Hendry Wijaya mati di periode kiamat tahun ke-12, dicabik oleh zombie Lord-Level di sebuah reruntuhan bangunan dip Jakarta.
Lalu ia membuka mata—30 hari sebelum dunia berakhir.
Semua ingatan 12 tahun di neraka itu masih utuh: siapa yang akan berkhianat, di mana kristal langka tersembunyi, kapan gelombang zombie pertama menerjang, dan siapa anjing jalanan kotor yang kelak menjadi legenda bernama Raja.
Bedanya? Kali ini Hendry punya Ruang Dimensi—gudang tak terbatas di mana waktu berhenti. Sementara orang lain panik membeli mie instan, ia menimbun seribu ton beras, ratusan ton daging, senjata, obat-obatan, dan cukup solar untuk menghidupi sebuah kota.
Hari pertama kiamat: semua orang kelaparan. Hendry makan rendang.
Di dunia di mana satu kristal bisa memicu perang, Hendry duduk di atas gunung kristal yang tak seorang pun tahu keberadaannya.
Di dunia di mana Lord-Level bisa meratakan kota, Hendry tersenyum—karena dia tahu persis kapan mereka akan mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14: Pengkhianat
Hendry juga.
Jessica Tan masih memakai wajah orang yang baru saja diselamatkan dari neraka.
Matanya merah. Rambutnya kusut. Bibirnya pecah karena kurang minum. Kalau orang biasa melihatnya, mereka mungkin hanya melihat perempuan malang yang hampir mati di luar gerbang.
Tapi Nasi tidak melihat wajah.
Kucing merah muda itu berdiri di kaki Hendry, punggungnya melengkung, bulunya mengembang seperti bola kapas berduri.
Mrrrrr.
Raja berdiri di belakang Jessica. Tidak menggonggong. Tidak menyerang. Hanya menunjukkan gigi sedikit, cukup untuk membuat leher Jessica kaku.
Pagi hari kelima, Hendry memindahkan interogasi ke ruang kerja kosong di villa sebelah. Ruangan itu sengaja dipilih karena bersih, jendelanya menghadap halaman, dan pintunya bisa diawasi dari luar. Tidak ada darah. Tidak ada alat penyiksaan. Hanya meja, dua kursi, botol air, tas Jessica, dan peta Cluster Pondok Indah yang digulung.
Bagus berdiri di samping pintu.
"Bos, talinya cukup?"
"Cukup."
Tangan Jessica tetap terikat di depan. Tidak terlalu sakit, tetapi cukup membuatnya tahu bahwa air mata bukan kunci.
Hendry duduk di seberangnya. "Mulai."
Jessica menarik napas pelan. "Namaku Jessica Tan. Aku dari selatan. Dua hari lalu, aku ketemu kelompok penyintas. Sekitar tiga puluh orang. Ada anak-anak, orang tua, beberapa luka. Mereka tidak punya makanan. Aku keluar cari bantuan."
"Lokasi?"
"Dekat kompleks ruko lama, lewat jalan kecil setelah pom bensin."
Bagus mengerutkan kening. "Pom bensin yang mana?"
Jessica menoleh cepat. "Yang... yang dekat jalan besar."
"Ada tiga jalan besar di sekitar sini," kata Hendry.
Jessica menelan ludah. "Aku panik waktu itu. Jalannya berputar. Tapi aku bisa antar."
Nasi menggeram lebih rendah.
Raja menundukkan kepala, hidungnya hampir menyentuh bahu Jessica. Jessica menahan diri untuk tidak menjauh, tetapi jemarinya berkedut.
"Kenapa datang ke sini?" tanya Hendry.
"Aku lihat lampu kecil dari arah cluster. Ada asap masakan. Aku pikir ada orang hidup."
"Dan lu langsung percaya orang hidup akan menolong tiga puluh orang asing?"
"Kalau masih punya hati, ya."
Bagus bergerak sedikit.
Kalimat itu sengaja dilempar ke ruangan seperti kail. Membuat orang merasa bersalah, membuat orang ingin membuktikan dirinya baik. Di masa damai, trik itu mungkin bekerja. Di hari kelima kiamat, kail seperti itu bisa menyeret satu tim masuk kuburan.
Hendry tidak menggigit.
"Tasnya."
Bagus meletakkan tas Jessica di meja. Tas kecil itu sudah diperiksa semalam, tetapi belum dibongkar di depan Jessica. Hendry membuka resletingnya perlahan.
Isinya tidak banyak. Botol air kosong. Dua bungkus biskuit. Charger ponsel yang tidak berguna. Kain putih. Lip balm. Pisau kecil. Dan satu map plastik bening, dilipat di dasar tas.
Mata Jessica bergerak sedikit.
Hendry melihatnya.
Ia tidak langsung mengambil map itu. Sebaliknya, ia menutup tas kembali.
"Bagus."
"Ya, Bos?"
