NovelToon NovelToon
Secangkir Kopi Tanpa Gula

Secangkir Kopi Tanpa Gula

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Atik's

Raka harus menikah mendadak dengan Laras setelah calon istrinya, Rara, kabur. Demi menjaga masa depan putrinya, ayah Laras mewajibkan surat perjanjian pranikah yang membuat Raka merasa tertekan dan membenci pernikahan ini. Meski Laras sangat mencintainya dan berharap membina rumah tangga, Raka tetap dingin, kasar, dan tak bisa melupakan Rara. Namun, Laras bertekad meluluhkan hati suaminya dan mengubah pernikahan yang bermula dari keterpaksaan ini menjadi penuh kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atik's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

Fitri heran sekaligus kecewa mendengar alasan itu. Ia sadar dirinya memang sulit hamil seperti kata dokter. Namun bukan berarti jalan salah bisa dibenarkan.

Sebenarnya ia sudah ikhlas jika David menikah lagi dengan cara yang sah dan benar. Tapi kenapa justru memilih jalan yang kelam dan menyembunyikan wanita lain?

“Aku tahu aku tidak sempurna, tapi bukan begini caranya. Aku sudah rela kalau kamu menikah lagi secara halal, jalan yang diridai Tuhan. Kenapa malah pilih jalan yang salah?” suara Fitri mulai meninggi sedikit. “Kamu bilang tidak bisa menduakan aku dan tidak mau aku menangis. Tapi lihat apa yang kamu lakukan sekarang.”

David berusaha menjelaskan. “Aku tidak tega menikah secara resmi karena tahu kamu pasti terluka. Keluargaku juga terus menekan soal keturunan. Aku pikir begini tak akan membuatmu merasa tersaingi atau sedih.”

“Itu hanya alasan saja. Kamu bilang tak mau menyakiti, tapi malah melukai jauh lebih dalam. Aku merasa sakit dan terhina sekali karena kamu memilih jalan yang salah,” jawab Fitri dengan nada dingin.

“Ini hanya sementara saja. Sabar sampai dia melahirkan. Nanti semuanya akan kembali tenang dan baik kembali,” bujuk David.

“Tak akan pernah baik kalau dasarnya salah. Dan aku tak mau anak yang lahir dari cara seperti itu. Masih banyak jalan halal untuk punya keturunan. Aku sudah bilang kan? Aku izinkan kamu menikah lagi asalkan wanitanya baik. Bukan wanita yang suka menjual diri demi keuntungan sendiri!” jawab Fitri dengan amarah yang mulai meluap.

Rasa marahnya semakin besar karena David masih menganggap tindakannya benar dan perlu.

"Sudah cukup, aku tidak mau bahas hal ini lagi. Keputusanku sudah bulat. Aku akan membuat wanita itu cepat hamil, lalu kita ambil anaknya nanti. Aku akan berikan uang berapa pun supaya dia diam dan tidak bicara kemana‑mana," ujar David mengakhiri pembicaraan.

"Aku rela menerima dan membesarkan anakmu dengan ikhlas, kalau dilakukan dengan cara halal. Tapi aku tidak mau membesarkan anak dari hubungan yang salah. Apalagi jika melakukannya dengan sadar. Masih belum terlambat. Jangan diteruskan sampai semuanya hancur. Tolong tinggalkan wanita itu," ujar Fitri sambil menahan tangis, dada terasa sesak sekali.

"Tidak, Fitri. Ini sudah keputusanku. Kau harus menurut dan patuh padaku sebagai suami," ujar David menegaskan.

Fitri tersenyum sinis. Ia tidak lagi mengenal suami di hadapannya. Sebenarnya ia sudah bersedia memaafkan asal David mau meninggalkan wanita itu, bahkan bersedia mencarikan istri kedua yang baik dan benar. Namun David tidak mau mengubah keputusannya.

"Kau bertahan sekuat itu demi dia ya? Kau tidak mau melepaskannya karena kau masih mencintainya. Jangan cari alasan lain," seru Fitri, suaranya meledak karena tidak bisa menahan diri lagi.

Tuduhan itu membuat David marah. Tanpa sadar tangannya terangkat hendak menampar. Fitri hanya memejamkan mata menunggu, tapi tidak ada rasa sakit yang datang. Saat membuka mata, ia melihat David memukul setir mobil dengan keras untuk melampiaskan emosinya.

