NovelToon NovelToon
MERESET TAKDIR SUAMIKU

MERESET TAKDIR SUAMIKU

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:72.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Tepat di hari perceraian mereka, Kirana Zhafira menyaksikan Damar Rafardhan tewas mengenaskan akibat tertabrak truk demi menyelamatkan cincin pernikahan mereka yang terjatuh. Kirana keliru menilai pernikahan dingin mereka selama dua tahun sebagai tanda ketidakpedulian. Namun, rahasia pilu membubung saat ibu mertuanya menyerahkan dompet Damar yang berisi foto pernikahan mereka dan cincin berlumuran darah kering.

Penyesalan terdalam menghantam Kirana begitu menyadari betapa sang suami sangat mencintainya dalam diam. Di tengah keputusasaan dan rasa sepi yang mencekam, keajaiban waktu terjadi. Kirana terbangun dan mendapati dirinya terlempar ke masa dua minggu sebelum tragedi maut itu merenggut Damar.

Berbekal kesempatan kedua dari semesta, Kirana bertekad meruntuhkan dinding es di antara mereka. Ia bersumpah akan mengejar cinta Damar, mengubah takdir tragis yang mengintai, dan memperjuangkan akhir bahagia yang tertunda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEBENARAN BERKEJARAN DENGAN WAKTU.

Keesokan harinya, Kirana kembali terbangun sebelum alarmnya berbunyi. Begitu membuka mata, ia langsung bangkit dan duduk matanya mengedarkan pandangan. Kamar ini masih merupakan kamar lamanya di rumah bersama Damar. Rasa cemas yang belum sepenuhnya hilang membuat Kirana ingin memastikan sekali lagi bahwa suaminya benar-benar masih bernyawa. Tanpa membuang waktu, ia segera turun dari ranjang dan melangkah keluar menuju kamar Damar yang terletak di lantai dua.

Di depan pintu kayu tebal itu, Kirana kembali memutar kenopnya dengan sangat perlahan. Ia melangkah masuk ke dalam kamar dengan cara berjinjit, berusaha meredam suara langkah kaki agar Damar tidak mengetahuinya. Matanya langsung tertuju ke arah tempat tidur besar di tengah ruangan, ingin memastikan apakah Damar masih ada di sana. Namun, detak jantung Kirana seketika mencelos saat melihat permukaan ranjang itu tampak datar dan rapi. Tidak ada siapapun di sana.

Pikiran Kirana kembali meracau tak karuan. Ketakutan hebat langsung menyergap benaknya. Ia mulai berpikir apakah kebersamaan mereka di pesta semalam hanyalah sebuah mimpi fana, dan kenyataannya Damar memang sudah tiada. Air matanya mulai berkaca-kaca menatap ranjang yang kosong itu, meratapi asalnya yang ia kira hanya sebuah angan belaka. Namun, tepat di saat keputusasaannya memuncak, sebuah suara bariton yang berat terdengar memecah keheningan dari arah kamar mandi.

"Apa yang kau lakukan kali ini, Kiran? Mengapa kamu sekarang jadi sering masuk ke kamarku?"

Mendengar teguran itu, Kirana langsung berbalik dengan cepat. Air matanya yang sejak tadi ditahan seketika luruh membasahi pipi begitu melihat sosok Damar berdiri di ambang pintu kamar mandi. Pria itu tampaknya baru saja selesai mandi, mengenakan sebuah handuk kimono berwarna putih bersih yang mengekspos sebagian dada bidangnya yang masih basah.

Melihat istrinya menangis sesenggukan, Damar terkejut. Gurat dingin di wajahnya luruh, berganti dengan kepanikan. Ia melangkah lebar menghampiri Kirana yang tubuhnya bergetar.

"Ada apa, Kiran? Kenapa kamu malah menangis? Sebenarnya ada apa, hm?" tanya Damar dengan nada suara yang terdengar sangat khawatir.

Tanpa menunggu jawaban, Damar meraih lembut pundak Kirana dan membimbingnya untuk duduk di tepi ranjang. Ia ikut berlutut di depan istrinya, menatap lekat-lekat mata Kirana yang sembap. "Katakan ada apa dengan dirimu? Kenapa kau melakukan hal yang tidak biasa kau lakukan belakangan ini, hm?"

