Terbangun dari koma, Amira Zoe dipaksa masuk ke dalam pernikahan sandiwara tanpa cinta oleh Daniel Narendra, seorang CEO kaya. Semua demi menjadi sosok "ibu" bagi Felia, putri Daniel yang kritis karena trauma kehilangan ibu kandungnya, Selena. Amira bersedia membimbing bocah itu, asalkan statusnya tetap menjadi diri sendiri, bukan bayang-bayang masa lalu.
Namun, di balik kemegahan mansion Daniel, sebuah rahasia kelam menanti. Amira menemukan fakta mengejutkan bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya adalah sabotase berencana. Seseorang di lingkaran terdekat sengaja mengincarnya karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Selena, demi memalsukan dokumen dan mencairkan dana asuransi kematian bernilai fantastis. Kini, di tengah getar asmara yang perlahan tumbuh di hatinya, Amira harus bertaruh nyawa mengungkap dalang kriminal tersebut sebelum dirinya benar-benar dihabisi.Akankah pernikahan sandiwara ini membuka jawaban semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Amira mencoba meraih ke belakang punggungnya, namun otot-otot lengannya yang masih kaku pasca-koma menolak untuk berkompromi.
Jemarinya sama sekali tidak bisa mencapai ritsleting kebaya putih yang melekat ketat di tubuhnya.
Setelah beberapa kali mencoba dan gagal, ia mendesah frustrasi. Mau tidak mau, ia harus menurunkan gengsinya.
"Daniel..." panggil Amira dengan suara cicitan yang sangat pelan.
"Hm, ada apa?" sahut Daniel tanpa mengubah yang masih setia menghadap dinding dengan mata tertutup rapat oleh kedua telapak tangannya.
Amira menggigit bibir bawahnya, wajahnya kembali memanas karena malu.
"Tolong, bukakan ini."
"Aku tidak bisa. Mataku tertutup," jawab Daniel datar, terdengar sedikit kaku karena situasi yang semakin canggung ini.
"Daniel, buka matamu dan tolong aku," pinta Amira lagi, kali ini dengan nada sedikit memohon karena tubuhnya sudah benar-benar merasa gerah dan tidak nyaman.
"Hanya ritsleting di punggungku saja."
Mendengar nada pasrah dari wanita yang baru saja sah menjadi istrinya itu, Daniel tersenyum tipis.
Sebuah senyuman samar yang jarang sekali muncul di wajah tegasnya.
Perlahan menurunkan kedua tangannya dan membalikkan tubuh.
Daniel melangkah mendekat, lalu berlutut di belakang kursi roda Amira agar posisinya sejajar.
Napas Amira mendadak tercekat saat merasakan kehadiran Daniel yang begitu dekat di belakangnya.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati dan penuh penghormatan, Daniel menyibak sedikit rambut Amira yang tersisa di tengkuknya ke samping.
Sentuhan jemari Daniel yang hangat di kulit lehernya membuat Amira meremang, jantungnya kembali bertalu-talu tidak karuan.
Daniel menemukan kepala ritsleting di bagian atas punggung kebaya itu.
Dengan perlahan, ia menariknya turun, mengekspos kulit punggung Amira yang putih namun tampak pucat.
Setelah ritsleting itu terbuka sempurna, Daniel langsung menarik kembali tangannya dan berdiri.
"Sudah terbuka," ucap Daniel dengan suara yang mendadak serak, berusaha mengalihkan pandangannya ke arah lain demi menghormati batasan di antara mereka.
"Sekarang ganti pakaianmu. Aku akan berjaga di depan pintu."
Amira bergerak secepat yang ia bisa, mengganti kebaya tersebut dengan pakaian santai yang disiapkan Daniel, lalu membasuh wajahnya di wastafel untuk menenangkan diri.
Setelah merasa lebih segar, ia merapikan posisi duduknya di kursi roda dan memanggil Daniel untuk membantunya kembali ke ruangan Felia.
"Daniel, sudah selesai. Bisa tolong dorong?"
Daniel segera masuk, mendorong kursi roda Amira kembali ke kamar rawat.
Tak lama kemudian, seorang perawat masuk dengan membawa jadwal terapi fisik untuk Amira, yang ternyata bisa dilakukan di fasilitas rehabilitasi rumah sakit yang sama tempat Felia dirawat.
"Aku akan menemanimu besok untuk terapi," ucap Daniel setelah perawat itu keluar.
Amira menatap Daniel dengan tatapan ragu. "Bagaimana dengan pekerjaanmu? Bukankah itu sangat penting?"
Daniel tersenyum tipis, kali ini tatapannya terasa lebih hangat.
"Pekerjaan nomor dua, Amira. Di sini kamu dan Felia sedang sakit. Aku tidak mungkin meninggalkan kalian berdua, terutama putri kita."
Kata "putri kita" membuat hati Amira bergetar, namun ia memilih diam.
Daniel kemudian membopong tubuh Amira dengan lembut, memindahkannya ke ranjang pasien yang berada tepat di samping ranjang Felia.
Felia sendiri sudah tertidur pulas dengan Rona, boneka gajahnya, di dalam dekapan.
Saat Daniel hendak beranjak pergi, ia berhenti sejenak di samping ranjang Amira.
"Boleh aku mencium keningmu?"
Amira membelalakkan matanya, napasnya seolah tertahan. Ini di luar kesepakatan mereka yang dingin.
