NovelToon NovelToon
Dia Tak Lagi Membujuknya

Dia Tak Lagi Membujuknya

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Tamat
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Keiko Hartono punya rahasia.

Di balik senyum lembutnya, di balik nilai sempurnanya, di balik kebaikannya yang tak pernah meminta balasan — ada hitungan mundur yang tak bisa dihentikan siapapun.

Kanker lambung. Stadium akhir. Paling lama tiga tahun.

Lalu dia pindah ke SMA Bina Bangsa, Bandung. Dan duduk di sebelah Kelvin Susanto — cowok paling ditakuti seantero sekolah. Pembuat onar. Tukang berantem. Nilai paling bawah.

Tapi Keiko melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.

Dan perlahan — lewat soal latihan yang ditandai satu per satu, lewat susu hangat yang diselipkan di saku jaket, lewat video call tengah malam yang harusnya cuma untuk belajar — mereka jatuh cinta.

Masalahnya: Keiko tahu dia akan mati.
Kelvin tidak.

"Kalau kamu bisa mengejar langkahku... aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."

Dia memberi syarat yang mustahil. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tahu — dia tidak akan ada di sana saat dia berhasil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14 - Yuan Yuan

Kelvin tidak langsung pulang setelah mengantar Keiko.

Dia menunggu sampai Keiko masuk ke pagar rumah, sampai Bu Tuti keluar dengan wajah panik yang bercampur lega, sampai helm pink itu dibawa masuk seperti barang rapuh yang harus dijaga. Dari seberang jalan, Kelvin melihat Bu Tuti memeriksa Keiko dari kepala sampai kaki.

Keiko menunjuk ke arahnya.

Bu Tuti ikut menoleh.

Kelvin mengangkat tangan sedikit, lalu segera menyalakan motor sebelum perempuan itu sempat menghampiri dan menginterogasinya.

Jalan pulang menuju kontrakan kecilnya melewati deretan warung dan toko yang mulai menutup. Langit sudah gelap. Angin yang tadi membuat Keiko tertawa sekarang hanya menyapu wajah Kelvin dengan dingin.

Kontrakan itu berada di gang kecil dekat Dago. Tempatnya bersih, dibayar tepat waktu oleh Pak Hendra atas nama William Susanto, tetapi tidak pernah terasa seperti rumah. Ada kasur, meja belajar, lemari, dapur kecil, dan terlalu banyak sunyi.

Kelvin terbiasa dengan sunyi.

Atau dia mengira begitu.

Saat melewati Warung Mang Ujang yang belum buka penuh untuk malam, Kelvin mendengar suara kecil dari bawah gerobak gorengan.

Miu.

Dia menurunkan kecepatan.

Suara itu muncul lagi, lebih lemah.

Kelvin berhenti di pinggir jalan, menurunkan standar motor, lalu berjongkok di dekat gerobak. Di bawah sana, di antara kardus basah dan plastik bekas, seekor anak kucing hitam meringkuk. Tubuhnya kecil sekali, bulunya kotor, matanya setengah terbuka. Ketika Kelvin mengulurkan tangan, kucing itu mundur sedikit, tetapi tidak punya tenaga untuk kabur.

"Kamu juga dibuang?" gumam Kelvin.

Kucing itu mengeong lagi.

Mang Ujang yang sedang membereskan kursi menoleh. "Dari siang ada di situ, Dek. Induknya nggak kelihatan."

Kelvin menatap anak kucing itu.

Dia tahu seharusnya dia pergi. Hidupnya sendiri saja berantakan. Dia tidak pernah memelihara apa pun. Bahkan tanaman di meja belajar pun mungkin akan mati dalam seminggu jika dititipkan padanya.

Namun kucing hitam itu menatapnya dengan mata berair.

Terlalu kecil.

Terlalu diam.

Terlalu mirip sesuatu yang pernah menunggu di rak sereal supermarket.

Kelvin melepas jaketnya, membungkus anak kucing itu hati-hati, lalu berdiri.

Mang Ujang mengangkat alis. "Dibawa?"

"Iya."

"Kasih makan yang lembut. Jangan langsung susu banyak-banyak. Perutnya bisa nggak kuat."

Kelvin berhenti. "Makanan kucing ada di mana?"

Mang Ujang menunjuk minimarket kecil di seberang. "Sana. Kalau bingung, tanya kasir."

Malam itu, Kelvin pulang dengan jaket basah, satu plastik berisi makanan kucing basah, wadah kecil, pasir kucing yang direkomendasikan kasir, dan seekor anak kucing hitam yang terus bersembunyi di lipatan jaketnya.

Kontrakannya mendadak tidak sesunyi biasanya.

Justru terlalu ribut.

Kucing itu mengeong ketika diletakkan di atas handuk. Mengeong lagi ketika Kelvin membuka kaleng makanan. Mengeong lebih keras saat Kelvin terlalu lama mencari wadah.

"Sabar," kata Kelvin.

Kucing itu menatapnya.

"Aku juga baru belajar."

Dia menuangkan sedikit makanan, menaruhnya di depan kucing. Anak kucing itu mencium, menjilat ragu-ragu, lalu mulai makan dengan rakus. Kelvin duduk bersila di lantai, menatap makhluk kecil itu seperti sedang mengerjakan soal paling sulit yang pernah diberikan Keiko.

