NovelToon NovelToon
TERBAWA ARUS TAKDIR BERSAMA SUAMI MAFIAKU

TERBAWA ARUS TAKDIR BERSAMA SUAMI MAFIAKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Mafia / Mengubah Takdir / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa / Dark Romance
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: PUTRI

Zara — gadis sederhana, polos, dan hidup dalam keterbatasan, namun tetap memancarkan keanggunan yang tak dimiliki siapa pun. Dipermainkan takdir, ia dipersatukan dengan Adrian Romanov, pria dingin, berkuasa, dan menjadi sumber segala penderitaannya. Dituduh, disakiti, dan dikucilkan, Zara harus menelan semua kepahitan sendirian. Namun ketika sebutir nyawa tumbuh di dalam rahimnya, semangatnya bangkit kembali. Demi bayi yang dikandungnya, ia berjanji akan bertahan, melewati badai, dan membuktikan bahwa ketabahan akan mengalahkan segala kepalsuan. Akankah takdir berubah, atau justru luka yang semakin dalam menantinya?



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Izin Berkunjung, Kertu Emas Dan Rahasia Masa Lalu

Di lantai paling atas gedung pencakar langit tertinggi di tengah kota, ruang kerja Adrian terasa begitu luas dan sunyi. Bergaya klasik yang sederhana tapi mewah, dindingnya dipenuhi rak buku hitam mengkilap yang berisi koleksi berharga, tak perlu tertata sempurna tapi terasa bernilai. Di tengah berdiri meja kerja kokoh dengan sedikit sentuhan emas, dipadukan kursi kulit hitam yang empuk sekali. Langit-langit tinggi dihias lampu gantung kristal yang memancarkan cahaya lembut, sementara jendela kaca raksasa membiarkan sinar matahari masuk bebas sekaligus memamerkan pemandangan seluruh kota yang membentang jauh di bawah. Semua itu pas sekali mencerminkan siapa pemiliknya — Adrian Romanov.

Saat itu ia berdiri membelakangi ruangan, menatap keluar jendela dengan pandangan kosong tapi dalam. Pikirannya melayang mengingat semua kejadian sejak pagi tadi. Ia teringat saat turun dari mobilnya, mengenakan jas hitam yang pas sekali di tubuhnya, membuatnya terlihat gagah dan berwibawa. Setiap karyawan yang melihatnya langsung menunduk hormat, tahu betul siapa yang memegang kendali penuh atas perusahaan raksasa itu.

Belum sempat ia melangkah masuk sepenuhnya, terdengar langkah santai tapi mantap mendekat dari belakang. Muncul sosok pria lain yang tingginya hampir menyamai Adrian — Vlad, sepupunya. Tubuhnya tegap, wajahnya memiliki garis rahang tegas dan jelas, kulitnya putih halus mengkilap seperti porselen, matanya berwarna coklat keemasan yang tajam tapi menyimpan sesuatu yang tak terduga. Rambutnya agak bergelombang, terlihat sedikit berantakan namun justru membuatnya terlihat lebih menarik dan maskulin, bukan kaku sama sekali. Ia mengenakan pakaian hitam elegan, lengkap dengan kalung rantai tipis dan anting kecil yang memberi kesan berani dan punya karakter sendiri.

Vlad menyapa dengan nada santai tapi terselip sindiran halus:

“Wah, Kak Adrian! Baru saja aku mendengar kabarnya. Hari ini rapat paling penting, tapi kau malah datang terlambat. Apa urusan yang lebih penting dari perusahaan?” Ia pura-pura berpikir sebentar lalu tersenyum licik: “Ah, ya… Sekretarismu bilang kau sibuk mengantar istri berbelanja cincin. Benarkah begitu? Sampai membuatmu lupa jadwal kerja?”

