Hukum tidak berpihak pada Anggita, jadi aku yang akan jadi hukumnya. Satu misi yang menjadi tujuanku hancurkan Arvin Teriaz. Aku Nabila Azzahra, topengku sekretaris, senjataku kode. Rencana sempurna begitu sempurna sampai Galen Teriaz, dokter yang membenci darahnya sendiri, mengulurkan tangan dalam misiku.
Apakah misi mereka berhasil dalam, menghancurkan seorang Arvin Teriaz ?
Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Pulang Dan Awal Yang Baru
1 Minggu Setelah Operasi, di RS Harapan
"Hari ini boleh pulang, Pak Galen. Tapi kontrol tiap 3 hari ya" Ucap Dokter
Dokter melepas perban terakhir, luka jahit 8 tusuk di bahu kanan Galen sudah mengering. Tinggal bekas, Galen mengangguk. Dia menoleh ke Nabila.
"Denger? Aku boleh pulang ke rumah... kita."Ucap Galen membuat Nabila langsung menangis.
Kali ini tangis bahagia, Nabila memeluk Galen hati-hati.
"Akhirnya... akhirnya kita pulang..."Ujar Nabila, dan Dira di samping meluk mereka juga.
*****
Mereka pulang ke rumah Nabila …
12.30 PM di rumah Galen, memandang rumah itu sepi 5 bulan dan debu dimana-mana. Tapi begitu pintu dibuka, baunya langsung beda yaitu wangi lavender. Nabila yang bersihin diam-diam 3 hari terakhir pas Galen tidur di RS.
"Surprise," Kata Nabila malu-malu.
"Biar kamu pulang ke tempat yang anget." Tambah Nabila
Galen terharu, dia melihat ada bunga di meja, ada Alkitab di nakas, ada foto mereka bertiga: Galen, Nabila, Dira di hutan tapi sudah diedit, backgroundnya diganti pantai. Galen duduk di sofa karena gampang capek. Nabila langsung ambilin bantal, selimut, air putih, dan obat.
"Duduk sini, jangan gerak dulu" Ujar Nabila
Galen menarik tangan Nabila.
"Kamu juga duduk, capek kan jagain aku seminggu?" Kata Galen
Nabila menggeleng.
"Nggak capek, aku bahagia." Jawab Nabila
Mereka diam menikmati hening yang aman, tanpa tembakan, tanpa lari.
*****
Jam 17.00 , Nabila pergi ke dapu untuk memasak Sop ayam dan nasi tim untuk Galen.
"Kamu jago masak ya sekarang" Celetuk Galen
Nabila nyengir
"Belajar dari YouTube, demi kamu" Jawab Nabila
Galen tersenyum.
"Demi aku atau demi Tuhan yang nyuruh kamu mengasihi musuh?" Goda Galen
Nabila melempar sendok.
"Ih! Aku nggak anggap kamu musuh!" Jawab Nabila
"Syukur," Galen berdiri pelan
"Nabila. Boleh aku minta sesuatu?" Tanya Galen
"Apa?" Tanya Nabila
"Boleh kita mulai ibadah keluarga? Tiap malam, baca Alkitab 1 pasal, doa bareng" Jawab Galen
Nabila langsung mengangguk dan matanya berkaca.
"Boleh, aku kangen itu" Ujar Nabila
Mereka buka Alkitab, Roma 8.
"Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan..."Selesai baca, mereka berdoa.
Genggam tangan, dan menundukkan kepala.
"Tuhan... terima kasih Engkau ubah luka jadi kesaksian. Ajar kami mengampuni Arvin. Ajar kami mengasihi seperti Engkau. Amin."
*****
Sudah 3 minggu setelah kepulagan Galen, dari rumah sakit. Galen sudah bisa jalan tanpa dituntun, mereka ke gereja. Pertama kali setelah kejadian, pendeta mempersilakan mereka maju.
"Kita punya kesaksian dari Saudara Galen dan Saudari Nabila."Galen berdiri di mimbar. Pake kemeja lengan panjang nutupin bekas luka.
Nabila di sampingnya, menggam tangan Galen yang mulai cerita. Dari awal, dari ancaman, dari hutan, dari ICU. Suaranya pecah pas bagian "Tuhan nggak pernah tinggalkan kami." Jemaat nangis.
Pendeta berdoa buat mereka.
"Tuhan... berkati pasangan ini, jadikan mereka alat-Mu."
Pulang gereja, orang-orang peluk mereka.
*****
Di dalam mobil …
"Tuhan baik ya..." Ucap Galen
Nabila pegang tangan Galen
"Kenapa?" Tanya Nabila
"Aku ngerasa ini baru awal, tuhan mau pake kita lebih besar" Jawab Galen
*****
Jam 23.00, balkon rumah malam itu cerah di tambah bintang yang menghiasi malm. Galen dan Nabila duduk di kursi goyang, Selimutan satu selimut.
"Galen," Panggil Nabila.
"Apa ?" Tanya Galen tanpa menoleh
"Janji kita masih berlaku kan? Janji di Atas Luka?" Ujar Nabila
Galen menoleh, dia mengeluarkan kotak kecil dari saku. Nabila langsung menutup mulutnya, Galen berlutut susah payah karena lukanya tapi dia tetap berlutut.
"Kamu mau nggak... jadi istriku? Jadi ibu dari anak-anak kita nanti? Jadi partner pelayanan kita?" Tanya Galen dan dia buka kotak, terdapat cincin emas simple, ada ukiran salib kecil di dalamnya.
Nabila nangis, kencang.
"Mau, mau banget Galen" Jawab Nabila lalu Galen memasangkan cincin itu.
"Dengan cincin ini, aku berjanji di hadapan Tuhan: Aku akan mengasihimu di waktu sehat dan sakit, aku akan melindungimu, aku akan berjalan bersama Tuhan denganmu" Ujar Galen dan Nabila mengangguk.
"Aku juga berjanji" Jawab Nabila
Mereka berpelukan lama di atas balkon, di bawah bintang, di hadapan Tuhan. Di saat mreka sedang menikmati malam terdengar ketukan pintu.
TOK … TOK … TOK …
"Kak... kalian lamaran ? Aku boleh jadi bridesmaid kan?" Tanya Dira membuat mereka bertiga tertawa
Mereka menikmati malam itu dengan sangat tentram, tanpa ada pengganggu dan ancaman apa pun.