NovelToon NovelToon
Noda Pernikahan Di Balik Cadar

Noda Pernikahan Di Balik Cadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

"Tolong hentikan, tolong!" teriak Zena.

Saat ini gadis dalam ketakutan itu hanya pasrah, tidak bisa berbuat apa-apa, pria yang sudah pasti dipengaruhi alkohol itu melecehkannya dengan menyobek pakaian Zena.

Tidak ada satupun yang menolong gadis malang itu.

"Tolong jangan lakukan itu!"

"Tolong..."

"Tolong...."

Zena menghindar dengan memukul-mukul dada pria tersebut.

"Aaaaaaaaaa!" Zena seketika berteriak menahan rasa sakit disaat tubuhnya digagahi tanpa ampunan.

Zena pada akhirnya pasrah dengan air matanya menetes, dengan penuh hawa nafsu pria di atas tubuhnya terus mencari kenikmatan.

Zena tampak setengah sadar dengan mata yang terbuka, namun pasrah, sosok pria di atas tubuhnya benar-benar tidak terlihat dan hanya kalung yang tampak bergoyang dan perlahan mata Zena tertutup.

Siapakah sosok pria misterius tersebut dan apakah Zena mampu menjalani kehidupannya setelah kejadian kelam?
Jangan lupa untuk membaca dari bab 1 sampai akhir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4 Pernikahan

"Zena, katakan kepada saya? Apa yang ingin kamu sampaikan?" tanya Samudra cukup lama menunggu Zena yang sampai saat ini masih gugup dan belum mengeluarkan sesuatu hal yang penting ia harus sampaikan.

"Kak Zena....."

Mata Samudra menoleh ke arah sebelah kirinya ketika asisten rumah tangga menghampirinya.

"Maaf, den. Bapak menunggu di dalam mobil," asisten rumah tangga paruh baya itu menyampaikan keinginannya.

"Baiklah kalau begitu, saya akan segera menemui Papa," sahut Samudra.

Wanita itu kemudian langsung berlalu dari hadapan Zena dan Samudra.

"Zena, saya ada janji dengan Papa, nanti kita bicara lagi ya," ucap Samudra tersenyum dan kemudian langsung berlalu dari hadapan Zena.

"Kak....." Zena bahkan tidak memiliki kesempatan untuk memanggil Samudra.

Zena menghela nafas, sepertinya ada kepuasan dalam dirinya jika tidak menyampaikan apa yang ingin disampaikan, Zena melihat kepergian Samudra yang perlahan punggung itu sudah tidak terlihat lagi.

"Ya Allah, saya akan menikah dengan Kakak angkat saya sendiri. Saya tidak bisa menolak pernikahan ini, bagaimanapun Bunda dan Ayah sudah menjaga saya dengan baik, mereka selalu memperlakukan saya seperti anak sendiri, mencintai saya dan tidak pernah tidak peduli kepada saya, apakah saya pantas menolak permintaan mereka dan apalagi mereka melakukan semuanya demi kebaikan saya," batin Zena di saat yang tersulit dalam dirinya ketika dia tidak bisa menolak permintaan orang yang menjadi keluarganya selama ini.

******

Mentari pagi memancarkan cahaya keemasan yang menembus jendela masjid, menyelimuti setiap sudut ruangan dengan kehangatan yang menenangkan.

Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an menggema lembut, membuat hati setiap tamu yang hadir dipenuhi rasa syukur.

Tidak ada gemerlap yang berlebihan, hanya rangkaian bunga-bunga putih, aroma kayu gaharu yang samar, serta senyum bahagia dari keluarga kedua mempelai.

Di saf paling depan, Samudra duduk dengan pakaian Melayu, tampak sopan dan begitu tampan. Bahunya tegap, wajahnya tenang, namun jemari yang saling menggenggam sesekali memperlihatkan kegugupan yang berusaha ia sembunyikan.

Hari itu bukan medan tugas yang akan ia hadapi, melainkan sebuah amanah terbesar dalam hidupnya, menjadi seorang suami.

Di hadapannya, wali nikah telah bersiap. Seorang tokoh agama yang dituakan memimpin jalannya akad dengan suara lembut dan penuh wibawa.

Nasihat tentang rumah tangga disampaikan terlebih dahulu bahwa pernikahan bukan sekadar menyatukan dua insan, melainkan ibadah yang dibangun di atas ketakwaan, kasih sayang, kesabaran, dan saling menjaga hingga akhir hayat.

Suasana menjadi semakin hening ketika ijab mulai diucapkan.

