Sinopsis: Kutukan Darah Sabtu Kliwon
"Setiap Sabtu Kliwon, tubuhku mengeluarkan bau kematian—dan makhluk itu datang menjemputku."
Sekar gadis biasa, memiliki kutukan turun-temurun. Setiap malam Sabtu Kliwon, tubuhnya mengeluarkan aroma bunga kenanga dan tanah kuburan—panggilan bagi makhluk ular purba bernama Kalingga. Makhluk itu mengklaim Sekar sebagai permaisuri dan tidak akan berhenti sampai ia menyerahkan jiwa dan raganya.
Siapa pun yang mencoba melindungi Sekar akan mati mengenaskan.
Namun Sekar tidak mau menyerah. Dengan bantuan Bintang, seorang praktisi spiritual pemberani, dan Gani, pemuda kota yang nekat mempertaruhkan nyawanya demi cinta, Sekar berjuang melawan kutukan yang membelenggunya. Perlahan, kulit Sekar mulai bersisik, jiwanya digerogoti kegelapan, dan waktu terus berjalan menuju malam penentuan.
Pertarungan terakhir terjadi di Istana Sisik Hitam—tempat semua kutukan berawal. Di sana, Sekar harus memilih antara menjadi manusia atau menjadi ratu ular selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Martince, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Aroma yang Salah
Matahari baru saja tergelincir sepenuhnya di ufuk barat, meninggalkan semburat merah keunguan yang tampak kotor di langit malam. Bagi sebagian besar orang, Jumat malam adalah gerbang menuju akhir pekan yang santai. Namun bagi Sekar, tiga puluh menit setelah azan Magrib berkumandang selalu menjadi waktu di mana atmosfer di sekitarnya mendadak berubah menjadi berat, dingin, dan... asing.
Kalender dinding di kamarnya menunjukkan angka yang dilingkari spidol merah: Jumat Wage. Dan malam ini, begitu jarum jam melewati angka dua belas, hari akan berganti menjadi Sabtu Kliwon.
Sekar duduk di tepi ranjangnya yang bermaterial kayu jati tua. Kamar berukuran empat kali empat meter itu terasa lebih sempit dari biasanya. Udara malam yang berembus dari celah ventilasi di atas jendela mendadak berhenti. Sepi yang datang bukan sepi yang menenangkan, melainkan keheningan yang mengintimidasi—seolah seluruh dunia sedang menahan napas, bersiap menyaksikan sesuatu yang ganjil.
"Kenapa harus malam ini lagi?" bisik Sekar pada kesunyian.
Dia mengangkat pergelangan tangan kirinya mendekat ke hidung. Detik itu juga, dadanya berdenyut agak nyeri. Bau sabun mandi aroma mawar yang dia gunakan satu jam lalu telah menguap tanpa bekas. Digantikan oleh sesuatu yang lain. Sesuatu yang muncul dari dalam pori-pori kulitnya sendiri.
Wangi itu sangat pekat. Harum bunga kenanga yang terlampau matang, hampir membusuk, berbaur dengan aroma tanah yang basah kuyup setelah diguyur hujan deras di area pemakaman tua. Itu bukan wangi parfum modern. Itu adalah aroma yang langsung memicu memori kolektif tentang kematian, kemenyan, dan ruang-ruang gelap yang tak tersentuh cahaya.
Setiap siklus Sabtu Kliwon datang, tubuh Sekar memproduksi aroma ini. Awalnya, beberapa bulan lalu, wangi itu hanya samar-samar. Namun malam ini, aromanya begitu tajam hingga membuat kepala Sekar agak pening. Celakanya, wangi ini tidak bisa disamarkan. Disemprot parfum semahal apa pun, bau kenanga mistis ini akan selalu dominan, seolah kulit Sekar menolak segala hal yang berbau duniawi.
Sekar berdiri, berjalan menuju cermin rias yang diletakkan di sudut kamar. Di bawah pendar lampu kamar yang agak temaram, dia menatap pantulan dirinya sendiri. Sekar adalah gadis berusia dua puluh dua tahun dengan paras yang terhitung manis, tipikal perempuan Jawa dengan rambut hitam legam sepinggang. Namun malam ini, dia merasa ada yang keliru dengan pantulannya.
Matanya tampak sedikit lebih sayu, namun bagian hitamnya—pupilnya—terlihat entah bagaimana seolah lebih pekat dan dalam.
Sret...
Sekar tersentak. Dia menoleh cepat ke arah jendela. Hanya suara daun pohon mangga di luar yang bergesekan karena angin yang mendadak berembus kencang. Sekar mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang mulai bertalu tidak beraturan.
Dia memutuskan untuk keluar kamar, mencari Ibunya. Setidaknya, suara televisi atau riuh rendah aktivitas Ibunya di dapur bisa mengikis rasa tidak nyaman yang terus merayap di tengkuknya.
Ketika Sekar membuka pintu kamar, aroma kenanga itu langsung menyeruak ke koridor rumah yang sepi. Rumah tua peninggalan almarhum ayahnya ini memang berarsitektur agak kuno, dengan langit-langit tinggi dan pilar-pilar kayu yang mulai menghitam dimakan usia.
