Demi menyelamatkan ayahnya dari lilitan utang, Arunika Maheswari terpaksa menggantikan kakaknya menikah dengan Arsen Valentino, seorang CEO sekaligus Raja Mafia paling berkuasa. Pernikahan yang berawal dari keterpaksaan itu membawa Arunika masuk ke dunia penuh rahasia, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan yang mengancam nyawanya setiap saat.
Di tengah bahaya yang terus mengintai, hubungan mereka perlahan berubah menjadi cinta yang tak terduga. Namun, mampukah Arunika bertahan sebagai istri sang Raja Mafia, atau justru menjadi kelemahan terbesar yang akan menghancurkan Arsen?
Disclaimer : Novel ini dibuat semata-mata untuk hiburan. Seluruh isi cerita merupakan imajinasi penulis dan tidak untuk ditiru atau dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala bentuk penyalahgunaan isi novel di luar tujuan sebagai bacaan hiburan.
Terima kasih dan selamat menikmati cerita. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahrul Mulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Koper Perak dan Altar Pemurnian
Kepulan asap hitam akibat hantaman peluru kendali berdaya ledak rendah meliuk-liuk seperti ular raksasa di dalam lobi Bank Internasional Zurich yang hancur berantakan. Serpihan kaca akrilik dan debu marmer turun perlahan bersama gerimis malam yang menyusup bebas melalui dinding gedung yang kini menganga lebar. Di tengah kekacauan itu, keheningan baru yang mencekam mendadak merayap kaku.
Arsen Valentino bangkit dari reruntuhan tiang penyangga, mantel wol hitam panjangnya telah robek di bagian bahu, menyingkap otot-otot tegapnya yang kini dihiasi luka gores baru yang segar. Di sampingnya, Arunika palsu bersandar pada pilar granit, kedua tangannya mencengkeram belati kecil beracun dengan tatapan yang sepenuhnya hampa—sebuah ketenangan murni yang lahir dari jiwa yang telah berkali-kali dihancurkan oleh kepalsuan takdir.
Di seberang lobi, Arunika yang asli terkapar di dekat pecahan meja resepsionis, pakaian taktis serba hitamnya tercoreng abu ledakan. Dan tepat di ambang kehancuran itu, langkah kaki Haryo Valentino terdengar konstan, menginjak pecahan kaca dengan ketukan sepatu bot kulit yang berat dan penuh wibawa. Pria tua itu berjalan menembus kabut hujan seolah-olah badai di sekelilingnya hanyalah pelayan yang membuka jalan.
"Dua puluh dua tahun..." Haryo Valentino membuka suara, nadanya berat, berwibawa, dan tidak menyisakan ruang bagi riak emosi kekeluargaan. Sepasang mata elangnya yang sangat identik dengan Arsen menyapu ruangan, lalu berhenti tepat di tengah, tempat koper perak kecil di tangan kirinya berkilau tertimpa cahaya lampu darurat bank.
> "Kalian telah berdansa dengan sangat indah di atas skenario yang kukirim dari Indonesia, Paris, hingga Saint Petersburg. Arsen, anakku yang penuh perhitungan bisnis... dan kalian berdua, pecahan cermin dari proyek Eclipse yang tidak pernah tahu di mana letak wadah yang sesungguhnya."
>
Arsen Valentino melangkah setapak ke depan, menempatkan tubuh tegapnya sedikit di depan Arunika palsu—sebuah gestur protektif taktis yang murni didasarkan pada kepemilikan aset, bukan belas kasihan. "Ayah... protokol nuklir mini tadi hanyalah umpan digital untuk memancing kami melumpuhkan sistem pertahanan Swiss, bukan? Kau tidak pernah berniat menghancurkan brankas ini. Kau hanya butuh kami berada di satu titik koordinat tanpa perlindungan aliansi barat."
Haryo Valentino menyunggingkan sebuah senyuman tipis—senyuman seorang predator tertinggi yang melihat mangisnya akhirnya memahami jebakan yang dipasang. Pria tua itu meletakkan koper perak kecilnya di atas sisa meja marmer yang masih berdiri kokoh di tengah lobi.
"Brankas di bawah tanah ini tidak berisi batangan emas atau daftar aliansi mafia kuno, Arsen," ucap Haryo, jemarinya yang kokoh menekan tombol sensor pemindaian sidik jari pada permukaan koper perak tersebut. "Benda-benda itu hanyalah mainan kertas untuk menghibur Boris Volkov dan Valeria palsu di bawah sana. Isi yang sesungguhnya dari dinasti Valentino... ada di dalam koper ini."
Blippp.
