Setelah mengorbankan keluarga kandung, masa muda, dan hidupku demi menjadikan suamiku pewaris Mahendra Group, Sebastian justru memfitnah putra kami, membiarkan menantu dan cucuku meninggal, lalu mendorongku hingga tewas.
Saat kembali membuka mata, aku kembali ke hari Sebastian melamar ku.
Jika dulu aku memilih Sebastian Mahendra...
maka di kehidupan ini, aku akan menikahi adiknya, Stefanus Mahendra.
Aku tidak akan menikahi pria yang menghancurkan hidupku.
Aku akan memilih pria yang ternyata diam-diam mencintaiku sejak awal.
Namun, mengubah takdir ternyata tidak semudah mengganti calon suami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Peringatan Awal
"Aku akan mengganti semua kaca jendela ini besok pagi," ucap Stefanus memecah keheningan.
Shaquena menggeleng pelan dari atas sofa. "Bukan pecahan kacanya yang membuatku takut, Stefanus."
Pria itu menoleh. "Lalu apa?"
"Ia sudah mulai bergerak hari ini."
Stefanus langsung mengerti siapa yang dimaksud oleh istrinya.
Sebastian.
Stefanus sangat mengenal sifat kakaknya. Pria arogan itu tidak pernah suka menderita kerugian atau kekalahan. Dan Sebastian baru saja kehilangan sesuatu yang selama ini selalu ia yakini berada di dalam genggamannya.
Keesokan paginya, Shaquena baru saja selesai menyeduh teh hangat ketika layar ponselnya berdering di atas meja makan. Nama ayahnya muncul berkedip di layar.
"Selamat pagi, Ayah."
"Quena, hari ini kamu ada waktu luang?"
Nada suara ayahnya terdengar biasa dan tenang, tapi Shaquena menangkap sesuatu yang samar dari nada bicara ayahnya.
"Tentu saja ada, Yah."
"Temani Ayah pergi ke bank hari ini."
"Bank?" kening Shaquena berkerut.
"Iya. Limit kredit pabrik tekstil kita akan diperpanjang hari ini. Ini biasanya memang hanya prosedur formalitas tahunan, tapi Ayah ingin sekalian mengenalkanmu lebih dalam soal manajemen keuangan perusahaan kita."
Jantung Shaquena mendadak berdegup satu ketukan lebih cepat. Tiga kata kunci itu terngiang di kepalanya. Bank. Limit kredit. Pabrik tekstil.
Shaquena mendadak teringat pada satu rangkaian peristiwa penting. Di kehidupan pertamanya, bukankah beberapa bulan setelah pertunangan resminya dengan Sebastian, perusahaan tekstil ayahnya tiba-tiba mengalami masalah likuiditas kas yang sangat parah?
Saat itu, Sebastian datang bak seorang pahlawan penyelamat keluarga. Suaminya membantu Mahardika Group memperoleh kucuran pinjaman dana segar yang baru. Sebagai jaminan dan gantinya, keluarga Mahardika menyerahkan sebagian besar saham kepemilikan pabrik tekstil tersebut kepada Mahendra Group.
Saat itu semua kerabat memuji kedermawanan Sebastian. Padahal kenyataannya...
"Itu adalah sebuah jebakan," gumam Shaquena sangat pelan.
"Apa, Quena?" tanya ayahnya di seberang sana.
"Tidak apa-apa, Yah. Aku akan ikut."
Panggilan telepon ditutup. Shaquena langsung berbalik badan. "Aku harus pergi ke bank menemani ayahku hari ini."
Stefanus yang sedang mengancingkan lengan kemeja panjangnya langsung mengangguk. "Aku ikut."
"Tidak usah, Stefanus. Aku hanya akan pergi ke bank sebentar."
"Aku tetap ikut."
Shaquena menatap mata suaminya beberapa detik sebelum akhirnya ia mengalah. Ia mulai memahami satu hal penting tentang pria ini. Stefanus memang pria yang tidak banyak bicara. Tetapi sekali ia mengambil sebuah keputusan, hampir mustahil ada yang bisa mengubah pendiriannya.
Satu jam kemudian, mobil sedan tua mereka berhenti di depan pelataran gedung bank swasta yang selama dua puluh tahun terakhir menjadi mitra bisnis utama keluarga Mahardika. Ayah Shaquena sudah lebih dulu menunggu mereka di lobi utama.
Wajah pria paruh baya itu langsung berubah cerah dan semringah saat melihat putrinya berjalan masuk.
"Quena."
"Ayah." Shaquena menyalami tangan ayahnya.
Ayahnya lalu beralih menoleh kepada Stefanus. "Terima kasih banyak sudah menyempatkan waktu menemaninya."
Stefanus hanya membungkukkan kepalanya dengan sangat sopan. "Kalian adalah keluarga saya sekarang."
Satu kalimat yang sangat sederhana itu sukses membuat senyum tipis yang tulus muncul di wajah ayah Shaquena. Mereka bertiga kemudian berjalan menuju lift khusus dan naik ke lantai delapan, tempat ruang Direktur Kredit berada.