Di ruang tengah, sang Ibu sedang duduk di atas tikar pandan, jemarinya sibuk memilah-milah sayuran untuk jualan besok pagi. Begitu langkah kaki Sekar mendekat, gerakan tangan Ibunya mendadak berhenti. Wanita paruh baya itu tidak langsung menengadah, melainkan menghirup udara di sekitarnya dengan cuping hidung yang kembang kempis.
"Nduk..." Suara Ibu terdengar parau, ada getaran halus yang ditahan di sana.
"Ya, Bu?" Sekar mengambil posisi duduk di dekat Ibunya.
Ibu menatap Sekar. Sorot matanya tidak memancarkan ketenangan seorang orang tua, melainkan ketakutan yang disembunyikan dengan sangat buruk. Mata Ibu tertuju pada leher dan lengan Sekar.
"Kamu... pakai wewangian apa lagi?" tanya Ibu, suaranya sengaja diredam, seolah takut ada kuping lain yang mendengar di dinding-dinding rumah mereka.
Sekar menggeleng lesu. "Sekar enggak pakai apa-apa, Bu. Seperti biasa. Wangi ini keluar sendiri sejak Magrib tadi."
Tangan Ibu yang memegang seikat kangkung perlahan gemetar. Dia meletakkan sayuran itu begitu saja. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Ibu berdiri, berjalan cepat menuju pintu depan, lalu memeriksa grendel kunci dan memastikan semua jendela rumah sudah terkunci rapat. Tindakan paranoid yang sudah Sekar hapal setiap kali malam Sabtu Kliwon tiba.
"Masuk kamar, Sekar. Jangan keluar lagi sampai besok pagi," perintah Ibu tanpa menatap mata putrinya.
"Tapi, Bu, kenapa tubuh Sekar selalu begini setiap—"
"Jangan banyak tanya!" potong Ibu dengan nada yang mendadak meninggi, tidak menyisakan ruang untuk perdebatan. "Masuk kamar. Kunci pintunya dari dalam. Kalau kamu dengar suara apa pun dari luar rumah, jangan sesekali membuka mata atau menjawabnya. Mengerti?"
Ketegangan di wajah Ibunya membuat Sekar tidak punya pilihan lain. Dia mengangguk pelan, lalu berdiri dan melangkah kembali ke kamarnya. Bau kenanga dari tubuhnya justru terasa makin mengental saat dia berjalan di koridor yang remang-remang.
Begitu masuk ke dalam kamar, Sekar langsung memutar kunci pintu dua kali. Dia menyandarkan punggungnya di daun pintu, memejamkan mata, dan mencoba mengatur napasnya. Keheningan kembali menyergap. Rumah ini mendadak terasa seperti peti mati yang kedap suara.
Jam dinding berdetak. Tik. Tok. Tik. Tok.
Waktu menunjukkan pukul 23.45. Lima belas menit lagi menuju Sabtu Kliwon yang sesungguhnya.
Sekar berjalan perlahan menuju ranjangnya. Dia berniat untuk segera tidur agar malam yang ganjil ini cepat berlalu. Namun, tepat saat kakinya baru saja naik ke atas kasur, suhu di dalam kamar anjlok drastis. Udara menjadi begitu dingin hingga embus napas Sekar membentuk kabut tipis yang samar.
Dan saat itulah, keheningan malam itu pecah oleh sebuah suara yang membuat seluruh bulu kuduk di tubuh Sekar berdiri tegak.
Ssssshhh... ssssssttt...
Suara desisan halus. Sangat dekat. Suara itu tidak berasal dari luar jendela, bukan juga dari balik pintu.
Suara desisan itu merayap tepat dari bawah ranjang tempat tidurnya.
Sekar membeku. Tubuhnya mendadak kaku seolah seluruh sendinya dikunci oleh udara dingin yang kian mencekam. Jantungnya berdentum begitu keras di rongga dada, menciptakan gema yang seakan berpacu dengan detak jam dinding.
Ssssshhh... ssssssttt...
Suara itu terdengar lagi. Gesekan sesuatu yang bersisik pada lantai semen di bawah ranjangnya. Suaranya pelan, ritmis, namun teramat jelas di tengah keheningan malam yang mati. Sesuatu yang berada di bawah sana seolah sedang bergerak melingkar, gelisah, atau mungkin... sedang mengendus aroma tubuh Sekar yang kian pekat memenuhi kamar.
Bau kenanga bercampur tanah basah itu kini terasa begitu menyesakkan dada, seolah mengundang entitas apa pun yang menyukai aroma kematian untuk datang mendekat.
Sekar menarik kedua kakinya ke atas kasur, memeluk lututnya erat-erat. Air mata dingin mulai menggenang di pelupuk matanya. Dia ingin berteriak memanggil Ibunya, namun tenggorokannya mendadak tercekat, kering layaknya padang pasir. Kata-kata Ibu kembali terngiang di kepalanya: “Kalau kamu dengar suara apa pun... jangan sesekali membuka mata atau menjawabnya.”
