NovelToon NovelToon
Korban Dua Cinta

Korban Dua Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Teen / Cintapertama
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Alya yang baru tamat SMA harus menerima takdir perjodohan kakak kandungnya yang mengakibatkan Alya harus mengubur mimpi dan menerima perlakuan kasar dari Suaminya sendiri yang merupakan Pacar kakak kandungnya.
Namun takdir membawa Alya bertemu dengan Trainer Aerobik yang memiliki kepedulian melebihi kakak kandungnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam yang Hening

Malam tiba dengan langit yang gelap tanpa bulan. Awan tebal menutupi seluruh cakrawala, seolah alam sedang bersedih dan tidak ingin ada yang melihatnya. Rumah besar itu tenggelam dalam keheningan yang pekat, hanya sesekali terputus oleh suara sendok menyentuh piring atau desahan angin yang masuk melalui celah-celah jendela.

Alya duduk di kursi makan yang biasa ia tempati. Di depannya, nasi hangat dengan lauk lengkap—ikan bakar, sayur asem, tempe goreng, dan sambal terasi. Masakan favorit Reza, yang hari ini sengaja dimasak Aminah dengan ekstra hati-hati. Tapi tidak ada yang menyentuh makanan dengan lahap.

Reza duduk di seberangnya, kursi kepala meja yang biasa ia tempati. ia mengenakan kaos lengan panjang santai, lengan digulung sedikit hingga siku. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kali ini sedikit berantakan, beberapa helai jatuh ke dahi. Matanya tidak pernah beralih dari layar ponsel yang ia pegang dengan kedua tangan.

Alya menunduk, matanya tertuju pada piringnya. Sendoknya bergerak pelan, mengambil nasi sedikit demi sedikit, tapi tidak ada yang masuk ke mulut. Ia hanya memindahkan makanan dari satu sisi piring ke sisi lain, menciptakan pola-pola tanpa makna.

Keheningan begitu terasa. Bukan keheningan yang nyaman, seperti saat dua orang yang saling mengerti bisa diam bersama tanpa rasa canggung. Tapi keheningan yang membekukan. Keheningan dua orang asing yang terpaksa duduk bersama karena selembar kertas nikah.

Alya melirik ke arah Reza. Pria itu tersenyum—senyum kecil yang tidak ia tunjukkan pada Alya. Jempolnya bergerak cepat di layar ponsel, mengetik sesuatu, lalu berhenti. Senyumnya melebar. Lalu ia tertawa. Tertawa kecil, pelan, seperti sedang menikmati obrolan dengan seseorang yang sangat ia sukai.

Alya tahu siapa itu. Tidak perlu ditanya. Tidak perlu diragukan. Gita. Kakaknya. Wanita yang membuat Reza tersenyum seperti itu. Wanita yang membuatnya tertawa di tengah malam yang sunyi, di meja makan bersama istrinya.

Alya menelan ludah. Ada sesuatu di dadanya yang terasa perih. Bukan cemburu—ia sudah tidak punya hak untuk cemburu pada pria yang tidak pernah menjadi miliknya. Tapi ada rasa sakit karena menjadi tidak terlihat. Karena menjadi hampa. Karena duduk di depan suaminya sendiri, tapi matanya tidak pernah melihatnya.

Ia ingin memecah kebekuan. Ia ingin mengatakan sesuatu, apa pun, agar ia tidak merasa seperti patung yang hanya menjadi pajangan di ruangan ini.

"Mas," suara Alya keluar lirih, nyaris tak terdengar.

Reza tidak menjawab. Matanya masih tertuju pada ponsel.

"Mas," panggil Alya lagi, sedikit lebih keras.

Reza mengangkat muka. Matanya menatap Alya sekilas, lalu kembali ke ponsel. "Hm?"

Alya menggigit bibir bawahnya. Jari-jarinya yang memegang sendok mulai gemetar. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian yang entah dari mana ia dapatkan.

"Mas, aku... aku ingin tanya sesuatu."

"Tanya apa?" Reza masih tidak menatapnya.

Alya menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya. Matanya menatap Reza, meskipun pria itu tidak membalas tatapannya.

"Aku... bagaimana kalau aku kuliah, Mas?"

Keheningan.

Reza berhenti mengetik. Jempolnya menggantung di atas layar ponsel. Perlahan, ia mengangkat wajahnya dan menatap Alya. Tatapan yang tajam, seperti sedang menilai, mengukur, menghitung.

"Kuliah?" ulangnya, nada suaranya datar.

Alya mengangguk cepat. "Iya, Mas. Aku ingin kuliah. Aku sudah cari-cari informasi, ada kampus swasta yang programnya—"

"Tidak perlu."

Potongan itu datang cepat, tanpa jeda, tanpa pertimbangan. Seperti sudah menjadi keputusan final yang tidak perlu didiskusikan.

