lamanya kepada Ken Arok yang dulu menculik putrinya, Ken Dedes membuatnya bersedia mendengarkan. Sena lalu memaparkan rencananya untuk membocorkan rute kepulangan Dewi Rimbu ketika dia akan ke Tumapel pada kali lainnya kepada sisa-sisa loyalis pemberontak Kediri yang masih bersembunyi di hutan-hutan pinggiran.
"Pemberontak Kediri sangat membenci Ken Arok. Kalau mereka tahu putri Tumapel lewat tanpa pengawalan ketat, mereka pasti akan menyergapnya" "Ini akan memicu kemarahan besar Ken Arok dan memaksanya keluar dari kediamannya untuk mencari dan membasmi sisa pemberontak. Saat fokusnya terpecah, di situlah kita masuk."
Mpu Parwa yang cerdik langsung menyetujui siasat itu. Dengan jaringan telik sandi rahasia milik padepokan, informasi soal waktu dan rute Dewi Rimbu selanjutnya pun sengaja dibocorkan ke telinga para pemberontak.
Beberapa Minggu kemudian ketika pulang dari kunjungan rutinnya kerumah mpu Parwa, di jalur hutan menuju Tumapel.
Rencana Sena berjalan mulus, bahkan terlalu mulus. Belasan sisa prajurit Kediri yang menaruh dendam kesumat berhasil menyergap iring-iringan Dewi Rimbu. Para pengawal Tumapel yang kalah jumlah dengan cepat dilumpuhkan.
Dewi Rimbu ditarik paksa dari tandunya lalu dibawa menjauh dari para prajurit pengawalnya, melihat paras sang putri yang luar biasa cantik jelita, niat awal para pemberontak yang hanya ingin menculiknya sebagai sandera politik mendadak berubah kotor.
"Sayang sekali kalau tawanan secantik ini hanya diserahkan pada pimpinan," kekeh salah satu pemberontak berwajah kasar, tangannya terulur hendak menyentuh wajah Dewi Rimbu yang pucat ketakutan. "Kita nikmati dulu sedikit, baru kita serahkan kepada pemimpin"
Dewi Rimbu menjerit, memejamkan matanya pasrah ketika tangan kotor itu mendekat.
Namun, dari atas dahan pohon beringin raksasa, Sena sudah mengawasi semuanya sejak awal. Ia sengaja membiarkan penyergapan itu terjadi dan menunggu mereka menjauh sampai para pengawal yang tersisa melihat dengan mata kepala mereka sendiri bahwa pelaku penculikan itu benar-benar memakai atribut pasukan Kediri. Saksi mata sudah valid. Skenario sudah terbentuk sempurna.
"Saatnya masuk ke tahap berikutnya." batin Sena.
Sena melesat ke bawah menggunakan Ajian Saipi Angin. Gerakannya begitu cepat hingga hanya terlihat seperti kilatan bayangan hitam yang membelah udara.
Tanpa perlu mencabut pedang Bharadasura, Sena menggunakan tangan kosong yang dialiri tenaga Brajamusti. Satu tebasan tangannya yang sekeras baja langsung mematahkan leher pemberontak yang hendak menyentuh Dewi Rimbu. Pria kasar itu tumbang sebelum sempat berteriak.
"S-Siapa kau?!" teriak para pemberontak Kediri, mundur beberapa langkah melihat rekan mereka tewas dalam satu kedipan mata.
Sena berdiri tegap di depan Dewi Rimbu, Ia sengaja tidak menutupi wajahnya, membiarkan aura ksatria nya terpancar penuh.
Dalam waktu kurang dari satu menit, pembantaian sepihak terjadi. Sena bergerak seperti hantu, memadukan silat bayang Bhairawa dan pukulan mematikan. Tulang remuk, darah muncrat, dan jeritan tertahan memecah keheningan hutan. setelah selesai pembunuhan itu saatnya tugas Rabu tilawang untuk bersih-bersih mayat mereka.
