NovelToon NovelToon
KOK HOROR??? Series.

KOK HOROR??? Series.

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Misteri
Popularitas:82
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak malam itu, hidup Raka berubah drastis. Setelah tak sengaja melewati rumah tua terbengkalai di ujung gang dan merasakan gangguan gaib, ia terus dihantui penglihatan aneh, suara bisikan, dan kejadian tak wajar. Perlahan ia mengungkap rahasia kelam rumah itu—tempat menyimpan kutukan dan korban hilang puluhan tahun silam—sambil berjuang melepaskan diri dari jeratan makhluk yang sudah menandainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 1: RUMAH DI UJUNG GANG SEPI BAB 14 – Jalan Rahasia di Bawah Lantai

Udara pagi terasa lebih lembap dari biasanya, seolah alam pun ikut merasakan ketegangan yang menyelimuti hati Raka. Ia duduk diam di teras rumah Pak Surya, tangannya terus menggenggam erat batu hitam yang terasa makin hangat seiring dengan denyut nadinya. Misi yang harus dijalankan kali ini jauh lebih berisiko daripada sebelumnya. Jika dulu ia hanya menghadapi arwah yang masih memiliki ikatan dengan masa lalu, kali ini ia harus menembus tempat yang menjadi sumber kekuatan gelap itu sendiri—ruang bawah tanah yang selama puluhan tahun tertutup rapat dan terlupakan oleh semua orang.

“Apakah kau yakin ingin melakukannya, Nak? Sekali masuk ke sana, tidak ada jalan mundur yang mudah. Udara di bawah tanah itu sudah tercampur energi jahat selama puluhan tahun, dan siapa pun yang lengah sedikit saja bisa terjebak selamanya,” ujar Pak Surya sambil menyerahkan seperangkat perlengkapan tambahan. Selain batu hitam itu, ia juga memberikan sebatang lilin dari malam kemenyan, seikat akar kayu seroja yang dikenal bisa mengusir hawa negatif, serta sebuah gulungan kain yang di dalamnya terukir doa penutup yang diturunkan dari leluhurnya.

“Aku sudah yakin, Pak. Jika aku tidak melakukannya sekarang, makhluk itu akan terus mengikutiku, dan lambat laun ia akan mencari jalan untuk mengganggu orang-orang lain di sekitar sini. Aku tidak ingin ada korban baru hanya karena kesalahanku sendiri,” jawab Raka tegas, meski matanya menyembunyikan kekhawatiran yang mendalam.

Sore itu, mereka berdua bergerak perlahan menuju Gang Melati. Langit mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan, diikuti awan gelap yang bergerak cepat dari arah barat, seolah pertanda bahwa malam akan datang lebih awal dari biasanya. Begitu sampai di depan pagar rumah tua, suasana terasa berbeda. Tidak lagi terasa kosong dan sunyi, melainkan terasa seperti ada napas berat yang tertahan di udara. Bau logam dingin dan tanah lembab tercium lebih kuat, membuat hidung terasa perih dan dada terasa sesak.

“Tempat masuknya ada di ruang tengah, tepat di bawah karpet tua yang sudah lapuk. Konon, Tuan Handoko membuat pintu jebakan itu sendiri agar tidak diketahui siapa pun. Tapi ingat, begitu kau mengangkat penutupnya, ia akan langsung tahu kehadiranmu. Gunakan lilin ini sebagai satu-satunya penerang—jangan pakai senter atau cahaya terang lainnya, karena cahaya biasa justru akan membuatnya makin marah dan agresif,” pesan Pak Surya sambil menepuk bahu Raka sebagai tanda dukungan terakhir.

Raka mengangguk, lalu melangkah masuk sendirian. Begitu pintu kayu utama didorong terbuka, suara berderitnya menggema panjang, memecah keheningan yang terasa pekat. Ruang tengah masih sama seperti yang ia lihat sebelumnya: dipenuhi debu tebal, perabotan yang sudah rusak dimakan waktu, dan cahaya redup yang hanya masuk dari celah-celah jendela pecah. Ia segera menyalakan lilin kemenyan, dan begitu nyalanya menyala, asap putih tipis mengepul membentuk selubung pelindung di sekeliling tubuhnya.

Matanya menyapu lantai kayu yang sudah retak-retak. Di tengah ruangan, terlihat sisa karpet kain tebal yang sudah mengelupas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman, tertutup lapisan debu yang tebal. Dengan hati-hati, Raka melangkah mendekat, lalu menggunakan ujung gagang akar kayu untuk menyapu debu di atasnya. Saat debu itu terangkat, terlihat garis batas persegi empat yang samar—tanda bahwa di sanalah letak pintu jebakan itu berada.

Ia berjongkok, meletakkan batu hitam di sampingnya, lalu memasukkan ujung pisau kayu ke celah sempit di antara sambungan papan lantai. Dengan tenaga yang tercurah sepenuhnya, ia mengungkitnya perlahan. Suara gesekan kayu yang kering terdengar nyaring, disertai hembusan angin dingin yang terasa jauh lebih tajam daripada yang ada di atas. Begitu papan penutup terangkat sepenuhnya, lubang gelap terbuka di hadapannya, memancarkan hawa yang membuat napasnya langsung mengeluarkan uap putih.

Di dalam lubang itu, terlihat tangga kayu sempit yang menurun ke bawah, menghilang ke dalam kegelapan yang pekat seolah menelan cahaya lilin hanya beberapa meter saja. Dari kedalaman sana, terdengar suara tetesan air yang teratur: tetes… tetes… tetes… dan disertai bisikan samar yang makin jelas, seolah memanggil namanya dengan nada yang mendayu namun menyembunyikan niat jahat.

“Sudah lama… akhirnya kau datang juga… tempat ini sudah menunggu tuan baru…”

Raka menggenggam erat akar kayu di satu tangan dan lilin di tangan lainnya. Ia tahu, langkah pertamanya menuruni tangga itu akan membawanya masuk ke tempat di mana asal mula semua malapetaka ini bersemayam—dan ia harus siap menghadapi apa pun yang menanti di kegelapan bawah sana.

1
anggita
mulai horor👻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!