Kirana menangis tersedu-sedu, mengabaikan rasa canggung yang biasanya membentengi hubungan mereka. Akhirnya, di sela isak tangisnya, ia memberanikan diri untuk bercerita jujur. "Aku... aku bermimpi Kak Damar meninggal dunia dalam kecelakaan tragis."

Damar terdiam mendengarnya, menatap istrinya dengan saksama. "Apakah kejadian di mimpimu itu terjadi kemarin malam?"

Kirana mengangguk cepat, membenarkan tebakan Damar yang jitu.

"Makanya kemarin pagi kamu tiba-tiba masuk ke kamarku untuk memastikan mimpi itu?" tanya Damar lagi, kali ini dengan nada suara yang terdengar jauh lebih lembut dan penuh pengertian.

Kirana kembali mengangguk pasrah sebagai jawaban.

Damar menghelakan napas panjang, mencoba meredakan ketegangan di antara mereka. Ia meraih jemari Kirana yang dingin. "Sekarang kamu sudah lihat sendiri kan kalau aku baik-baik saja di sini? Jadi, berhentilah berpikir yang aneh-aneh, karena aku akan selalu baik-baik saja."

"Tidak! Itu masih belum bisa dipastikan kalau Kak Damar akan baik-baik saja ke depannya!" protes Kirana keras, menolak untuk ditenangkan begitu saja.

Damar mengernyitkan dahinya bingung melihat reaksi keras istrinya. "Apa maksudmu, hm?"

Kirana akhirnya menumpahkan seluruh kegelisahannya. Ia menceritakan bagaimana rentetan kejadian di pesta kemarin berjalan sangat persis dengan kilasan ingatan yang ia miliki.

Damar langsung menangkap maksud istrinya dan menebak kelanjutannya. "Makanya kemarin sore kau bersikeras mengganti pakaian yang kuberikan? Karena kau tahu masa depan yang akan terjadi, makanya kau ingin mengubah jalannya cerita?"

Kirana kembali mengangguk mantap. "Benar, Kak."

Damar mengusap wajahnya pelan, lalu menatap Kirana dengan pandangan menenangkan. "Dengarkan aku, Kiran. Itu semua hanya mimpi, hanya bunga tidur biasa. Dan apa yang terjadi di pesta kemarin itu murni hanya sebuah kebetulan saja."

"Tidak, itu sama sekali bukan kebetulan, Kak Damar! Itu nyata! Aku menyaksikan sendiri bagaimana masa depan itu merenggut nyawamu!" potong Kirana dengan suara yang meninggi, bersikeras pada keyakinannya.

"Sudah, sudahlah. Jangan dipikirkan lagi hal itu. Lupakan mimpimu, Kirana. Percayalah padaku, aku akan baik-baik saja," ucap Damar mengakhiri perdebatan dengan tegas namun tetap tenang.

Kirana menggeleng keras, ia tidak mau kecolongan lagi. "Tidak bisa. Pokoknya mulai hari ini Kak Damar harus memberikan laporan kepadaku setiap jamnya tentang kegiatan dan kesehatan Kakak. Dan setiap kali Kakak pergi check-up ke dokter, aku harus ikut!"

Damar tertegun melihat perhatian yang begitu besar dari istrinya, sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan selama dua tahun ini. Sebuah senyuman tipis terukir di sudut bibirnya. "Baiklah, aku turuti semua keinginanmu. Sekarang, kembalilah ke kamarmu dulu karena aku harus bersiap dan berangkat cepat ke kantor hari ini."

Mendengar keputusan itu, Kirana akhirnya menurut. Ia berdiri lalu melangkah keluar dari kamar Damar untuk kembali ke kamarnya sendiri. Di dalam kamar, ia secepatnya mengambil air wudhu dan melaksanakan kewajiban shalat subuhnya yang sempat tertunda beberapa menit.