Namun, rasa ingin tahu manusia terkadang jauh lebih besar daripada rasa takutnya. Paranoia yang menyiksa justru mendorong Sekar untuk memastikan hal mengerikan apa yang sedang mengintai di bawah tempat tidurnya.
Secara perlahan, dengan gerakan seminim mungkin, Sekar bergeser ke tepi ranjang. Dia menundukkan kepala, membiarkan rambut hitamnya yang panjang menjuntai ke bawah. Jantungnya berdegup makin liar saat wajahnya kian dekat dengan celah gelap di bawah dipan kayu tersebut.
Keadaan di bawah sana teramat gelap. Gulita.
Sekar menyalakan senter dari ponselnya yang gemetar di genggaman. Dia mengarahkan seberkas cahaya putih itu ke kolong ranjang.
Kosong.
Tidak ada apa-apa di sana. Hanya lantai berdebu dan beberapa kotak kardus tua yang tersusun rapi. Suara desisan yang tadi mendengung jelas di telinganya mendadak lenyap tanpa bekas, menyisakan kesunyian yang justru terasa jauh lebih mengintimidasi.
Sekar mengembuskan napas panjang yang gemetar, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanyalah halusinasi akibat stres. Namun, saat dia hendak menarik kembali kepalanya ke atas kasur, pandangannya tidak sengaja menangkap sesuatu di sudut kamar, tepat di dekat lemari pakaian kayunya yang usang.
Ada sesuatu yang tergeletak di atas lantai yang dingin.
Sebuah objek kecil, hitam, dan memanjang.
Rasa penasaran kembali mencengkeramnya. Sekar turun dari ranjang dengan kaki telanjang. Begitu telapak kakinya menyentuh lantai, rasa dingin yang tidak wajar langsung menjalar hingga ke sumsum tulang, membuat tubuhnya menggigil hebat. Dia berjalan mengendap-endap, mengarahkan cahaya senter ponselnya ke arah objek tersebut.
Napas Sekar tercekat di tenggorokan.
Itu adalah seekor ular kecil. Panjangnya tidak lebih dari tiga puluh sentimeter, dengan sisik berwarna hitam legam yang tampak mengilat aneh di bawah terpaan cahaya senter, seolah dilapisi oleh minyak atau lendir yang tipis.
Ular itu mati. Tubuhnya kaku, melingkar membentuk pola yang ganjil mirip simbol kuno. Namun, ada dua hal yang membuat darah Sekar mendadak berdesir dingin hingga dia hampir menjatuhkan ponselnya.
Pertama, ular itu sama sekali tidak memiliki luka fisik. Tidak ada darah, tidak ada bekas hantaman benda tumpul, dan tidak ada tanda-tanda pembusukan. Ia tampak mati begitu saja, seolah nyawanya dicabut secara paksa dalam satu detik.
Kedua—dan ini yang paling mengerikan—kelopak mata ular itu terbuka. Sepasang matanya tidak berwarna hitam atau abu-abu layaknya reptil mati pada umumnya. Sepasang mata kecil itu berwarna merah darah yang menyala, pekat, dan seolah menatap lurus ke arah manik mata Sekar dengan tatapan yang penuh dengan kecerdasan... dan kedengkian.
Klek.
Bersamaan dengan itu, jarum jam dinding kamarnya tepat berdenting satu kali. Pukul 00.00. Hari telah resmi berganti menjadi Sabtu Kliwon.
Mendadak, hawa dingin di dalam kamar lenyap, digantikan oleh gelombang hawa hangat yang aneh, yang entah bagaimana terasa datang dari arah punggungnya. Bau bunga kenanga pembusukan yang tadi menguar dari tubuh Sekar mendadak mengendap, berubah menjadi wangi yang jauh lebih magis, lebih manis, dan... memikat.
Sekar mundur selangkah, matanya masih terpaku pada bangkai ular bermata merah itu. Pertanyaan-pertanyaan mengerikan mulai berputar gila di kepalanya. Dari mana ular ini masuk sedangkan seluruh celah rumah sudah dikunci rapat oleh Ibunya? Mengapa ia mati tepat di dalam kamarnya tanpa luka? Dan yang paling membuat bulu kuduknya meremang... apakah ular ini mati karena tidak kuat menahan aroma tubuhnya sendiri, ataukah ular ini hanyalah sebuah 'pesan' pembuka dari sesuatu yang jauh lebih besar dan mengerikan di luar sana?
Tiba-tiba, lampu kamar Sekar berkedip beberapa kali sebelum akhirnya padam total, menyisakan kegelapan pekat yang menelan segalanya. Di dalam kegelapan itu, Sekar bersumpah, dia sempat mendengar suara bisikan halus yang teramat dingin berembus tepat di daun telinga kanannya.
"Sabtu Kliwon-ku..."
Sekar menjerit pelan, menutup kedua telinganya, dan langsung melompat ke atas ranjang, menyembunyikan seluruh tubuhnya di balik selimut tebal sembari menangis dalam kegelapan. Di luar, angin malam Sabtu Kliwon mulai melolong panjang, seolah menyambut awal dari sebuah teror yang baru saja dimulai.