Hidup Lylac yang datar tapi penuh perjuangan karena orangtuanya yang miskin, berubah total ketika tak sengaja ia bertemu hantu cantik Mika, di gudang sekolah saat ia ingin sendiri.
Mika terus merengek pada Lylac untuk mendekati Evan, Anak basket yang populer. Itu idolanya dulu saat masih hidup. ini membuat Lylac harus berhadapan dengan Angel geng cewek cantik dan populer yang merasa kesal melihat Lylac ada disekitar Evan. Padahal Lylac hanya disuruh Mika, hantu cantik itu.
Baca dan lihat bagaimana Lylac yang malas mengurusi orang malah bertemu dengan geng cowok dan cewek paling populer itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 14 Amarah
Jawaban Evan barusan terasa seperti tamparan.
"Aku cuma nanya," balasnya pelan.
"Iya, dan aku enggak wajib jawab semua pertanyaanmu." Evan menjawab santai.
Angel mengepalkan tangan di samping tubuhnya. Sejak kecil mereka selalu bersama. Evan tidak pernah bicara seperti ini padanya.
Semua gara-gara cewek aneh itu.
"Sejak kenal dia, kamu berubah."
Evan mengernyit. "Apa hubungannya sama Lylac?"
"Kamu terus membelanya." Angel ngambek.
"Apanya?"
"Terus kenapa setiap aku ngomong soal dia, kamu selalu pasang muka begitu?"
Evan menghela napas pendek. Kesabarannya mulai menipis.
"Angel, masalahnya bukan Lylac."
"Lalu apa?"
"Masalahnya kamu terlalu ngurusin urusan orang lain."
Angel langsung terdiam.
Wajahnya memucat sesaat sebelum berubah merah karena malu dan marah sekaligus.
Sementara itu, Evan sama sekali tidak berniat memperpanjang perdebatan. "Udah ya. Aku pergi."
...****************...
Jam pulang sekolah.
"Aku tunggu di luar ya, Ly!" ujar Riri saat Lylac hendak mulai bersih-bersih.
"Ya!"
Siang ini ada jadwal piket bersihkan kelas untuk Lylac. Jadi dia harus tinggal dulu dengan beberapa anak. Riri dengan baik hati menunggu dia selesai tugasnya untuk pulang bareng.
Lylac mengambil sapu di pojok belakang. Dia mulai membersihkan kolong meja satu per satu secara berurutan. Gerakannya efisien, tidak banyak membuang waktu atau mengobrol seperti anak lain yang sekelompok dengannya. Setelah memastikan barisan meja bersih, dia menumpuk kursi ke atas meja agar lantai mudah dipel oleh temannya yang lain.
Lylac meletakkan sapu di tempatnya setelah selesai menyapu. Dia membersihkan sisa debu di tangannya.
"Ly. Ini kacamata Bu Silvi. Antar ke kantor gih," pinta temannya saat menemukan kacamata guru mata pelajaran Bahasa Indonesia yang tertinggal.
"Ya." Lylac menerima itu dan bergegas keluar.
"Sudah selesai, Ly?" tanya Riri seraya bangkit dari duduknya di koridor, bersiap untuk pulang.
"Sudah. Tapi ada kacamata Bu Silvi lupa di laci meja. Aku harus mengantarkannya ke ruang guru," Lylac menunjukkan kotak kacamata di tangannya.
"Oh, oke. Ayo."
Mereka berjalan bersama. Lylac sedikit heran hantu itu tidak muncul. Namun ia lega karena sekitarnya tidak berisik. Biasanya makhluk itu sudah bergelantungan di langit-langit koridor sambil mengoceh tanpa henti. Keabsenan Mika siang ini benar-benar sebuah berkah ketenangan bagi telinganya.
Langkah mereka melewati lapangan basket. Ia melihat ada banyak anak basket di sana. Sedang ada latihan rutin. Suasananya sedang ramai oleh deru operan dan langkah kaki.
Evan ada di tengah lapangan itu, sedang mendribble bola dan fokus melihat ring di depannya. Saat bersiap melakukan tembakan, sudut mata Evan menangkap kehadiran Lylac yang sedang berjalan di koridor pinggir lapangan bersama Riri.
Kemunculan Lylac membuat gerakan drible Evan sempat melambat satu detik. Ritmenya agak terganggu. Namun, Evan langsung menguasai bola kembali dengan cepat.
Dia berputar melewati lawan yang menjaganya. Melompat, dan menembak. Bola masuk mulus ke dalam ring.
Begitu Evan mendarat dan menoleh ke pinggir lapangan, Lylac sudah tidak melihat ke arahnya.
"Anak basket kalau lagi mendribble bola memang terlihat keren ya?" celetuk Riri.
"Ada yang buat kamu naksir?" tanya Lylac asal.
"Enggak juga. Hanya kagum aja lihat mereka."
Lylac mengangguk.
