Warning
Lima tahun menikah, sikap Elang pada Rindu tetap sama. pria itu jarang menyentuh istrinya, padahal Rindu memiliki hasrat yang tinggi.
Rindu yang merupakan anak yatim piatu dengan perangai santun dan lembut, memberikan pesona pada wanita paruh baya yang tak lain adalah Bella, Ibu kandung Elang. Lalu, mereka pun dijodohkan.
Siapa sangka, ternyata sikap dingin Elang menutupi sebuah rahasia yang tidak diketahui Rindu. Dan saat rahasia itu terungkap, Rindu pun memiliki rahasia yang sama.
Rahasia apa yang tersimpan dalam rumah tangga yang selalu Rindu pertahankan mati - matian hingga akhirnya ia memilih menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Molly Marco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teracuhkan
Di dalam kamar hotel, Elang dan Miskha memadu kasih.
Elang tidak tahu bahwa malam ini sang istri mengalami kecelakaan dan dibawa lari ke rumah sakit. Miris memang. Di saat Rindu sedang menahan sakit, justru Elang asyik-asyikan dengan wanita yang jauh lebih muda darinya. Bahkan, wanita itu layak disebut keponakan.
“Naiklah, Miskha! Ayo, goyang dipangkuanku!”
Miskha yang sudah lihai bercinta pun menurut dengan senang hati. Tubuhnya yang polos serta buah dada besar yang mengantung, segera naik ke atas tubuh Elang.
“Ah.”
Keduanya melenguh saat kedua milik itu bersatu. Kemudian, Miskha menari.
“Oh. Miskha kamu pandai sekali, Sayang.”
“Enak, Mas?”
“Enak sekali.” Elang memuji keahlian anak SMA itu di ranjang.
“Enakan mana goyanganku dengan goyangan istri Mas Elang?” tanya penggoda itu lagi.
“Tentu, punyamu. Meski pun usia Rindu jauh di atasmu, tapi goyanganmu lebih mantap, Sayang. Kamu lebih pengalaman dibanding istriku yang kaku itu.”
Miskha tersanjung. Apalagi, Elang justru malah menghina Rindu dan memilih memuji kehebatannya. Ia pun semakin liar bergerak demi memuaskan hasrat Elang yang dahsyat.
“Oh, Sayang. Ayo putar lagi! Goyanganmu benar-benar membuat Mas melayang.”
Diluar Rondu dan Bella, Miskha memanggil Elang dengan sebutan Mas. Bella pun tak pernah tahu kelakuan putranya.
“Oh, terus Miskha. Jangan berhenti! Puaskan Mas.”
Miskha yang memang sudah mengenal hubungan intim sejak kelas akhir di sekolah menengah pertama itu pun terus bergerak dengan senang hati di atas tubuh Elang.
“Oh, Sayang. Kamu pintar,” gumam Elang lagi.
“Mas puas?” tanya wanita yang bergerak liar di atas tubuhnya.
Dada besar yang tergantung itu membuat Elang gemas dan meremas keduanya dengan tangan besarnya.
“Oh, Mas. Terus! Remas dadaku dengan kuat.”
Perintah itu justru membuat Elang melakukan lebih. Tubuhnya yang semula terbaring setengah, duduk tegak dan melahap buah yang tergantung bebas itu.
“Oh, Mas Elang.” Miskha merasakan kenikmatan dari dua arah. Hubungan bersama Elang memberinya kepuasan yang luar biasa. Oleh sebab itu, ia tetap menjalin hubungan itu meski tahu bahwa Elang adalah suami orang.
“Oh, Mas. Adek sudah mau keluar.”
“Bersama, Sayang.”
Elang membalikkan tubuh Miskha. Kini, dialah yang memegang kendali. Ia menghentakkan miliknya dengan keras hingga wanita itu mengaduh.
“Oh, nikmat sekali Mas. Miskha mau lagi setelah ini.”
“Tentu, sayang. Kita akan terus melakukannya sampai pagi.”
Elang sama sekali tidak menyadari bahwa kelakuannya itu sudah diketahui oleh istrinya sendiri.
Dua malam Rindu berada di rumah sakit. Selama itu pula, pria yang berada di dalam mobil sedan mewah berwarna hitam itu menemaninya.
“Om Rayen tidak pulang?” Rindu memanggil pria itu dengan panggilan Om, mengingat ia juga memanggil istri pria itu dengan panggilan Tante.
“Kalau kamu sudah dibolehkan pulang, maka Om akan pulang.”
Rayen juga memanggil dirinya dengan sebutan Om, mengingat ia dan Bella, menantu Rindu juga dekat, meski usia mereka tidak sama. Rayen adalah adik tingkat Bella semasa berada di kampus yang sama, dulu.