Alya terdiam. Mulutnya masih setengah terbuka, kata-kata yang ia siapkan sejak tadi terhenti di tenggorokan.

"Tapi, Mas—"

"Uang saku kamu kurang?" potong Reza, masih dengan nada datar yang sama. "Kurang besar? Mau aku tambah?"

Alya menggeleng. "Bukan soal uang, Mas. Aku hanya ingin—"

"Mau apa? Mau keluar rumah? Mau ketemu orang?" Reza meletakkan ponselnya di meja. Matanya menatap Alya dengan tajam. "Aku sudah bilang hari ini. Tugas kamu di rumah. Bukan di kampus."

Alya menunduk. Tangannya yang memegang sendok kini bergetar lebih hebat. Ia ingin mengatakan sesuatu. Ia ingin mengatakan bahwa kuliah adalah mimpinya sejak kecil.

Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak bisa selamanya diam di rumah seperti burung dalam sangkar. Ia ingin mengatakan bahwa ia juga punya hak atas masa depannya sendiri.

Tapi kata-kata itu tidak keluar. Mereka tertahan di tenggorokan, terperangkap oleh ketakutan yang sudah terlalu lama bersemayam di hatinya.

"Kuliah itu buat apa?" Reza melanjutkan, suaranya mulai meninggi sedikit. "Kamu sudah punya suami. Sudah punya rumah. Sudah punya uang. Apa kurang?"

Alya tidak menjawab.

"Kalau kurang, bilang. Aku tambah. Tapi kuliah? Tidak perlu." Reza mengambil ponselnya lagi, matanya kembali ke layar. "Pokoknya sudah. Jangan bahas lagi."

Alya hanya bisa diam. Ia menatap piring di depannya, nasi yang sudah dingin, lauk yang tidak tersentuh. Seluruh tubuhnya terasa kaku, seperti ada yang membekukan darah di pembuluhnya.

Ia mencoba lagi. Bukan tentang kuliah. Tentang hal lain. Tentang apa pun. Hanya untuk memecah kebekuan, untuk membuktikan bahwa ia masih ada, bahwa ia masih manusia yang bisa berbicara dengan suaminya.

"Mas, tadi katanya meeting di luar kota. Lancar?"

Reza tidak mengangkat muka. "Lancar."

Hanya satu kata. Tidak ada penjelasan. Tidak ada cerita. Tidak ada usaha untuk menjadikan ini percakapan dua arah.

Alya menunggu. Mungkin Reza akan melanjutkan. Mungkin ia akan bercerita sedikit tentang kliennya, tentang perjalanannya, tentang apa pun. Tapi tidak ada. Reza hanya duduk diam dengan ponselnya, sesekali tersenyum pada layar yang Alya tidak bisa lihat.

Lima menit berlalu. Sepuluh menit.

Akhirnya Reza berdiri. Ia mengambil ponselnya, memasukkan ke saku celana, dan tanpa berkata apa pun, ia meninggalkan meja makan. Langkah kakinya terdengar menaiki tangga, perlahan menjauh, hingga akhirnya lenyap di balik pintu kamar.

Alya duduk sendirian di meja panjang yang terlalu besar untuk satu orang.

Piring-piring di depannya masih penuh. Nasi sudah dingin, ikan bakarnya sudah tidak mengepul, sayurnya sudah berkerut. Ia tidak menyentuh satu pun sejak tadi.

Mata Alya terasa panas. Tapi ia tidak menangis. Ia sudah terlalu lelah menangis. Ia hanya duduk diam, menatap kosong ke arah kursi yang baru saja ditinggalkan Reza. Kursi itu kosong. Seperti pernikahan ini. Kosong. Tanpa makna. Tanpa hangat.

---

Aminah, Ningsih, dan Wati—mulai berbenah. Mereka mendekati meja dengan gerakan hati-hati, seperti tidak ingin mengganggu Alya yang masih duduk termenung. Piring-piring diangkat satu per satu, makanan yang hampir tidak tersentuh dibawa ke dapur.

Aminah melirik Alya berkali-kali. Ada sesuatu di matanya. Rasa bersalah? Kasihan? Alya tidak tahu. Tapi ia tahu Aminah ingin mengatakan sesuatu.

Ketika Ningsih dan Wati masuk ke dapur untuk mencuci piring, Aminah mendekati Alya. Wanita paruh baya itu berdiri di samping kursi Alya, tangannya terlipat di depan perut, wajahnya tampak gelisah.

"Mbak," panggil Aminah lirih.

Alya menoleh. "Ya, Bu?"

Aminah menunduk sebentar, lalu menatap Alya dengan mata yang berkaca-kaca.