"Hanya kening, Amira. Tidak lebih," bisik Daniel meyakinkan.
Melihat kesungguhan di mata pria itu, Amira perlahan menganggukkan kepalanya.
Daniel menunduk, mendekatkan bibirnya ke kening Amira, memberikan kecupan yang lembut dan hangat.
Ada rasa aman yang menjalar di sanubari Amira, sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupnya.
"Istirahatlah. Aku akan ada di luar sebentar," ucap Daniel pelan sebelum melangkah menuju pintu.
Saat Daniel sudah memegang gagang pintu, Amira tidak bisa menahan diri.
"Daniel..."
Daniel menoleh. "Ada apa?"
Amira terdiam sesaat, lalu menunduk. "Terima kasih."
Daniel tertegun, lalu memberikan anggukan kecil sebagai jawaban sebelum akhirnya melangkah keluar, menutup pintu perlahan dan meninggalkan Amira dalam keheningan malam yang kini terasa jauh lebih tenang daripada sebelumnya.
Daniel berjalan menjauh dari ruang perawatan, menyusuri koridor yang kian sepi hingga langkahnya membawa pria itu ke area luar rumah sakit.
Angin malam Jakarta yang pekat langsung menyergap tubuhnya yang masih terasa hangat akibat sisa demam.
Ia bersandar pada pilar beton di sudut area terbuka yang sepi.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Daniel merogoh saku mantelnya, mengambil sebungkus rokok dan pemantik api.
Sesaat kemudian, ujung rokok itu menyala merah, mengalirkan asap pekat yang langsung berbaur dengan dinginnya udara malam.
Daniel menyesap rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan.
Pandangannya kosong, menatap kepulan asap yang bergerak samar di bawah pendar lampu taman rumah sakit.
Rasa hangat di kening Amira yang baru saja ia kecup seolah masih tertinggal di bibirnya.
Kelembutan wanita itu, ketulusannya menghadapi Felia, dan ucapan terima kasih yang keluar dari bibir Amira justru berubah menjadi belati yang menghujam telak ke jantung Daniel.
Kebohongan yang ia susun dengan rapi kini terasa seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja.
"Apa yang terjadi jika kamu tahu kalau aku yang menabrakmu malam itu..." gumam Daniel lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin malam.
Setitik abu rokok jatuh ke lantai, bersamaan dengan rasa takut yang mendadak mencengkeram dada Daniel.
Jika kebenaran itu terungkap—bahwa dialah penyebab hancurnya mobil Amira, dialah yang membuat Amira koma dan kehilangan segalanya—Daniel tahu, tatapan hangat dan kepasrahan Amira malam ini akan berubah menjadi kebencian yang amat sangat. Dan saat itu tiba, ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.
Sementara itu, di tempat lain, di dalam sebuah ruang kerja yang mewah dan elegan, berita tentang pernikahan kilat Daniel berembus kencang.
Kabar tersebut akhirnya sampai ke telinga Gayatri, ibu kandung mendiang Selena.
Begitu membaca informasi mengenai runtunan acara akad nikah dadakan di Yogyakarta tersebut, wajah Gayatri seketika memerah padam.
Amarahnya meledak seketika. Ia membanting tablet pintar di tangannya ke atas meja kaca hingga menimbulkan suara benturan yang nyaring.
"Kurang ajar! Daniel benar-benar sudah gila!" desis Gayatri dengan napas memburu. Matanya menyipit tajam, memancarkan kedengkian yang amat sangat.
"Dia berani menggantikan posisi Selena begitu cepat?"
Gayatri bangkit dari kursi kerjanya, melangkah mondar-mandir dengan emosi yang meluap-luap.
Di kepalanya, sosok Amira yang sempat ia dengar selintas langsung dicap sebagai musuh utama.
"Dasar wanita kumuh! Ini sudah kamu rencanakan, kan?!" ucap Gayatri geram pada ruang kosong, menumpahkan segala prasangka buruknya.
"Wanita udik dari kampung yang tiba-tiba beruntung masuk ke lingkaran keluarga Narendra. Menjijikkan!"
Bagi Gayatri, kehadiran Amira bukan hanya sebuah penghinaan terhadap memori putrinya, melainkan sebuah ancaman besar bagi kepentingannya sendiri.
Sejak Selena tiada, Gayatri selalu mengincar aset dan bagian kekayaan yang seharusnya jatuh ke tangannya sebagai ahli waris, namun Daniel selalu membentengi semua itu dengan ketat.
"Aku tidak akan membiarkan wanita asing itu menikmati sepeser pun kekayaan yang seharusnya milik keluargaku," gumam Gayatri dengan senyum sinis yang mengerikan.
"Aku harus mengambil semua harta milik Selena yang masih dikuasai Daniel. Semuanya!"
Genggaman tangan Gayatri mengeras saat ia menatap sebuah foto kecil Felia yang ada di atas mejanya.
Rencana busuk mulai tersusun rapi di otaknya. Menyerang Daniel lewat jalur hukum biasa tidak akan mudah, tetapi ia tahu persis di mana titik kelemahan terbesar mantan menantunya itu.
"Bukan hanya harta," bisik Gayatri dengan nada penuh ancaman dan perhitungan.
"Aku juga akan mengambil Felia. Dia cucuku, dan aku akan merebut hak asuhnya dari tangan Daniel. Kita lihat saja seberapa kuat Daniel bertahan saat aku merenggut anak itu dari pelukan 'ibu baru'-nya yang tidak berguna itu."