Namun, baru beberapa langkah mereka keluar dari lift, seorang sekretaris wanita bergegas menghampiri mereka dengan raut wajah sangat canggung.
"Mohon maaf sebelumnya, Pak Mahardika."
"Iya, ada apa?"
"Pak Direktur... kebetulan sekali beliau sedang ada rapat pimpinan mendadak."
Ayah Shaquena mengangguk maklum. "Oh, tidak apa-apa. Kami akan menunggu di ruang tunggu."
"Beliau mungkin akan rapat agak lama, Pak."
"Kira-kira berapa lama?"
Sekretaris wanita itu tampak semakin gelisah di tempatnya. "Mungkin... memakan waktu sekitar dua jam."
Shaquena memperhatikan ekspresi wanita muda itu dengan lekat. Ada yang tidak beres. Gestur wanita itu terlalu gugup. Ia juga terlalu banyak menghindari kontak mata secara langsung dengan ayahnya, seolah ia sedang menyembunyikan sesuatu.
"Ayah."
"Hm?"
"Kita duduk dan tunggu saja dulu di sana."
Mereka bertiga akhirnya duduk menunggu. Sepuluh menit berlalu. Tiga puluh menit. Satu jam. Tidak ada seorang pun staf yang datang menemui untuk memberikan kepastian.
Yang lebih terasa aneh lagi bagi Shaquena, setiap kali sekretaris tadi berjalan melewati ruang tunggu mereka, wajah wanita itu terlihat semakin pucat pasi, seolah ia sangat berharap keluarga Mahardika menyerah dan segera pulang meninggalkan gedung ini.
Shaquena perlahan bangkit berdiri. "Aku ke toilet sebentar, Yah."
Tentu saja ia tidak benar-benar menuju toilet. Shaquena berjalan perlahan dan tanpa suara melewati lorong lantai direksi hingga ia tanpa sengaja melihat pintu utama ruang direktur sedikit terbuka. Dari celah pintu kayu jati itu, terdengar jelas percakapan dua orang pria.
"...saya sangat mengerti instruksi Anda, Pak Sebastian."
Langkah Shaquena langsung terhenti membeku. Sebastian?
Ia memberanikan diri merapatkan posisinya beberapa sentimeter lebih dekat ke celah pintu.
"Anda tenang saja." Suara yang kemungkinan besar adalah sang direktur kredit, terdengar lagi. "Penangguhan ini murni hanya penundaan administrasi sementara waktu."
"Tidak boleh ada sedikit pun kesalahan dalam pelaksanaannya."
"Tentu saja, Pak Mahardika pasti akan menerima jawaban resmi yang sesuai dengan skenario kita."
"Bagus sekali." Terdengar suara tawa kecil yang merendahkan dari dalam ruangan. "Orang tua malang itu pasti akan segera datang merangkak meminta bantuan pendanaan padaku nanti."
Tubuh Shaquena membeku sepenuhnya di balik dinding lorong. Ia sangat mengenali suara arogan itu. Sebastian.
Fakta ini membuktikan prediksinya. Sebastian memang sudah mulai bergerak menghancurkan keluarganya.
Shaquena memundurkan langkahnya perlahan-lahan sebelum ada orang yang menyadari keberadaannya di sana. Dadanya mulai terasa sesak. Bukan karena ketakutan, melainkan karena kemarahan.
Ia melangkah kembali ke area ruang tunggu. Stefanus langsung berdiri menyambutnya dari sofa. "Ada apa? Kenapa wajahmu tegang?"
"Dia ada di dalam sini," bisik Shaquena.
"Siapa?"
"Bastian."
Tatapan mata Stefanus langsung berubah setajam pisau. Beberapa detik setelah nama itu disebut, pintu ganda ruang direktur benar-benar terbuka lebar. Sebastian berjalan keluar.
Jas hitam mahal tanpa setitik debu. Langkah kaki yang tenang. Senyum percaya diri yang sangat memuakkan.
Begitu mata Sebastian menangkap sosok Shaquena di ruang tunggu, sudut bibirnya langsung terangkat sinis. "Quena."
Shaquena berdiri mematung tanpa berniat menjawab sapaan itu.
Sebastian terus berjalan mendekat dengan gestur santai. "Wah, sungguh suatu kebetulan sekali kita bisa bertemu di sini."
Stefanus mengambil satu langkah lebar, berdiri tepat di depan Shaquena dan menutupi tubuh istrinya dari pandangan predator kakaknya.
Sebastian tertawa kecil meremehkan aksi adiknya. "Kamu sekarang benar-benar terlihat persis seperti seekor anjing pengawal."
"Jauh lebih baik dan terhormat menjadi anjing pengawal daripada menjadi seorang penjahat kotor sepertimu," desis Stefanus tajam.
Senyum congkak Sebastian memudar sesaat mendengar hinaan itu. Namun, itu hanya bertahan sesaat. Pria itu dengan cepat kembali memulihkan ekspresi wajahnya menjadi santai dan tidak tersentuh.