"Aminah... Aminah tidak pernah ngomong apa-apa sama Bapak soal Mbak keluar. Aminah tidak pernah lapor."

Alya menatap Aminah lama. Di mata wanita tua itu, ia melihat ketulusan. Ia melihat ketakutan yang sama yang ia rasakan—takut pada pria yang sama, pada rumah yang sama, pada kekuatan yang sama.

Alya tersenyum tipis. Senyum yang tidak lagi polos seperti dulu, tapi juga tidak pahit seperti beberapa hari lalu. Senyum yang lahir dari pemahaman bahwa di rumah ini, mereka semua sama. Sama-sama terjebak. Sama-sama takut. Sama-sama tidak punya kuasa.

"Aku tahu, Bu," jawab Alya pelan. "Aku tidak pernah menyangka Ibu yang lapor."

Aminah menghela napas lega. Air matanya hampir jatuh, tapi ia cepat-cepat menyekanya dengan ujung serbet yang ia bawa. "Terima kasih, Mbak. Aminah... Aminah hanya tidak tega lihat Mbak."

Alya mengangguk. "Aku juga tidak tega lihat Ibu. Dan Ningsih. Dan Wati. Kita semua sama di sini."

Aminah menatap Alya dengan tatapan baru. Ada kekaguman di matanya. Gadis yang dulu ia lihat polos dan rapuh itu kini berbicara dengan ketenangan yang tidak biasa untuk usianya. Seperti orang yang sudah melihat terlalu banyak luka hingga tidak lagi takut pada luka baru.

"Mbak mau makan? Nanti Aminah panasin lagi," tawar Aminah.

Alya menggeleng. "Nggak usah, Bu. Aku tidak lapar. Aku mau nonton TV sebentar."

Ia bangkit dari kursi, berjalan menuju ruang keluarga. Sofa besar berwarna abu-abu muda itu mengundangnya untuk merebahkan diri. Alya mengambil remote, menyalakan televisi, lalu membiarkan tubuhnya jatuh ke sofa.

Suara televisi mengisi keheningan ruangan. Acara komedi yang biasanya membuatnya tertawa kini hanya menjadi suara latar tanpa makna. Alya membiarkan matanya terpejam, tidak benar-benar menonton, hanya membiarkan suara-suara itu mengalir di telinganya tanpa masuk ke pikiran.

Lambat laun, rasa lelah menguasai tubuhnya. Matanya terasa berat. Pikirannya mulai kabur. Dan tanpa sadar, Alya tertidur di sofa, tubuhnya meringkuk seperti anak kecil yang mencari kehangatan di tempat yang tidak pernah hangat.

---

Di kamar lantai atas, Reza duduk di kursi dekat jendela. Ponselnya ia pegang dengan kedua tangan, layar menampilkan wajah Gita yang tersenyum manis. Video call. Pakaian Gita malam ini—seperti sengaja—sedikit terbuka di bagian bahu, memperlihatkan kulit putihnya yang mulus. Rambutnya yang panjang tergerai, membingkai wajahnya yang cantik dengan riasan tipis tapi menggoda.

"Kamu sudah makan?" tanya Gita dengan suara lembut yang dibuat-buat.

"Sudah," jawab Reza, matanya tidak bisa lepas dari layar.

"Makan apa?"

"Nasi. Lauk ikan bakar."

"Enak?" Gita tersenyum, jarinya menyentuh bibirnya sendiri, gerakan yang ia tahu akan membuat Reza semakin gelisah.

"Enak."

"Dimasak siapa?"

"ART."

Gita terkekeh pelan. "Kasihan kamu. Makan malam sama ART, bukan sama istri."

Reza tidak menjawab. Ada sesuatu di dadanya yang terasa tidak nyaman. Tapi Gita dengan cepat mengalihkan pembicaraan ke hal-hal yang lebih membuatnya lupa.

"Reza, kamu kangen aku?" tanya Gita, suaranya semakin lembut.

Reza mengangguk. "Iya."

"Buktikan donk."

1
falea sezi
kpn cerai
falea sezi
cpet buat cerai thor najis amat ampe Gita berbagi batangan reza😒
falea sezi
alya goblok🤣mending cerai sekarang lah bloon amat lu di jadiin serep cerai pergi jauh bego
Nihayatuz Zain
🦾
La Rue
ehm mencari celah dari Reza malah ketemu Diana. Tapi ini asumsiku saja, semoga saja tidak seperti apa yang terganbar diotakku 🤔🤭
Halwah 4g
wahhhhh...🤣🤣🤣 kecolongan q
Bp. Juenk: selamat menikmati kk
total 1 replies
M. T🌻
keren banget thor.
jangan lupa mampir yaa🤭
Bp. Juenk: siap. terimakasih
total 1 replies
Key Kastara
😍🔥✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!