NovelToon NovelToon
Setelah Malam Pertama

Setelah Malam Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Julia And'Marian

Pernikahan adalah impian semua orang, termasuk Calista, ia terpaksa harus menikah dengan sosok pria yang seharusnya ia benci, karena sudah membunuh ayahnya. Namun, ayah Danis justru menukar semuanya dengan sebuah pernikahan dengan sang putra. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan, Calista justru tersiksa. Ia di benci ibu dan kakak Danis, bahkan tak di anggap oleh Danis. Pria itu bersikap dingin padanya. Beberapa bulan kemudian, Calista sudah muak, apalagi saat Danis meminta akan menikah dengan kekasihnya, ia yang tak siap di madu, akhirnya memilih meminta cerai. Namun sebelum itu, Calista memberikan hak Danis, ia dan Danis malam itu melakukan hubungan suami istri untuk yang pertama kali, sebelum paginya Danis menceraikan Calista.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 14

Di dalam lift... Suasananya begitu sunyi. Hanya terdengar dengungan pelan mesin pendingin yang masih menyala, berpadu dengan napas dua orang yang sama-sama berusaha tetap tenang.

Lampu darurat berwarna kekuningan membuat ruangan itu terasa lebih sempit daripada biasanya.

Calista berdiri memeluk map biru di dadanya. Jemarinya masih menggenggam kuat sisi map itu, seolah benda tersebut bisa mengurangi rasa gugup yang perlahan memenuhi dadanya.

Di hadapannya...

Arga berdiri tegak dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Tatapannya sempat mengarah ke pintu lift. Kemudian... Pelan-pelan berpindah kepada Calista. Ia melihat perempuan itu menundukkan kepala. Bibirnya bergerak sangat pelan.

"...Hasbunallah wa ni'mal wakil..."

Arga mendengarkan tanpa sengaja. Perempuan itu ternyata sedang berzikir lirih. Bukan mengeluh. Bukan panik. Melainkan menenangkan dirinya sendiri dengan mengingat Allah.

Entah mengapa... Pemandangan sederhana itu membuat hati Arga terasa hangat.

"Masih takut?" Suara Arga akhirnya memecah keheningan.

Calista sedikit mengangkat wajah. Tatapan mereka bertemu sesaat.

Lalu Calista buru-buru kembali menunduk. "Sedikit, Pak."

Arga mengangguk pelan. "Itu wajar."

Beberapa detik kembali berlalu. Tak ada percakapan.

Calista mencoba mengatur napasnya.

Sementara Arga... Justru sedang berusaha mengatur detak jantungnya sendiri. "Kenapa aku jadi seperti ini..." batinnya.

Padahal mereka hanya berdiri beberapa meter. Tidak ada hal istimewa yang terjadi. Namun keberadaan Calista di dekatnya membuat pikirannya sulit tenang.

Matanya kembali memperhatikan perempuan itu. Hijab krem yang dikenakan Calista tampak sederhana. Tidak ada perhiasan mencolok. Tidak ada riasan berlebihan. Hanya wajah yang teduh... dan sikap yang selalu menjaga sopan santun.

Arga tanpa sadar tersenyum kecil.

Calista yang kebetulan mengangkat kepala kembali memergoki senyum tipis itu. Ia langsung salah tingkah. "A... ada apa ya, Pak?"

Pertanyaan itu membuat Arga tersadar. "Hm?"

"Tadi... Bapak tersenyum."

Arga berdehem pelan. "Oh..."

Ia memalingkan wajah beberapa saat. "Tidak ada." Jawaban singkat itu justru membuat Calista semakin bingung.

Ia pun memilih diam lagi. Keheningan kembali memenuhi lift.

Beberapa saat kemudian... Lampu lift kembali berkedip sekali.

Refleks... Calista sedikit tersentak. Map di tangannya hampir kembali terlepas.

Arga yang berdiri tidak jauh darinya spontan melangkah setengah langkah. "Tenang." Suara laki-laki itu rendah.

Namun cukup membuat Calista kembali mengatur napas. "Maaf, Pak..."

"Kamu tidak perlu minta maaf."

Calista mengangguk kecil. "Lift memang membuat saya agak takut."

Arga menatap pintu lift sebentar. "Lalu kenapa tetap naik lift?"

Calista tersenyum tipis. "Karena kantor kita ada dua puluh lantai, Pak." Jawaban polos itu membuat Arga terkekeh pelan. Tawa yang sangat pelan... Namun benar-benar tulus.

Calista sedikit terkejut. Baru kali ini ia melihat CEO yang terkenal dingin itu tertawa. "Ternyata Bapak juga bisa tertawa..." Kalimat itu keluar begitu saja dari bibirnya.

Begitu mengucapkannya... Calista langsung membulatkan mata. "Astaghfirullah..." Ia buru-buru menutup mulutnya sendiri. "Maaf, Pak. Saya sudah lancang."

Arga justru menggeleng. "Tidak apa-apa. Selama ini memang banyak yang bilang wajah saya terlalu serius."

Calista tersenyum malu. "Sedikit..."

"Sedikit?"

"Iya, Pak. Kelihatannya... Bapak seperti orang yang susah diajak bercanda."

Arga mengangkat sebelah alis. "Begitu?"

Calista langsung panik. "Maaf, Pak... saya tidak bermaksud menilai."

Arga menggeleng lagi. "Tidak apa-apa."

Entah mengapa... Ia justru menikmati percakapan sederhana itu. Sudah lama sekali... Tidak ada orang yang berbicara kepadanya dengan begitu jujur tanpa dibuat-buat.