Setelah selesai menunaikan shalat dan berdoa, Kirana langsung bergegas keluar dari kamar untuk menemui Damar di ruang makan. Namun sayang, ia sudah terlambat. Ruang makan sudah kosong, dan dari balik jendela, ia hanya bisa melihat mobil suaminya baru saja melaju pergi melewati pagar depan.

Kirana terdiam lesu di meja makan. Ia menarik piring sarapannya dengan malas. Pikirannya sama sekali tidak bisa fokus, masih terus berputar pada percakapan emosional di kamar Damar tadi.

"Apakah Kak Damar berpikir aku sudah gila karena meracau tentang masa depan? Makanya dia menyuruhku kembali ke kamar dengan pandangan selembut itu?" gumam Kirana pelan sambil mengaduk makanannya.

Ia mengembuskan napas panjang, lalu menggelengkan kepala. "Ah, biar saja dia berpikir aku sudah gila atau aneh. Pokoknya hari ini aku harus memastikan keberadaan foto itu di rumah orang tua Kak Damar. Aku harus ke sana sekarang juga."

Memiliki tujuan yang jelas membuat Kirana langsung bangkit dari meja makan. Ia kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaian yang lebih pantas. Kali ini ia memilih mengenakan gamis sederhana berwarna moka yang tetap terlihat cantik di tubuhnya. Ia memadukannya dengan hijab berwarna krem yang lebih muda, melilitkannya dengan rapi di leher.

Setelah memastikan penampilannya rapi, Kirana langsung bergegas menuju garasi. Ia mengambil kunci dan masuk ke dalam mobil city car putih pemberian Damar yang jarang ia gunakan. Tanpa membuang waktu lagi, Kirana langsung mengemudikan mobilnya membelah jalanan kota, berangkat menuju rumah mertuanya yang letaknya terhitung cukup jauh di kawasan perumahan elit.

1
Tira Aneri
suuukaaa
my favorit
cerita nya mirip sama cerita weebtoon KK
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
nanti.anak2nya dijodohin thor
Aidil Kenzie Zie
sempat-sempatnya si Damar berbisik Resepnya Yang Mujarab 🤣🤣🤣
selamat y Ricko dan Susan🥰🥰
Ari Sawitri
heran kenapa di novel ngidam selalu aneh aneh pdhal kenyataan nya tdk seperti itu. terlalu lebay kenapa tdk yg natural aja .. jd enak baca nya ga usah terlalu dilebih lebih kan 🤨🤔
Ramanda.: Maaf kak, itu tidak berlebihan, karena memang ada fakta yang seperti itu. saya menulis insyaallah selalu sesuai fakta. rasa saya itu tidak berlebihan, karena adik iparku sendiri juga seperti itu loh. aneh-aneh pun banyak terkadang yang tidak masuk akal pun ada. tapi itulah kekuasaan Allah menunjukkan yang menurut kita tidak mungkin, tapi mungkin bagi Allah kak. semoga paham ya.
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
udah bisa gombal si kulkas 🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
anak baru sok-sokan ingin terlihat 🤣🤣🤣🤣
Aidil Kenzie Zie
mertuamu mana Ricko🤔
Aidil Kenzie Zie
topcer Ricko "Operasi Bulan Madunya Sukses "karena Susan lagi masa suburnya selamat ya🥰🥰🥰🥰
Pujiastuti
jangan² susan hamil ni
Ari Sawitri
klu emang dr awal pengawal banyak kenapa nunggu smp ditusuk br mendekat bodyguard nya 😅😅 .. ini mah telat namanya
Ari Sawitri
rektorat ya maksudnya???
Aidil Kenzie Zie
akhirnya gol juga
Nanik Arifin
si robot es unboxingnya masih tahun depan Thor ?
Aidil Kenzie Zie
🤣🤣🤣apa Ricko nggak paham tentang Operasi Bulan Madunya 🤭🤭🤭
Indri Almaidar
hummm
Indri Almaidar
aneh benar
Indriani Kartini
malu2tapi mau 🤣🤣🤣
Radya Arynda
akhirnya,,,bebas dari mimpi buruk
Lia siti marlia
semoga kebahagiaan kalian di berkahi tuhan 🤗🤗🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!