"Lagipula kalau di sekolah kita, mereka sudah ada pawangnya. Bukan pacarnya, tapi pawangnya," Riri mengatakan dengan jelas. "Si Angel. Dia selalu berada di tempat nongkrongnya anak Basket."
"Itu pengasuh namanya."
"Benar. Dia mirip pengasuhnya," Riri tergelak ringan. Akhirnya menemukan sebutan yang tepat untuk Angel. "Lihat dia." Ternyata yang diomongin ada di pinggir lapangan beserta gengnya.
Lylac mengikuti arah dagu Riri. Benar saja, Angel sedang berdiri bersedekap dada di pinggir lapangan. Memegang sebotol air mineral dengan pandangan yang tidak lepas dari tengah lapangan. Ke arah tempat Evan baru saja mencetak angka.
Lylac tidak ambil pusing. Dia terus berjalan bersama Riri menuju ruang guru di dekat gerbang depan.
...****************...
Selesai menyerahkan kotak kacamata Bu Silvi di ruang guru, Lylac dan Riri berjalan menuju gerbang untuk pulang.
Namun, saat Lylac meraba kantong seragamnya, dia tidak menemukan apa-apa. Lylac berhenti melangkah. Dia teringat sesuatu.
"Kenapa?" tanya Riri heran
"Handphone ku ketinggalan," ujar Lylac.
"Sudah aku tunggu disini aja, ya."
"Oke. Aku balik ke kelas dulu." Lylac langsung balik kanan. Dia terpaksa berjalan kembali menuju ke kelas sendirian.
Saat Lylac berjalan melewati pinggir lapangan basket lagi, latihan tim sekolah ternyata masih berjalan. Suara pantulan bola dan teriakan masih terdengar riuh.
Langkah Lylac tampak sedikit lebih cepat dari biasanya, matanya lurus menatap arah lorong kelas.
Niki yang sedang berada di tepi lapangan melihat kedatangan gadis itu. Merasa mulai kenal, Niki langsung melambaikan tangan. "Eh, Lylac! Balik lagi?" serunya menyapa.
Mendengar nama itu disebut, Evan yang tadinya fokus pada bola langsung ikut menoleh. Cowok itu menghentikan gerakannya dan berdiri diam di tengah lapangan, menatap lurus ke arah Lylac tanpa berpaling sedikit pun selama Niki berbicara.
Lylac menghentikan langkahnya sebentar. "Iya," sahut Lylac tenang dan lempeng seperti biasa merespons sapaan Niki.
"Kenapa?"
Lylac tahu persis sepasang mata Evan sedang menguncinya dari tengah lapangan. Dia sempat melirik sekilas ke arah cowok itu, lalu sedetik kemudian langsung mengabaikannya begitu saja. "Ada yang ketinggalan di kelas."
Niki mengangguk.
"Aku ke kelas dulu," pamit Lylac.
"Oke."
Di pinggir lapangan, Angel baru saja melangkah mendekat sambil membawa sebotol air mineral dingin. Niatnya ingin memberikan minum itu kepada Evan, namun gerakannya tertahan.
Matanya menangkap basah arah pandangan Evan yang terus-menerus tertuju pada Lylac. Angel mengepalkan tangan di sisi tubuhnya, menatap Lylac dengan tatapan tidak suka.
Lylac tidak ambil pusing, dia langsung melanjutkan langkahnya menuju lorong kelas untuk mengambil handphone-nya yang tertinggal.
...****************...
Sepulang mengambil handphone, anak basket masih ada di sana melanjutkan latihan.
Begitu Lylac kembali muncul di dekat pintu keluar lapangan, Evan kembali mengunci tatapannya pada gadis itu. Cowok itu tidak memedulikan bola di sekitarnya. Matanya terus mengikuti setiap pergerakan Lylac yang hendak lewat.
Melihat arah pandangan Evan yang tidak berpaling, membuat Angel yang berdiri di depan langsung bergerak mendekat ke arah Evan.
Dia tidak tahan lagi diabaikan.
Dengan langkah cepat, Angel sengaja memotong jalur pandang cowok itu sekaligus memosisikan dirinya tepat di depan Evan.
Evan sedikit terkejut.
Angel menyodorkan botol air mineral yang dipegangnya sejak tadi dengan senyum yang dipaksakan. "Evan, minum dulu. Kamu pasti capek," ujarnya.
"Terima kasih," balas Evan pendek.
Tangan Evan menerima botol itu sambil memaksa melihat punggung Lylac yang menjauh dari sana.
Padahal, Lylac sama sekali tidak peduli. Tanpa berniat memperlambat langkah atau menoleh, dia menuju ke gerbang.
Angel menggertakkan giginya.
Berlagak sekali itu anak. Dia sengaja jual mahal. Beraninya dia. Karena belum pernah aku kasih peringatan makanya ngelunjak.
Tatapan Angel menggelap saat melihat Lylac semakin menjauh menuju gerbang.
Tunggu saja.