### Rahasia di Balik Bilik Vakum
Koper perak itu terbuka dengan desis hidrolik yang halus, memancarkan semburan uap nitrogen dingin yang langsung menyebar di udara lobi yang lembap. Di dalam bilik vakum koper tersebut, tiga buah tabung kaca berbentuk silinder memancarkan pendar cahaya amber yang berpendar konstan. Di dalam setiap tabung, terdapat untaian cairan sel progenitor organik yang bergerak lambat, berputar seperti galaksi mikro yang menampung kode kehidupan baru.
Letupan emosi pembaca dipastikan akan naik turun ke titik terdalam di bagian ini. Arunika palsu menatap cairan amber tersebut, dan sebuah sensasi rasa jijik yang luar biasa mendalam kembali membakar batinnya. Dia melihat ke arah Arunika asli, lalu kembali ke arah koper. Rantai kebohongan ini ternyata tidak hanya memiliki dua atau tiga lapisan; Haryo Valentino telah melangkah jauh ke dalam wilayah terlarang yang melampaui seluruh etika dunia hitam internasional.
"Katarina Vane mengira dia menyelamatkan anak kandungnya dengan membuat sandiwara penukaran bayi bersama Boris Volkov," Haryo Valentino melangkah mendekati koper, menatap cairan amber itu dengan pandangan mata yang sarat akan obsesi murni yang mengerikan. "Boris mengira dia sedang mengkloning takhta Volkov melalui rahim Valeria di Paris. Mereka semua bodoh. Cairan di dalam tabung ini... adalah kode genetik murni dari gen Eclipse Omega yang kuambil dari rahim ibumu, Arsen... sesaat sebelum Katarina Vane menarik pelatuk senjatanya sepuluh tahun lalu."
Arsen Valentino tertegun, sepasang mata elangnya melebar dengan kilatan amarah yang luar biasa pekat hingga membuat atmosfer di sekelilingnya seolah membeku. "Kau... kau membiarkan ibuku mati malam itu hanya untuk mengambil sampel genetiknya?"
"Kematian adalah sebuah keniscayaan dalam bisnis, Arsen," sahut Haryo, nadanya begitu datar, kaku, dan tanpa penyesalan sedikit pun. "Ibumu memiliki kelainan genetik langka yang sanggup melumpuhkan seluruh sistem kekebalan tubuh sel kanker dan meregenerasi jaringan saraf mati dalam hitungan jam. Itu bukan sekadar obat; itu adalah kunci keabadian yang dicari oleh seluruh oligarki militer Rusia dan faksi barat. Proyek Eclipse dirancang untuk melahirkan satu wadah murni yang sanggup menampung kultur sel ini tanpa memicu mutasi organ yang mematikan."
Pria tua itu kemudian membalikkan tubuhnya, mengarahkan telunjuknya yang dingin tepat ke arah wajah Arunika palsu dan Arunika asli secara bergantian.
> "Arunika asli adalah wadah pertama yang diciptakan di fasilitas bawah air. Dia memiliki ketahanan fisik militer, namun sistem sarafnya menolak kultur sel Eclipse Omega ini karena jiwanya terlalu dominan. Dan kau... Arunika palsu... salinan tanpa nomor seri yang kubuang ke desa bersama Baskoro... ketakutan, penderitaan, dan air mata yang kau rasakan selama dua puluh dua tahun ini ternyata berhasil menekan dominasi jiwamu, menciptakan ruang hampa di dalam sel tubuhmu yang kini... menjadi satu-satunya tempat paling sempurna untuk menerima pemurnian genetik ini."
Mendengar pengakuan biadab tersebut, emosi pembaca kembali diaduk-aduk hingga ke titik yang paling hancur. Arunika palsu menyadari satu kenyataan yang jauh lebih mengerikan dari sekadar menjadi tameng hidup: seluruh penderitaannya, rasa bersalah atas utang judi Baskoro, hingga ketakutannya di bawah siksaan Arsen... semuanya adalah bagian dari pengkondisian psikologis yang sengaja dirancang oleh ayah kandungnya untuk melemahkan sistem pertahanan sel tubuhnya agar siap menjadi wadah eksperimen keabadian!
"Kau mengkondisikan seluruh hidupku... hanya untuk ini?" bisik Arunika palsu, suaranya kini tidak lagi bergetar oleh ketakutan, melainkan bergetar oleh sejenis kegilaan dingin yang baru. Dia melangkah maju menembus genangan air gerimis, belati beracun di tangan kirinya terangkat setinggi dada, matanya memancarkan sinar kehampaan seorang malaikat maut yang siap membakar seluruh penciptanya.
"Jangan bergerak, Salinan," sebuah desis dingin menyela dari arah samping.