Sebastian mengalihkan pandangan. "Ayahmu sedang mengurus perpanjangan kredit perusahaannya?"
"Itu sama sekali bukan urusanmu," jawab Stefanus memotong.
"Oh, benarkah?" Sebastian dengan santai memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana bahan mahalnya. "Kalau sewaktu-waktu nanti pabrik tekstil kalian mengalami sedikit kesulitan operasional..."
Tatapan Sebastian kini beralih lurus kepada ayah Shaquena yang duduk di ujung sofa. "Pintu Mahendra Group akan selalu terbuka lebar untuk memberikan bantuan."
Ayah Shaquena mengernyitkan dahi kebingungan mendengar tawaran mendadak itu. "Apa maksudmu, Sebastian?"
"Tidak ada maksud apa pun, Tuan Mahardika." Sebastian melebarkan senyum palsunya. "Saya hanya tidak tega melihat pabrik milik keluarga calon mertuaku... oh, maaf, maksudku mantan calon mertuaku... mengalami kebangkrutan finansial."
Di telinga orang awam, kalimat manis itu terdengar seperti bentuk perhatian tulus dari seorang pebisnis. Namun, bagi telinga Shaquena yang sudah mengetahui kebusukan aslinya, ucapan barusan jelas-jelas merupakan sebuah ancaman.
Sebastian memutar tubuhnya dan melangkah pergi menuju lift khusus. Beberapa pegawai bank yang sedang melintas langsung berhenti dan membungkuk hormat hingga punggung pria itu menghilang. Sungguh sebuah pemandangan yang menunjukkan betapa besarnya pengaruh cengkeraman keluarga Mahendra di kota ini.
Ayah Shaquena masih tampak sangat bingung di tempatnya. "Aneh sekali cara bicara anak itu barusan."
Shaquena menarik napas panjang. "Pria itu hanya sedang memberikan peringatan awal kepada kita, Yah."
Hampir dua jam kemudian. Keluarga Mahardika akhirnya dipersilakan masuk ke dalam ruangan. Direktur kredit bank itu menyambut mereka dengan seulas senyum yang terlihat terlalu kaku dan dipaksakan.
"Mohon maaf sekali membuat Bapak menunggu begitu lama."
"Tidak masalah, mari kita mulai saja."
Direktur itu membuka beberapa lembar dokumen berkas nasabah di mejanya, lalu ia berdeham pelan untuk membersihkan tenggorokannya yang kering.
"Untuk sementara waktu ini..." Tangan pria itu tampak sedikit gemetar saat menyentuh kertas. "...permohonan perpanjangan kredit perusahaan pabrik tekstil Anda masih belum bisa kami setujui dan proses."
Ayah Shaquena terperanjat tidak percaya di kursinya. "Belum bisa disetujui?"
"Iya, Pak. Mohon maaf."
"Kenapa alasannya?"
"Masih ada tahap evaluasi internal lanjutan dari pihak manajemen pusat kami."
"Selama dua puluh tahun penuh kami bekerja sama tanpa masalah, tidak pernah satu kali pun ada alasan evaluasi internal penangguhan kredit seperti ini," bantah ayah Shaquena tegas.
Direktur itu memaksakan senyum kaku yang memelas. "Ini murni kebijakan baru dari dewan direksi, Pak."
"Apa dasar pijakan kebijakan barunya?"
"Saya... uh..." Pria paruh baya itu kehilangan kata-kata untuk merangkai kebohongan selanjutnya.
Shaquena menatap lurus mata pria pengecut di depannya. "Apakah keputusan sepihak ini ada hubungannya dengan tekanan dari Sebastian Mahendra?"
Ruangan kantor itu mendadak sunyi senyap. Sang direktur langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, menghindari tatapan menusuk Shaquena. Ekspresi wajah ketakutan pria itu sudah menjadi jawaban konfirmasi yang nyata bagi mereka.
Ayah Shaquena perlahan mulai memahami skema licik ini. "Jadi ini memang benar..." Pria paruh baya itu mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan emosi. "Anak itu sekarang berani bermain kotor di belakang punggungku."
Sang direktur hanya bisa membalas dengan suara yang sangat lirih dan putus asa. "Maafkan posisi saya, Pak."
Shaquena bangkit berdiri dari kursi tamunya. "Kalau begitu proses pertemuan ini tidak perlu kita lanjutkan lagi."
"Quena..."
"Ayah," potong Shaquena lembut. Ia menggenggam lengan kemeja ayahnya. "Sangat percuma kita memaksa orang yang memang sedari awal sudah mengambil keputusan."
Mereka bertiga melangkah keluar dari ruangan eksekutif itu. Begitu pintu tertutup rapat di belakang mereka, ayah Shaquena menghela napas panjang dan berat.
"Selama ini Ayah selalu berpikir bahwa Sebastian adalah pemuda yang baik."
Shaquena tersenyum dengan sangat pahit. "Dulu, aku juga berpikir seperti itu, Yah."