"Menurut lu, kalau ada tiga puluh penyintas, berapa beras yang harus kita bawa?"
Bagus melirik Hendry. Ia tidak bodoh. Lambat mungkin, tetapi tidak bodoh.
"Banyak, Bos. Untung stok kita gila-gilaan. Beras, rendang, obat, air, semua ada. Kalau Bos mau, satu mobil penuh juga bisa."
Jessica menunduk.
Hanya sepersekian detik.
Tapi sebelum ia menunduk, matanya menyala.
Bukan lega.
Lapar.
Bukan lapar orang yang ingin makan.
Lapar orang yang baru mendengar brankas terbuka.
Hendry menyandarkan punggung ke kursi. "Lu dengar?"
Jessica cepat mengangkat wajah. "Aku cuma... bersyukur. Kalau benar ada makanan, mereka bisa selamat."
"Mereka?"
"Kelompok itu."
"Nama pemimpinnya?"
Jessica berhenti.
Bagus menatapnya.
Raja mengeluarkan suara dari tenggorokan.
"Tidak ada pemimpin," kata Jessica cepat. "Mereka cuma orang-orang biasa."
"Tiga puluh orang tanpa pemimpin bertahan lima hari?"
"Ada beberapa pria yang menjaga."
"Nama salah satunya."
"Aku tidak sempat tanya."
"Lu sempat keluar cari bantuan, sempat bawa peta, sempat jalan sampai sini, tapi tidak sempat tanya nama orang yang lu selamatkan?"
Wajah Jessica mulai retak.
"Aku panik! Semua orang panik! Kenapa Mas Hendry malah menginterogasi aku seperti penjahat?"
"Karena Nasi tidak suka lu."
Jessica menatap kucing di lantai. Untuk pertama kalinya, kebingungan palsunya bercampur takut asli.
"Itu cuma kucing."
Nasi mendesis.
Raja melangkah satu langkah maju.
Bagus berkata pelan, "Kalau gue jadi lu, gue minta maaf sama kucing itu."
Hendry mengambil map plastik dari dasar tas.
Jessica langsung berdiri setengah.
Bagus menekan bahunya kembali ke kursi.
"Itu cuma catatan jalan!"
"Bagus, buka."
Bagus membuka map itu di meja. Di dalamnya ada kertas yang dilipat empat. Peta tangan. Garis-garisnya kasar, tetapi cukup jelas. Ada tanda X merah di sebuah area dekat ruko lama. Ada panah dari gerbang Cluster Pondok Indah menuju jalan belakang, lalu belokan ke arah pom bensin.
Sekilas, itu memang peta penyelamatan.
Hendry melihatnya tiga detik.
Lalu ia mengambil peta Cluster Pondok Indah yang asli dari Ruang Dimensi dan membentangkannya di sebelah peta Jessica.
"Bagus, lihat titik X."
Bagus membungkuk. "Dekat ruko lama."
"Apa yang kita tandai di sana kemarin?"
Bagus mengingat. Wajahnya mengeras. "Zona hitam. Banyak zombie terkumpul karena ada supermarket kecil di situ. Bau daging busuk dari freezer."
Jessica memucat.
Hendry menunjuk garis panah di peta tangan. "Rute ini tidak membawa kita ke tempat aman. Ini membawa tim kecil melewati gang sempit, tembus belakang supermarket, lalu masuk area yang tidak punya jalan keluar cepat. Kalau gue bawa beras, obat, dan orang kita ke sini, zombie menutup belakang. Satu pintu, satu jebakan."
"Aku tidak tahu!" Jessica berteriak. "Aku cuma menyalin peta dari orang lain!"
"Akhirnya ada orang lain."
Jessica membeku.
Ruangan mendadak sunyi.
Nasi berhenti menggeram. Justru itu membuat suasana lebih dingin.
Hendry menatap Jessica tanpa berkedip. "Siapa yang kasih peta?"
"Tidak ada."
"Barusan lu bilang dari orang lain."
"Aku... maksudku... ada pria di kelompok itu. Dia menggambar cepat."
"Nama."
"Aku tidak tahu!"
Hendry mencondongkan tubuh. Suaranya tidak naik, tetapi tekanan di ruangan turun seperti udara sebelum hujan besar.
"Jessica. Lu datang sendiri. Baju lu kotor, tapi sol sepatu lu tidak rusak. Lu bilang jalan jauh, tapi telapak kaki lu tidak lecet. Lu bilang kelompok lu kelaparan, tapi di tas lu ada biskuit yang belum dibuka. Lu bilang tidak tahu area, tapi peta lu punya rute paling efisien untuk menjebak orang dari cluster ini."
Jessica bernapas cepat.
"Dan saat Bagus bilang gue punya banyak stok, mata lu bukan mata orang yang ingat tiga puluh orang kelaparan. Itu mata orang yang menghitung berapa banyak bisa dirampas."
Bagus mengepalkan tangan.