Di luar lift... Dimas berdiri sambil melirik jam tangannya.

Salah satu teknisi masih membongkar panel.

"Masih berapa lama?"

"Lima sampai sepuluh menit lagi, Pak Dimas."

Dimas mengangguk. Dalam hati ia malah bergumam, "Semoga jangan terlalu cepat selesai..."

*

Di dalam lift...

Keheningan kembali turun perlahan. Tidak ada suara selain dengungan mesin darurat dan sesekali bunyi logam samar dari luar lift, pertanda para teknisi masih berusaha memperbaiki gangguan.

Calista masih berdiri dengan map biru di pelukannya.

Sedangkan Arga... Untuk beberapa detik, ia hanya menatap angka digital yang mati di atas pintu lift. Namun pikirannya tidak berada di sana. Pikirannya justru kembali pada percakapan sederhana beberapa saat lalu.

"Sepertinya... tidak segalak yang saya bayangkan."

Kalimat itu terus terulang. Tetapi entah mengapa... Hati Arga terasa ringan mendengarnya.

Sudut bibirnya perlahan terangkat. Seolah ia sendiri tidak menyadari bahwa ia sedang tersenyum.

Calista yang berdiri di samping, tanpa sengaja melihatnya dari ekor mata. Ia sempat terdiam. Karena ini berbeda. Selama beberapa minggu bekerja di perusahaan itu, ia hanya mengenal Pak Arga sebagai sosok yang tenang, berwibawa, dan jarang menunjukkan ekspresi.

Namun sekarang... Ada senyum kecil di wajah laki-laki itu. Senyum yang tampak... canggung.

Calista segera menundukkan pandangan lagi. Entah kenapa, ia sendiri ikut merasa sedikit salah tingkah.

Beberapa detik berlalu. Arga berdeham pelan. Seolah baru sadar kalau dirinya sedang tersenyum sendiri. Ia memalingkan wajah sedikit ke samping.

Lalu... Tanpa sadar, tangannya menyentuh ujung hidungnya sendiri. Kebiasaan kecil yang jarang terlihat orang lain ketika ia merasa tidak terlalu tenang.

Calista melihat gerakan itu sekilas. Kemudian kembali menatap lantai lift.

Hening.

Namun anehnya... Keheningan itu tidak terasa sesulit tadi. Beberapa saat kemudian...

Arga membuka suara. "Calista."

"Iya, Pak?"

"Kamu..." Arga berhenti sebentar. Seolah sedang memilih kata-kata. "Kamu selalu seperti ini?"

Calista tampak bingung. "Seperti apa, Pak?"

Arga menatapnya beberapa detik. "Tetap tenang. Tetap sopan. Dan..." Ia berhenti lagi. "...tetap tersenyum."

Calista sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia tidak langsung menjawab. Pandangannya turun sesaat. Lalu tersenyum kecil. "Ayah saya dulu sering bilang..."

Arga mendengarkan.

"Kalau hidup terasa berat... Jangan menambah berat dengan marah-marah. Senyum memang tidak menyelesaikan masalah. Tapi setidaknya membuat hati lebih tenang."

Arga terdiam. Tatapannya perlahan melembut.

Untuk beberapa saat... Ia hanya memandang perempuan di hadapannya. Perempuan yang berbicara dengan sangat sederhana. Tanpa kata-kata indah. Tanpa berusaha mengesankan siapa pun. Tetapi setiap ucapannya selalu terasa hangat.

Dan tanpa sadar... Senyum itu kembali muncul di wajah Arga. Kali ini lebih jelas. Senyum kecil yang tertahan. Senyum malu-malu yang bahkan membuat sorot matanya berubah lebih lembut.

Calista yang kebetulan mengangkat kepala kembali melihatnya.

Dan lagi-lagi... Arga segera memalingkan wajahnya. Seolah tidak ingin ketahuan.

Hal itu justru membuat Calista sedikit bingung. "Kenapa Pak Arga tersenyum begitu?" batinnya.

Di luar lift... Dimas sedang berdiri sambil melipat tangan di dada.

Seorang teknisi berkata, "Pak, tinggal beberapa menit lagi."

Dimas mengangguk. Namun matanya justru menatap pintu lift. Lalu ia tersenyum sendiri.

Karena setelah lama, dan bertahun-tahun... Seorang CEO bernama Arga Pratama sedang merasakan sesuatu yang belum pernah di rasakan pria itu sebelumnya.

1
mama
ku pikir udh gk dilanjut ini cerita kak.. kan syg
Julia and'Marian: lanjut kak... kemarin tunggu kontrak nya dulu. lama bingit..
total 1 replies
Lia se
kalau gue jadi faas, udah gue tonjok Lo nis
Lia se
kapok, udah terasa kayaknya dia
Lia se
kau yang nggak tahu diri taiiu
Lia se
Ya ampun cal, kalau aku udah aku Jambak tuh orang
Lia se
benci banget sama keluarga kayak begitu
Lia se
😲
Lia se
Danis...🤭
partini
kena tipu ini mah
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
semoga saja ada maaf untuk mu Danis...,, dan semoga secepatnya bertemu Calista
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Herman Lim
jgn hamil aja nanti Calista
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
rupanya semesta alam belum merestui Danis bertemu Calista 🥺... tetap semangat ya Danis temukan Calista dan minta maaf,
partini
sedikit lagi bertemu tapi ga jadi macam sinet indo gumussss
Eva Karmita
ayo terus cari Calista Denis semangat 🔥💪🥰
partini
Danis tuh cari Calista mau minta rujuk
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
partini
udah di buang sekarang di cari mejilat ludah sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!