Ia melangkah mendekat dan menepuk bahu Adrian ringan, lalu suaranya jadi lebih menggoda: “Jadi Nyonya Zara itu benar-benar istimewa ya? Sampai membuat kakakku yang biasanya dingin ini meluangkan waktu sendiri. Apa dia secantik itu? Bolehkah aku melihatnya juga, siapa tahu aku juga bisa jatuh hati?”

Belum sempat senyum itu makin lebar, Adrian langsung memotong dengan suara rendah tapi tajam, tatapannya menusuk lurus: “Tutup mulutmu sebelum aku menyesal masih membiarkanmu berdiri di sini.” Tanpa bicara lagi, Adrian berjalan melewatinya dan masuk ke ruang rapat.

Vlad hanya menatap punggungnya sambil bergumam pelan, senyum makin mengembang: “Wah… Kakak malah jadi marah. Sekarang kau justru membuatku makin penasaran dengan gadis itu.”

Tak lama kemudian, ketukan pelan terdengar di pintu ruang kerja Adrian.

“Masuk,” jawabnya singkat tapi tegas.

Masuklah Yamal, sekretarisnya. Adrian duduk kembali di kursi besarnya sambil memandang berkas-berkas di meja, lalu mendengarkan laporan itu:

“Tuan, saya sudah melaksanakan perintah tadi — menjemput Nyonya Fara dan menyerahkan kotak cincin itu sebagaimana diminta.”

Adrian hanya mengangguk pelan, tanda ia merasa cukup puas. Saat Yamal hendak berbalik pergi, pandangan Adrian tertuju pada sebuah kartu emas yang tergeletak di sudut meja — benda yang sempat ia lupakan untuk diberikan ke Zara pagi itu.

“Tunggu,” panggilnya sambil meraih kartu itu dan mengulurkannya. “Berikan ini pada Nyonya Zara. Katakan saja untuk dia pakai sendiri sesukanya.”

“Baik, Tuan,” jawab Yamal segera, lalu bergegas keluar melaksanakan tugas itu.

Sementara itu, di kediaman megah itu suasana terasa sunyi, tapi di balik keheningannya menyimpan banyak perasaan yang berkecamuk. Di dalam kamarnya, Zara sedang menyusun pakaian yang baru saja dibelinya. Ia melipatnya secukupnya saja, tidak perlu terlalu rapi, tapi cukup agar tidak berantakan. Namun meski tangannya sibuk, hatinya tidak tenang sedikit pun — pikirannya terus melayang pada keluarganya.

Ia berhenti sejenak, lalu duduk termenung di pinggir tempat tidur. “Bagaimana kabar Ayah sekarang? Apakah Ibu dan adikku sudah makan hari ini? Pasti mereka bingung dan sedih karena aku pergi begitu saja… Aku harus menjenguk mereka secepatnya,” gumamnya pelan dalam hati.

Ia bangkit dan berjalan mondar-mandir gelisah, lalu berhenti lagi: “Tapi aku tak boleh pergi sembarangan. Kalau Adrian marah, siapa yang tahu apa yang akan terjadi nanti. Haruskah aku menghubunginya dulu? Tapi ponselku ini sederhana saja, dan aku takut mengganggunya saat dia sibuk bekerja.”

Raut wajahnya terlihat sedih dan bingung, sampai akhirnya terdengar ketukan di pintu. Saat dibuka, tampak Yamal berdiri di sana.

“Selamat siang, Nyonya. Tuan Adrian meminta saya mengantarkan ini — lupa diberikan pagi tadi,” ujarnya sopan sambil menyerahkan kartu emas itu.

Zara menerimanya dengan hati-hati, lalu saat Yamal hendak pergi, ia memberanikan diri bertanya dengan suara agak ragu: “Yamal… tunggu sebentar. Bolehkah aku meminta satu hal?” Ia menarik napas dalam, lalu melanjutkan: “Apakah aku boleh pergi sebentar menjenguk Ayah di rumah sakit? Aku janji tidak akan lama, sungguh.”

“Mohon tunggu sebentar, Nyonya, saya akan tanyakan langsung pada Tuan Adrian,” jawab Yamal, lalu melangkah keluar sejenak.

