Di dalam sebuah kamar sewaan yang sempit dan berbau lembap, seorang pemuda tiba-tiba tersentak bangun. Napasnya memburu, matanya yang tajam memancarkan kilatan cahaya keemasan sebelum akhirnya meredup dan berubah menjadi hitam pekat.
"Ini... di mana?"
Fang Yuan melihat kedua telapak tangannya. Halus, kurus, dan tidak ada bekas luka. Ini bukan tubuh kedagingan seorang Sovereign yang bisa menghancurkan galaksi dengan satu pukulan.
Dia menoleh ke meja belajar. Sebuah ponsel jadul menunjukkan tanggal: 20 Juni 2016.
Fang Yuan tertegun, lalu tawa pelan keluar dari tenggorokannya. Tawa itu semakin lama semakin keras, menggema di dalam kamar sempit tersebut.
"Hahaha! Kesengsaraan Surgawi sembilan warna ternyata tidak menghancurkanku! Aku, Fang Yuan, Sang Penguasa Surgawi Cangqiong, justru kembali ke masa usiaku delapan belas tahun?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14.Langkah selanjutnya
Langkah kaki Fang Yuan menggema santai di area lobi luar Hotel Shangri-La. Angin malam Kota Jiangnan berembus agak kencang, memainkan helai-helai rambut biru keputih-putihannya yang *stylish*. Di belakangnya, Su Ruyi berjalan cepat dengan gaun malam hitamnya yang anggun, berusaha menyamakan langkah kaki jenjangnya dengan sang Penguasa Surgawi.
"Tuan Muda Fang! Tunggu sebentar," panggil Su Ruyi dengan napas sedikit terengah, wajah cantiknya merona merah karena hawa dingin malam dan rasa gugup yang tak bisa ia sembunyikan lagi.
Fang Yuan menghentikan langkahnya, namun tidak berbalik. Dia hanya melirik sekilas dari sudut matanya yang berwarna biru dan emas murni. "Ada apa?"
Su Ruyi berdiri tepat dua langkah di belakangnya, meremas jemarinya yang halus. Keangkuhannya sebagai dewi sekolah benar-benar telah lebur menjadi rasa kagum yang absolut. "Kakek meminta saya untuk menjadi asisten pribadi sekaligus sopir Anda mulai besok. Beliau bilang, seorang Master seperti Anda tidak boleh direpotkan oleh urusan fana yang sepele. Dan... saya juga ingin menyerahkan ini."
Su Ruyi menyodorkan sebuah kartu hitam berlapis emas dengan logo naga timbul—*Black Card* khusus dengan limit tanpa batas dari Konsorsium Su.
Fang Yuan menatap kartu itu sekilas, lalu senyum nakal yang tipis terukir di wajah tampannya. Dia membalikkan badan dan mengambil kartu tersebut, sengaja membiarkan ujung jarinya bersentuhan dengan kulit tangan Su Ruyi yang halus, membuat gadis itu tersentak pelan dengan jantung yang berdegup dua kali lebih cepat.
"Asisten pribadi?" Fang Yuan memasukkan kartu itu ke saku jas desainer hitamnya. "Boleh saja. Tapi ingat satu hal, Su Ruyi. Menjadi orang di sekitarku berarti kamu harus siap menghadapi badai yang jauh lebih besar daripada sekadar urusan tikus-tikus kaya di Jiangnan."
"S-Saya siap, Tuan Muda Fang!" jawab Su Ruyi dengan tegas, matanya berbinar penuh tekad.
"Bagus. Besok pagi, antarkan aku ke Rumah Sakit Pusat Jiangnan. Aku akan membersihkan sisa kutukan di tubuh ibuku secara total," perintah Fang Yuan dingin sebelum melangkah masuk ke dalam mobil Rolls-Royce yang sudah disiapkan untuknya.
### Keesokan Harinya, Kediaman Keluarga Wei
Sementara itu, matahari baru saja terbit, namun atmosfer di dalam kediaman Keluarga Wei bagai berada di dalam ruang pemakaman.
Wei Jingshan, sang kepala keluarga, duduk di meja kerjanya dengan mata yang bengkak karena tidak tidur semalaman. Di hadapannya, bertumpuk-tumpuk berkas pengalihan aset dan saham senilai belasan triliun rupiah yang siap dipindahkan ke bawah nama Tang Xiu—ibu dari Fang Yuan.
Anaknya, Wei Chuan, duduk di kursi roda dengan kedua kaki yang dibalut gips tebal. Wajahnya yang pucat pasi tidak lagi memiliki sisa-sisa kesombongan seorang tuan muda kaya.
"Ayah... apakah kita benar-benar harus menyerahkan setengah kekayaan kita pada bocah itu?" tanya Wei Chuan dengan suara gemetar, masih trauma dengan kilatan mata keemasan Fang Yuan yang meremukkan lututnya dari jarak jauh.
Wei Jingshan menghela napas berat, tangannya yang memegang pena bergetar. "Jika kita tidak menyerahkannya sebelum matahari meninggi, Keluarga Wei akan lenyap dari muka bumi seperti Keluarga Gao. Kekuatan bocah itu... sudah melampaui batas logika manusia biasa. Dia adalah naga sejati yang sedang menyamar di dunia fana."
Tepat ketika Wei Jingshan hendak menandatangani berkas terakhir, pintu ruang kerjanya tiba-tiba terbuka tanpa diketuk.
Seorang pria paruh baya dengan jubah abu-abu tradisional melangkah masuk. Pria itu memiliki janggut panjang, sepasang mata yang sipit namun tajam bagai elang, dan aura napas yang begitu berat hingga membuat suhu ruangan mendadak terasa kering.
"Wei Jingshan, mengapa kamu terlihat begitu menyedihkan?" suara pria berjubah itu terdengar serak namun bergaung kuat.
Melihat kedatangan pria tersebut, mata Wei Jingshan yang tadinya redup seketika melebar penuh harapan. Dia langsung bangkit dari kursinya dan membungkuk dalam-dalam.
"Master Han! Anda... Anda akhirnya kembali dari kultivasi terasing di Gunung Utara?!" seru Wei Jingshan dengan suara bergetar gembira.
Pria itu adalah **Master Han (Hanba)**, seorang Master Seni Bela Diri kuno tingkat *Half-Step Grandmaster* yang selama ini menjadi pelindung rahasia dan kartu as terbesar milik Keluarga Wei dari dunia tersembunyi!
Wei Chuan yang berada di kursi roda juga ikut berteriak dengan mata berbinar penuh dendam yang kembali membara. "Master Han! Tolong balas dendam untukku! Ada seorang bocah berambut biru keputih-putihan bernama Fang Yuan yang telah menghancurkan lututku dan memeras keluarga kami!"
Master Han mendengus dingin, melambaikan lengan jubahnya yang lebar dengan penuh keangkuhan.
"Fang Yuan? Menghancurkan Keluarga Gao dengan trik murahan?" Master Han tersenyum sinis, aura *Internal Qi* yang murni mulai berputar di sekeliling tubuhnya, membuat kertas-kertas di atas meja berterbangan. "Keluarga Gao hanyalah sekumpulan manusia biasa yang lemah. Di hadapan kekuatan bela diri kuno yang sesungguhnya, bocah SMA itu tak lebih dari sekadar harimau kertas. Wei Jingshan, simpan kembali berkas-berkas asetmu! Hari ini, aku sendiri yang akan pergi menemui bocah bernama Fang Yuan itu dan mematahkan seluruh tulangnya!"