Arunika asli telah bangkit berdiri, sebuah pistol taktis berperedam suara di tangan kanannya kini terkunci tepat ke arah pelipis Arunika palsu. Wajahnya yang identik tampak dipenuhi oleh hasrat defensif yang luar biasa hebat. "Pencipta kita telah menentukan pilihan. Wadah yang cacat harus diserahkan untuk proses pemurnian, dan aku... aku tidak akan membiarkan sebuah replika jalanan mengambil alih posisi sahku di dalam dinasti ini!"
### Fragmentasi Altar Zurich
Baku tembak massal babak baru tidak lagi pecah di antara pasukan Rusia atau aliansi barat, melainkan sebuah lingkaran maut segi empat di tengah lobi Bank Zurich yang hancur. Arsen Valentino bergerak secepat kilat, senapan serbunya terkunci ke arah dada Haryo Valentino, sementara Marco yang baru saja muncul dari pintu lift darurat mengarahkan senjatanya ke arah Arunika asli.
"Haryo... permainan dinastimu selesai malam ini," ucap Arsen, suaranya merendah hingga ke frekuensi paling mematikan. Pria itu tidak peduli pada kunci keabadian di dalam koper, dia tidak peduli pada proyek Eclipse; yang dia peduli adalah fakta bahwa ayahnya telah memperlakukannya sebagai pion bodoh selama dua belas tahun kehidupannya yang penuh darah. "Kau telah mati dua belas tahun lalu bagi faksi Valentino. Dan aku tidak akan membiarkan sesosok jasad dari masa lalu kembali memegang kendali atas kerajaanku."
Haryo Valentino tidak memperlihatkan ketakutan di depan moncong senjata anaknya sendiri. Pria tua itu justru menekan sebuah tombol sekunder di pergelangan tangan kanannya yang terhubung dengan sistem helikopter militer di luar bangunan.
"Kau sangat mirip denganku, Arsen," ucap Haryo perlahan. "Kau selalu melihat segalanya sebagai aset. Tapi kau melupakan satu hal... seorang pencipta selalu memiliki tombol penghancur darurat untuk ciptaannya yang membangkang."
Biiip!
Sebuah gelombang sonar berfrekuensi sangat tinggi mendadak memancar dari koper perak di atas meja marmer, memicu rasa sakit yang luar biasa menyengat di dalam kepala Arsen, Arunika palsu, dan Arunika asli secara bersamaan. Gelombang mikro itu menyerang sistem saraf pusat mereka yang memiliki kesamaan kode DNA Valentino, memaksa ketiga orang muda itu jatuh berlutut di atas lantai marmer sambil memegangi kepala mereka yang terasa seperti mau pecah.
"Ahhh!" Arunika palsu memekik tertahan, belati di tangannya terlepas, jatuh berdenting di atas pecahan kaca. Pandangannya mulai kabur berbayang kelabu, dan sisa-sisa energinya seolah-olah diperas habis oleh denyut frekuensi tinggi tersebut.
Di dalam kegelapan rasa sakit yang mencekam itu, Arunika asli yang memiliki ketahanan militer lebih tinggi memanfaatkan momen untuk merangkak menuju ke arah koper perak. Dengan tangan bergetar, dia meraih salah satu tabung silinder berisi cairan amber kultur sel Eclipse Omega, berniat menyuntikkannya secara paksa ke dalam pembuluh darah lehernya sendiri untuk membuktikan bahwa dia adalah wadah yang paling sah.
"Hentikan, Arunika!" teriak Marco yang mencoba menarik pelatuk senjatanya, namun gempuran gelombang sonar juga mulai memengaruhi keseimbangan tubuhnya hingga tembakannya meleset menghantam pilar langit-langit.
Namun, sebelum jemari Arunika asli sempat menyentuh silinder kaca tersebut, Haryo Valentino bergerak lebih cepat. Dengan satu hentakan kaki yang brutal, dia menginjak pergelangan tangan Arunika asli hingga terdengar bunyi patahan tulang yang kaku, membuat wanita itu berteriak histeris menahan sakit.
Haryo mengambil tabung cairan amber tersebut, lalu berjalan perlahan mendekati Arunika palsu yang masih terkapar lemas di atas lantai marmer yang basah oleh hujan gerimis. Pria tua itu membungkuk, mencengkeram rahang Arunika palsu dengan cengkeraman besinya yang dingin, mengarahkan jarum suntik otomatis yang terpasang di ujung silinder maut tepat ke arah pembuluh darah karotis di leher kirinya.
> "Saatnya pemurnian, putri kecilku yang malang... Sambutlah keabadian yang akan menyatukan seluruh darah Valentino di dalam jiwamu."
