NovelToon NovelToon
Suamiku, Pelankan Suaramu!

Suamiku, Pelankan Suaramu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Antagonis
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Saat Meilin Tan membuka mata, dia bukan lagi mahasiswi seni dari Surabaya.

Dia adalah tokoh jahat dalam novel "Terjerat Pesona Kota" — wanita yang ditakdirkan menghancurkan hidup Kevin Halim, pewaris konglomerat yang jenius tapi miskin.

Meilin tahu akhir cerita ini: dia akan menjual Kevin, dihukum, dan hidup sengsara. Tapi bagaimana jika dia mengubah segalanya?

Dimulai dari kos-kosan tua di pinggiran Jakarta, Meilin memilih jalan berbeda. Dia melindungi Kevin, mendukungnya, dan tanpa sadar... jatuh cinta padanya.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Keluarga konglomerat Halim menginginkan mereka terpisah. Tiga kali mencoba menikah, tiga kali gagal. Dan ketika Meilin terpaksa melarikan diri dengan rahasia di perutnya, dia harus memilih: menyerah pada takdir novel, atau berjuang untuk cinta yang dia ciptakan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 026: Nama yang Disembunyikan

"Tidak."

Kevin bahkan tidak melihat kartu akses hitam di tangan Bryan.

Satu kata itu jatuh di area drop-off seperti pintu besi yang ditutup.

Bryan menurunkan kartu sedikit. "Ko, kali ini bukan cuma undangan makan malam."

"Aku bilang tidak."

"Opa tahu kamu muncul lagi."

Jari Kevin masih memegang pergelangan Meilin. Tekanannya tidak keras, tapi Meilin bisa merasakan urat di tangannya menegang.

"Aku tidak pernah hilang," kata Kevin. "Mereka yang pura-pura tidak melihat."

Bryan mengembuskan napas. Wajah main-mainnya hilang seluruhnya. Di bawah rambut merah muda itu, dia terlihat jauh lebih lelah daripada beberapa menit lalu.

"Aku tidak minta Koko langsung datang malam ini. Aku cuma menyampaikan. Kalau Koko menolak, mereka akan pakai cara lain."

"Mereka selalu begitu."

"Sekarang ada Ci Meilin."

Udara di antara mereka berubah tajam.

Kevin maju satu langkah. "Jangan sebut dia sebagai alasan."

Bryan tidak mundur. "Justru karena dia alasan, aku datang sendiri. Kalau yang datang orang Opa, cara bicaranya tidak akan sesopan aku."

Meilin akhirnya bersuara. "Opa siapa?"

Bryan melirik Kevin.

Kevin tidak menjawab.

Meilin menatap punggung Kevin yang berdiri di depannya. "Ko, aku sudah ada di sini. Aku bukan bayangan di belakangmu."

Kalimat itu membuat tangan Kevin sedikit melemah.

Bryan menyentuh ujung kartu hitam dengan ibu jarinya. "Opa Halim. Halim Weilong. Pendiri Halim Group."

Nama itu membuat bunyi kendaraan di sekitar Meilin seperti meredup.

Halim Group.

Bahkan Meilin yang tidak tumbuh di lingkaran konglomerat Jakarta tahu nama itu. Gedung di SCBD. Proyek properti. Berita bisnis. Foto keluarga yang sesekali muncul di majalah ekonomi dengan senyum kaku dan jam tangan terlalu mahal.

Dia menatap Kevin.

Kevin Halim.

Nama belakang yang selama ini dia ucapkan seperti sesuatu yang sederhana tiba-tiba terbuka menjadi lorong panjang.

"Jadi kamu..." Suara Meilin berhenti sendiri.

Kevin menoleh padanya. Matanya gelap, tapi tidak menghindar lagi.

"Ayo pulang," katanya. "Aku jelaskan di tempat yang bukan parkiran."

Bryan mengangkat kartu itu sekali lagi. "Ko."

Kevin melihatnya kali ini.

"Simpan," katanya datar. "Aku tahu jalan ke Menteng tanpa kartu dari Opa."

Bryan menelan kata-kata yang hampir keluar. Setelah beberapa detik, dia memasukkan kartu itu kembali ke saku.

"Aku kirim nomor baruku ke ponsel Koko. Nomor yang ini tidak akan ganggu Ci Meilin lagi."

"Jangan hubungi dia tanpa izinku."

"Iya."

Nada Bryan berubah patuh, seperti adik yang sudah terlalu sering kena marah tapi tetap berdiri di depan pintu rumah saat badai datang.

Di perjalanan pulang, Meilin tidak bertanya.

Bukan karena tidak ingin tahu. Pertanyaannya terlalu banyak sampai tidak ada satu pun yang bisa keluar dengan rapi. Kevin duduk di sampingnya, menatap layar ponsel yang mati. Satu tangan tetap berada di antara mereka, terbuka di atas kursi.

Meilin melihat tangan itu.

Tangan yang dulu membetulkan token listrik. Tangan yang memegang sendok bubur di rumah sakit. Tangan yang menggambar modul produk di atas serbet. Tangan yang ternyata mungkin sejak lahir disiapkan untuk memegang sebuah kerajaan bisnis.

Dia meletakkan jarinya di atas punggung tangan Kevin.

Kevin menoleh.

"Aku masih di sini," kata Meilin pelan.

Rahang Kevin bergerak, seperti ada kata yang susah ditelan.

