"Saat ayahku memilih menyelamatkan putri kesayangannya, dia mengorbankanku tanpa ragu."
Savira Dharma menghabiskan seluruh hidupnya mengejar sesuatu yang tidak pernah ia miliki: pengakuan dari ayahnya.
Sebagai putri kandung keluarga Dharma, ia belajar lebih keras, bekerja lebih lama, dan mengorbankan masa mudanya demi membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Namun ketika skandal penggelapan dana mengguncang Dharma Group, Savira dijadikan kambing hitam untuk melindungi keluarga yang selama ini ia bela.
Ditinggalkan sendirian di tengah hujan fitnah, ayahnya memilih diam.
Malam itu, Savira melompat dari puncak gedung perusahaan yang telah merenggut seluruh hidupnya.
Namun kematian bukanlah akhir.
Saat membuka mata, ia kembali menjadi gadis tujuh belas tahun—tujuh tahun sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Kali ini, Savira tidak akan mengemis cinta.
Ia tidak akan mengorbankan dirinya demi keluarga yang tak pernah memilihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Memakan Sisa Kewarasan
Guntur menggelegar di atas langit kampus, merobek pertahanan mental Savira hingga tubuhnya luruh ke lantai perpustakaan.
Kilatan cahaya putih menyambar beringas menembus celah jendela kaca raksasa. Suara ledakan di udara itu terdengar persis seperti derak tulang rusuknya yang hancur menghantam aspal di kehidupan sebelumnya.
Napas Savira terputus seketika. Oksigen di sekitarnya seakan tersedot habis oleh vakum raksasa.
Gadis itu meringkuk di sudut paling gelap di antara dua rak buku kayu ek yang menjulang tinggi. Udara perpustakaan yang sarat aroma kertas tua dan debu gagal menenangkan sarafnya yang terbakar.
Ia meremas sisi kepalanya dengan kedua belah tangan. Keringat dingin mengucur deras membasahi dahi dan lehernya, menempelkan helaian rambut hitamnya ke kulit yang seputih porselen.
Bibir Savira bergetar hebat. Ia mencoba mengunci rahangnya, tapi trauma itu menguasai memori ototnya tanpa ampun.
Hujan badai ini memutar ulang rekaman malam kematiannya dengan sangat brutal. Angin malam yang menusuk kulit. Keputusasaan pekat saat Wijaya mengabaikan panggilannya. Sensasi gravitasi yang menelan tubuhnya bulat-bulat saat ia melompat dari lantai dua puluh satu.
Tangan kanannya merogoh saku kardigan dengan gerakan patah-patah. Ia sangat butuh jepit rambut melati peninggalan ibunya sebagai jangkar kewarasan.
Jemarinya terlalu kaku dan licin oleh keringat. Benda plastik rapuh itu lolos dari genggamannya, jatuh ke atas lantai kayu dengan bunyi klik yang sangat pelan.
Savira memejamkan mata rapat-rapat. Ia sangat benci kelemahan ini. Ia membenci tubuhnya yang berkhianat pada logika jeniusnya.
Ia telah bersumpah untuk menjadi monster tanpa belas kasihan. Ia telah merancang skenario kehancuran Dharma Group dengan sangat kejam. Namun, satu gemuruh guntur sudah cukup untuk mengembalikannya menjadi gadis kecil yang hancur berkeping-keping.
Langkah kaki berat berdebum cepat mendekati lorong rak buku tersebut.
Seseorang menjatuhkan payung basah ke lantai tanpa memedulikan tatapan protes dari penjaga perpustakaan.
Sebuah bayangan raksasa memblokir sisa cahaya lampu yang masuk ke lorong sempit itu. Aroma tajam pinus, air hujan segar, dan kopi hitam langsung menginvasi indra penciuman Savira.
Aaron Jayanegara berlutut di hadapan gadis yang gemetar itu.
Setelan jas mahal pria itu basah kuyup di bagian bahu. Napas Aaron memburu tidak teratur. Mata hitam kelamnya yang selalu memancarkan dominasi buas kini dipenuhi oleh kepanikan murni.
Titik merah dari pelacak GPS kecil di layar ponsel Aaron telah menuntunnya menembus badai gila ini. Insting predatornya tahu bahwa gadis ini sedang terjebak dalam bahaya.
"Savira," panggil Aaron dengan suara bariton yang pecah dan parau.
Gadis itu sama sekali tidak merespons. Savira hanya menundukkan wajahnya dalam-dalam di antara kedua lutut. Bahunya berguncang keras seiring dengan suara guntur susulan yang kembali mengoyak langit sore.
Aaron tidak membuang waktu untuk mengajukan pertanyaan konyol. Pria itu menyadari ada luka psikologis menganga yang sedang memakan sisa kewarasan sekutunya.
Tangan besar Aaron terulur ke depan. Ia menarik tubuh Savira yang sedingin es ke dalam dekapannya secara paksa.
Savira tersentak hebat. Insting bertahannya meronta liar. Ia menekan kedua telapak tangannya ke dada bidang Aaron, mencoba mendorong pria itu menjauh sekuat tenaga.
Ia tidak ingin ada orang lain yang melihatnya hancur. Ketergantungan dan kelemahan adalah racun yang akan membelenggu kebebasannya kembali.
"Lepaskan aku," desis Savira dengan suara serak yang bergetar parah.
Tenaga gadis itu sama sekali tidak berarti di hadapan postur raksasa Aaron. Pria itu menolak mundur seinci pun dari posisinya.
Aaron justru mengeratkan dekapannya dengan posesif. Ia menyandarkan kepala Savira ke dada kirinya yang bidang dan memancarkan suhu panas.
"Dengarkan detak jantungku," perintah Aaron pelan, setengah berbisik di atas puncak kepala Savira. "Fokus pada detaknya, Savira. Jangan dengarkan badai itu."
Cahaya kilat kembali menyambar terang. Guntur meledak seketika dengan volume yang memekakkan telinga.
Sebelum gelombang suara ledakan itu sempat menembus gendang telinga Savira, kedua telapak tangan Aaron yang tebal sudah menutupi telinga gadis itu dengan sangat rapat.
Keheningan buatan langsung tercipta di dalam kepala Savira. Suara badai yang mencekam teredam sempurna oleh perlindungan tangan pria itu.
Savira membuka matanya perlahan. Aroma melati dari tubuhnya kini berbaur utuh dengan wangi maskulin dari jas basah Aaron.
Ia bisa merasakan detak jantung Aaron yang stabil di balik kemejanya. Ritme kehidupan yang sangat nyata dan hangat ini sukses melabuhkan kesadarannya kembali ke bumi.
Tubuh Savira berhenti menolak. Ia membiarkan keningnya bersandar pasrah pada dada Aaron. Kepalan tangannya yang kaku perlahan mengendur, menyisakan jari-jari yang mencengkeram erat pada kain jas pria itu.
Ia menyerah pada kelemahan manusiawinya, khusus untuk saat ini saja.
Aaron menatap ujung jepit rambut patah yang tergeletak di lantai. Pria itu memungutnya dengan sebelah tangan, lalu menyelipkannya kembali ke dalam saku kardigan Savira dengan gerakan yang sangat hati-hati.
Aaron memeluk tubuh gemetar itu erat-erat di dadanya, berbisik di telinganya, "Aku di sini. Kau aman bersamaku."