Dua malam Rindu ditemani oleh Rayen. Ia terlihat canggung. Meski, Rayen berusaha mencairkan suasana. Pria yang belum terdapat kerutan meski usianya sudah matang itu tampak bertanggung jawab.
Dengan telaten dan penuh perhatian, Rayen merawat Rindu.
“Nanti anak dan istri Om menunggu,” ucap Rindu lagi.
“Kecelakaan ini terjadi memang karena kelalaian saya, Om. Andai saya fokus, saya tidak akan kaget dan menabrak mobil Om saat Om muncul.”
Rayen mengangguk. “Benar juga. Tapi tidak apa‑apa. Lagi pula, istri dan anakku sedang keluar kota.”
Deg
Rindu terkejut mendengar alasan bohong dua wanita penggoda yang ia lihat di hotel itu.
“Kebetulan Miskha sudah mulai libur. Dia sudah melewati semua ujian sekolah. Dan Vera menemani putrinya.”
“Putri Om juga kan?” tanya Rindu menegaskan, karena ada yang aneh dengan penggalan kalimta terakhir Rayen.
“Yah, putri Om juga,” jawab Rayen tertawa dengan tawa tersirat.
Lalu, pria itu menatap wajah Rindu. “Apa kamu sedang ada masalah?”
Rayen menatap wajah Rindu yang sendu. Sejak pertama kali bertanggung jawab menemani dan merawat wanita itu, Rayen tahu bahwa Rindu sedang dalam keadaan yang tidak baik – baik saja.
Rindu tidak menjawab, ia hanya menunduk.
“Ah, maaf. pertanyaan Om terlalu privasi. Kalau keberatan, tidak perlu dijawab.”
Rindu mengangguk. Ia memang tidak berniat untuk menceritakan apa yang baru saja terjadi pada dirinya. Terlebih kejadian itu juga menyangkut anak dan istri laki – laki yang sedang berada di hadapannya.
“Om pulang saja, Rindu sudah tidak apa – apa. sungguh!” Rindu kembali menegaskan kondisinya.
Rayen malah tertawa. “Kenapa? Kamu takut sama, Om? Om bukan pedofil, lagi pula Om kenal kamu dan keluargamu.”
Rindu ikut tertawa kecil untuk mencairkan suasana. Tawa kecil Rindu membentuk senyum yang begitu indah, membuat pria itu tertegun.
Pria itu menatap Rindu dengan senyum lebar. Ia mengagumi senyum Rindu yang manis. Dan Rayen juga setuju bahwa istri Elang sekaligus menantunya Bella itu benar-benar cantik. Hanya saja, memang ia tak pernah melihat Rindu dalam jarak yang sangat dekat seperti saat ini.
Rayen duduk tepat di samping tempat tidur pasien yang diisi Rindu.
“Vera itu sering bepergian. Om sering ditinggal – tinggal. Putri Om juga begitu. Rasanya Om ini seperti bujangan saja.”
Rindu kembali tersenyum. Akhirnya, ia tahu nama sebenarnya Tante Miskha. Vera memang kerap memanggil dirinya dengan nama sang putri.
“Om dengar, Elang juga sering bepergian. Apa kamu tidak bosan?”
Rindu mengangguk. “Terkadang iya. Tapi aku coba mengerti, Om.”
“Oh, beruntung sekali Elang. Bella memang tepat menjodohkan putranya denganmu.”
Rindu kembali menunduk.
“Baiklah, kalau begitu istirahat. Jika besok pagi, kamu sudah dibolehkan pulang. Maka, Om juga akan pulang.”
Rindu mengangguk. Ia menurut dan kembali membaringkan tubuhnya. Sementara, pria itu hanya memperhatikan gerak gerik Rindu. Tanpa diminta, pria itu dengan cekatan menyelimuti tubuh Rindu ketika tubuhnya sudah terbaring sempurna.
“Terima kasih.”
“Sama-sama. Saya menunggu di sana!” pria itu menunjuk sofa yang berada cukup jauh dari tempat tidurnya. “Jika butuh minum atau apa, jangan sungkan untuk memanggilku!”
Rindu pun mengangguk. Sebenarnya ia sungkan berada satu ruangan dengan pria lain, tapi pria itu memaksa dan tidak mau pergi dengan alasan tanggung jawab.
Rindu melihat Rayen yang kembali menuju sofa. Pria itu membaringkan tubuhnya di sana.
Dua hari bersama pria matang itu, membuat Rindu mengambil kesimpulan bahwa Rayen adalah pria yang baik. Rayen terlihat sangat menjaga wanita, seperti pria itu menjaganya tanpa terlibat sentuhan. Terbesit di hati Rindu, merasa kasihan pada pria itu. Rayen tak layak dikhianati oleh istrinya dan memiliki putri sebinal Miskha.