"Saya terima nikahnya Zayna Putri Kharisma bint Hartono dengan mas kawin tersebut dibayar tunai,"

"Sah"

"Sah,"

"Sah,"

Dengan suara lantang Samudra berhasil mengucapkan ijab kabul dengan satu tarikan nafas, ijab kabul ditutup dengan doa yang khusuk, beberapa kali Samudera mengatur nafasnya tidak percaya ijab kabul itu benar-benar lancar dia ucapkan.

Pintu di sisi ruangan perlahan terbuka.

Zena melangkah masuk dengan anggun, didampingi oleh dua wanita yang juga memakai hijab mendampingi Zena melangkah masuk menghampiri pria yang sudah menjadi suaminya itu.

Zena mengenakan gaun pengantin berwarna putih gading yang longgar dan menjuntai indah hingga menyentuh lantai. Hijabnya tersusun rapi, sementara cadar putih lembut menutupi wajahnya, menyisakan sorot mata yang teduh dan berkaca-kaca karena haru.

Setiap langkahnya begitu tenang, penuh rasa malu yang terjaga. Ruangan seakan terdiam.

Bukan karena kemewahan busana yang dikenakannya, melainkan karena kesederhanaan yang memancarkan keindahan.

Zena datang dengan menjaga kehormatan dirinya, sementara setiap orang yang hadir mendoakan keberkahan bagi kedua mempelai.

Samudra menghela nafas dan kemudian berdiri ketika Zena mendekat. Tatapan matanya dipenuhi rasa syukur. Samudra tidak pernah menyangka jika wanita yang menjadi bagian keluarga mereka saat ini adalah adik angkatnya.

Samudra mungkin dipaksa menikah dengan adik angkatnya, tetapi sebagai laki-laki, Samudra menyadari tidak punya alasan untuk menolak perjodohan itu karena wanita di hadapannya, wanita sempurna yang taat pada agamanya, pendidikannya yang baik, sopan santun dan tutur katanya yang lembut.

Samudra justru merasa bahwa dia adalah laki-laki yang paling beruntung mendapat kesempatan itu dan mungkinkah karena Zena juga sudah bagian dari hidup keluarganya.

Ketika pasangan pengantin baru itu saling berhadapan, Zena tampak gugup dan tertunduk malu, tangan Samudra bergetar memegang kepala Zena dan bibirnya tampak bergerak membaca beberapa ayat.

Zena kemudian perlahan mencium punggung tangan suaminya. Untuk pertama kali Samudera juga mencium lembut kening Zena, benar-benar baru bersentuhan secara intens dengan adik angkatnya itu saat ini ketika mereka sudah sah menjadi pasangan suami istri.

Suasa pernikahan benar-benar haru, Amelia dan Faisal saling melihat, tampak senyum lebar di wajah mereka akhirnya bisa menyatukan orang-orang yang mereka sayangi dan lagi-lagi mereka tidak menginginkan Zena pergi dari hidup mereka

Setelah acara ijab kabul yang dilakukan dengan hikmat dan dilanjutkan dengan proses resepsi.

Sore itu, halaman gedung resepsi telah dipenuhi para tamu undangan. Lampu-lampu kristal berkilauan, rangkaian bunga putih menghiasi setiap sudut ruangan, sementara alunan selawat berpadu dengan musik orkestra yang lembut, menciptakan suasana mewah namun tetap teduh.

Di depan pintu utama, dua baris prajurit Angkatan Laut berdiri tegap mengenakan seragam putih lengkap dengan pedang terhunus. Begitu komandan memberi aba-aba, pedang-pedang itu terangkat serempak, membentuk sebuah lorong kehormatan yang megah.

"Pedang... pora!"

Suara komandan menggema tegas.

Samudra melangkah memasuki lorong pedang dengan langkah mantap. Seragam putih kebesarannya membuat sosoknya tampak semakin gagah dan berwibawa.

Di sampingnya berjalan Zena, anggun dalam gaun pengantin putih yang menjuntai indah. Hijab dan cadar putih yang dikenakannya membuat penampilannya terlihat sederhana, namun memancarkan kehormatan dan kelembutan yang memikat.

Di sepanjang lorong, para prajurit memberi penghormatan kepada kedua mempelai. Kilauan pedang di atas kepala mereka seakan menjadi saksi perjalanan baru yang akan mereka tempuh bersama.

Tepuk tangan para tamu bergemuruh ketika keduanya tiba di ujung lorong. Samudra sesekali menoleh kepada Zena, memastikan langkah istrinya tetap nyaman.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, perhatian kecil itu membuat Zena tersenyum di balik cadarnya.