Tak lama ia kembali dan tersenyum ramah: “Tuan mengizinkan, Nyonya. Bahkan katanya kau boleh tinggal lebih lama jika memang perlu. Hanya satu pesannya: usahakan sudah ada di rumah saat malam tiba, karena ada hal penting yang ingin dibicarakan berdua.”

Wajah Zara seketika bersinar lega dan bahagia. “Terima kasih banyak, sampaikan rasa terima kasihku pada Tuan Adrian ya,” jawabnya tulus. Begitu Yamal pergi, ia segera bersiap-siap, tapi tiba-tiba teringat sesuatu: “Ibu pasti sedang kesulitan soal biaya dan makanan. Lebih baik aku berhenti dulu membeli bahan-bahan segar, memasaknya di sini sebentar, lalu kubawa sekalian ke rumah sakit. Setidaknya mereka bisa makan enak hari ini.”

Segera ia memanggil sopir dan berangkat meninggalkan rumah itu.

Namun kepergiannya tak luput dari pandangan. Dari balik tirai jendela kamar di lantai dua, sepasang mata mengawasi setiap gerakannya dengan tatapan tajam dan penuh perhitungan. Itu adalah Fara. Ia duduk santai di depan meja riasnya, memegang sisir tapi tak benar-benar menyisir rambutnya — pikirannya melayang jauh kembali ke masa lalu yang pahit, masa yang memaksanya berakhir di tempat ini.

Ia teringat jelas: dulu hidupnya penuh penderitaan. Lahir di keluarga miskin, ayahnya kecanduan minuman keras dan menumpuk hutang, sering melampiaskan amarah dengan memukuli dirinya dan ibunya. Sampai suatu hari, saat hutang itu tak bisa dibayar lagi, ayahnya membawanya paksa ke sebuah klub malam mewah, tempat berkumpul orang-orang kaya dan berkuasa — berniat menjualnya begitu saja demi melunasi utang.

Sesampainya di sana, ia diserahkan dengan segenggam uang, lalu ditinggalkan sendirian tanpa sekalipun menoleh. Ia dipaksa memakai pakaian yang terasa begitu asing dan memalukan, lalu didorong masuk ke ruangan yang membuatnya merinding ketakutan. Ia hanya bisa menunduk, menahan tangis agar tidak terdengar — sampai sebuah suara tegas menghentikan semuanya.

Pintu terbuka lebar, dan seorang wanita paruh baya masuk dengan wibawa yang sulit dilawan. Itu Elina, bibi dari Adrian Romanov. “Dia sudah menjadi milikku, jangan berani menyentuhnya lagi,” katanya pada semua orang di ruangan itu. Lalu ia menoleh ke arah Fara dengan nada dingin namun lugas: “Dengar baik-baik. Tanda tangani kertas ini, dan semua hutang ayahmu hilang begitu saja. Ibumu akan dirawat di rumah sakit terbaik, kebutuhan hidup kalian terjamin selamanya. Tolak, dan kau akan melihat nasib yang jauh lebih buruk lagi.”

Karena takut dan ingin menyelamatkan ibunya, Fara langsung mengambil pena dan menandatangani lembaran itu bahkan tanpa sempat membaca satu baris pun. Itulah awal perjanjian yang mengikatnya sampai sekarang.

Sekarang, kembali ke kenyataan, Fara meletakkan sisir itu perlahan ke meja rias, lalu mengangkat tangannya dan memandang cincin berlian yang melingkar indah di jari manisnya. Senyum tipis namun penuh makna terukir di bibirnya. Ia tahu persis apa perannya, apa yang diharapkan darinya. Tanpa ragu lagi, ia bangkit berdiri, meluruskan pakaiannya, dan melangkah keluar kamar — siap memainkan peran yang sudah ditentukan sejak awal.

1
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock Munchen Gaiden
Putry Chan: tentu trimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!