"Kenapa? Kalau mau pukul saja, mungkin itu bisa membuatmu puas," ujar Fitri sambil menangis. Tangis itu membuat David merasa semakin bersalah.

"Bukan. Aku tidak akan melukai atau menyakiti wanita yang kucintai. Tuduhanmu itu salah. Cintaku hanya untukmu. Cobalah pahami keadaan kita," ujar David berusaha membujuk.

Fitri hanya menggeleng sambil menangis. Ia tidak mau lagi percaya kata‑kata manis itu. Semakin David bicara, semakin terasa jauh perbedaannya dengan David yang dulu ia kenal.

"Kalau kau tetap pada keputusan itu, aku tidak bisa berbuat apa‑apa. Tapi maafkan aku, mungkin rumah tangga kita sudah cukup sampai di sini. Tolong ceraikan aku. Aku tidak sanggup hidup dalam kebohongan dan dosa seperti ini," kata Fitri akhirnya.

Kalimat itu seperti petir menyambar telinga David. Ia merasa dunia seakan runtuh. Tidak mungkin ia membiarkan perpisahan terjadi, tidak mau melepaskan istri yang begitu baik.

"Kau bicara apa? Jangan bercanda seperti itu. Jangan main-main dengan ikatan pernikahan kita," ujarnya cepat.

"Seharusnya ucapanmu itu lebih tepat untuk dirimu sendiri, Mas. Jangan selalu menilai orang lain, sesekali nilailah dirimu sendiri. Bukan aku yang mempermainkan pernikahan, melainkan kamu. Bahkan kamu sudah melakukan dosa besar. Aku memang bukan wanita yang sempurna, tapi aku masih tahu batas mana yang benar dan mana yang salah," ujar Fitri. Kata‑katanya terasa seperti tamparan keras bagi David.

David tampak meneteskan air mata. Apa yang dikatakan istrinya memang benar, namun semua yang ia lakukan terasa sangat terpaksa. Fitri segera membuka pintu dan turun dari mobil. Hal itu membuat David makin panik, lalu ikut keluar dan berlari mengejarnya.

"Kemana kamu mau pergi, sayang?" tanya David sambil langsung menahan tangan istrinya.

"Aku mau pulang, lepaskan tanganku. Aku akan menunggu surat dari pengadilan, urus lah perceraian kita secepatnya," jawab Fitri.

"Tidak, aku tidak akan pernah menceraikanmu," seru David.

"Kalau kamu tidak mau mengurusnya, biar aku yang melakukannya. Lepaskan tanganku sekarang juga," balas Fitri dengan suara tinggi.

Fitri berhasil melepaskan tangannya dari cengkeraman David, lalu berjalan cepat menjauh. David segera mengejar dan memeluknya erat‑erat. Ia tidak mau kehilangan istrinya, dan akan berusaha dengan segala cara supaya perceraian itu tidak terjadi.

"Jangan begini, tolong batalkan niat berpisah itu. Aku bisa gila jika tidak ada kamu," mohon David sambil tetap memeluknya.

"Lepaskan aku, Mas. Kalau kamu tetap pada keputusanmu, aku akan tetap memilih berpisah. Tapi jika kamu mau mendengarkan saran aku, rumah tangga kita bisa selamat," ujar Fitri dengan tegas.

"Tapi aku tidak ingin memiliki istri selain kamu, dan tidak ingin kamu terluka. Aku juga tidak yakin bisa bersikap adil sepenuhnya. Berpoligami pun beban berat, karena keadilan bukan hanya soal harta saja, tapi juga kasih sayang. Dari segi materi mungkin aku bisa adil, tapi dari segi perasaan aku tidak yakin bisa memberikan rasa cinta yang sama besarnya kepada dua orang. Bukan hanya kamu yang akan terluka, tapi wanita kedua pun akan merasakan hal yang sama," jelas David panjang lebar.

"Tapi apa yang kamu lakukan sekarang ini jauh lebih besar salahnya, itu adalah hubungan di luar nikah. Aku tidak ingin punya anak dari jalan yang salah. Kalau kamu tidak mau berubah, lebih baik kita berpisah se‑…"

Belum sempat Fitri menyelesaikan kalimatnya, tiba‑tiba ia merasa pusing sekali, pandangan jadi kabur, dan seketika semuanya terasa gelap.

1
helena
lanjuttt thor😍
Atik's: baik kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!