Setelah kucing itu makan, masalah baru muncul.

Nama.

Kelvin menatap kucing hitam yang sekarang mencoba memanjat kaki celananya.

"Hitam?"

Kucing itu mengeong.

"Nggak cocok."

"Kecil?"

Kucing itu menggigit ujung celananya.

"Galak?"

Kucing itu bersin.

Kelvin mengambil ponsel.

Dia membuka WhatsApp. Kontak Keiko belum lama tersimpan. Nama kontaknya masih `Keiko Hartono`, karena Kelvin belum sempat memikirkan nama lain. Jarinya berhenti di atas tombol video call.

Ini aneh.

Menelepon orang hanya untuk menamai kucing jelas aneh.

Namun kucing itu kembali mengeong, seolah mendesak.

Kelvin menekan tombol.

Panggilan tersambung setelah beberapa detik. Wajah Keiko muncul di layar, rambutnya sudah dilepas dari ikatan sekolah, piyama ungu muda terlihat di bahunya. Di belakangnya, lampu kamar menyala lembut.

"Kelvin?"

"Nona Guru."

"Ada apa? Kamu sudah sampai rumah?"

"Sudah." Kelvin mengarahkan kamera ke lantai. "Aku menemukan ini."

Layar di sisi Keiko berguncang sedikit. "Kucing?"

"Menurutku begitu."

"Kelvin, jangan bercanda. Dia kecil sekali."

"Aku nggak bercanda. Dia berisik."

Keiko mendekat ke layar, wajahnya langsung berubah lembut. "Dia kedinginan?"

"Sudah aku lap. Sudah makan."

"Kamu kasih apa?"

"Makanan kucing basah. Kata Mang Ujang jangan susu banyak-banyak."

Keiko terlihat lega. "Bagus. Kasih tempat hangat. Kalau bisa besok bawa ke dokter hewan."

"Dokter hewan?"

"Iya. Dia harus dicek. Matanya agak berair."

Kelvin menatap kucing di lantai, lalu Keiko di layar. "Kamu tahu banyak."

"Aku pernah membaca."

"Tentu."

Keiko tersenyum kecil. "Dia belum punya nama?"

"Makanya telepon."

Keiko terdiam sebentar.

Lalu pipinya tampak sedikit memerah. "Kamu meneleponku untuk memberi nama kucing?"

"Kamu guru. Guru memberi jawaban."

"Itu bukan tugas guru."

"Sekarang iya."

Keiko tertawa pelan.

Suara itu membuat anak kucing mengangkat kepala, seolah ikut mendengar. Kelvin menurunkan ponsel sedikit agar Keiko bisa melihatnya lebih jelas. Kucing hitam itu duduk di atas handuk, bulunya masih kusut, matanya bulat, tubuhnya terlalu kecil untuk dunia yang dingin.

"Yuan Yuan," kata Keiko tiba-tiba.

"Apa?"

"Namanya Yuan Yuan."

Kelvin mengulang pelan, "Yuan Yuan."

Kucing itu mengeong.

Keiko tersenyum. "Lihat, dia suka."

"Artinya?"

"Yuan bisa berarti asal, permulaan, energi. Dalam bahasa lama, bunyinya juga pernah dipakai untuk menyebut warna hitam." Keiko menatap kucing itu dengan lembut. "Dia hitam, tapi bukan gelap. Dia permulaan yang baru."

Kelvin diam.

Permulaan yang baru.

Di kontrakan kecil yang biasanya hanya berisi sunyi, kata-kata itu terdengar terlalu hangat.

"Yuan Yuan," panggil Kelvin lagi.

Anak kucing itu berjalan goyah ke arahnya, lalu naik ke punggung tangan Kelvin. Cakarnya kecil, sedikit menusuk, tetapi tidak sakit. Kelvin membiarkannya.

"Kalau kamu yang kasih nama," kata Kelvin, "berarti tanggung jawabmu juga."

Keiko berkedip. "Tanggung jawab apa?"

"Dia harus tahu suara kamu. Nanti kalau bandel, kamu yang nasihatin."

"Kamu bahkan belum satu jam memelihara dia, sudah mengeluh bandel."

"Dia menggigit celanaku."

"Mungkin karena celanamu menyebalkan."

Kelvin menatap layar.

Keiko sendiri tampak kaget setelah mengatakan itu. Lalu mereka berdua diam beberapa detik, sebelum Kelvin tertawa pelan.

Yuan Yuan, seolah tidak mau diabaikan, naik ke lipatan jaket di pangkuan Kelvin dan mulai mendengkur. Suaranya kecil, hampir tenggelam oleh sambungan video call yang kadang pecah.

Keiko menatap dari layar.

Kelvin menatap kucing di pangkuannya.

Di luar kontrakan, gang kecil itu mulai sepi.

Untuk pertama kalinya, ada makhluk hidup kecil yang berada di antara mereka, bukan sebagai rahasia, bukan sebagai luka, tetapi sebagai sesuatu yang harus dijaga bersama.

"Selamat datang, Yuan Yuan," bisik Keiko.

Kucing hitam itu mendengkur lebih keras.

1
Yani
yuk lanjut crita nya yuk Thorr 🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!