Sesampainya di apartemen, Kevin mengunci pintu, memeriksa balkon, lalu menaruh ponselnya di meja. Setelah itu baru dia duduk di depan Meilin.

"Kamu mau dengar versi pendek atau lengkap?"

"Versi yang tidak membuatku bodoh saat mereka datang."

Kevin menatapnya beberapa detik.

"Namaku di silsilah keluarga bukan hanya Kevin Halim," katanya. "Di sana, aku Halim Chengyu."

Nama itu terdengar asing di ruang kecil mereka.

Namun potongan "Yun" di YunMei tiba-tiba menemukan bayangannya.

"Chengyu," ulang Meilin perlahan.

"Aku jarang memakai nama itu. Di luar rumah itu, aku Kevin. Di kampus, di kerja, di kos, semuanya Kevin."

"Tapi kamu tetap Halim."

"Nama itu tidak mudah dilepas."

Kevin mengambil napas. "Opa Halim punya tiga garis keluarga yang selalu saling tarik. Papa anak tertua. Secara aturan lama mereka, aku cucu laki-laki pertama dari garis utama. Itu membuatku berguna bagi mereka."

"Bukan dicintai?"

Senyap turun.

Kevin tidak langsung menjawab.

"Tidak dengan cara yang kamu pikir cinta."

Dada Meilin terasa sesak.

Dia pernah membaca novel ini. Dia tahu Kevin akan menjadi pria besar, pria yang suatu hari semua orang takuti. Tapi membaca kalimat "pewaris" di layar dan mendengar Kevin mengatakannya dengan wajah seperti luka lama adalah dua hal yang berbeda.

"Bryan adikmu?" tanyanya.

"Bukan adik kandung. Dalam silsilah, dia dari cabang kedua. Dia lebih muda, jadi dia memanggilku Koko sejak kecil."

"Dia di pihakmu?"

"Untuk sekarang, iya."

"Kamu percaya dia?"

"Aku percaya dia tidak ingin Opa menang sepenuhnya." Kevin berhenti sebentar. "Itu belum tentu sama dengan percaya."

Meilin menyimpan jawaban itu baik-baik.

"Kenapa kamu bisa sampai di kos Tangerang?" tanyanya.

Mata Kevin bergerak ke arah jendela, ke lampu-lampu Jakarta yang jauh.

"Karena Papa membawa aku keluar dari rumah itu. Karena Mama tidak pernah cocok dengan mereka. Karena setelah itu, ada hal-hal yang hancur satu per satu."

Mama.

Itu pertama kalinya Kevin menyebut ibunya tanpa menghindar.

Meilin ingin bertanya lebih jauh, tapi melihat cara ibu jari Kevin menekan sisi ponsel membuatnya berhenti.

"Belum semuanya malam ini, ya?" katanya.

Kevin menatapnya lagi. Ada rasa bersalah di matanya.

"Kalau aku membuka semuanya sekaligus, aku takut kamu hanya melihat keluarga itu, bukan aku."

Meilin menggeser tubuh mendekat. "Aku melihat kamu sejak kos yang atapnya bocor. Mereka terlambat masuk cerita."

Kevin memejamkan mata sebentar.

Saat membukanya, suaranya lebih rendah.

"Kamu bisa mundur dari YunMei. Namamu sudah masuk, tapi sebelum kontrak klien besar, kita masih bisa ubah struktur. Aku tidak mau kamu jadi sasaran karena aku."

Meilin hampir marah.

Bukan karena dia tidak takut. Dia takut. Sangat. Tapi tawaran mundur itu terasa seperti Kevin sedang berdiri sendirian lagi di pintu yang baru saja mereka buka bersama.

"Dengar, Ko." Meilin menatapnya lurus. "Aku tidak tanda tangan karena tidak tahu risikonya. Aku tanda tangan karena kamu menjelaskan risikonya. Kalau sekarang aku mundur hanya karena keluargamu punya gedung tinggi, berarti aku cuma berani saat pintunya kecil."

"Meilin."

"Aku takut. Tapi aku tidak mau kamu mengambil keputusan untukku."

Kevin tidak bicara.

Meilin melihat dadanya naik turun, lebih berat dari biasanya.

"Kamu bilang aku partner," lanjut Meilin. "Jadi perlakukan aku seperti partner. Kasih tahu mana yang harus aku hindari, siapa yang tidak boleh aku percaya, dokumen apa yang harus aku simpan. Tapi jangan dorong aku keluar hanya karena kamu takut."

Untuk waktu yang lama, Kevin hanya menatapnya.

Lalu dia mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Meilin dengan kedua tangannya.

"Baik."

Satu kata. Tapi di dalamnya ada pintu yang tidak jadi ditutup.

Ponsel Kevin bergetar di meja.

Nama Bryan muncul di layar.

Kevin membuka pesan itu tanpa melepas tangan Meilin.

Bryan: Ko, aku sudah coba tahan. Tapi Opa sudah tahu nama YunMei Tech terdaftar atas nama Ci Meilin.

Pesan berikutnya masuk sebelum mereka sempat bernapas.

Bryan: Mereka minta salinan dokumen lewat orang notaris.

Wajah Kevin berubah dingin.

Meilin merasakan tangan yang menggenggamnya mengeras.

Keluarga Halim belum mengetuk pintu apartemen mereka.

Tapi bayangannya sudah masuk lewat kertas yang baru mereka tanda tangani.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!