NovelToon NovelToon
CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:873
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN😎

Riko terpaksa menikah dengan Rani akibat hutang yang tidak bisa dia bayar,melihat kesempatan itu Rani langsung memberikan sebuah kontrak pernikahan,dan riko terpaksa menyetujui kontrak pernikahan itu,karena dia terlilit hutang akibat perusahaannya bangkrut setelah kalah tender dengan perusahan milik Rani.

Baca saja klo mau tau cerita selanjutnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Langkah Pertama Elang yang Terluka

Lampu hias kristal di lobi hotel bintang lima dan kilatan lampu flash para jurnalis perlahan memudar dari ingatan, digantikan oleh kesunyian malam yang kembali menyelimuti kamar utama kediaman Rani. Jam dinding digital di sudut ruangan telah menunjukkan pukul 01.15 dini hari.

Begitu pintu kamar tertutup rapat di belakang mereka, sandiwara sebagai "pasangan emas" yang serasi seketika runtuh. Rani melepaskan tas pesta kecilnya ke atas meja rias dengan helaan napas panjang yang sarat akan kelelahan. Dia melepas sepatu hak tingginya, membiarkan kaki jenjangnya menyentuh dinginnya lantai marmer, lalu berjalan menuju kamar mandi tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Riko.

Riko sendiri langsung melonggarkan dasi kupu-kupu tuksedonya yang terasa mencekik leher. Dia melepas jas formalnya, menyampirkannya di sandaran sofa kulit tempat tidurnya, lalu menggulung lengan kemeja putihnya hingga ke siku.

Dada Riko masih terasa bergemuruh. Bukan hanya karena sisa ketegangan akibat kontak fisik intim di karpet merah tadi, melainkan karena kata-kata Rani di depan media yang terus terngiang-ngiang di kepalanya. “Suamiku, Riko, adalah seorang pria yang mandiri dengan visi bisnis yang luar biasa... saya sangat menghormati dedikasinya.”

Riko tahu betul Rani mengucapkan hal itu hanya demi menyelamatkan reputasi Rani Group. Namun bagi seorang pria dengan harga diri setinggi Riko, kalimat itu terasa seperti sebuah tuntutan mutlak yang menampar kesadarannya. Dia tidak boleh menjadi pria lemah yang terus-menerus dilindungi oleh kata-kata manis palsu istrinya. Dia harus membuktikan bahwa pujian sandiwara itu bisa menjadi kenyataan.

Riko melangkah menuju kopernya, mengeluarkan sebuah laptop kerja miliknya yang sudah agak tergores di bagian sudutnya—satu-satunya modal berharga yang tersisa dari keruntuhan Pratama Corp.

Dia duduk di atas sofa kulit, menyalakan laptopnya, dan membiarkan cahaya layar berpendar menerangi wajahnya yang tampak tegang dalam kegelapan kamar. Jari-jemarinya mulai menari dengan cepat di atas papan ketik. Otak bisnisnya yang encer mulai bekerja dengan kapasitas penuh, menyusun ulang strategi, memetakan jaringan vendor lama yang masih bisa dipercaya, dan merancang sebuah proposal proyek baru.

Dia sengaja mencari proyek berskala menengah di sektor sub-kontraktor infrastruktur pinggiran Jakarta—sebuah sektor yang terlalu kecil untuk dilirik oleh raksasa seperti Rani Group, namun sangat potensial untuk menjadi batu loncatan pertama bagi kebangkitan Pratama Corp. Riko tahu, dengan dana operasional yang sangat terbatas, dia tidak boleh salah melangkah. Setiap angka dalam kalkulasi anggarannya harus presisi, setiap mitigasi risiko harus dipetakan tanpa celah.

Cklek.

Pintu kamar mandi terbuka. Rani melangkah keluar dengan mengenakan gaun tidur sutra longgar berwarna kelabu tua, rambutnya yang basah dikeringkan dengan selembar handuk kecil. Langkah kakinya terhenti saat melihat sudut sofa tempat tidur Riko masih benderang oleh cahaya laptop.

Rani mengeringkan rambutnya perlahan, matanya menatap lekat pada punggung tegap Riko yang tampak sedikit membungkuk di depan layar. Gurat-gurat ketegangan dan konsentrasi tinggi terlihat jelas dari garis rahang pria itu yang mengatup rapat. Suara ketukan jari Riko pada keyboard terdengar ritmis, memecah kesunyian malam.

Rani berjalan menuju ranjangnya, merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk yang luas. Dia menarik selimut hingga sebatas dada, lalu membalikkan tubuhnya menghadap ke arah sofa tempat Riko berada.