Kemarahannya tidak meledak. Justru tertahan. Lebih berat.
"Jadi bener, Bos? Dia mau bawa kita ke jebakan?"
"Ya."
"Tidak!" Jessica menangis. Air matanya turun cepat, kali ini lebih rapi daripada takut. "Aku terpaksa! Aku cuma disuruh cari bantuan! Kalau aku tidak bawa orang, mereka akan membuangku!"
"Siapa mereka?"
Jessica menutup mulut.
Hendry sudah cukup.
"Bagus, lepaskan ikatan kakinya. Bawa dia ke gerbang luar."
Jessica mengangkat kepala. "Mas Hendry, tunggu! Aku bisa kasih informasi! Aku bisa kerja! Aku bisa masak, cuci, apa saja!"
Dari pintu, suara Dewi terdengar dingin. Ia rupanya datang membawa air, tetapi berhenti sejak peta dibuka.
"Dapur saya tidak menerima orang yang mencampur racun ke jalan."
Jessica menoleh ke Mawar yang berdiri di belakang Dewi. "Mbak, tolong. Kamu perempuan juga. Kamu ngerti kan?"
Mawar menggenggam tas medisnya lebih erat. Wajahnya pucat, tetapi suaranya jelas.
"Aku mengerti takut. Tapi kamu membawa peta yang bisa membunuh semua orang di sini."
Melati, di belakang Mawar, menatap Jessica seperti menatap kain berminyak dekat api. "Kalau Hendry tidak melarang, aku sudah bakar peta itu sekalian tanganmu."
Jessica menangis lebih keras.
Hendry tidak membiarkan ruangan berubah menjadi panggung belas kasihan.
"Dengar baik-baik. Gue tidak bunuh lu hari ini."
Jessica terisak, seperti menemukan celah.
"Tapi lu keluar dari Cluster Pondok Indah sekarang. Lu bawa satu botol air dan satu bungkus biskuit. Cukup untuk pergi dari area ini. Kalau lu balik, kalau lu bawa orang lain, kalau lu terlihat mengintai gerbang..."
Hendry menatap Raja.
Anjing hitam itu membuka mulut, listrik biru tipis berlari di antara giginya.
"Raja nggak akan segan."
Jessica gemetar sampai kursinya berderit.
Bagus menariknya berdiri.
"Jalan."
"Aku bisa mati di luar!"
Bagus berhenti sebentar. Matanya yang biasanya sederhana kini keras.
"Tadi lu juga hampir bikin kami mati."
Tidak ada yang bicara lagi sampai gerbang luar terbuka.
Jessica didorong keluar tanpa dipukul. Tangannya dilepas setelah ia melewati batas gerbang. Botol air dan biskuit dilempar ke aspal. Ia memungutnya dengan tangan bergetar, lalu menatap ke dalam cluster sekali lagi.
Di dalam gerbang, Raja berdiri.
Nasi duduk di kepala tembok rendah, ekor bergerak pelan.
Jessica mundur.
Lalu berlari.
Gerbang ditutup.
Bagus mengunci rantai dengan bunyi berat.
"Bos," katanya pelan, "kalau dia balik bawa orang?"
"Bagus."
"Ya?"
"Itu artinya dia memilih mati."
Bagus mengangguk. Tidak senang, tetapi paham.
Malam itu, villa lebih sunyi daripada biasanya.
Bukan karena mereka menyesal mengusir Jessica. Justru karena semua orang mengerti bahwa musuh manusia mulai mengetuk pintu sebelum zombie benar-benar mengepung kota.
Hendry duduk sendirian di ruang kerja.
Di depannya, peta tangan Jessica dibentangkan. Ia menyalakan lampu kecil, mengambil spidol merah, dan menandai rute jebakan itu. Lalu ia membuka peta Jakarta yang lebih besar.
Jessica bukan otak.
Di kehidupan sebelumnya, ada satu nama yang sering muncul di belakang kelompok penyintas palsu, jebakan bantuan, dan perekrutan paksa.
Bintang Setiabudi.
Seorang Awakener tipe kontrol yang selalu bicara tentang persatuan, tetapi mengikat orang dengan rasa takut, makanan, dan janji keselamatan.
Jika timeline belum berubah terlalu jauh, basis awal Bintang berada di utara-barat dari cluster, dekat kompleks ruko dan gudang kecil yang mudah dipertahankan.
Hendry melingkari satu titik di peta.
Nasi melompat ke meja, duduk di samping lingkaran merah, lalu menatap Hendry.
Kali ini ia tidak menggeram.
Ia hanya mengeong pelan.
Hendry menutup spidol.
"Aku tahu," katanya. "Bukan sekarang."
Di luar jendela, Jakarta gelap seperti mulut raksasa.
Hendry menatap lingkaran merah itu sekali lagi.
"Tapi kalau Bintang sudah bergerak, kita harus lebih cepat naik level."