Rayen kembali mengarahkan matanya pada Rindu sebelum matanya terpejam. “Selamat tidur, Rindu.”
Seketika, Rindu merasa memiliki sosok ayah dalam diri Rayen. Sosok yang tak pernah ia dapatkan dari Elang, mengingat Rindu tak pernah mendapatkan sosok itu karena ia sudah berstatus yatim sejak usia lima tahun.
⸻
Akhirnya, Rindu pulang dari rumah sakit. Sudah tiga hari ia berada di sini. Ponselnya pun masih belum diaktifkan. Ia tidak peduli dengan apa yang dilakukan Elang di sana.
Rindu tampak lebih sehat dari sebelumnya. Hanya ada perban yang menempel pada dahi dan lengan kirinya.
“Pelan-pelan.” Rayen membantu Rindu memasuki taksi online.
Pria itu bukan hanya membantu memesankan taksi online, tapi juga biaya rumah sakit dan merawat Rindu selama perawatan. Rindu merasa sangat dihargai, karena pria itu begitu memuliakan wanita.
“Terima kasih,” ucap Rindu pada pria itu. “Seharusnya Om tidak perlu melakukan sampai sebegininya.”
“Ini tanggung jawab Om, Rin. Kalau Elang bisa dihubungi dan datang ke sini, mungkin Om juga sudah pulang. Tapi nyatanya suamimu sibuk. Sama seperti istriku.”
Rayen tertawa, membuat Rindu tersenyum getir.
“Hati-hati,” ucap pria itu lagi.
Rindu mengangguk. “Sekali lagi, terima kasih, Om.”
Pria itu ikut mengangguk. Senyum tampannya masih terulas. Ia masih mematung dan menatap taksi yang Rindu naiki hingga pergi.
Rindu yang duduk di dalam taksi menoleh ke belakang dan melihat pria itu yang masih berdiri hingga menjauh.
“Beruntung sekali istri Om Rayen. Tapi sayang, Om Rayen tidak beruntung mendapatkan Tante Vera,” ucap lirih Rindu yang kemudian meluruskan duduknya.
Setibanya di rumah, Rindu mendapati mobil Elang yang terparkir di sana. Namun, dengan santai ia tetap berjalan menuju ke dalam. Sesaat ia mengabaikan hatinya yang terluka dan kecewa. Rindu akan bersikap biasa saja, seolah ia tidak pernah tahu apa yang ia lihat di kamar hotel malam itu.
“Rindu,” panggil Elang dan langsung berlari mendekati istrinya yang baru saja membuka pintu utama.
“Hei, kamu ke mana saja? Ini kenapa?” tanya Elang panik melihat perban yang menempel di kening istrinya.
“Tidak, tidak apa-apa.” Rindu terpaksa harus tersenyum tipis.
“Tapi ini kenapa? Ini juga.” Elang mengangkat lengan kiri Rindu yang juga diperban.
“Ponselmu tidak aktif. Dari kemarin aku telepon tidak bisa. Kamu ke mana?”
Untuk pertama kali, Rindu melihat kepanikan Elang. Elang mencecar banyak pertanyaan. Pria yang biasanya cuek, acuh, dan dingin itu tiba-tiba banyak bicara.
Elang memang tidak bisa mengecek keberadaan Rindu, karena selama ini ia juga tidak pernah tahu dan tidak pernah ingin tahu apa yang istrinya kerjakan di luar. Elang tidak menyimpan nomor kantor Rindu. Pria itu juga tidak pernah tahu teman-teman istrinya.
Meski Rindu selalu bercerita tentang apa yang terjadi di kantornya setiap hari. Namun, Elang hanya menanggapi sebagai angin lalu. Pria itu mendengarkan sambil memainkan ponsel.
“Aku kan sudah memberi kabar. Mendadak aku menemani bosku ke Yogya,” jawab Rindu.
“Lalu, ini kenapa?” Elang kembali mempertanyakan luka yang membalut beberapa bagian tubuh Rindu. Namun baginya, luka itu tidak seberapa dibanding luka hatinya yang saat ini masih menganga lebar.
“Aku terjatuh, saat mengendarai sepeda di sana.”
“Ck. Kamu memang ceroboh! Naik sepeda saja tidak bisa.”
Mendengar kalimat yang tak mengenakan itu, Rindu pun dengan cuek berlalu menuju kamar.
“Hei, mau ke mana? Aku belum selesai bicara.”
“Aku lelah, Lang. Ingin istirahat.”
Untuk pertama kali, Rindu mengabaikan Elang. Pria yang biasanya selalu merasa menjadi nomor satu itu tiba-tiba diacuhkan Rindu.