"Ini sudah hampir jam dua pagi, Riko," suara Rani terdengar datar, namun tidak sedingin biasanya. Ada sedikit nada kelelahan di dalamnya. "Layar laptopmu itu sangat mengganggu pandanganku. Kalau kamu mau begadang, lakukan di ruang tengah bawah."

Riko tidak menghentikan ketukan jarinya, matanya tetap terfokus pada grafik proyeksi keuangan di layarnya. "Aturan nomor dua yang kamu buat sendiri, Rani: aku harus berada di kamar ini sebelum pagi agar asisten rumah tanggamu tidak curiga. Kalau aku turun ke bawah sekarang dan Bi Inah mendadak bangun untuk ke dapur, sandiwara kita bisa berantakan."

Rani terdiam, tidak bisa membantah argumen logis Riko yang menggunakan aturannya sendiri. "Apa yang sedang kamu kerjakan? Bukankah administrasi bankmu baru selesai besok lusa?"

"Aku sedang menyusun proposal untuk tender proyek pengurukan dan pematangan lahan di kawasan industri Cikarang," jawab Riko tenang, akhirnya mengalihkan pandangannya dari layar untuk menatap Rani sesaat. "Nilai proyeknya tidak besar, hanya sekitar satu setengah miliar rupiah. Tapi itu cukup untuk mengaktifkan kembali mesin operasional Pratama Corp dan mengembalikan kepercayaan para vendor lama."

Rani menumpangkan dagunya di atas lengannya yang terlipat di atas bantal, menatap Riko dengan pandangan menilai. "Proyek Cikarang? Tender itu akan dibuka tiga hari lagi oleh Adhi Karya. Sainganmu di sana adalah perusahaan-perusahaan menengah yang memiliki likuiditas lebih stabil daripada kondisimu sekarang. Bagaimana kamu bisa yakin proposalmu akan dilirik?"

Riko tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh percaya diri yang membuat aura karismanya sebagai seorang pemimpin kembali terpancar kuat, bahkan di bawah temaram lampu sudut kamar yang redup.

"Mereka memang punya likuiditas, tapi mereka tidak punya metode efisiensi logistik yang aku miliki," ujar Riko tegas. "Aku sudah menghitung rute distribusi material menggunakan jalur arteri sekunder yang menghindari titik macet tol utama. Aku bisa memangkas waktu pengiriman hingga dua puluh persen dan menghemat biaya bahan bakar alat berat. Di mata dewan komite tender, efisiensi waktu adalah segalanya."

Rani tertegun di balik selimutnya. Monolog batinnya bergolak. Kemampuan analisis taktis Riko memang tidak pernah berubah sejak tiga tahun lalu; selalu tajam, out-of-the-box, dan sangat memperhitungkan detail terkecil. Pria ini benar-benar tidak menggunakan uang empat setengah miliar darinya sebagai alasan untuk bersantai. Riko sedang merangkak naik dari lumpur kehancuran dengan kekuatannya sendiri, mempertahankan sisa martabatnya agar bisa berdiri sejajar dengannya lagi suatu hari nanti.

Ada rasa hangat yang aneh mendadak menyusup di sudut hati Rani yang paling dalam. Rasa kagum yang selama tiga tahun ini dia kunci rapat di balik rasa benci dan kecewanya, perlahan-lahan mulai mencair tanpa bisa dia kendalikan.

"Terserah kamu saja," gumam Rani kaku, membalikkan badannya memunggungi Riko demi menyembunyikan perubahan ekspresi wajahnya. "Jangan sampai kamu jatuh sakit dan membuatku repot di depan ibuku nanti."

"Terima kasih atas kekhawatiranmu yang sangat 'manis' itu, Istriku," balas Riko dengan nada sarkasme ringan, kembali memfokuskan dirinya pada layar laptop.

Rani tidak membalas lagi. Dia memejamkan matanya, mendengarkan suara ketukan keyboard Riko yang entah mengapa malam ini terdengar seperti sebuah alunan yang menenangkan di telinganya. Namun, di balik mata yang terpejam, otak bisnis Rani ikut berputar. Diam-diam, dia mulai memikirkan cara untuk mempermudah jalur verifikasi berkas Pratama Corp di asosiasi pengusaha tanpa harus membuat Riko tahu bahwa istrinya sedang memberikan bantuan di balik layar.

Malam kian larut, dan di dalam kamar yang sama, sang elang yang terluka terus memoles cakarnya, sementara sang ratu diam-diam mulai menurunkan ketinggian dinding es yang selama ini membentengi hatinya.

1
Markario Putra
Mohon tinggalkan komentar kalian untuk karya baru ku ini gaiss,ini karya aku yg ke 3 gaiss,maklumm lah penulis baruu😄😄😄
Terimakasih untuk kalian yang mau mampir di karya kecil ini🙏
jangan lupa like,hadiah juga jgn lupa🤣🤣😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!