Memasuki ballroom, keduanya disambut keluarga besar yang berdiri penuh haru. Doa dan ucapan selamat mengalir silih berganti. Setelah itu, Samudra dan Zena naik ke atas pelaminan yang dihiasi bunga-bunga putih dan emas, lalu berdiri berdampingan menyambut setiap tamu yang datang.

Satu per satu keluarga, sahabat, dan rekan dinas Angkatan Laut memberikan ucapan selamat. Suasana dipenuhi senyum, doa, dan rasa syukur.

Di tengah kemegahan itu kembali Samudra menoleh kearah Zena.

"Kamu capek?" tanya Samudra.

"Lumayan, kak," jawabnya tidak bisa bohong.

Betisnya terasa begitu sakit karena sejak tadi berdiri bersalaman dengan tamu undangan yang begitu banyak.

Maklum saja keluarga Samudra adalah keluarga terpandang, Faisal memiliki pergaulan yang sangat banyak dari tokoh agama politik sampai pengusaha-pengusaha dan begitu juga dengan ibunya.

"Sebentar lagi acaranya akan selesai, kamu yang sabar ya," ucap Samudra memberi semangat membuat Zena menganggukkan kepala.

Tiba-tiba saja perhatian Zena fokus pada seseorang yang membuat Samudra menyadari perhatian istrinya dan menoleh ke sebelahnya.

"Samudra!" sapa seorang wanita cantik menggunakan dress berwarna merah, terlihat sopan dan elegan tersenyum lebar pada Samudera.

"Ariana," sahut Samudra.

"Maaf, aku datang terlambat, aku baru saja dari luar kota, selamat untuk pernikahan kamu," ucapnya dengan mengeluarkan tangan dan matanya berkaca-kaca.

Bersambung....

1
Ariany Sudjana
samudra sudah ada rasa sama Zena, tapi egoisnya tinggi. Zena juga ga mau jujur ....
Marini Suhendar
nah kan ..samudra pelakunya
cepet terungkaplah kasusnya..
Marini Suhendar
wasalam ariana
Marini Suhendar
ayo zena semangat..biarkan suamimu yg bodoh itu
Gian Hazza
lanjut Thor....kapan terungkap pelaku nya nih ....
Marini Suhendar
kamu anggap zena wanita murahan..apa kamu yakin pacar kmu itu masih mahal(segel)
Ariany Sudjana
bodoh kamu samudra, jangan-jangan kamu yang sudah memperkosa Zena, tapi kamu sibuk menghakimi Zena dan malah percaya dengan omongan si pelacur murahan kesayangan kamu itu
Gian Hazza
aq suka alurnya Thor,,,AQ tunggu lanjutannya Thor,,,,semangat sehat selalu...
Gian Hazza
bagus Thor critanya,,,,👍
Marini Suhendar
Zena..memiliki anak
klo bener samudra ayahnya..jangan biarkan dia mengetahuinya..biar menyesal seumur hidupnya..
Oma Gavin
segeralah bercerai Zena dan samudera ngga usah pake lama dan bila nantinya terbongkar samudera yg sudah memperkosa zena hingga punya anak jgn pernah mereka rujuk cukup zena hidup bahagia dgn anaknya saja dan biarkan samudera menikahi ariana
Ariany Sudjana
samudra bodohnya kebangetan, sudah memperkosa Zena, masih juga menjalin hubungan dengan si pelacur murahan itu, dan bodohnya kamu percaya dengan omongan si pelacur murahan itu
Marini Suhendar
kayanyq samudra dulu bisa berbuat begitu k zena..ulah c ulat bulu cuma salah sasaran c samudra
Ariany Sudjana
bodohnya samudra, sudah memperkosa Zena, tapi masih memilih si pelacur murahan itu... kamu akan menyesal
Ariany Sudjana
samudra bodoh, kamu sudah memperkosa Zena, tapi masih memilih si pelacur murahan untuk jadi calon istrinya... katanya CEO tapi bodohnya kebangetan 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
berarti samudra yang memperkosa Zena dulu yah?
Marini Suhendar
samudra kah yg memper...zena waktu itu
Marini Suhendar
mudah"an zena bisa mengungkapkan cerita masa lalunya
Oma Gavin
jgn sampai orang yg melecehkan zena adalah samudera sendiri, tetap semangat dan sabar zena percayalah kebenaran akan terungkap dgn sendirinya cuekin saja samudera mau jungkir balik nikah sama ariana pun biarkan saja tetap focus sama kariermu
Nonecis
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!