>
Arunika palsu menatap mata ayahnya dari jarak beberapa sentimeter. Di dalam sisa kesadarannya yang kian menipis, kekosongan emosionalnya kini telah sepenuhnya berganti menjadi sejenis mati rasa yang luar biasa kejam. Jika dia harus dirusak oleh cairan eksperimen ini, maka dia akan memastikan bahwa seluruh racun di dalam tubuhnya ikut mengalir masuk ke dalam silsilah darah penciptanya.
Dengan sisa tenaga terakhir yang dia miliki di jemari tangan kanannya, Arunika palsu tidak mencoba menahan tangan Haryo. Dia justru bergerak secepat kilat merogoh alat pemotong sirkuit elektromagnetik (EMP jammer) berbentuk pulpen perak milik Arsen yang tadi jatuh di dekat kakinya, lalu menghujamkan ujung jarum magnetik alat tersebut tepat ke arah dada kiri Haryo Valentino—ke arah alat pacu jantung elektronik buatan yang tertanam di balik jubah laboratorium putihnya.
Bzzzt!!!
Sebuah gelombang kejut listrik skala mikro meletus pendek dari pulpen perak tersebut, memicu korsleting total pada sistem pendukung kehidupan elektronik Haryo Valentino. Pria tua itu terbelalak, napasnya seketika tercekat di tenggorokan saat jantung buatannya berhenti berdetak secara kaku. Tubuh tegap sang arsitek agung itu terhuyung mundur, melepaskan cengkeramannya dari rahang Arunika palsu, sebelum akhirnya tumbang bersimbah darah dari sela bibirnya, tewas seketika di atas tumpukan dokumen aliansi yang hancur.
Gelombang sonar berfrekuensi tinggi dari koper perak seketika mati total seiring dengan berhentinya detak jantung Haryo yang menjadi pemancar utamanya.
Arsen Valentino bangkit berdiri dengan napas yang memburu, menyeka darah segar dari hidungnya akibat dampak tekanan sonar tadi. Sepasang mata elangnya menatap mayat ayahnya yang kini terbujur kaku di lantai, lalu beralih menatap Arunika palsu yang masih terduduk lemas dengan pulpen perak di tangannya—sebuah tatapan sarat akan intrik politik dan rasa ngeri yang kian mengkristal di dalam batin sang raja mafia baru. Ciptannya yang paling lemah ternyata baru saja mengeksekusi sang pencipta tertinggi dengan cara yang paling efisien.
Namun, tepat di saat Arsen melangkah maju untuk mengamankan koper perak berisi sisa cairan Eclipse Omega tersebut, pintu lift hidrolik darurat di belakang mereka kembali terbuka dengan bunyi denting halus yang memecah kesunyian lobi bank.
Sesosok wanita dengan pakaian gaun malam sutra putih yang compang-camping dan dipenuhi noda darah segar melangkah keluar dari dalam lift dengan langkah yang sangat kaku—Valeria Baskoro yang asli. Di tangan kanannya, dia tidak memegang senjata api atau belati, melainkan sebuah gawai monitor medis portabel yang menampilkan grafik detak jantung janin di dalam rahimnya yang kini berkedip-kedip dengan warna biru keunguan yang tidak wajar.
Wajah cantik Valeria tampak dipenuhi oleh kegilaan psikologis yang telah mencapai batas tertingginya, sepasang matanya menatap lurus ke arah Arsen dan kedua Arunika dengan seulas senyuman manipulatif yang paling mengerikan yang pernah mereka lihat malam ini.
"Kalian terlambat membunuh Haryo, Arsen..." ucap Valeria Baskoro, suaranya terdengar begitu merdu namun parau berbaur dengan suara rintik hujan gerimis Zurich. "Sistem laboratorium pangkalan utara telah mendeteksi kematian biometrik penciptanya... dan dalam waktu tiga puluh detik dari sekarang, janin di dalam rahimku ini... akan melepaskan kultur virus mutasi Eclipse tahap akhir ke seluruh saluran udara kota ini jika kalian tidak menyerahkan koper perak itu kepadaku."
_____________________________
**Bersambung ke Bab 26...**
* Apakah janin di dalam rahim Valeria Baskoro sebenarnya adalah sebuah bom biologis tahap akhir yang sengaja dirancang oleh Haryo Valentino sebagai skenario pembersihan cadangan jika dirinya tewas?
* Pilihan ekstrem macam apa yang akan diambil oleh Arsen Valentino saat menyadari bahwa sisa waktu kota Zurich kini berada di tangan detak jantung seorang bayi klonasi yang cacat?
* Dan rahasia berdarah apa lagi yang akan terungkap saat Arunika palsu memutuskan untuk menggunakan cairan kultur sel di tangannya untuk mengakhiri seluruh rantai konspirasi dunia bawah tanah ini?
Jangan lewatkan badai intrik dan letupan konflik luar biasa yang kian memuncak di bab berikutnya!