Sena menoleh perlahan ke belakang, mengulurkan tangannya kepada Dewi Rimbu yang masih terduduk gemetar di tanah.
"Kau tidak apa-apa, Tuan Putri?" tanya Sena dengan suara rendah yang menenangkan.
Dewi Rimbu mendongak. Menatap wajah tegas Sena yang diterangi cahaya matahari dari sela-sela daun, dengan latar belakang tubuh para pemberontak yang tumbang.
Jantung sang putri seolah berhenti berdetak sesaat, lalu bergemuruh hebat. Rasa takutnya menguap, berganti dengan kekaguman yang luar biasa dalam.
Sambil menerima uluran tangan Sena, pipi Dewi Rimbu merona merah padam. "Dia... menyelamatkanku lagi," batinnya terbuai.
Sena tersenyum tipis, persis seperti aktor utama dalam film laga. namun di dalam kepalanya, otak liciknya sedang bersorak kegirangan. "Bagus. Prajurit selamat jadi saksi pemberontakan Kediri, Ken Arok bakal ngamuk dan keluar istana."
Alih-alih langsung memulangkan Dewi Rimbu ke istana, Sena memutuskan untuk membawanya sementara ke padepokan Mpu Parwa di Panawijen demi alasan "keamanan". Namun, apa yang terjadi setibanya mereka di sana benar-benar di luar prediksi otak Sena.
Begitu masuk ke ruang utama dan bertemu Mpu Parwa, Dewi Rimbu tiba-tiba menjatuhkan dirinya ke lantai. Air matanya tumpah menderas, isak tangisnya pecah memenuhi ruangan dengan penderitaan yang terlihat begitu tragis.
"Kakek Parwa.." ratap Dewi Rimbu dengan suara bergetar. "Aku... aku sudah tidak suci lagi Tangan-tangan kotor pemberontak itu telah menyentuh dan mengotori kehormatanku Hiks... aku tidak pantas lagi kembali ke keraton dengan kondisi hina seperti ini."
Sena yang berdiri di dekat pintu langsung melongo. Matanya membelalak tak percaya.
"Buset... ini dia kenapa." batin Sena menjerit. "Tadi itu preman Kediri cuma nyentuh ujung bahu sama pergelangan tangannya doang sebelum kepalanya gue patahin Kok reaksinya jadi kayak sinetron begini"
Sebelum Sena sempat meluruskan fakta, Dewi Rimbu tiba-tiba menoleh kepadanya dengan tatapan sayu yang dibuat sedemikian rupa, lalu kembali memohon pada Mpu Parwa.
"Kakek... Ksatria ini telah menyelamatkanku, melihatku dalam kondisi terburuk ku, dan menyentuhku saat membawaku kemari," isak Rimbu sambil menyeka air mata buayanya.
"Tolong... nikahkan aku dengannya. Hanya dia yang bisa membersihkan aib ini dan melindungi ku..."
Sena nyaris tersedak ludahnya sendiri. "Gila. Ini cewek bucin nya udah ngga ketolong agresif banget, playing victim, demi minta dinikahin. fix, dna manipulatif bapaknya nurun ke dia."
Mpu Parwa yang sudah sepuh dan banyak makan asam garam kehidupan sebenarnya tahu betul ada yang tidak beres dengan cerita itu. Namun, sang Resi hanya mengelus jenggotnya, menahan senyum geli melihat wajah Sena yang pucat karena dijebak oleh gadis keraton.
---
Di waktu yang sama dipusat kerajaan Singhasari Para pengawal yang selamat dari penyergapan akhirnya tiba di keraton dengan napas terengah-engah dan luka-luka. Mereka segera melapor ke hadapan Ken Arok. Mereka bersujud gemetar, melaporkan bahwa sisa-sisa pemberontak Kediri telah menculik Dewi Rimbu.